Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
48


__ADS_3

"Diana, keluarga pak Anjar sudah datang, mereka menunggumu di ruang tamu, apa kamu sudah siap?" ucap bu Milah


Diana yang sedang merias wajahnya di bantu oleh mba Rani dan ulva di kamar. Mengenakan gamis brukat berwarna peach, dengan kepala di balut hijab, simple tapi elegan dan wajah dengan make up tipis menambah aura manis


Sebelum keluar, sekali lagi Diana memindai penampilannya lewat pantulan cermin, ia ingin tampil cantik di depan kelurga Dhaniswara


Saat sudah di ruang tamu, Diana meneliti wajah tamunya satu persatu, tidak terlihat sosok Anjar


"Dimana dia?" Batinnya


"Di apa kamu sedang mencari keberadaan Anjar?" goda Siska yang tampil cantik dengan gamis warna senada. Karena keluarga Dhaniswara yang memilih Dresscode khusus untuk acara lamarannya


Diana tampak kikuk dia bingung harus jawab apa


"Maaf Di, Anjar tidak bisa ikut, dia sedang ada tugas di Semarang selama 2 hari" sahut bunda


Acara pun di mulai, dengan di saksikan oleh Anjar, melalui vidio call, Anjar yang sedang menginap di rumah orang tua Puspa, tampak di kelilingi oleh Pak Ilham dan juga bu Retno serta adiknya Akbar.


Anjar sengaja mampir ke rumah mertuanya di Semarang untuk meminta restu dari kedua orang tua Puspa. Mereka senang jika ada yang menggantikan posisi Puspa untuk merawat suami dan anak kembarnya yang telah di tinggalkan untuk selamanya.


Usai sudah Acara lamaran. Sesuai kesepakatan keluarga, pernikahan akan di adakan dua minggu setelahnya. Diana harus menerima keputusan Anjar yang ingin melaksanakan pernikahan hanya di hadiri keluarga, tanpa ada pesta.


...""""// """"...


Menjelang pernikahannya, tidak ada hal yang harus di siapkan oleh Diana, karena keluarga Anjarlah yang akan menyiapkan segalanya.


"Di, sudah waktunya Pulang kan?" ucap Rafa dari ambang pintu ruangan Diana


"Sudah dok"


"Ayo ku antar pulang?"


"Tidak perlu, aku akan naik bis"


"Ayo lah Di, aku akan mengajakmu ke suatu tempat"


Diana mengerutkan dahinya menatap Rafa penih selidik


"Mau mengajaku kemana dok?"


"Makanya ku antar pulang, nanti kamu akan tahu?"


"Mba Siska bagaimana?"


"Memangnya kenapa dia?, dia jaga malam, hari ini", dan aku sudah ijin mau antar kamu dulu"


"Oh, bentar lagi dok"


"Oke aku tunggu di depan ya"


Mobil melaju melewati jalanan yang sedikit macet, Rafa mengarahkan mobilnya menuju tempat pemakaman umum.


"Ayo Di kita turun" ajak Rafa saat sudah berada di area pemakaman


Diana sedikit bingung, ia tidak mengerti kenapa Rafa membawanya kemari


Sebelum ke pemakaman, Rafa membeli sebuket bunga di toko yang tidak jauh dari TPU


"Kita mau nengok makam siapa bang?"


"Sudah ikut saja, nanti kamu juga tahu"


Mereka berjalan menyusuri gundukan tanah makam, Diana yang berjalan di belakang Rafa, sesekali menengok ke arah kanan dan kiri.


Saat sudah berada di depan makam dengan nisan bertuliskan "Puspa Anindita"


Diana menyadari jika ini adalah makam istrinya Anjar

__ADS_1


Rafa mengambil posisi jongkok di samping kanan makam, di ikuti oleh Diana, mereka menengadahkan tangan mendoakan Puspa.


"Di barangkali ada yang ingin di sampaikan padanya, sampaikanlah" ucap Rafa


Diana diam sejenak, berfikir apa yang harus dia katakan di dapan makam Puspa


"Mba Puspa, semoga mba tenang di sana". Diana diam mengambil napas, "aku minta ijinmu mba, untuk menikah dengan pak Anjar, menjadi mami untuk Azam dan Emyr. Maaf jika aku sudah lancang, meminta itu padamu, aku janji akan menyayangi dan mendidik anak emba dengan tulus"


"Sudah Di?" tanya Rafa


"Sudah bang"


"Puspa, kamu jangan mengkhawatirkan Azam dan Emyr, ada kami yang sangat menyayangi mereka, kami pulang dulu ya, tetap tenang di sana" ujar Rafa


"Kita pulang Di"


"Ayo bang"


Mobil berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah


"Bang" panggil Diana


"Ada apa Di" jawab Rafa


"Abang bisa ceritakan sedikit tentang Mba Puspa, yang abang ketahui?"


"Hmmm,,, Puspa itu seorang guru Di, dia lembut dan sedikit pemalu, orangnya baik dan cerdas. Satu hal yang harus kamu tahu, mereka dulu juga di jodohkan, awalnya mereka juga tidak saling mencintai, namun seiring waktu, dengan sifat Puspa yang mandiri, selalu memanjakan Anjar. Dulu mereka tinggal berdua di rumah mereka, mungkin karena kebersamaan mereka, ahirnya mereka jatuh cinta satu sama lain


Dalam hati Diana berfikir, apakah dia juga bisa membuat Anjar jatuh cinta padanya.


"Di, dengan perhatian-perhatian kecil, cinta pasti akan datang" lanjut Rafa


Rafa tahu bahwa adiknya belum mencintai Diana


"Bang, apa aku salah jika aku menikahi adik abang hanya karena ingin membersamai tumbuh kembang Azam dan Emyr?"


Diana menatap penuh lekat ke arah Rafa


"Apa abang seyakin itu?"


"Jika aku seyakin ini, maka kamu harus melebihi keyakinanku Di"


"Sudah sampai Di, maaf tidak ikut turun, sampaikan salamku buat bu Milah


"Oke, Makasih ya bang, sampaikan juga salamku buat mba Siska dan Aurell"


"Abang hati-hati di jalan"


"Siap adik ipar" sahut Rafa hormat seraya menempelkan tangan di sisi kepala


Diana menggelengkan kepala dan tersenyum simpul melihat kelakuan calon kakak iparnya.


Hari telah berganti, Diana berniat ke rumah pak Dhaniswara karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan di sana, Sesuai perintah calon ibu mertuanya.


Diana menggendong Azam yang tertidur karena kelelahan setelah barmain dengannya, bersama dengan Atin yang menggendong Emyr.


Saat keluar dari kamar si kembar, Dia melewati kamar Anjar yang tidak tertutup rapat, tampak Anjar bersender di kepala ranjang, kakinya yang berselonjor, dan tangan beredakap, dengan mata terpejam, samar Diana mendengar musik yang sedang di putar, lalu menghentikan langkahnya.


Annother day has gone


(Hari silih berganti)


I'm still all alone


(Aku tetap sendiri)


How could this be

__ADS_1


(Bagaimana bisa ini terjadi)


You're not here with me


(Kau tak di sini bersamaku)


You never said good bye


(Kau tak pernah ucapkan selamat tinggal)


Some one tell me why


(Seseorang beri tahu aku kenapa)


Did you have to go


(Kau harus pergi)


And leave my world so cold


(Dan membiarkan duniaku begitu dingin)


*Everyday I sit and ask my*self


(Setiap hari aku terenung, dan bertanya pada diriku)


How did love slip away


(Bagaimana bisa cinta terlepas jauh)


Something whispers in my ear and says


(Sesuatu membisikan di telingaku dan berkata)


That you are not alone


(Bahwa kamu tak sendiri)


For I am here with you


(Sebab aku disini bersamamu)


Though you're far away


(Walaupun kamu sangat jauh)


I am here to stay


(Aku tetap disini)


You are not alone


(Kamu tak sendirian)


I am here with you


(Aku di sini bersamamu)


Though we"re far apart


(Walaupun kita terpisah jauh)


You"re always in my heart


(Kamu selalu di hatiku)


"Lagu itu pasti mewakili perasaanya. Mba Puspa, kamu sangat beruntung mempunyai suami seperti dia" Batin Diana dan melangkahkan kakinya kembali menuruni anak tangga

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2