Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
49


__ADS_3

Pernikahan di laksanakan di kediaman Dhaniswara yang akan di hadiri oleh kerabat dan keluarga terdekat saja.


Diana yang saat ini berada di sebuah kamar tamu, sudah di rias dengan tampilan make up smokey eye minimalis.


Blush on berwarna ping merona pada bagian pipi, lisptik glossy yang menambah kesan seksi, eye liner yang berpadu dengan bulu mata tebal nan lentik mempertegas tampilan mata, dan hijab yang di tata sedemikian rupa, tak lupa menyematkan siger pada pucuk kepala, di padukan dengan gown berwarna putih tulang.


Sang perias yang begitu bangga dengan hasil make up arabian look. Diana terlihat sangat cantik dan anggun, pun terkesan elegan dan glamour.


Setelah melewati serangkaian acara, tiba saatnya mengucapkan Ijab Qobul, Anjar yang tampak santai dengan pakaian tak kalah glamour dengan mempelai wanita. Berbeda dengan Diana yang merasa gugup dengan jantung yang berdegup tak beraturan


"Saudara Anjar Dhaniswara bin Aziz Dhaniswara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu Diana Aisyah Rahmania binti Alm. Alli Hidayat, dengan mahar 1 Milyar Rupiah Tunai"


Anjar segera menjawab dengan suara lantang


"Saya terima pernikahannya, dan perkawinannya dengan mahar yang telah di sebutkan tunai, dan saya rela dengan hal itu, dan semoga Allah selalu memberikan anugerah"


Setelah terdengar kata sah dari para hadirin, di lanjut sang Kyai yang memimpin doa, Siska menuntun Diana, duduk di samping Anjar. Setelah sah menjadi suami istri, mereka saling menyematkan cincin di jari manisnya, lalu Diana meraih tangan Anjar dan mencium punggung tangannya, yang di balas ciuman oleh Anjar di kening Diana, Anjar segera memegang ubun-ubun Diana seraya membaca doa


"Allahumma inni As'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa'alaih Wa A'udzubika min syarrihaa wa sharrimaa jabaltahaa'alaih"


"Aritnya : Yaa Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya"


Tidak hanya keluarga Dhaniswara yang bahagia, kebahagiaan juga terpancar dari wajah si bayi kembar. Diana yang masih menatap mereka dengan rasa iba yang mendalam, dia tampak meneteskan air mata. Dalam hatinya, ia berjanji akan menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Dan Anjar yang sedih karena teringat almarhumah istrinya.


Beberapa tamu masih antri menyalami sang pengantin. Tiba saatnya Orang tua Puspa, Anjar tampak menangis di pelukan ibu mertuanya, begitupun bu Retno


"Cintai istrimu seperti kau mencintai anak ibu" bisik bu Retno

__ADS_1


Setelah itu bergeser menyalami Diana


"Terimakasih sudah mau menjadi ibu sambung dari cucuku, kau boleh anggap aku sebagai ibumu" Diana pun terharu dengan bisikan ibunda dari Puspa


______


Malam harinya ada beberapa keluarga yang masih berada di kediaman Dhaniswara termasuk orang tua Puspa yang akan pulang besok sore. Kini mereka berkumpul di ruang makan. Azam dan Emyr yang berada di pangkuan nenek Rita dan mbah Retno. Sesekali mereka meledek gemas cucunya.


Anjar yang duduk berdampingan dengan Diana.


"Pengantin baru nanti selesai makan, langsung masuk kamar saja, tidak usah ikut ngobrol dengan kami" ucap Ayah


"Jangan lupa sholat sunah dulu njar sebelum nganu" ledek Rafa


"Dia sudah berpengalaman, kamu tidak perlu mengajarinya Rafa" ucap bunda tak mau kalah


Makan malam telah usai, ayah menyuruh Anjar dan Diana untuk segera masuk kamar.


"Kalian masuk kamar saja, nanti Azam dan Emyr ada nenek yang akan mengurusnya"


Diana ingin sekali menghentikan waktu, rasanya Dia tidak ingin memasuki kamarnya secepat ini, tapi apalah daya, tidak ada yang bisa Diana lakukan kecuali menuruti ucapan ayah.


Sebuah kamar yang luas, bahkan tiga kali lipat dari ukuran kamar Diana, di hias seindah mungkin, membuat Diana takjub.


Diana melangkahkan kakinya menuju meja rias, lalu mendudukan bobotnya di kursi depan cermin. Dia melirik Anjar yang berjalan menghampiri lemari, memilih satu stel piyama lalu memasuki kamar mandi.


Diana membasahi sebuah kapas lalu memulai menghapus make up pada wajahnya.

__ADS_1


Setelah itu, dia melepaskan kancing pada gaunya, hingga Anjar selesai mandi, hanya tiga kancing yang berhasil di lepas dari total 15 kancing, Diana berhenti sejenak mengistirahatkan tangannya, seraya melirik Anjar yang langsung merebahkan dirinya di kasur. 20 menit berlalu, Diana masih belum selesai berurusan dengan gaunya. Anjar meliriknya lalu berjalan mendekati Diana


"Kamu punya mulut kan?"


"kamu bisa meminta tolong dengan mulutmu" ucap Anjar seraya melepaskan kancing gaun milik Diana


Diana melirik Anjar melalui pantulan cermin


"Kamu saja yang tidak peka" Batin Diana


Kancing baju telah terlepas seluruhnya, terlihat sangat jelas punggung mulus milik Diana, tapi tidak mampu menarik perhatian Anjar. Anjar berbalik merebahkan badanya kembali, menarik selimut dan memejamkan matanya


Diana yang sudah berada di dalam kamar mandi, segera merendam tubuhnya dengan air hangat yang sudah ia campur dengan minyak essential dengan wangi mawar perancis, Aromanya yang soft, dan menenangkan, Diana merasakan kesegaran yang membuat pikiran dan tubuh menjadi lebih rileks. Hampir satu jam Diana berada di kamar mandi. Wangi semerbak yang berasal dari tubuh Diana memenuhi ruangan kamar mereka, membuat Anjar menghirup napas panjang lalu menghembuskannya perlahan dan sedikit mengeluarkan suara de*sahan.


Sama halnya Puspa, mengoles cream pada wajah, juga biasa di lakukan oleh Diana sebelum tidur, agar kecantikannya tetap terjaga.


Diana tampak ragu melangkahkan kakinya menuju ranjang


"Tidurlah, aku tidak akan menyentuhmu sampai kita benar-benar siap, ada bantal yang akan menjadi pembatas" ucap Anjar lalu memiringkan badanya membelakangi Diana


"Kau yang menciptakan dinding pembatas, dan aku, akan merobohkan pembatas itu mas, aku akan berusaha dan sabar melayanimu, sampai kau mau menerimaku"


Diana membatin


Walau sulit, Diana berusaha memejamkan matanya


"Ayah, ibu, selalu doakan aku dari sana, aku akan bahagia dengan keputusanku, dan aku akan memiliki anak yang banyak supaya anaku tidak hidup sendiri sepertiku kelak" Perlahan Diana terlelap

__ADS_1


__ADS_2