Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
77


__ADS_3

Hari demi hari di lalui oleh Diana, hingga dua bulan sudah Emyr menjalani perawatan di rumah sakit. Seminggu lagi bocah malang itu akan keluar dari sana, dan akan menjalani fisio terapi.


Diana sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari rumah sakit tempat dia bekerja, dan akan fokus mengurus Emyr.


Saat ini Diana sedang menunggu sang suami di bandara.


"Mas" seru Diana seraya melambaikan tangannya saat ia melihat sosok suaminya. Diana segera mencium punggung tangan milik Anjar


Anjar hendak mencium kening Diana, namun Diana segera menghindar,


"Mas ini tempat umum, malu" ucap Diana


"Ya sudah, kita lanjutkan di apartemenmu?"


"Kamu bawa mobil siapa Di?" tanya Anjar saat sudah di parkiran


"Aku pake mobil mama Sarah mas"


"Ini malam lho Di, kenapa berkendara sendirian?"


"Mas, Singapura sangat kecil, bahkan kita bisa berkeliling Singapura hanya dalam waktu sehari, jarang sekali ada kejahatan di sini, ayo mas Masuk, biar aku saja yang nyetir, mas pasti cape"


Anjar pun menuruti ucapan Diana


"Bagaimana kondisi anak-anak mas?" tanya Diana sedikit memutar kemudinya, dan melirik ke arah spion


"Mereka baik-baik saja Di, mereka nitip salam untukmu"


"Bagaimana denganmu, apa kamu kerepotan mengurus mereka?"


"Tidak, aku senang merawat mereka, setiap minggu kami berenang, bahkan sekarang Sasa sudah sedikit bisa berenang"


"Oh ya, terus abang Zamzam gimana?"


"Dia sangat menyayangi Sasa, kamu jangan khawatir sayang" pungkas Anjar


Mobil telah sampai di parkiran apartemen. Anjar menggandeng tangan Diana memasuki unit miliknya.


"Bagaimana dengan Emyr Di?"


"Seminggu lagi dia keluar dari rumah sakit mas?"


Ting pintu lift terbuka, kini Anjar dan Diana sudah berada di lantai sembilan


"Mas mandi dulu, aku siapkan makanan?"


Saat Diana hendak melangkahkan kakinya, menuju dapur, Anjar segera meraih pergelangan tangan milik Diana


"Aku merindukanmu Di"


"Mandi dulu, badanmu sangat lengket mas?"


Anjar merangkum wajah Diana lalu mengecup keningnya. Diana menikmati ciuman dari suaminya, yang sudah dua bulan tidak ia rasakan


"Aku mandi dulu" ucap Anjar


Selesai mandi, Anjar melangkahkan kakinya menuju dapur, ia melihat istrinya sedang membuat makanan untuknya


"Sayang" Panggil Anjar lalu memeluk Diana dari belakang


"Sudah mandi"


"Apa kamu sedang bermasalah dengan penciumanmu, apa kamu tidak bisa mencium aroma sabunmu sendiri hem?" ucapnya seraya mencium tengkuk Diana

__ADS_1


Diana tersenyum


"Geli mas, tolong lepaskan dulu, aku tidak bisa bergerak, kamu lihat kan aku sedang memasak"


"Rasanya perutku kenyang, setelah melihatmu Di?"


"Apa kamu sedang merayuku mas?"


"Tidak salah kan suami merayu istrinya sendiri"


"Ayo makan dulu"


Diana membuat spageti white sauce untuk suaminya


"Tadi dari Jakarta jam berapa mas?" tanya Diana lalu memberi gelas berisi air untuk Anjar


"Jam lima Di, pulang kantor langsung ke bandara"


"Ada pamit sama anak-anak?"


"Ada, mereka bilang mami suruh jaga kesehatan"


"Apa mereka merepotkan papinya?"


"Sedikit, pernah Sasa membuatku stres, dia nyemplung ke kolam milik ayah, katanya asik bermain air, berenang bareng sama ikan-ikan, aku sudah menyuruhnya untuk naik, tapi malah dia menangis, sejak saat itu aku sering ajak mereka berenang, menyenangkan sekali Di bermain bersama mereka, aku sampai lupa kalau aku punya istri secantil kamu"


Anjar telah menghabiskan spageti buatan Diana


Saat di kamar sepasang suami istri sedang terlibat pembicaraan santai


"Di, aku cuma dua hari disini, minggu sore harus balik lagi ke Jakarta, sekarang ceritakan semua masalahmu, bebanmu, ceritakan tanpa ada yang terlewat Di, apapun yang mengganggu pikiranmu, tolong beri tahu aku"


Diana merasa terharu mendengar ucapan Anjar, belum menceritakan saja Diana sudah merasa bebanya sedikit berkurang.


"Maaf sebelumnya sudah membuat Emyr seperti ini" ucap Diana


"Sshhttt jangan terus menyalahkanmu Di, aku yang salah"


Hening


Anjar memindai wajah Diana "Kenapa diam"


"Aku tidak pernah cape merawat Emyr, aku sedikit takut"


"Takut kenapa?"


"Takut jika Emyr tidak bisa sembuh"


"Kata dokter, Emyr masih bisa sembuh kan?"


Diana mengangguk


"Kalau begitu jangan takut lagi"


"Tapi jika Emyr tidak bisa sembuh bagaimana?"


"Kita sudah berusaha, serahkan sama Allah,


Kita harus ikhlas"


"Tapi aku belum bisa ikhlas mas"


"Di coba sayang, kalau kita ikhlas, pasti segalanya akan di permudah, okey?"

__ADS_1


Lagi-lagi Diana mengangguk. Anjar mematikan lampunya, menyisakan lampu temaran, kemudian segera menuntaskan has*rat yang selama ini tidak terpenuhi.


Pagi harinya, Diana sudah menyiapkan sarapan, setelah sarapan mereka berniat mengunjungi Emyr di rumah sakit.


"Sayang, aku merasa kita sedang bulan madu" ucap Anjar sambil mengunyah makanan


"Sayangnya cuma dua hari ya mas?" Diana membalas candaan Anjar


"Kalau kamu mau, aku bisa menunda kepulanganku sayang"


Diana mengangkat wajahnya menatap Anjar dengan tatapan tajam, membuat Anjar ketakutan


"Bercanda Di"


"Sudah mas jangan bercanda terus, habiskan sarapannya, kita harus segera ke rumah sakit, Emyr pasti sudah menunggu"


Diana melajukan mobil milik mama Sarah, ia tidak mengizinkan Anjar untuk mengemudikan mobilnya, Karena Dia tidak ingin suaminya terlalu cape.


Saat sudah sampai di tujuan, Diana membawa Anjar menuju ruangan Emyr, ketika berjalan melewati lorong rumah sakit, Mereka berpapasan dengan dokter Denis, dokter yang sampai saat ini masih menaruh hati pada Diana, walaupun sudah bersuami, terkadang dokter Denis mendokan agar rumah tangganya bubar, tentu saja doa itu selalu ia ucapkan di dalam hatinya.


"Dokter Denis, kenalin ini suami saya" ucap Diana


"Halo, Denis"


"Anjar"


Denis dan Anjar saling berjabat tangan


Anjar menyadari tatapan dokter Denis pada Istrinya, membuat Anjar sedikit kesal


"Apa mau menjenguk Emyr?" Tanya dokter Denis


"Iya Dok"


"Emyr sudah benyak perubahan, kamu memang ibu yang hebat dokter Diana"


"Ah tidak saya hanya melakukan tugas sebagai ibunya"


"Jarang lho dok ada ibu sambung yang bersedia merawat anak dari suami"


Ucapan Dokter Denis sedikit menyinggung perasaan Anjar


"Maaf dok, kami permisi dulu" sahut Diana cepat, seraya menggandeng tangan Anjar. Ia menyadari bahwa suaminya sedang kesal"


"Apa dia juga merawat Emyr Di" tanya Anjar sambil terus berjalan menuju ruangan Emyr


"Iya mas, dia dokter saraf di sini, jelas dia ikut andil dalam pengobatan Emyr"


"Dia sepertinya suka sama kamu"


"Sudah mas jangan di bahas" jawab Diana


"Nanti malam kita bahas tentang dia, itu harus Di, aku melihat tatapannya padamu tidak biasa"


"Tidak biasa bagaimana mas, aku dan dokter Denis berteman baik, sudah lama juga kita temenan"


"Tidak bisa di kamu harus menceritakannya, aku yakin kamu juga pasti menyadarinya"


"Menyadari apa si mas, kita sudah sampai"


Diana memutar handel pintu, Emyr masih terbaring memejamkan matanya di brankar rumah sakit.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2