
Suasana sejuk begitu terasa menjelang terbitnya sang fajar dari ufuk timur. Kondisi alam yang masih lestari nan hijau mendukung produktivitas pertanian sebagai aktifitas utama penduduk desa di kampung ini.
Sama halnya pak Ilham yang begitu mencintai tanaman, membuat dia terjun ke dunia pertanian.
Hari ini beliau di temani sang menantu menyiram tanaman. Anjar begitu semangat, ini pertama kalinya Anjar terjun sebagai petani sayuran. dengan memakai kaos dan celana pendek terlihat tampan, membuat orang-orang takjub dengan menantu pak Ilham.
"Apa ini suaminya neng Puspa, pak?"
Tanya seseorang yang juga sedang merawat kebun di samping kebun pak Ilham.
"Iya pak ini suami anak saya Puspa"
"Wah beruntung pak Ilham dapat menantu seperti ini"
"Ah bapak bisa saja" sahut pak Ilham
"Sudah selesai nak?"
"Iya pak sudah"
"Ya sudah ayo kita pulang"
Saat di perjalanan pulang dengan jalan kaki, banyak pasang mata yang memindai pandangannya ke arah Anjar, tak sedikit mereka juga menyapa.
"Apa bapak setiap pagi selalu jalan kaki seperti ini pak?" tanya Anjar
"Iya nak, hampir setiap pagi selepas subuh bapak jalan ke perkebunan"
"Apa bapak tidak cape" ini lumayan jauh loh pak"
"Haha, kalau setiap hari di lakukan, tidaklah jauh, mungkin nak Anjar yang baru pertama kali jalan, jadi berasa sangat jauh"
"Mungkin saja pak"
"Nak"
"Iya pak?"
"Apa Puspa merepotkanmu selama hamil?"
"Tidak pernah pak, dia sangat mandiri, dia tidak manja, selalu melakukannya sendiri, malah saya yang sering merepotkan dia"
"Itu sudah menjadi tugas istri melayani suami"
"Yang terpenting, kamu harus tetap tegas, jika dia salah kamu wajib menegurnya, dan selalu membimbingnya"
"Baik pak"
Setelah menempuh hampir setengah jam berjalan mereka sampai rumah, sudah ada secangkir kopi, dan singkong goreng yang siap mereka nikmati.
"Mas, mas paling ngga suka sama singkong goreng"
"Kata siapa" sahut Anjar"
"Mas kan biasa makan pizza"
"Ngga juga buktinya mas abis banyak" seraya menikmati singkong goreng buatan ibu mertua
"Ini siapa yang bikin singkong goreng seperti ini dhe?"
"Ibu, kalau aku ngga bisa goreng sampe mlepuh gitu"
"Bapak, nak Anjar, ayo sarapan dulu" ucap ibu
************
"Nduk, kamu kenapa dari tadi makan nda semangat begitu?"
"Ngga apa bu, bawaanya mual aja, padahal udah di masakin sayur asem sama ibu"
Puspa melirik suaminya yang begitu lahap menyantap sarapan, entah kenapa Puspa merasa puas saat sang suami memakan sayur asem
"Jangan liatin gitu dhe, mas kan memang tampan"
__ADS_1
Sontak ibu dan bapak tersenyum
"Mas memang tampan, tapi penakut, ak,,,,
Anjar menghentikan aktivitasnya, kemudian menyendok makanan dan memasukannya ke mulut Puspa
"Iihh mas apa-apaan si?"
"ibu suruh dia makan bu dan jangan lihatin suaminya" canda Anjar pada ibu mertuanya
"Iya nduk dari tadi kamu liatin suamimu makan terus, makananmu malah cuma di ecek-ecek"
"Ngga tau bu, Puspa seneng aja mas Anjar makan sayur asem, rasanya puas sekali, aku sampai kenyang"
"Mas makan lagi nih sayur asemnya"
"Kamu itu aneh?" sambar Anjar
"Aku suka mas, rasanya anaku juga ikut seneng di dalam sana"
"Tapi kamu belum makan dhe?"
"Aku kenyang lihat mas makan"
"Bapak sudah selesai, bapak ke depan dulu?"
"Iya pak"Jawab Puspa
"Ibu juga sudah selesai, Nak setelah ini bapak sama ibu mau bicara"
Anjar dan Puspa menatap heran ke arah Ibunya.
"Bapak sama ibu mau bicara apa mas?"
"Kok malah tanya sama mas?"
"Ayo mas buruan di habisin, nih lagi"
"Udah dhe, mas udah makan banyak, dari tadi nambah-nambah terus"
"Kapan kalian kembali ke jakarta" tanya bapak mengawali pembicaraan
"Sore ini pak, selepas maghrib" jawab Anjar
"Sebelumnya bapak dan ibu minta maaf, jika bapak membuat kalian kecewa"
Wajah Puspa memanas, dan jantung sedikit berdetak agak kencang saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir bapaknya.
"Sebenarnya ada apa si pak?" tanya Puspa dengan raut bingung dan sedikit cemas, ia meremas tangan sang suami, hingga tangannya berkeringat.
"Begini Nduk, dan Nak Anjar" pak Ilham menjeda kalimatnya, mengambil nafas panjang lalu mengembuskannya perlahan "Bapak dulu pernah menikah siri dan punya dua orang anak"
Seketika Puspa mengarahkan pandangannya ke arah pak Ilham
"Bapak ngomong apa?" tanya Puspa masih belum paham arah pembicaraan ini
"Bapak punya istri selain ibumu nduk"
Puspa menyenderkan punggungnya ke sofa, seolah tidak percaya
"Apa itu benar bu?" tanya Puspa
Bu retno menangguk
"Ibu tahu?"
Lagi-lagi bu Retno menangguk
Anjarpun merasa kaget dan tidak percaya
"Dulu saat usiamu masih lima tahun, bapak menikah siri, tanpa sepengetahuan ibu"
Pak Ilhampun menceritakan kejadian itu, mulai dari awal hingga ahir.
__ADS_1
"Lalu, dimana sekarang istri bapak?" kali ini Anjar yang bertanya, Puspa seperti tidak punya tenaga untuk mendengarkan cerita dari bapaknya, pikirannya seolah traveling kemana-mana.
"Istri ke dua bapak sudah meninggal" Puspa mengangkat kepalanya menatap sang Bapak
"Bapak punya dua anak dari pernikahan bapak yang ke dua" lanjutnya
"Bapak minta maaf Puspa"
"Kenapa bapak meminta maaf pada Puspa, minta maaflah pada ibu" ucap Puspa yang mulai meneteskan bulir bening dari matanya
Anjar memegang erat tangan sang istri seolah mentransfer kekuatan untuk istrinya
"Di sini ibu yang salah ndu?"
Puspa memindai pandanganya ke bu Retno
"Yang terpenting sekarang ibu sama bapak harus cari anaknya Arum" ibu ingin meminta maaf pada mereka"
"Kenapa ibu yang meminta maaf?" tanya Puspa heran
"Karena ibu yang sudah membuat Arum meninggal"
Puspa tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, sama halnya Anjar, dia juga begitu terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya
"Ibu yang sudah memaksa Arum untuk meninggalkan bapak, dalam keadaan hamil nduk" ucap ibu lagi
"Sekarang anak-anak bapak ada di mana?"
"Kata keluarganya mereka ikut pamannya di balik papan" jawab pak Ilham
"Kenapa baru sekarang kalian ingin mencarinya, kenapa tidak dari dulu?"
"Dulu kami sudah berusaha mencarinya, tapi tidak ketemu"
"Nduk, apa kamu marah sama bapak dan ibumu?" tanya ibu
"Tidak bu, carilah anak bapak, dia juga adiku kan?"
"Sekarang rencana bapak apa?" Saya akan bantu bapak mencarinya?" ucap Anjar"
"Terimakasih, kalian memang benar-benar anak bapak yang baik, rencananya lusa bapak akan ke Balik Papan"
"Ya sudah pak lusa saya kemari, menemani bapak ke sana, nanti saya siapkan tiketnya, bapak tinggal berangkat saja" sahut Anjar
"Apa kamu nda cape nak?"
"Ngga apa-apa pak"
"Apa bapak ikut Puspa ke jakarta, biar nak Anjar nda bolak balik gitu pak" ibu menimpali
"Iya pak lebih baik seperti itu" Puspa pun ikut menimpali
"Barati nanti malam bapak ikut kalian ke jakarta?" tanya pak Ilham
"Iya pak, lagian Puspa ngga tega membiarkan bapak kesana sendiri"
"Ya sudah bu, tolong siapin keperluan bapak ya bu,
"Bapak tahu alamatnya dimana?" kali ini Anjar bertanya dengan nada serius
"Iya nak Anjar mereka sudah memberitahu tempat tinggal mereka di sana, sudah bapak catat"
Sore harinya, Anjar dan Puspa bersiap-siap untuk kembali ke jakarta, karena hari senin mereka sama-sama bekerja. Pak Ilham yang akan ikut bersama mereka pun tampak sudah siap.
"Bu bapak pergi dulu ya", ibu hati-hati di rumah"
"Bapak juga hati-hati"
"Kami pamit ya bu" ucap Anjar
"Kalian hati-hati, kabari ibu jika sudah sampai"
Perjalanan malam sedikit macet, karena ini hari minggu. Banyak orang menghabiskan hari minggunya dengan mengendarai mobil
__ADS_1
Anjar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan meninggalkan kota semarang
Bersambung