
"Anjar, kapan kamu akan mencarikan mami buat Azam dan Emyr?"
"Nanti" jawab Anjar singkat
"Apa kamu sudah punya calon?"
"Belum"
"Kalau begitu, bunda yang akan carikan mami baru buat mereka"
"Tidak perlu bund"
"Pokoknya setuju atau tidak, bunda tetap mau carikan mami baru buat cucu bunda"
Anjar mendengus kesal, selalu saja yang di pertanyakan soal mami baru untuk si kembar. Ia melipat koran yang sedang ia baca lalu meletakan di meja
"Bun, aku masih ingin sendiri"
Bunda menatap putranya dengan sorotan tajam
"Sampai kapan kamu mau sendiri, bunda dan ayah semakin tua, anakmu juga butuh kasih sayang seorang ibu, ok jika kamu masih belum ingin menikah, tapi pikirkan keinginan anak-anakmu, Jangan egois kamu Anjar, bunda yakin Puspa pun menginginkan hal yang sama, seperti bunda"
Ucapan bunda membuat Anjar mendongakan kepala menatap bunda, mengingatkan pada mimpinya semalam
"Aku egois?" Batin Anjar, seraya mengusap wajahnya gusar
"Butuh waktu lama mencarikan mami untuk si kembar bund, dia benar-benar harus mau menerima Azam dan Emyr"
"Bunda tidak membutuhkan waktu lama untuk mencarikan calon mami buat mereka, sudah dua tahun Puspa meninggal, Bunda tidak memintamu untuk melupakan istrimu, sama halnya bunda yang tidak pernah ingin menghapus Puspa dari ingatan bunda. tapi setidaknya, lanjutkan hidupmu"
"Neneeekk" teriak si kembar berlari menghampiri mereka membuat bunda dan Anjar mengalihkan pandangan pada bocah kembar yang sedang aktif-aktifnya di usia dua tahun.
"Eh cucu nenek, sudah selesai kasih makan ikannya?"
"Cudah nenek, ikannya cudah besar"
ucap emyr yang langsung duduk di pangkuan neneknya, dan Azam di pangkuan sang kakek yang datang bersamaan dengan cucunya
"Pikirkan ucapan bunda Anjar"
Anjar menghirup napas panjang "Sayang ayo kita main bola di luar" Ajaknya pada Azam dan Emyr
"Bunda bicara apa sama Anjar?" ucap sang ayah
"Bunda cuma bujuk Anjar supaya mau menikah lagi yah"
"Memangnya bunda mau menjodohkan sama siapa lagi?"
"Sama Diana"
"Diana yang tadi malam bunda bicarakan?"
"Iya yah, Rafa dan Siska yang memperkenalkan dia ke bunda"
__ADS_1
"Ayah ingin yang terbaik buat Anjar dan anak-anaknya, berikan Anjar kesempatan memilih calon sendiri,
"Dia tidak pernah bisa mencarinya sendiri yah, Ayah tidak lupa kan kalau menantu kita sudah dua tahun yang lalu meninggal, sampai sekarang pun tidak ada wanita yang dekat dengan Anjar?"
"Terserah bunda, pesan ayah, carikan calon yang benar-benar mau menerima Azam dan Emyr, yang bisa menyayangi mereka layaknya anak kandung sendiri"
"Iya yah, jadi ayah setuju kan Diana jadi mantu kita?"
"Ayah harus lihat orangnya dulu"
"Itu urusan gampang yah"
...--------------...
...--------------...
Azam dan Emyr berlari menghambur ke pelukan papinya yang sedang tertidur, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Anjar memang tidak pernah menutup pintu kamarnya, agar ia bisa mendengar tangisan si kembar jika terbangun di malam hari.
Dengan sisa kantuknya, Anjar berusaha membuka mata, merentangkan tangan memeluk kedua anaknya.
"Kalian sudah bangun?" Anjar bertanya dengan mata sedikit tertutup, rasa kantuk masih menyelimutinya, Anjar yang tidak bisa tidur nyenyak karena perkataan sang bunda, membuatnya begadang semalaman dan baru bisa memejamkan mata setelah sholat subuh
"Ini cudah ciang papi?"
Anjar menatap jam di atas nakas
"06:15" gumam Anjar
Sebelum mandi, Anjar terlebih dulu mengunci pintu kamarnya, membiarkan anaknya melihat youtub di ponselnya. Pintu kamar mandi di biarkan terbuka saat dia membersihkan diri.
Sama halnya bunda yang tidak bisa tidur karena memikirkan anak dan cucunya
"Aduh, sakit sekali kepalaku, aku akan tidur sebentar semoga ketika bangun kepalaku sudah tidak sakit lagi" gerutu bunda
"Bi Sumi, Atin tolong jaga kembar ya, saya mau istirahat, kepala saya sedikit pusing"
"Apa mau di panggilkan non Siska bu, buat memeriksa ibu?"
"Tidak usah bi Sum"
"Saya ke kamar dulu"
Rafa dan Siska kebetulan sedang sama-sama berjaga di rumah sakit pagi ini, mereka sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.
Saat jam makan siang, Rafa dan Siska menyempatkan diri bertemu di kantin rumah sakit
"Ayah mau pesen apa?"
"Samain sama bunda saja"
"Minumnya?"
"Sama juga"
__ADS_1
"Ok" beberapa menu makan siang sudah di pilih oleh Siska. Serambi menunggu pesanan siap mereka saling melempar candaan
"Ayah kok murung?" apa karena tidak bertemu si koas kesayangan ayah hari ini?" canda Siska
"Iya kesayangan ayah dapat shift jaga malam?"
"Awas nanti kepincut?"
"Makanya bunda harus sering-sering kasih imun ke ayah, supaya iman ayah kuat?"
Ucapan Rafa mendapat sorotan mata dari istrinya
"Kesayangan ayah kan Aurell bund"
tiba-tiba ponsel Siska berdering
"Dari rumah bunda yah" Siska mengangkat telfon dan mengeraskan suaranya, terdengar suara bi Sumi berbicara di balik telpon rumah milik mertuanya
"Hallo non"
"Ada apa bi Sumi?"
"Ibu dari pagi ngeluh kepalanya sakit non, ibu menyuruh saya menelpon non Siska"
"Bi, nanti aku telpon dr Diana buat memeriksa bunda ya, bilang ke bunda aku sama Siska sedang sibuk" Sahut Rafa
"Yah" panggil Siska
"Stttt" Rafa memberi kode untuk diam pada sang istri
"Baik den Rafa?" jawab bi Sumi, sambunganpun terputus
"Cepat bunda telfon Diana suruh dia datang ke rumah bunda"
Siska sudah melakukan apa yang di perintahkan suaminya.
"Jadi ayah merencanakan ini, supaya Diana ada kesempatan untuk bermain dengan si kembar?"
"Iya bund, kita harus menggunakan umpan untuk memancing ikan"
Siska menautkan kedua alisnya
"Kita harus gunakan kedua jagoan kita untuk memancing Anjar"
"Kayanya Ayah niat banget menjodohkan mereka" sahut Siska
"Ayah pengin Diana dapat keluarga yang baik bund, ayah kasian padanya, nanti kalau dia menikah dengan Anjar, Anjar jadi bisa melindungi dan megangkat derajatnya kan?"
Siska menganggukan kepala
"Ayah cepat habisin makanannya, jam istirahat sudah hampir usai, bunda ada pengecekan siang ini"
BERSAMBUNG
__ADS_1