
Waktu menunjukan hampir pukul 10 malam, saat Anjar tiba di rumah.
"Kenapa baru pulang?" tanya Diana seraya melepaskan jas dan kemeja milik suaminya
"Aku lembur, aku sudah mengirimkan pesan padamu tadi"
"Oh iya?, aku belum membukanya, entah di mana benda itu, aku lupa"
Anjar selalu membiarkan Diana menyiapkan segala keperluannya, dari mulai memakai baju, hingga melepaskannya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Diana "Apa kau sedang manganggap kalau aku ini pembantumu?"
"Apa karena kamu selalu melayaniku, jadi kamu berfikir seperti itu Di?" kalau begitu tidak usah lakukan lagi"
Anjar hendak melangkahkan kakinya ke kamar mandi, namun Diana segera menahannya
"Aku senang melayanimu, Sini aku lanjutkan" sahut Diana seraya melepaskan sisa kancing baju suaminya
"Aku tidak akan membiarkan bi Sumi melepaskan bajuku, hanya kamu yang berhak Di?"
"Iya, aku bercanda tadi"
Anjar menjentikan jarinya pada bibir Diana
"Aoowww"
"Apa sakit?" tanya Anjar seraya mengusap bibir Diana dengan ibu jarinya"
"Sedikit"
Anjar mengecup bibir istrinya singkat, berharap bisa menghilangkan rasa sakit dari jentikan jarinya
"Jangan katakan lagi Di, kamu istriku, bukan pembantuku, seorang pembantu tidak akan membukakan baju majikannya, ingat itu"
"Mandilah, akan aku siapkan makanan"
"Aku sudah makan di kantor, buatkan teh saja" jawab Anjar seraya memasuki kamar mandi
Diana segera menuju dapur untuk membuat teh. Saat memasuki kamarnya kembali, masih terdengar suara guyuran air dari kamar mandi.
Diana meletakan secangkir peppermint tea di atas nakas, lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.
Saat sedang memilih piyama untuk suaminya, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Anjar dengan handuk melilit di pinggangnya.
Diana segera menghampirinya, lalu membantu memakaikan baju, Tangan kanan milik Anjar masih sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil
"Bagaimana anak-anak seharian?" tanya Anjar
"Sasa kesepian saat Abangnya ke sekolah"
"Aku sudah mendaftarkan Sasa di sekolah tempat Abangnya"
"O ya?" kapan mulai masuk sekolah? tanya Diana yang sudah selesai membantu suami memakaikan baju. Lalu melangkahkan kakinya ke meja kerja milik sang suami.
"Hari senin sudah bisa masuk" Anjar berjalan menuju nakas menyeruput teh buatan Diana
"Apa yang sedang kamu lakukan Di?" tanya Anjar seraya merebahkan dirinya di atas kasur
"Aku sedang berkirim Email pada dokter Denis di Singapura mas, dia dokter ahli mengatasi pasien seperti Emyr"
Mendengar itu, Anjar mendudukan tubuhnya lalu menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Apa mas setuju kalau aku membawa Emyr berobat di Singapura?"
__ADS_1
"Lalu Azam dan Sasa bagaimana?" tanya Anjar
"Kamu yang akan merawatnya disini, aku dan Emyr ke Singapura"
Anjar menyugar rambutnya
"Bagaimana denganku Di?" tanyanya lagi
"Bagaimana apa maksudnya?" Diana memutar kursi menghadap ke suaminya
"Kita baru saja bertemu dan sekarang harus berpisah lagi?"
Diana tersenyum
"Tadi kata dokter Denis, kalau kita telaten, dan selalu mematuhi dokter, paling cuma tiga tahun?"
"Cuma kok tiga tahun, cuma itu paling seminggu atau dua minggu Di"
"Demi Emyr mas, kamu bisa mengunjungi kami setiap satu bulan sekali, atau dua bulan sekali, itu pun hanya perkiraan saja, ada juga yang sembuh dalam waktu kurang dari dua tahun"
"Terus apalagi kata teman doktermu?"
"Katanya kita butuh beberapa dokter ahli, nanti di sini aku akan ikut andil juga mas"
dug.. dug.. dug..
Tiba-tiba ada suara yang membuat Anjar dan Diana menoleh ke arah pintu, sesaat kemudian mereka saling menatap
Anjar turun dari ranjang berjalan untuk membuka pintu
"Papi" seorang gadis kecil dengan membawa tiga boneka Cinnamorrol di tangannya
"Sayang, kenapa belum tidur?"
"Sasa mau tidur sama mami?" tanya Diana sedikit mengencangkan suaranya
Gadis kecil itu memasuki kamar orang tuanya, lalu naik ke atas ranjang seraya mengoceh " kamalnya besal jadinya Sasa takut bobo sendilian"
Anjar, menutup kembali pintunya kemudian ikut merebahkan diri di samping putrinya
"Ok ayo tidur anak pintar"
Diana segera mengklik tombol shut down pada komputer milik suaminya, lalu berjalan ke luar kamar, memasuki kamar anak kembar, untuk melihat kondisinya.
Saat memasuki kamarnya kembali, Sasa hampir terlelap dalam dekapan papinya.
"Sudah tidur lagi?"
"Sudah tapi masih setengah sadar" ucap Anjar sedikit berbisik"
"Bagaimana mas, apa aku boleh membawa Emyr ke Singapura"
"Boleh Di, tapi aku akan satu minggu sekali, mengunjungi kalian nanti?"
"Jangan terlalu sering, nanti kamu kecapean, selain ke kantor, kamu juga harus merawat Abang dan Sasa" harus jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Nanti kalau pas liburan semester, Mas boleh bawa abang dan Sasa ke Singapura, liburan di sana
"Kapan rencanamu kesana?" tanya Anjar
"Paling tidak satu minggu atau dua mingguan lagi, mudah-mudahan nanti proses kesembuhannya cepet, jadi bisa cepat kembali ke Indonesia. Terus....
"Terus apa Di?"
"Apa mas ingin punya anak lagi?"
__ADS_1
"Menurutmu bagaimana?" Anjar balik bertanya
"Aku berniat menundanya, aku mau fokus dulu sama kesembuhan Emyr"
"Ya sudah ok"
"Tidak apa-apa kan?" tanya Diana
"Tidak masalah, lagian kita sudah punya tiga anak"
"Tapi aku pengin punya banyak anak mas?"
Anjar menatap Diana "Kenapa begitu?"
"Supaya nanti kalau kita sudah tiada, mereka tidak sendirian seperti maminya yang hidup sebatang kara di panti asuhan"
"Kenapa bicaranya seperti itu, kita akan selalu sehat seperti ayah bunda, yang masih strong di usianya sekarang, setelah kesembuhan Emyr kita bulan madu"
"Iya-iya, kamu masih punya PR loh mas?"
"PR apa Di?
"Cantika, mas belum menjelaskan tentang kenapa kalian keluar sama-sama dari dalam hotel, tapi karena ini sudah malam, jadi lain kali saja mas jelaskan, sekarang tidurlah" ucap Diana seraya menarik selimut, lalu memeluk Sasa yang tidur di tengah-tengan antara mami dan papinya.
"Hey sini mendekat"
"Memangnya ada apa mas?"
Mendekat dulu sini
Saat Diana sudah mendekat, satu kecupan mendarat di kening Diana.
"Maaf untuk kesalahanku dulu"
Anjar selalu mengucap kata maaf pada Diana sebelum tidur, walaupun Diana sudah memaafkannya, tetap saja di lakukan oleh Anjar
"Maafkan aku juga mas, Selamat tidur"
Anjar mematikan lampu, dan menyisakan lampu meja, di sisi tempat tidurnya
...••••••••••••••••••••••••••••...
Pagi hari setelah melayani suaminya, hingga berangkat ke kantor, tepatnya pukul 7:30, Diana sudah berada di bawah terik matahari, dia membawa serta Emyr, dan Sasa berjemur di bawah sinar matahari pagi. Itu bisa menjadi therapy untuk tulang Emyr.
"Mami abang Emyr kenapa si?" tanya Sasa
"Abang sakit Sa, Sasa mau bantu abang sembuh?"
Sasa mengangguk
"Kalau begitu, Sasa harus bilang, kalau Sasa sayang sama abang, Sasa juga bilang suruh abang cepat sembuh" ujar Diana
Tanpa menunggu lama, Sasa langsung mengatakan seperti yang maminya katakan
"Abang, abang Emyr cepat sembuh ya, nanti main-main sama Abang Zam-Zam, sama Sasa. Sasa sayang sama Abang"
Diana tersenyum mendengar ucapan Sasa
"Abang Emyr dengar kan Sasa ngomong, abang harus berusahan sembuh ya, mami sudah di sini, mami akan selalu ada di samping Emyr, dan tidak akan pergi lagi, mami minta maaf ya, mami sayang sama Emyr" bisik Diana di dekat telinga Emyr.
Lagi-lagi Emyr memberikan respon
Semenjak Diana di sini, Emyr sedikit ada perubahan, walaupun hanya menunjukan tetesan air matanya saja
__ADS_1
BERSAMBUNG