Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 39


__ADS_3

Sang surya mulai terbit dari ufuk timur dan semburatnya memancarkan aura manis kepada semua insan.


Pagi hari selalu mengajarkan kita bahwa akan ada harapan di setiap langkah kehidupan. Kita tidak bisa mengulang hari kemarin, ataupun mengintip hari esok.


Apapun yang terjadi, itu sudah menjadi kehendak-Nya, tidak ada yang mampu mengubahnya kecuali atas ijin dari-Nya


Waktu terus berjalan, sepasang suami istri sibuk mempersiapkan keperluan untuk menyambut 2 bayi kembar yang akah lahir bulan depan.


Dengan perut besarnya, tidak membuat Puspa bermalas-malasan untuk melakukan aktivitasnya.


"Mas cepat mandi, nanti telat ke kantor" Seru Puspa saat baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang memperlihatkan bahunya


"Hari ini mas santai ke kantornya sayang" Anjar berjalan menuju kamar mandi, melewati sang istri dan sedikit memberi gigitan kecil pada bahu mulus milik istrinya, membuat Puspa berdecak kesal. Puspa bergegas memakai baju, dan sedikit merias wajah, tak lupa menyiapkan pakaian untuk suaminya.


"Mas, bajunya ada di meja, aku akan turun menyiapkan sarapan"


"Ok sayang" teriak Anjar dari dalam kamar mandi


-


-


-


Siang hari saat jam istirahat makan siang selalu di manfaatkan oleh Anjar untuk menelfon sang istri. Tidak seperti biasanya Anjar melakukan panggilan hingga 30 menit lamanya.


Jam di pergelangan tangan Anjar menunjukan pukul 3 sore, sudah saatnya dia menjemput istrinya ke sekolah.


Setengah berlari menuju parkiran, Anjar menghidupkan mesin mobil dan melajukannya sedikit ngebut.


Sesampainya di sekolah, wajah Anjar berbinar ketika melihat wanita yang di cintai sedang terlibat pembicaraan tepat di depan gerbang sekolah.


Puspa hendak berjalan menuju mobil Anjar. Sebuah motor dengan nomor polisi yang tidak di ketahui, dari arah utara menuju selatan. Di duga pengendara sambil memainkan ponselnya, saat tepat berada di samping Puspa, karena pengendara kurang berhati-hati lalu menyerempet tubuh Puspa yang sedang berjalan searah


"Braaakkkk" terdengar suara motor yang terlempar hingga 21 kaki


Karena perut Puspa yang besar, dia kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh tengkurap dengan kepala membentur sebuah batu


"Puspaa,,,,!!!" teriak Anjar histeris


Anjar segera membuka pintu mobil, berlari menghampiri istrinya, yang sudah di kerubungi oleh para rekan guru dan siswa siswi

__ADS_1


Perlahan Puspa membuka mata, bias cahaya lampu, membuat dia menyipitkan mata sayunya. Ia mendapati seseorang tertidur di samping kirinya dengan posisi duduk, seseorang yang sangat ia cintai.


Puspa mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang serba hijau muda dengan aroma khas obat-obatan, Ia kembali mengingat kejadian hari ini, terahir ia berjalan lalu tiba-tiba gelap. Anjar terbangun mendapati Puspa yang sudah siuman


"Sayang jangan banyak bergerak" ucap Anjar lalu memegang erat tangan Puspa


"Mas, ba-yi ki-ta?"


"Bayi kita baik-baik saja sayang, mereka laki-laki"


"Mas, to-tolong ra-wat-lah ba-yi kita, ma-af jika a-ku ti-dak bi-sa mem-bantu me-ra-wat me-reka" ucap Puspa dengan terbata


"Tidak sayang ku mohon jangan bicara seperti itu, kita akan merawatnya sama-sama"


"Ti-dak bi-sa mas, ber-janji-lah un-tuk me-nya-yangi me-reka se-lalu?"


Puspa tersenyum, dengan nafas yang berat


Anjar semakin panik, dengan suara alarm pada monitor berbentuk seperti komputer di samping kiri ranjang Puspa, lalu memencet tombol darurat


Saat paramedis datang, salah satu suster membawa Anjar keluar dari ruangan. Mereka para dokter segera melakukan resusitasi selama kurang lebih 15 menit. Setelah Tenaga medis berjuang keras menggunakan alat defribillator untuk mengejutkan jantungnya sebanyak 6 kali, namun usahanya sia-sia.


Puspa menghembuskan napas terahirnya, meninggalkan suami, dan dua bayi laki-lakinya


Menatap satu persatu orang yang berjejer di samping tempat ia berbaring. Ada Ibu dan bapak mertua, ayah dan bunda, serta Rafa dan Siska, mereka terlihat sangat sedih dan berurai air mata.


Anjar jatuh pingsan ketika dokter memberitahukan bahwa paramedis tidak bisa menyelamatkan istrinya


Anjar memindai wajah bunda


"Bun, ini semua mimpi kan, tidak terjadi apa-apa dengan istriku, iya kan?"


Bunda menggeleng lalu memeluk tubuh Anjar dan mengusap punggungnya


"Sabar nak, kamu harus kuat, ada anak-anakmu yang harus kamu rawat"


Tangis Anjar semakin histeris


"Kuatkan dirimu" ucap bunda


Anjar menyibakan selimutnya, berjalan menuju ruangan dimana Puspa berada

__ADS_1


"Sayang, kau adalah wanita yang kejam, kau membiarkanku merawat anak kita sendirian, kau sangat tahu, bahwa aku tidak bisa melakukan apapun tanpa campur tanganmu, selama ini kau lah yang mempersiapkan segala keperluanku, bagaimana aku mengurus mereka sayang. Tega sekali kamu Puspa" ucap Anjar dengan deraian air mata yang membanjir


Sejenak Anjar mengingat ucapan Puspa agar selalu menyayangi anaknya


"Sayang, mas janji akan memberikan kasih sayang mas untuk anak-anak kita"


"Mas mencintaimu Puspa" seraya mencium kening Puspa lama


Pemakaman berlangsung sangat haru. Satu persatu para pengantar jenazah pergi meninggalkan area pemakaman, Bu Retno yang tidak berhenti meneteskan air mata, Pak Iham yang terlihat lebih tegar, Akbar yang juga tak kalah sedih kehilangan kakaknya dan Anjar yang masih belum menerima kematian Istrinya.


Namun ada wajah yang terlihat sedih dengan kepura-puraanya. Di satu sisi ia iba, tapi di sisi lain ia merasa senang dengan kematian Puspa. Cantika merasa memiliki kesempatan untuk menggantikan posisi sang kakak


Setelah cukup lama berada di pemakaman, Pak Ilham mengajak Istri serta menantunya untuk pulang.


"Jangan membuat perjalanan Puspa terasa berat, Kita masih bisa mendoakan Puspa. Ibu, Nak Anjar ayo kita Pulang" Ajak pak Ilham


Bu Retno berdiri di tuntun oleh Akbar


"Kalian pulanglah dulu, Anjar masih ingin di sini pak"


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama, anak-anakmu menunggumu di rumah, Ikhlaskan nak Anjar" ucap pak Ilham seraya menepuk bahunya, lalu di jawab anggukan kepala oleh Anjar


"Sayang, walaupun kita tidak bisa berkumpul di dunia, bantu mas memohon pada Allah agar mengumpulkan kita di surga nanti, bersama anak-anak kita"


"Tunggu kami mommoy Puspa" tangan Anjar mengusap papan nisan bertuliskan nama "Puspa Anindita"


Cantika menghampiri Anjar, memegang lengannya yang masih bersimpuh di samping makam Puspa


"Mas yang sabar ya, biarkan mba Puspa beristirahat dengan tenang"


Anjar tak merespon ucapan Cantika, Anjar sangat muak dengan wanita yang berada di sampingnya saat ini.


"Cantika, tolong lepaskan tanganku"


Cantika segera melepas tangannya.


Anjar berdiri meninggalkan makam, meninggalkan Cantika yang masih di sana


Bersambung


Dalam menjalin rumah tangga tidak selalu bahagia,, suka duka, kekayaan dan kemiskinan, kehadiran ataupun kehilangan adalah bagian dari ujian. Sama halnya rumah tangga yang di alami Anjar dan Puspa, banyak sekali ujian yang mereka hadapi, hingga Anjar harus kehilangan istrinya. Dan melanjutkan hidup karena masih ada buah hati yang harus di jaga.

__ADS_1


Banyak juga kejadian seperti ini di kehidupan nyata. Terlepas dari itu, tetaplah bersyukur dan selalu bersandar pada Dzat yang maha pencipta, karena hanya pada-Nyalah kita pun akan berpulang


Maaf ya peran Puspa sampai di sini..


__ADS_2