
"Semoga saja dia tidak selamat melahirkan bayi kembarnya" Kalimat itu melucur dari bibir Cantika
Anjar masih terbaring lemah di kamarnya, ia berusaha duduk dan menyenderkan punggungnya di ranjang. Puspa yang baru saja selesai mandi, menatap heran ke arah suami yang tampak sedang melamun
"Mas, kenapa melamun?" tanya Puspa lalu berjalan mendekati Anjar
"Tidak kenapa-kenapa sayang" jawabnya seraya melingkarkan tangan di pinggang Puspa
"Mas tadi kenapa tiba-tiba menc*mbuku, kau tahu, Cantika sempat melihatnya"
"Biarkan saja dia melihatnya" sahut Anjar masih dalam posisi memeluk perut buncit Puspa
Sampai detik ini Anjar masih heran kenapa dia bisa begitu agresif, setelah meminum jus buatan Cantika, tapi ia enggan memberitahu istrinya. Anjar bersyukur Puspa datang tepat waktu, jika terlambat sedikit saja, Anjar pasti sudah melakukannya, dan Puspa akan salah paham.
"Cantika benar-benar kurang ajar" Batin Anjar
"Sayang kok diam, Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Puspa
"Itu kan kata-kata mas" sahut Anjar
Puspa tersenyum seraya mengusap kepala Anjar
"Mas mandi dulu sana, aku akan memasak buat makan malam"
"Tidak usah masak, kita pesan saja, mas ingin kamu di sini"
Puspa mengerutkan dahinya
"Hmmm pasti ada yang sedang mas pikirkan, iya kan?"
"Tidak ada sayang" jawab Anjar " mas mau mandi, kamu di sini saja, jangan pergi"
Puspa berjalan ke arah lemari, memilih pakaian untuk suaminya.
Adzan magrib berkumandang, Puspa mengajak Anjar untuk Sholat berjamaah. Selesai sholat Puspa berniat turun ke bawah memberi tahu Cantika kalau malam ini tidak memasak.
Saat menuruni anak tangga, Puspa melihat Cantika sedang duduk di ruang TV, dengan tatapan kosong
"Tika"
"I-ya mba, ada apa?" jawab Cantika kaget
"Malam ini mba ngga masak, mba sudah pesan makanan, nanti kalau datang tolong kamu buka pintu dan ini uanganya"
"Iya mba"
"Kamu sakit Tika?"
"Ti-tidak mba" jawab Cantika
"Ya sudah mba naik dulu ya"
Cantika menganggukan kepalanya
"Kenapa mba Puspa terlihat biasa saja, apa mas Anjar tidak cerita padanya?" gumam Cantika menatap punggung Puspa yang berjalan semakin menjauh
Malam ini Anjar tidak beranjak dari kamar setelah kejadian itu, Anjar benar-benar tidak ingin melihat wajah Cantika, Anjar benar-benar murka padanya.
"Mas"
__ADS_1
"Iya?"
"Dari tadi mas melamun, ada apa?" apa aku melakukan kesalahan?" kalau iya aku minta maaf" ucap Puspa
Alih-alih menjawab, Anjar justru menanyakan soal Cantika
"Dhe, kapan Cantika pergi dari sini?"
"Besok dia kembali mengikuti pendidikan pramugarinya, Kenapa mas?"
"Syukurlah"
"Besok kita antar dia ya mas?"
"Besok?" tanya Anjar
"Iya, besok minggu, mas ngga kerja kan?"
"Ya sudah besok kita antar" jawab Anjar
Keesokan harinya, Anjar sudah merasa lebih baik, setelah sholat subuh, Anjar berniat menyiram tanaman di halaman rumahnya. Dengan memakai kaos dan celana pendek, Anjar meraih selang, memulai menyiram tanaman yang di tanam oleh Puspa satu tahun yang lalu.
Puspa datang membawakan segelas teh hangat, dan pisang goreng keju
"Mas tehnya"
Anjar menoleh sejenak lalu melanjutkan aktifitasnya, "sebentar lagi sayang"
Puspa duduk di kursi teras sambil memperhatikan suaminya, dengan tangan kiri mengusap perut buncitnya, dan tangan kanan memegang pisang goreng. Tak lama kemudian Anjar datang menghampirinya, meraih gelas berisi teh lalu menyeruputnya pelan
"Hati-hati mas, panas"
"Cantika belum bangun sayang?"
"Entahlah, belum keluar kamar dari tadi"
"Dia berangkat jam berapa?" tanya Anjar
"Selepas dzuhur katanya?"
Sepiring pisang goreng sudah habis dimakan oleh Anjar dan Puspa.
Anjar yang langsung memasuki kamar untuk membersihkan diri, dan Puspa ke dapur untuk membuat sarapan. Saat sarapan telah siap, hanya Puspa dan Cantika yang berada di meja makan
"Mas Anjar tidak ikut sarapan mba?" tanya Cantika seraya menyendok nasi ke piringnya
"Katanya masih kenyang, tadi sudah minum teh dan makan pisang goreng, nanti minta di bawain makanan ke kamar
"Apa mas Anjar sakit?"
"Tidak" jawab Puspa
Waktunya mengantar Cantika, Sikap Anjar begitu dingin, membuat Cantika tidak berani menatapnya, Cantika merasa malu dengan sikapnya kemarin. Saat sedang menunggu Puspa yang masih bersiap-siap, Anjar menghampiri Cantika yang sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Anjar berdehem membuat Cantika reflek menatapnya, lalu menunduk kembali.
"Tika, apa yang sudah kamu campur kedalam minumanku kemarin?"
Diam tak ada jawaban
__ADS_1
"Baiklah jika kamu tidak mau menjawabnya, tidak akan aku ceritakan kelakuanmu pada istriku dan juga mertuaku, tolong jangan lakukan lagi, Puspa sudah sangat baik padamu, ingat, dia itu kakakmu, jangan buat dia membencimu, satu lagi, bapakmu berharap banyak padamu, jangan sampai dia kembali membuangmu" ucap Anjar seraya meninggalkan Cantika yang masih tak bergeming
Kata-kata membuangmu benar-benar membuat Cantika sakit hati, sekejap rasa kagum dan ingin memiliki berubah menjadi kebencian.
"Anjar, aku akan membuatmu menyesal, aku akan membalasmu" batin Cantika
Tak lama setelah itu terlihat Puspa menuruni tangga
"Cantika apa sudah siap?"
"Sudah mba"
Puspa berjalan keluar rumah, di ikuti oleh Cantika yang mengekor di belakangnya. Anjar yang sedang duduk di kursi teras segera berdiri
"Sudah siap sayang"
"Sudah"
Setelah mengunci pintu rumah, Anjar setengah berlari mensejajarkan langkahnya di samping Puspa, lalu membukakan pintu mobil untuknya, Anjar sempat melirik Cantika yang sudah duduk di kursi belakang.
Menjalankan mobilnya keluar pintu gerbang, lalu Anjar turun untuk menutup kembali gerbangnya.
Sejumlah jalan utama di jakarta tampak lenggang di hari minggu
Beberapa titik yang kerap macet pada jam keberangkatan kerja terpantau lancar
Anjar melajukan mobilnya dengan penuh hati-hati
"Mas nanti setelah ini mampir belanja bulanan ya?" ucap Puspa
"Iya, jawab Anjar yang tetap fokus mengemudi
Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, mobil Anjar telah sampai di bandara Soeta jakarta
Cantika akan menaiki pesawat menuju Yoygakarta untuk kembali menempuh pendidikan yang berfokus pada pelatihan pramugari dan ground staff.
"Tika, kamu hati-hati, jangan lupa selalu telfon bapak, nanti kalau ada cuti lagi, pulanglah ke semarang, itu lebih dekat dari jogja"
"Iya mba" jawab Cantika lalu memeluk tubuh Puspa
...•••••••••••••••...
Anjar merasa lega, Cantika telah pergi dari rumahnya, Anjar berharap Cantika akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kini sepasang suami istri sudah berada di supermarket, Puspa melangkahkan kakinya ke stand di mana susu ibu hamil di pajang, di ikuti oleh Anjar di belakang Puspa sambil mendorong troly.
Anjar membeli bahan-bahan untuk membuat meat pie, makanan khas Australie, Anjar yang pernah menempuh S 2 di Australia, membuat dia merindukan makanan itu.
"Sayang mas mau bikin meat pie"
"Apa itu sayang?"
"Makanan kesukaan mas saat tinggal di Australi"
"Terserah mas, tapi aku ngga bisa bikinnya"
"Mas yang akan membuatnya"
Bersambung
__ADS_1