
Dua Hari setelah pengancaman Cantika, Bibi Ranti menelfon Anjar, memberitahukan bahwa Cantika masuk rumah sakit, tidak lama setelah itu, bel rumah berbunyi, Anjar bergegas sedikit berlari untuk membukanya. Dua orang polisi datang mengunjungi kediamanya.
"Selamat sore Pak, apa benar ini rumah Ibu Puspa?" Ucap salah satu polisi
"Benar, saya suaminya, ada apa dengan istri saya?"
"Kami dari kepolisian, untuk memberikan surat panggilan kepada Ibu Puspa, selaku terlapor atas kasus percobaan bunuh diri yang di lakukan oleh saudari Cantika, harap datang ke kantor polisi, guna di mintai keterangan" seraya menyerahkan sebuah amplop.
Anjar mengulurkan tanganya menerima amplop tersebut.
"Kalau begitu, kami permisi, Selamat sore
"Sore pak"sahut Anjar.
Puspa melihat sang suami sedang membaca sebuah kertas, ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi.
Ia mendapati wajah suaminya, yang mendadak pucat, lalu di hampirinya suami yang sedang duduk di sisi ranjang.
"Ada apa mas?" tanya Puspa
Anjar mendongakkan wajahnya, menatap istrinya dalam,
"Itu kertas Apa mas?"
Alih-alih memberikan kertas itu, Anjar justru menjauhkannya, menarik tangan Puspa dan membawanya duduk di pangkuanya.
"Ada apa?" ucap Puspa dengan mendaratkan tangannya di pundak sang suami
Anjar menarik handuk yang di lilitkan di kepala Puspa, lalu melempar ke lantai, rambutnya yang basah seketika tergerai.
"Cantika mencoba bunuh diri"
"Apa?" Terus gimana dia sekarang?"
"Dia ada di rumah sakit. Bibinya melaporkanmu ke polisi, dan tadi polisi datang memberikan surat panggilan untukmu.
Seketika tubuh Puspa melemah, bak tak bertulang
"Apa hubungannya denganku mas?"
"Mas juga belum tahu, besok pagi kita datang ke kantor polisi"
"Mas Aku takut"
"Tidak perlu takut sayang, kamu tidak salah"
Pagi harinya, Puspa dan Anjar tengah bersiap-siap untuk memenuhi panggilan polisi, sebelumnya Puspa memohon ijin kepada pihak sekolah, bahwa hari ini tidak bisa bekerja. Begitu juga dengan Anjar, Ia menyuruh Dirga untuk menghandel semua pekerjaan kantor.
"Sudah siap sayang?"
"Sudah mas" kemudian Anjar menggandeng tangan istrinya.
"Dhe kenapa tanganmu dingin sekali, dan juga berkeringat?"
"Aku takut mas"
"Tidak usah takut, mas akan selalu mendampingimu" Ucapan Anjar seolah bagai infus yang mampu menambah kekuatannya.
Sesampainya di kantor polisi, Puspa masuk ke sebuah ruangan, dimana di dalam sana terlihat dua orang polisi, yang akan menginterogasinya.
"Selamat pagi pak" Ucap Puspa
__ADS_1
"Selamat pagi, silahkan duduk" salah satu polisi mempersilakan Puspa duduk.
"Terimakasih"
"Baik bu Puspa, kita akan mulai penyelidikan. tolong kerja samanya, untuk menjawab pertanyaan kami dengan jujur
"Baik pak"
"Apakah ibu mengenal saudari Cantika?"
"Iya pak, saya mengenalnya"
"Sebagai teman, saudara atau hanya sebatas kenal saja?"
"Hanya sebatas kenal pak"
"Sejauh apa hubungan anda dengan saudari Cantika?"maksud saya, apakah hubungan anda dengannya baik-baik saja?"
Puspa sempat menarik nafas panjang menghembuskannya secara perlahan sebelum menjawab pertanyaan polisi itu.
"Hubungan kami sedikit bermasalah pak"
"Kalau boleh tahu, apa masalah anda dengannya?"
Puspa semakin bimbang dengan pertanyaan polisi, apalagi masalah yang mereka hadapi, termasuk masalah yang sangat pribadi.
"Bu Puspa"
Panggilan polisi membuyarkan lamunan Puspa.
"Iya Pak, jawab Puspa, "Begini, Saya merasa tidak ada masalah dengannya, tapi, kami sempat bertemu"
"Sekitar empat hari yang lalu, tepatnya hari Jum'at?"
"Apa isi pembicaraan anda dengan saudari Cantika saat itu?"
Puspa pun menjawab pertanyaan pak polisi sesuai apa yang Puspa alami, ada sekaitar 20 pertanyaan telah di jawab oleh Puspa dengan baik. Polisi juga memberitahukan alasan kenapa ia di panggil untuk di mintai keterangan.
Itu karena sebelum melakukan percobaan bunuh diri, Cantika sempat menuliskan isi hatinya, di sebuah kertas, Cantika menganggap bahwa Puspa adalah penyebab ia melakukan bunuh diri.
Puspa keluar ruangan dengan langkah gontai, dengan satu tangan memegang tasnya, dan tangan lainya memegang selembar tisu. ia berjalan menghampiri suaminya.
"Gimana dhe?"
Puspa hanya meggelengkan kepala seraya menghapus air mata yang tiba tiba jatuh ke pipinya.
Sesaat kemudian seorang Polisi datang menghampiri Anjar dan Puspa.
"Pak bu, sekali lagi terimakasih atas kerja samanya, mohon untuk kooperatif dalam penyidikan selanjutnya.
Setelah dari kantor polisi, Anjar dan Puspa berniat ke rumah sakit tempat Cantika di rawat.
Saat tiba di rumah sakit, tampak sosok Bu ranti yang tak lain adalah bibi dari Cantika yang sedang berbicara dengan salah satu dokter.
Gegas Anjar dan Puspa melangkahkan kaki ke arahnya.
"Selamat siang bu Ranti, dokter?"ucap Anjar tetap menggandeng tangan Puspa
"Selamat siang jawab bu Ranti dan dokter bersamaan"
"Tuaan, Anda harus bertanggung jawab membiayai semua pengobatan ini, karena istri Anda adalah penyebabnya" ujar Bu Ranti.
__ADS_1
"Maaf pasien saat ini sedang kritis, dia kehilangan banyak darah, Sedangkan saat ini pihak rumah sakit kehabisan golongan darah tersebut. Pihak rumah sakit sedang berusaha mendapatkan golongan darah yang di butuhkan, termasuk menghubungi bank darah yang juga mengalami kelangkaan.
"Kalau boleh tahu apa golongan darahnya dok" Dokter bisa memeriksa apakah golongan darah saya cocok atau tidak,Jika cocok, silahkan ambil darah saya" ucap Puspa
Anjar terkejut mendengar penuturan Puspa
"Dhe?"
"Saya harus bertanggung jawab mas", potong Puspa
"Baik, kalau ibu yakin, kami akan segera memeriksanya" ucap sang dokter.
"Dok periksa saya juga" Sambung Anjar
"Baik" sahut dokter seraya menyuruh suster untuk memeriksanya.
"Mas tidak usah"
"Tidak apa-apa dhe"
"Kalian yakin akan mendonorkan darahnya jika cocok?" tanya bibi yang di jawab anggukan kepala oleh Anjar.
"Mari pak bu ikut saya" ucap suster
Setelah melewati pemeriksaan, dan ternyata, golongan darah Puspa sama dengan golongan darah Cantika, suster segera mengambil darah Puspa untuk di sumbangkan ke Cantika..
Seharian Anjar dan Puspa berada di rumah sakit, menemani Bu Ranti menjaga Cantika.
"Bu Ranti kami pamit pulang, kalau ada apa-apa dengan Cantika, ibu boleh menghubungi kami" ucap Anjar.
"Terimakasih sudah membantu kami" sahut Bu Ranti. Walaupun bu ranti suka memukul Cantika, suka memarahinya, tapi tetap saja ada rasa sayang terhadap keponakannya. karena ibunya Cantika yang juga kakak dari bu Ranti, sudah menitipkan Cantika padanya.
...@@@@...
Malam harinya, Puspa tidak bisa tidur karena terus memikirkan kondisi Cantika.
Puspa menatap suaminya yang sedang tertidur pulas, memberikan sedikit sentuhan di pipi kemudian bergeser ke bibir merah milik Anjar hingga akhirnya Anjar terbangun.
"Dhe, kamu belum tidur?" Sekilas Anjar menatap jam weker yang bertengger di atas nakas yang menunjukan pukul setengah dua belas.
Seketika Puspa memeluk tubuh kekar suaminya, dan menyembunyikan kepalanya di dada sang suami.
"Kenapa ngga tidur?" Tanya Anjar seraya membalas pelukan Puspa lalu mencium rambutnya.
"Apa Cantika akan baik-baik saja mas?"
"Cantika pasti baik-baik saja sayang" kamu tidak usah terlalu mencemaskannya.
"Apa aku akan di penjara?"
"Tidak sayang, mas sudah hubungi pengacara mas, untuk menangani kasus ini, sekarang tidurlah ini sudah sangat malam...
Dalam pelukan suaminya, Puspa berusaha memejamkan matanya. Hingga kesadarannya mulai memasuki alam bawah sadar...
Sedangkan Anjar yang sedari tadi mengelus kepala Puspa, belum bisa memejamkan matanya kembali.
"Maaf dhe, gara-gara mas, kamu jadi mendapatkan masalah seperti ini" Mas janji akan selalu ada di sampingmu" batin Anjar.
Setelah hampir satu jam terjaga, Anjar mulai bisa memejamkan matanya, dan menyusul sang Istri memasuki Alam mimpi
Bersambung
__ADS_1