Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
episode 2


__ADS_3

Pov Puspa


Adzan Subuh berkumandang, menandakan malam telah berlalu, pagi siap menyapa dan mentari akan segera menampakan sinarnya dari ufuk timur, memancarkan cahaya menghangatkan mahluk penghuni bumi, memberikan harapan kepada mereka yang menyambutnya dengan senyum bahagia.


"Assolaatuhoirumminannaw"


Puspa terbangun ketika mendengar suara itu bergegas bangun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk berwudhu.


Sebelum melaksankan sholat subuh, Puspa terlebih dahulu melaksanakan sholat sunah dua rakaat.


Selesai sholat Ia berdoa memohon kepada Sang Maha Kuasa, agar selalu melindungi, dan merahmati suaminya.


Walaupun di awal pernikahan aku tidak mencintai mas Anjar sebagai suamiku, namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu pun perlahan telah tumbuh, aku selalu berdoa agar suamiku mau menerimaku sebagai istri dan mencintaiku sepenuh hati, bisa membina rumah tangga layaknya rumah tangga pada umumnya.


Melipat mukena dan menyimpannya di atas sofa, kemudian keluar kamar menuju dapur untuk menyiapakan sarapan.


Ini merupakan aktifitas rutin di setiap paginya, karena dia tahu bahwa suaminya selalu sarapan di rumah.


Nasi goreng dengan potongan keju dan daging sebagai menu sarapan pagi ini, di tambah omelet yang merupakan makanan favorit sang suami, sudah tertata di meja makan.


Aku akan naik untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.


ketika menuruni anak tangga aku melihat mas Anjar sedang berdiri membelakangiku, berada di ruang keluarga, terlihat sedang berbicara melalui ponselnya.


"Mas Anjar sudah rapi, aku akan menyiapkan makan untuknya"  Batinya seraya menuju meja makan.


Seperti biasa, kami sarapan tanpa bicara, tak ku  duga, mas Anjar mengatakan sesuatu


"Aku antar kau ke sekolah"


"Tidak usah mas, aku bisa naik taksi"


"Aku akan mengantarmu"


sejenak aku mengangkat kepalaku dan menatap mas Anjar yang sedang fokus dengan sarapanya lalu menundukan kembali


"Ba-baiklah" hanya itu yang terucap dari mulutku. entah kenapa berbicara di depannya membuat keringat dinginku bercucuran,dan konsentrasiku mendadak hilang.


Jalanan ramai di penuhi pengendara yang akan berangkat kerja, ada pula yang mengantar anak mereka ke sekolah.


Di dalam mobil kami fokus dengan pikiran kita masing-masing, mas Anjar yang tengah fokus dengan kemudinya, menatap lurus ke depan, dan sesekali melirik ke arah spion, sedangkan aku, aku sibuk mengkondisikan jantungku yang berdetak sangat kencang padahal aku sedang tidak berlari, tubuhku begitu gemetar, saat duduk berdekatan dengan suamiku. Aku merutuki diriku sendiri.


"Dasar Puspa bodoh, dia ini suamimu, kamu tidak perlu takut, hhhh aku harus bisa menguasai diriku Sendiri agar mas Anjar tidak menyadarinya"


"Motormu ada di bengkel mana?"


Suaranya terdengar lembut, membuatku terlambat menjawab pertanyaan itu. Karena aku tak kunjung menjawabnya, mas Anjar kembali bertanya


"Motormu kau tinggal di bengkel mana?"


Kali ini dengan penuh penekanan membuatku bergidik ngeri


"Di be-bengkel XX dekat Permata Hotel" sampai-sampai aku tergagap menjawabnya


"Aku akan Menyuruh seseorang mengambil motormu, dan mengantarkannya ke sekolah, kamu bisa pulang naik motor nanti"


"Terimakasih" lagi-lagi hanya satu kata yang terlontar dari mulutku.


Sesampainya di sekolah, aku segera melepaskan sabuk pengaman, dan berpamitan padanya.


Setelah mencium punggung tanganya, aku bergegas membuka pintu mobil, sebelum turun, aku mengingatkan mas Anjar untuk berhati-hati dalam berkendara.


Bel sekolah berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai, kini giliran para siswa beristirahat. Keluar dari ruang kelas, ku ayunkan kakiku menuju ruang guru, sesampainya di ruangan di mana para guru sedang duduk di tempatnya masing-masing, tampak Anggun yang sedang duduk di meja kerjaku.


Seorang guru yang sedang magang di sekolah tempat kami mengajar. Dia menganggapku sebagai kakaknya, Akupun senang sudah di anggapnya sebagai kakak, karena aku sendiri adalah anak tunggal.


"Selamat pagi kak"


Dia akan memanggilku kakak, jika kami sedang bicara berdua.


"Selamat pagi" jawabku


"Gimana kelasmu hari ini kak?"


"Seperti biasa, aku di pusingkan dengan tingkah   Boby dan Reynal, untung saja mereka adalah murid yang cerdas, jadi mataku tidak sampai terlepas dari tempatnya jika melototinya"


"Kau tahu kak, bahkan minggu kemarin aku melihat mereka, sedang berkencan"


"oh ya??" Boby dan Reynal??"


"huummm" jawabnya sambil menganggukan kepalanya


Mendadak aku ingin meledeknya


"Dan kau, kalah saing dengan muridmu sendiri"

__ADS_1


"Tidak, tidak, bukan aku kalah saing, tapi Abang melarangku berpacaran"


"Bagus itu,,,, sepemikiran denganku"


"Apa selama ini, sebelum menikah kak Puspa juga tidak pernah pacaran?"


"Tidak"


"Kenapa?"


"Karena pacaran akan mendekatkan kita ke perbuatan zina"


"Kalau begitu kak, peringatkan dua muridmu itu untuk tidak pacaran"


"Itu bukan ranahku Anggun"


"Eh kayanya Pak gilang mau menuju kemari tuh" ucap Anggun


Aku memalingkan wajahku ke arah yang di tunjuk Anggun dengan kepalanya


"Selamat pagi bu Puspa, Anggun?"


"Selamat pagi pak" jawab kami kompak


"Bu Puspa, ibu di minta ke ruangan BP, ada murid ibu yang ketahuan sedang merokok di kantin"


"Murid saya pak?"


Pak gilang menganggukan kepala sebagai jawabannya.


"Kalau begitu saya akan ke sana sekarang, Permisi pak gilang, permisi bu Anggun"


Sedikit berlari agar aku bisa segera sampai di ruang BP,  tiba di ruangan itu, aku melihat Boby dan Reynal sedang birdiri dan segera menundukan kepala, ketika melihatku sudah berada di hadapanya.


"Kenapa kalian masuk ke sini lagi? Ibu sudah sering mengingatkan kalian bukan?"


Dengan penuh ketegasan aku mengucapkan kalimat itu, yang membuat muridku sedikit ketakutan


"Maaf bu" Ucap mereka bersamaan


"Apa yang kalian lakukan sehingga kalian berada di ruang BP?


"Kami ketahuan merokok bu, jawaban salah satu dari mereka membuatku menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya secara kasar


"Maaf Bu"


Lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari mulut mereka.


"Kalian tulis "Kami tidak akan merokok lagi ketika berada di area sekolah, jika kami melanggar, maka orang tua kami siap di panggil ke sekolah" tulis di kertas folio, dengan tulisan tangan, sebanyak sepuluh lembar penuh, besok pagi sebelum ibu tiba di sekolah, kertas itu sudah harus berada di atas meja Ibu"


"Tapi bu, masa sepuluh lembar" protes Reynal yang di ikuti dengan anggukan kepala Boby


"Kalian keberatan, baiklah Ibu akan menghubungi orang tua kalian"


Secara bersamaan mereka menjawab


"Tidak bu"


"Jangan bu"


"Kerjakan sebagai hukuman untuk kalian" seraya melihat jam yang melingkar di tanganya,


"Jam istirahat sudah habis, kalian kembali ke kelas, ikuti pelajaran dengan baik.


"Baik bu,, kami permisi,


Mereka berlalu meninggalkan ruang BP, dan aku akan masuk kelas guna mengisi pelajaran.


Saat aku berjalan menuju ruang kelas, tiba2 ponselku berbunyi.


"Pak Anan" Beliau adalah supir di keluarga mertuaku.


Aku segera mengangkatnya


"Assalamualaikum Pak anan"


_______


"Baik Pak saya segera ke depan"


Sambungan terputus aku mengurungkan niatku, dan berbalik menuju gerbang utama pintu sekolah.


"Pak Anan" panggilku


"Non, ini saya di tugasin sama den Anjar nganterin motor ke sini, tadi penjaga sekolah menyuruh saya memarkirkan motornya di sana, sambil menunjuk ke arah parkir dengan tanganya, sejenak kemudian memberikan kunci motor padaku

__ADS_1


"Terimakasik Pak, Apa bapak akan kembali ke kantor?


"Iya non"


"Kalau begitu bawa motor saya saja pak, biar saya nanti naik taksi ke kantor mas Anjar


untuk mengambil motornya"


"Tidak perlu non, saya sudah pesan ojek,


Saya permisi non, sudah di tunggu mas ojek"


"Baiklah pak, sekali lagi terimakasih", Pak Anan hati-hati di jalan


"Sama-sama non"


"Assalamu'alaikum" di ikuti anggukan kepala


"Walaikumsalam" jawabku


Tiba saatnya meninggalkan sekolah, para guru bersiap-siap untuk pulang, begitu juga denganku, ketika aku sedang merapikan mejaku, tiba-tiba pak gilang mendekat


"Bu Puspa, tidak biasanya tadi pagi saya lihat ibu diantar naik mobil ke sekolah"


"Iya pak, tadi pagi saya di antar suami"


Ini memang pertama kalinya Puspa di antar suami dengan mobilnya


"Ohh Apa motornya bu Puspa masih di bengkel?"


"Sudah di ambil pak, seseorang mengantarkannya tadi"


"Kalau begitu mari saya duluan" pamit pak Gilang


"Silahkan pak"


"Pak gilang tahu kan kalau kakak sudah punya suami, aku lihat tadi ekspresinya kaget saat kau menyebut kata suami" tanya Anggun serius


"Sebagian memang ada yang belum tahu kalau aku sudah menikah, karena pernikahanku di adakan di semarang, di gelar secara mendadak jadi aku tidak sempat mengundang mereka"


"Termasuk pak Gilang" ucap anggun penasaran


"Termasuk pak gilang" Puspa mengulang ucapan Anggun.


"Eh kak, kayaknya Pak Gilang mau PDKT sama kakak deh, tapi ternyata malah kakak sudah bersuami"


"Ngaco kamu,


Ayo kita pulang" ku tinggalkan Anggun yang sedang bengong, tidak lama kemudian dia berlari mengikutiku dan mensejajarkan langkahnya di samping kananku.


Sebelum pulang kerumah, aku membelokan motorku ke arah supermarket, berniat membeli kebutuhan bulanan, karena sudah kehabisan stok di rumah, termasuk bahan makanan yang ada di kulkas.


Mendorong troly dan mengisinya dengan berbagai perlengkapan kamar mandi dan, kebutuhan dapur, kemudian aku arahkan trolynya menuju stand buah-buahan. Buah naga, mangga, apel, dan juga semangka yang sudah kupilih. Setelah di rasa cukup aku menuju ke kasir dan membayarnya.


Sampai di depan rumah, aku turun sejenak dari motor, berjalan menuju gerbang dan membukanya, ku lihat mobil mas Anjar sudah terparkir di garasi, ku tatap jam di pergelangan tanganku. Seraya kembali naik dan menjalankan motornya kemudian memarkirkan di sebelah mobil mas Anjar


"Biasanya dia pulang jam lima, kenapa hari ini jam empat sudah sampai rumah?"


Kami sama-sama memiliki kunci rumah, yang selalu di bawa jika pergi keluar, jadi mas Anjar tidak perlu membukakan pintu untuku.


Berbeda denganku, yang selalu membukakan pintu sebelum mas Anjar membukanya ketika pulang. Karena aku selalu berada di ruang keluarga pada jam dimana mas Anjar pulang dari kantor, saat aku mendengar suara mobilnya, aku akan bergegas membuka pintu dan menyambut kepulangannya.


Sebelum membuka pintu, ku dudukan bobot tubuhku di kursi teras, melepaskan sepatuku, lalu meletakannya di rak sepatu dimana sudah bertengger sepatu mas Anjar di situ.


"Assalamualakum" Ku ucapkan ketika aku membuka pintu


hening tak ada jawaban


"Akupun menjawab sendiri salamku"


Aku sudah bisa menebaknya, pasti mas Anjar sedang di kamar. Menuju dapur meletakan barang belanjaan, sebelum naik ke lantai atas.


Sampai di ruang pribadiku, mengganti pakaianku dengan yang lebih santai, lalu menuju kamar mandi mengambil wudhu kemudian sholat ashar.


Disaat aku berada di dapur, membuat kudapan, kudengar langkah kaki menuju kesini, siapa lagi kalau bukan mas Anjar, aku lirik dengan ekor mataku, ku lihat dia mengambil gelas lalu membuka pintu kulkas dan menuangkan air ke dalam gelasnya, setelah itu berjalan ke arah belakang, menuju pintu keluar yang di hubungkan dengan pintu dapur dimana ruangan terbuka tersebut berfungsi untuk duduk santai sambil menikmati hembusan angin. membuka pintunya dan menutupnya kembali


Salad buah sudah siap, akan ku antar untuk mas Anjar nikmati, kulihat dia masih berada di belakang dapur, sedang memainkan asap rokoknya, ku taruh di atas meja


"Mas ini saladnya"


"hmmm" hanya itu jawabannya


"Puspa kau adalah istri yang paling tidak beruntung di dunia ini"  Gumamnya dalam hati


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2