
POV DIANA
Sudah hampir satu bulan aku menjalankan tugas malam. Bunda pernah bertanya kenapa aku dinas selalu malam, aku menjawab bahwa itu adalah peraturan rumah sakit.
Padahal ini hanyalah alibiku agar tidak bertemu dengan mas Anjar, dan secepatnya bisa melupakannya.
Dua minggu yang lalu aku pun sudah mendaftarkan perceraianku ke pengadilan agama, tentu saja tanpa sepengetahuan mereka. Keputusanku sudah bulat untuk berpisah dengan mas Anjar.
Bulan depan adalah sidang perceraianku, setelah bercerai darinya, aku akan pergi dari sini, mungkin akan ke bandung dan menetap di sana. Walau sebenarnya tidak ingin pisah dari anak-anak, tapi ini yang terbaik untuku. Dia bukan anak kandungku, tapi aku begitu menyayanginya
"Mami ayo kacih makan ikan" ajak Emyr
"Oke ayo" Kita panggil mba Atin buat ambil umpannya dulu ya"
"Ok mami"
Setiap hari aku bisa bermain dengan anak-anak sambungku, dan malam harinya bekerja. Biarpun lelah, karena kurang tidur, tapi aku menikmatinya. Ini lebih baik dari pada harus menjalin hubungan dengan bayang-bayang wanita yang mencintai suamiku, dan suami yang tidak mencintaiku.
"Non ini umpannya"
"Oh iya makasih ya mba, tolong kupas buah buat anak-anak sekarang"
"Iya non"
"Terus nanti bawa kesini ya"
Ku gandeng tangan si kembar di tangan kanan dan kiriku, melangkahkan kaki ke arah kolam
"Mami mami, ikannya cudah besal" ujar Azam
"Ikannya menggelepah mami" ucap Emyr seraya melempar umpan
"Wow banyak sekali ya ikan-ikan kakek"
"Iya mam, banyak dan besal-besal"
"Apa abang Azam dan Emyr sudah pernah menangkap ikannya"
"Cudah mam, cama papi cama kakek"
"O ya,, besok suruh papi buat nangkap lagi ya"
"Halo jagoan ayah"
"Bang Rafa, dari mana saja bang?" ayo sayang salim dulu sama ayah Rafa"
"Dari sekolah Aurell Di"
"Ada apa dengan Aurell bang?"
"Tadinya mau jemput dia, tapi malah ada jam tambahan, jadi abang pulang dulu ke sini, soalnya di rumah juga sepi"
"Tentu saja bang, mba Siska kan shift siang hari ini" sahutku sembari mengawasi Azam dan Emyr"
"Di, kamu sama Anjar tidak ada apa-apa kan, lancar-lancar saja kan?"
Aku hanya diam, sebernarnya ingin sekali menanyakan tentang wanita itu, tapi biarlah, toh sudah jelas, mas Anjar bersikap manis padanya, mustahil kalau tidak ada sesuatu di antara mereka
"Di, kamu melamun?"
Aku tersenyum kecut "Bang, boleh tidak aku menyerah?"
"Maksud kamu Di?"
Saat akan menjawab, Ponselku tiba-tiba berbunyi
"Bang aku angkat telfon dulu ya, dari rumah sakit, kayanya penting. Tolong jagain anak-anak sebentar bang?"
Ku hampiri anak-anak yang sedang bersama bang Rafa, setelah menerima telfon dari rumah sakit
__ADS_1
"Ada apa Di?"
"Ini bang, nanti aku harus berangkat lebih awal, karena mba Siska ijin, pulang lebih awal"
"Tapi kemarin sudah ada dokter Panji yang gantiin Di, kenapa jadi kamu?"
"Katanya dokter Panji mendadak ada urusan. Maaf ya bang, nanti tidak bisa ikut acara abang, Happy Anniversary buat Abang dan mba Siska, semoga sakinah sampai Janah ya bang?"
"Makasih Di, doa yang sama buat rumah tanggamu, oh ya tadi kamu bilang mau nyerah, nyerah apa maksudnya Di?"
"Ti-tidak bang, lupain saja" jawabku seraya menghindar dari tatapan bang Rafa
"Rafa kamu di sini?" tanya bunda yang tiba-tiba datang membawa potongan buah untuk si kembar
Setelah berbincang-bincang hampir satu jam, bang Rafa pun pamit.
"Bun, hari ini aku berangkat jam 4, mau gantiin shiftnya mba Siska"
"Terus nanti tidak bisa datang ke acaranya Rafa sama Siska dong?"
"Iya bund, soalnya ini darurat, tapi nanti setelah praktek, aku bisa sempetin pulang sebentar, aku usahain nanti bisa kerumah mba Siska, sebelum kembali ke rumah sakit. Maaf ya bund"
"Kenapa minta maaf Di?" itu sudah jadi resiko pekerjaan, tidak masalah bagi bunda"
...@@@@@...
Sore harinya, aku sudah di rumah sakit sekarang, hari ini aku praktek menggantikan mba Siska, tersisa beberapa pasien untuk di periksa.
"Sus, aku sudah siap, bisa panggil pasien selanjutnya sekarang" ucapku pada suster
"Baik dok"
"Silakan duduk nek, apa yang nenek rasakan?"
"Lemas dok, dan tidak ***** makan"
"Ok aku priksa dulu ya nek"
"Sus masih ada berapa pasien lagi, yang harus di periksa?"
"Empat dok, tapi pemeriksaan setelah istirahat sholat maghrib"
"Oke, kalau begitu, saya langsung ke mushola, nanti selesai sholat, mulai pemeriksaan. Tolong kamu juga agak cepat sholatnya, jangan buat pasien menunggu terlalu lama, kasian mereka juga pasti cape menungu.
"Baik dok"
Ku tinggalkan ruangan ku menuju ke mushola, di sana aku puas berkeluh kesah pada-Nya.
"*Yakin Di, akan ada pelangi setelah hujan*" Batinku seraya memakai sepatu, lalu melangkahkan kembali ke ruanganku.
"Panggil lagi pasien selanjutnya sus"
__ADS_1
"Baik dok"
"Pak Anjar Dhaniswara, silakan masuk"
Aku tertegun saat mendengar suster memanggil nama suamiku.
Pembawaanya memang dingin, dan terkesan cuek
"Duduklah, Kenapa lagi mas, ucapku tanpa menatap wajahnya
"Keluhan yang sama seperti waktu itu"
Ku hentikan gerakan tanganku memegang mouse
"Aku sudah sering bilang jangan telat makan"
Mungkin ucapanku ini terkesan dingin. "*Memangnya cuma dia yang bisa bersikap dingin*" Batinku
"Bagaimana aku tidak telat sarapan, Istriku tidak ada di rumah saat jam itu, dia selalu pulang saat aku sudah berangkat ke kantor"
Ku telan salivaku. Banar, aku memang belum pulang saat jam sarapan, aku pikir dia selalu sarapan sebelum ke kantor.
"Sini ku periksa"
"Apa malam ini juga jaga malam?" tanyanya
"Iya mas" jawabku masih fokus memeriksanya
"Bisa ijin sebentar, aku ingin bicara denganmu?"
ku tatap bola mata mas anjar
"Baiklah, akan ku selesaikan pekerjaanku, setalah ini aku akan pulang sebentar, masih ada dua pasien lagi yang harus ku periksa"
"Aku akan menunggumu, kita pulang sama-sama" ucapnya seraya berdiri lalu meninggalkan ruanganku
**Bersambung**
__ADS_1