Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
58


__ADS_3

Pov Diana


Apa yang mau di bicarakan mas Anjar?, apa dia mau mengatakan akan menceraikanku, atau mau mengatakan tentang wanita itu


Pasti itu yang akan dia katakan. Aku sudah siap, bahkan dari dua minggu yang lalu saat pergi ke pengadilan agama


Aku melihat mobil mas Anjar melalui kaca spion, masih berjalan tepat di belakangku. Mas Anjar benar-benar menungguku selesai praktek sore ini. Itu artinya pembicaraan ini memang penting.


Sesampainya di rumah, ku parkir mobil di pelataran rumah, dan mas Anjar memarkirkan di samping mobilku, kami sama-sama keluar dari mobil.


Aku yang berjalan ke arah dapur untuk mencuci tanganku, di ikuti oleh mas Anjar. Rumah tampak sepi karena semua orang sedang pergi ke rumah mba Siska, menyisakan pak Yono yang bertugas di depan sebagai satpam. Sekilas ku lirik jam menunjukan pukul 19:06, aku punya waktu dua jam sebelum kembali ke rumah sakit, Setelah berbicara dengan mas Anjar, akan ku sempatkan pergi ke rumah mba Siska untuk bertemu dengan bayi kembarku.


Berjalan menuju meja makan. menuangkan air dari botol yang selalu di sediakan di atas meja. Saat sedang meneguk air dalam gelas, tiba-tiba mas Anjar berdiri di belakangku. Dia mendaratkan dagunya di pundaku, kedua tanganya memegang sisi meja tepat di samping kanan dan kiri tubuhku, sehingga tubuhnya mengungkung tubuhku. Dadaku bergetar hebat, tak jauh berbeda dengan mas Anjar yang juga tampak berdebar-debar.


"Ada apa mas?"


Keringat dingin bercucuran, membuatku ingin pingsan


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya


"Melakukan apa mas?" masih dengan degup jantung yang semakin tak beraturan


"Kebohongan?" sahut mas Anjar


"Kebohongan??? kebohongan apa maksudnya?", apa mas Anjar sedang mabuk?" tidak biasanya dia seperti ini


"Kenapa?" tanyanya lagi seraya membalikan badanku. Kini posisi kami saling berhadapan


Ingin sekali aku melangkah mundur, tapi ada meja makan yang menghalangi tepat di belakangku


Mas Anjar menyeringai tajam, sorot matanya menampakan kemarahan, aku semakin takut dan tidak berani menatapnya. ku alihkan pandanganku ke kanan


"Lihat aku, dan jelaskan tentang kebohonganmu"


"Sungguh aku tidak mengerti apa yang mas Anjar katakan, Seharusnya dia yang menjelaskan tentang wanita itu"


Masih dengan tatapan yang seolah mengintimidasi


"Kamu tidak mau mengatakannya?"


"A-Aku tidak mengerti mas?"


"Kamu melakukannya dengan sadar, kenapa tidak mengerti, apa perlu aku beri tahu, banyak sekali kebohongan yang kamu ciptakan?"


"Banyak kebohongan yang aku ciptakan?" apa saja, aku tidak pernah membohonginya, justru dia yang sudah menyembunyikan kebenaran"


"Baiklah akan aku beritahu kebohonganmu" ucap mas Anjar seraya memeluk pinggangku.


Aku menelan salivaku, posisi kami semakin dekat. ku tundukan pandanganku menatap sabuk yang masih melekat di pinggang mas Anjar


"Satu, kamu tidak bertemu dengan temanmu waktu itu"

__ADS_1


"Kapan mas?" sahutku


"Diam dan dengarkanlah dulu, dua, kamu tidak menolong nenek yang kehujanan seperti kata bunda"


Deg deg deg jantungku semakin kencang.


"Dan yang ketiga, kamu sudah membohongi suamimu, anakmu, dan juga mertuamu tentang jadwal malamu yang kamu minta sendiri ke pihak rumah sakit"


Ku tatap bola mata mas Anjar, tapi aku menyerah, aku tidak mampu menatapnya lebih lama. ku tundukan kembali pandanganku.


"Dari mana mas Anjar tahu?" batinku


"Maaf"


"Bukan kata maaf yang ingin aku dengar, aku ingin penjelasan kenapa kamu sampai melakukan hal itu?"


"Maafkan aku mas", ucapku masih menunduk


"Ok aku maafkan, sekarang katakan alasanmu berbohong"


"Apa aku harus jujur kalau aku melakukannya untuk menghindar darinya"


Mas Anjar mengangkat daguku, lalu memegang samping leher, ibu jarinya sedikit memberi usapan pada bibirku, satu tangan lainya masih memegang pinggangku


Ku gigit bibir bawah berharap bisa mengurangi kegugupanku.


Hening hanya ada suara jarum jam.


Karena tak kunjung menjawab, bibir mas Anjar menyapu bibirku, sedikit mel*umatnya, alih-alih membalas ciuman mas Anjar, aku justru berusaha melepaskan ciumannya, namun kedua tangan mas Anjar menangkup wajahku, melepaskan sebentar


Ku pegang lengan mas Anjar yang masih menangkup wajahku, masih tetap dengan pertahananku, tidak mau membalas ciumannya.


"Apa-apaan mas Anjar, ciumanya begitu lihai, dia pasti juga melakukannya dengan wanita itu"


"Ehemmm"


Tiba-tiba saja suara ayah menghentikan aktivitas mas Anjar.


gegas aku mendorong dada mas Anjar


"A-ayah, se-sejak kapan ayah di situ, bukanya sekarang ayah di rumah abang?" tanya mas Anjar


"Sejak kalian saling memakan" jawab ayah


"Berati ayah sudah sejak tadi berdiri di situ" Mas Anjar, kamu kelewatan, harus di taruh mana mukaku di hadapan ayah?"


"Kalian kalau lapar jangan makan di sini, ini tempat umum, siapa saja bisa melihatnya"


Ku lirik tangan mas Anjar mengusap keningnya, dengan satu tangan berkacak pinggang


Pasti dia sama malunya denganku

__ADS_1


"Untung ayah yang melihat kelakuan kalian, coba kalau bunda, dia pasti akan menggoreng kalian sampai gosong, tidak lupa kan kalau mulut bunda itu julid dan usil. Pergilah ke kamar, kalian bisa melanjutkannya di sana" ucap ayah


Mas Anjar menggandeng tanganku berjalan menuju tangga


"Tunggu"


Kami menghentikan langkahnya


"Ada apa yah?"


"Lain kali jangan lakukan di depan anak-anakmu"


Sesaat setalahnya kami kembali melangkahkan kakinya.


Aku berharap tidak ada lagi drama seperti tadi, saat di kamar nanti, tapi tidak. Ini justru lebih parah,


Mas Anjar menidurkanku di kasur, dia mengambil posisi di atasku, lagi-lagi ku telan salivaku


Kali ini dia mencium leherku


"Mas ja..."


"Diamlah" sahut mas Anjar masih menggerayangi tubuhku


"Mas kita harus ke rumah mba Siska"


"Ok setelah ini"


Satu kancing kemejaku sudah terlepas


"Mas sudah waktunya aku kerumah sakit"


"Sebentar lagi" sahut mas Anjar lalu melanjutkan aktivitasnya


"Mas aku belum siap"


Seketika mas Anjar menghentikan gerakannya mengecup bagian dadaku


Tampak nafasnya masih memburu, begitu juga denganku


Tatapan kami bertemu, kulihat mas Anjar menyunggingkan senyum. Dia tidak marah dengan penolakanku


"Maaf"


"Tidak masalah, aku akan menunggu sampai kamu siap, kita akan lanjutkan pembicaraan kita besok malam" ucap mas Anjar seraya mengancingkan bajuku yang sudah sedikit acak-acakan


"Mulai besok jadwalmu akan normal kembali, aku sudah minta pihak rumah sakit untuk merubahnya"


"Bersiaplah kita ke rumah abang sekarang. Besok aku ada meeting pagi-pagi, tidak bisa menjemputmu, nanti kamu bawa mobil sendiri, aku akan membuntutimu ku antar sampai ke rumah sakit


Mas Anjar melangkahkan kakinya menuju kamar mandi lalu mengganti bajunya dengan yang lebih santai.

__ADS_1


Sebelum ke rumah sakit, Aku dan mas Anjar akan pergi ke rumah mba Siska


BERSAMBUNG


__ADS_2