Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
part 24


__ADS_3

Semarang banyumanik


Pagi hari pak Ilham sudah berada di perkebunan sayuran miliknya. Menyiram tanaman dan meneliti setiap tanamanya.


"Satu minggu lagi terong, cabe, dan pare, pasti panen" Gumam pak Ilham.


Pak Ilham tampak senang dengan hasil kebunnya, yang jarang sekali gagal panen. Saat sedang berjalan, menyisir setiap sisi kebun, ada pak bambang yang tiba-tiba menyapa.


"Wah pak Ilham, tanamanya luar biasa bagus"


"Eh pak bambang, dari mana saja pagi-pagi sudah sampai perkebunan"


"Lari-lari pak, biar badan tetap sehat bugar"


"Betul itu pak bambang"


"Ngomong-ngomong, pak Ilham sangat pandai merawat tanaman, saya lihat setiap panen hasilnya memuaskan"


"Alhamdulillah pak, harus tlaten dan sabar kuncinya"


"Bisa di curi ini ilmunya" canda pak Bambang


"Pak Ilham, Bapak tahu mantan lurah desa sebalah?" yang dulu pernah mengusir anaknya karena hamil di luar nikah"


Deg, dada pak Ilham berdesir, dengan ucapan pak Bambang


"Ada apa ya pak? tanya pak Ilham


"Dia meninggal hari ini"


"Innalillahi" meninggal kenapa pak bambang?


"Biasa pak, sudah sepuh, sudah hampir 90 tahun usianya"


Pak Ilham hanya manggut-manggut tanda mengerti.


"Baiklah pak Ilham, saya lanjut jalan" ucap pak Bambang


"oh nggeh monggo-monggo"

__ADS_1


Pak Ilham menuju gazebo yang berada di area perkebunan miliknya, duduk bersender, pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam


Flash Back on


Pada saat usia Puspa masih 5 tahun, pak Ilham merasa frustasi karena sang istri baru saja keguguran anak ke empatnya, yang di ketahui berjenis kelamin laki-laki


Sebelum Puspa lahir, Bu Retno mengalami keguguran sampai 2 kali. Pada kehamilannya yang ke tiga, Bu Retno benar-benar menjaga kandungannya, hingga ia melahirkan bayi perempuan dengan selamat. Puspa lahir sebagai anak nomor tiga.


Saat Puspa berusia 4 tahun, bu Retno kembali di nyatakan hamil, kabar ini benar-benar membuat pak Ilham dan bu Retno bahagia. Tapi saat kandungannya memasuki usia 5 bulan, bu Retno kembali mengalami keguguran, hingga rahimnya harus di angkat.


Mendengar kabar itu, pak Ilham sangat sedih, ia pergi dari rumah bermaksud untuk menenangkan diri.


Pak Ilham menuju ke tempat hiburan malam, hanya untuk sekedar minum. Saat akan kembali ke rumahnya, Pak Ilham limbung di tengah jalan, lalu seorang gadis menolongnya, membawanya pulang. Di rumah, gadis itu sedang tidak ada siapa-siapa, lalu di luar kesadaran, pak Ilham telah merenggut paksa keperawanan gadis berusia 23 tahun. pak Ilham benar-benar bingung harus berbuat apa saat itu.


Setelah 2 bulan kejadian itu, pak Ilham mendengar berita, bahwa anak pak lurah hamil di luar nikah. Karena saat di tanya siapa yang menghamilinya, si gadis tidak memberitahu, dia benar-benar tidak mengenal pria yang sudah menidurinya, dengan kemarahanya pak lurah mengusir anak kandungnya.


Sesaat setelah mendengar berita itu, pak Ilham bergegas mencari keberadaan sang gadis yang di ketahui bernama Arum.


2 hari dalam pencarian, akhirnya pak Ilham menemukan Arum, seketika Arum ingat bahwa orang yang ada di hadapannya, adalah ayah dari anak yang di kandung saat ini. Arum sangat marah, dan histeris, pak Ilham berusaha menenangkannya.


"Kau sudah merusak masa depanku, kau juga yang sudah membuatku terusir dari rumah"


"Apa kau tidak berbohong dengan ucapanmu"


Pak Ilham menggelengkan kepala


"Sekarang kamu ikut aku, aku sudah membeli rumah di Solo, kita akan menikah di sana"


Penikahan siri di lakukan, di depan penghulu dengan dua orang saksi dan wali hakim, tanpa sepengetahuan bu Retno dan juga keluarga dari pihak Arum.


Rumah tangga mereka jalani dengan bahagia. Lahirlah anak perempuan yang cantik, yang mirip dengan sosok pak Ilham, Pak Ilham sangat senang dengan kelahiran putri pertama dari pernikahan keduanya.


Hampir tiga tahun pernikahan sirinya berjalan, Arum memberitahu sang suami bahwa saat ini tengah mengandung anak ke dua. Pak Ilham yang mendengar kabar itu, seketika mengangkat tubuh istrinya, kehamilannya menambah rasa bahagia di hati pak Ilham dan juga Arum...


"Bapak mau kemana?" tanya Puspa yang saat itu usianya 8 tahun"


"Bapak mau ke solo nak" bapak ada pertemuan dengan teman bisnis bapak"


"Nanti pulangnya bawa oleh-oleh ya pak?"

__ADS_1


"Iya nak" bapak kan selalu bawa oleh-oleh"


Bu Retno yang mendengar percakapan antara bapak dan anak bergegas menghamipirinya.


"Bapak mau ke solo lagi?" ahir-ahir ini bapak kok sering ke solo"


"Iya bu, bapak benar-benar mau ngembangin perkebunan, supaya hasil perkebunannya bisa di ekspor ke luar negeri, dan bapak harus banyak belajar dari teman-teman bapak, makanya jika ada pertemuan seperti ini, bapak selalu ingin ikut, karena banyak sekali ilmu yang bapak dapat"


Padahal itu hanya alasan pak Ilham agar bisa mengunjungi istri sirinya, tanpa di curigai oleh istri sah.


Beberapa waktu lalu, saat bu Retno sedang mencari akte kelahiran Puspa, tiba-tiba bu Retno menemukan sebuah kwitansi pembayaran rumah yang terletak di Solo. Di sinilah awal mula bu Retno mencurigai sang suami.


"Bapak berangkat dulu ya bu"


Tanpa sepengetahuan pak Ilham, diam-diam bu Retno mengikutinya


"Puspa, sama mbah uti dulu ya, ibu mau nyusul bapak, besok di bawain oleh-oleh yang banyak" ucap bu Retno"


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya pak Ilham sampai di rumah istri kedunya.


Wajah bu Retno seketika memanas, mendapati suaminya mencium kening wanita itu, sesaat setelah membukakan pintu, lalu di susul seorang anak perempuan berusia sekitar 2 tahun langsung berhambur ke gendongan suaminya.


"Siapa wanita itu" gumam bu Retno "Apa dia istri mas Ilham, apa mas Ilham sudah menghinatiku?"


Berbagai pertanyaan ada di benak bu Retno, ia ingin sekali melabrak suami dan wanita simpananya itu, tapi bu Retno tidak mau gegabah melakukan hal yang mungkin akan merugikan dirinya.


"Aku akan kembali besok, saat Mas Ilham tidak sedang bersamanya" Batin bu Retno.


Bu Retno kembali ke hotel tempat dia menginap, disini dia menangis memikirkan nasib pernikahannya, apalagi jika ia ingat anak perempuan satu-satunya, dia semakin tidak ingin kehilangan sang suami.


"Aku harus membuat wanita itu pergi meninggalkan mas Ilham"


"Besok aku akan datang kerumahnya,


Malam semakin larut tapi bu Retno semakin tidak bisa memejamkan matanya. Ia membayangkan suaminya sedang bercumbu, berbagi peluh dengan wanita lain saat ini. hingga kesadaran tak mampu lagi ia kuasai, alam mimpi mulai menyambut, bu Retno tertidur dengan mata yang terus meneteskan air mata..


Pagi menyapa, bu Retno bangun dengan mata yang sembab. Hari ini dia berniat mengunjungi wanita simpanan suaminya.


"Hari ini Mas Ilham akan menghadiri undangan Workshop tentang pertanian, ini waktu yang tepat untuk datang ke rumah wanita itu" gumam bu Retno

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2