Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 36


__ADS_3

Sudah tiga hari Anjar bertugas di luar kota, Puspa yang masih di temani ibu dan adiknya, beserta Cantika yang sudah tinggal bersama Puspa


Ibu sudah menceritakan masa lalunya kepada Cantika, tapi ada yang tidak bisa dia terima, yaitu Puspa sebagai kakaknya adalah istri dari lelaki yang ia cintai. Anjar adalah pria pertama yang membuat Cantika tidak bisa mengalihkan hatinya pada pria lain. Pesona lelaki dewasa yang saat itu menolongnya, dan perhatian-perhatian kecil darinya, membuat Cantika jatuh cinta dan ingin memiliknya. Namun sayangnya pria itu sudah beristri, dan parahnya, istrinya adalah kakaknya sendiri. Ia semakin iri dengan Puspa, yang memiliki kehidupan sempurna, memiliki orang tua yang utuh sedari kecil, karir yang sesuai cita-citanya, suami yang tampan, baik dan juga harta yang lebih dari cukup.


"Jadi nduk, besok ibu sudah bisa pulang ke Semarang?" tanya ibu saat sedang sama-sama menikmati makan malam


"Iya bu, mas Anjar malam ini kembali dari luar kota, ibu bisa pulang"


"Cantika, kau juga ikut ibu ke Semarang ya nduk?"


"Lain kali saja bu, dua hari lagi liburanku selesai, aku harus kembali mengikuti pendidikanku"


"Ya sudah, ibu tunggu di Semarang, bapakmu juga ingin sekali bertemu"


"Tapi sudah lihat aku di vidio call bu"


"Beda sayang" jawab ibu


Puspa berharap dengan adanya hubungan darah ini, Cantika berhenti mengejar Suaminya, tapi tidak dengan Cantika, dia benar-benar masih ingin memiliki Anjar, hingga diam-diam dia membuat sebuah rencana.


Saat Puspa sedang mencuci piring bekas mereka makan, tiba-tiba sosok Anjar muncul dari belakang.


"Mas sudah pulang, kok aku ngga denger suara mobilnya"


"Kamu melamun sayang" jawab Anjar


"Biar mas yang selesaikan"


"Ngga usah mas, tinggal sedikit, lebih baik mas mandi, nanti turun lagi aku siapin makanan


"Tinggal sedikit apa sayang, masih banyak tuh" ucap Anjar seraya membilaskan tangan Puspa dari busa yang menempel.


"Lagian ngga perlu menyiapkan makanan, mas sudah makan malam tadi sebelum pulang"


Setelah tangan Puspa bersih dari busa, Anjar meraih tisu untuk mengeringkannya, lalu Puspa meraih tangan Anjar dan mencium punggung tangannya


Tidak mereka sadari ada sepasang mata memerah menahan cemburu, saat Cantika hendak buang sampah di dapur, membuat Cantika berhenti beberapa detik lalu berbalik kembali ke kamar dengan tangan yang masih memegang sampah


"Kamu naik saja, siapin baju mas, setelah ini mas nyusul"


Puspa berjalan sedikit lambat, karena merasa pinggangnya sedikit nyeri, mungkin karena terlalu cape.


Anjar sudah selesai mencuci piring, ia segera melangkahkan kakinya menyusul sang istri yang sudah berada di kamar sejak beberapa menit yang lalu, saat akan menaiki anak tangga, pandangannya tertuju pada sosok wanita yang berpakaian sangat minim, sebuah tangtop dengan bawahan celana pendek sehingga paha mulusnya tampak begitu jelas, tapi Anjar benar-benar tidak tertarik pada pemandangan itu, ia lebih tertarik dengan tubuh milik istrinya, yang tidak kalah mulus dari Cantika.


"Cantika"


"Aku sudah dengar cerita dari ibu dan mba Puspa" sahut Cantika " mba Puspa menyuruhku tinggal disini"


"Oh begitu, ya sudah anggap saja rumah sendiri" jawab Anjar seraya berlalu dari hadapan Cantika, tanpa mempedulikan tatapan Cantika yang entah apa, hanya Cantika yang Tahu.


Suhu udara malam ini sedikit dingin, Puspa dan Anjar yang sudah berada di atas kasur dengan posisi duduk bersender di kepala ranjang, Anjar menyatukan jari tangan kirinya dengan jari tangan kanan milik Puspa, mereka saling bercerita, apalagi Anjar yang ingin sekali mendengar cerita tentang Cantika hingga dia sekarang berada di rumahnya.

__ADS_1


"Waktu itu aku menghubungi Cantika mas, menyuruhnya datang kesini, di situ ibu menjelaskan tentang masa lalu ibu, Cantika sedikit kaget dengan cerita Ibu, karena setau Cantika, ibunyalah yang sudah merebut bapak dari ibu.


"Kalau Cantika tahu bahwa ibunya sudah merebut suami orang, kenapa sekarang justru dia ingin sekali merebut mas darimu?" tanya Anjar


"Itu masalah hati mas" jawab Puspa seraya memicingkan matanya.


"Terus" sahut Anjar penasaran


"Ya terus ibu menyuruh Cantika buat tinggal disini"


"Apakah Cantika juga bersikap baik di depan ibu?"


"Aku rasa begitu mas, kelihatannya ibu juga sangat menyayangi Cantika"


"Jadi begitu, terus gimana anak papi?" apa mami merawatnya dengan baik, apa selalu makan tepat waktu, istrirahat cukup, minum susu dan sebagainya?" tanya Anjar


"Malam ini belum minum susu mas, aku ke bawah dulu"


Puspa segera mengibaskan selimutnya


"Eitss mau kemana?"


"Bikin susu mas"


"Mas yang bikinin, kamu tunggu di sini"


Sebelum beranjak, Anjar mengecup kening istrinya singkat


Cantika hanya memandang lekat, mengamati Anjar yang sedang membuat segelas susu


untuk istrinya


"Beruntung sekali mba Puspa memiliki suami sebaik mas Anjar" batin Cantika


Mas Anjar tidak lihat aku di sini?" tanya Cantika membuat Anjar menghentikan gerakan mengaduk susu


"Lihat" jawab Anjar


"Lihat kenapa mas Anjar tidak memandangku?"


"Buat apa aku memandangmu?" tanya Anjar sambil menyimpan susu di lemari dan berlalu meninggalkan Cantika, namun sesaat Anjar berhenti dan membalikkan badannya


"Cantika, tolong kondisikan pakaianmu jika kamu tinggal di rumahku" ucap Anjar lalu segera berjalan menaiki tangga


"Mas Anjar pasti ngga kuat liat tubuhku" gumam Cantika, sebuah ide pun tertangkap di otaknya


"Sayang bilang pada adikmu supaya jangan berpakaian minim jika sedang di rumahku" Ucap Anjar saat berada di kamar, lalu menyerahkan segelas susu.


"Iya nanti aku bilang ke Cantika"


Puspa meminum susunya hingga tandas lalu menyerahkan gelas kosong itu ke suaminya

__ADS_1


"Loh mas kok di taruh di atas nakas, kenapa ngga di bawa ke dapur dulu"


"Itu urusan nanti, sekarang ada urusan yang lebih penting"


"Apa?" tanya Puspa seraya menatap Anjar dengan tatapan tajam


Tanpa Aba-aba Anjar menguasai tubuh Puspa, berada di atasnya, namun masih sadar bahwa ada bayi dalam perut istrinya, membuka kancing baju satu persatu.


Tiga hari berada di luar kota, membuat Anjar menahan syahwat, hingga dia tidak bisa menahannya lagi saat ini.


Usai melakukan hubungan suami istri, sama-sama melepas dahaga yang mereka tahan selama tiga hari, mereka tertidur merajut mimpi hingga pagi.


Pagi ini Anjar sudah rapi dengan setelan kantornya, ia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan, tampak di sana ibu, Cantika, akbar dan juga sang Istri, yang sedang duduk menunggunya.


"Selamat pagi bu?" sapa Anjar pada ibu mertuanya sambil menarik kursi di samping Istrinya


"Selamat pagi nak" jam berapa tadi malam sampai rumah?


"Sekitar jam 9 bu"


"Maaf ibu sudah tidur saat kamu pulang"


"Tidak apa-apa bu"


"Mau makan apa mas"? tanya Puspa


"Itu yang kamu makan apa sayang?"


"Ini bubur ayam khas Semarang mas?"


"Ya sudah mas mau itu juga"


Hanya suara Puspa dan Anjar yang saling bersahutan dalam meja makan


"Nanti pulang jam berapa dhe?"


"Jam dua mas"


"Nanti mas bisa antar ibu ke stasiun?" tanya Puspa


"Ibu mau pulang hari ini bu?" tanya Anjar seraya menatap ibu


"Iya nak, kasihan bapak sudah seminggu di tinggal ibu, Akbar juga sudah mulai masuk sekolah"


"Jam berapa ke stasiun bu?"


"Selepas dzuhur"


"Ya sudah nanti ku antar bu"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2