Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
45


__ADS_3

Rafa, Siska, dan Diana tengah berada di dalam mobil, mereka akan menuju ke panti asuhan tempat Diana di besarkan. Dengan sangat hati-hati Rafa mengendarai mobilnya, sesekali melirik dua wanita yang terlibat perbincangan


"Di, nanti shift malam ndampingi dokter siapa?"


"dr Toni mba"


"Dia dokter paling senior di rumah sakit kita Di, beliau senior kita juga, iya kan yah"


Rafa mengangguk dengan tatapan tetap fokus ke depan, yang sedang mengemudi


"Jangan terlambat nanti malam, dulu pas jamanku, beliau sangat galak dan juga disiplin, jaga malam sama beliau, benar-benar tidak bisa memejamkan mata barang sejenak"


"Tapi sekarang sudah tidak seperti itu mba, waktu itu aku pernah sekali, justru beliau yang tertidur sepanjang malam"


"Ya mungkin karena sudah tua, jadi staminanya tidak segarang dulu"


"Di maaf ya sudah ngerepotin" sela Rafa


"Ngerepotin apa bang?"


"sudah mau jagain kembar"


"Tidak bang, aku seneng nemenin mereka main, rasanya malah sedih pas mau ninggalin mereka"


"Kami juga sedang mancarikan mami buat mereka, kira-kira kalau kamu jadi maminya gimana ya Di?"


"Abang bercandanya mirip bundamu bang?"


"Bundaku?" Rafa melirik Diana melalu spion mobil


"Iya bang, tadi bunda abang juga bilang, tinggal di sini saja jadi maminya kembar, gitu bang"


"Waah ternyata bunda setuju juga kalau kamu jadi maminya" sahut Siska


Diana mengalihkan pandangannya ke luar jendela tidak ingin menanggapi candaan mereka yang akan membuatnya semakin kikuk


"Aku jadi pengin punya adik kaya kamu Di"


Diana semakin tidak bisa berkutik dengan candaan temannya. Hingga tidak terasa mobil sudah memasuki pelataran panti


"Mampir dulu yuk bang, mba?"


"Next time saja Di, sudah sore" jawab Siska


"Ya sudah makasih abang Rafa dan mba Siska"

__ADS_1


Diana turun dari mobil kemudian melambaikan tangan


...&&&&&...


Setelah satu minggu sibuk dengan aktivitas masing-masing, maka hari minggu adalah waktu yang menyenangkan untuk berkumpul bersama dengan keluarga. Kesibukan dari senin sampai jumat, bahkan sampai dengan sabtu, hari minggu adalah kebahagiaan yang mewah.


Begitupun dengan keluarga Dhaniswara, mereka berkumpul di halaman samping rumah.


Seraya menunggu Siska yang sedang menjemput Diana, karena desakan dari bundanya, ayah, bunda, Rafa, serta Anjar, sedang berdiskusi mengenai lamaran kepada Diana untuk Anjar


"Dia gadis yatim piatu njar, abang yakin dia bisa menjadi mami untuk Azam dan Emyr, abang sudah kenal lama sama dia, jika kau menikahinya, kau akan mengangkat derajat anak yatim piatu, abang jamin urusanmu kedepan akan di permudah oleh-Nya"


"Aku masih belum yakin bang, baru sekali aku bertemu dengannya, aku juga masih belum bisa melupakan Puspa"


"Anjar bunda kemarin sudah bilang kan, kamu tidak perlu melupakan Puspa, bunda hanya minta kamu meneruskan hidupmu, ayah dan bunda semakin tua, kamu tidak bisa selalu mengandalkan bunda buat ngurus mereka?" ucap bunda lantang


"Jika bunda tidak mau membantuku merawat anaku, aku akan merawatnya sendiri bun"


"Bunda ingin ada yang mengurusmu juga Anjar" ucap bunda dengan nada sedikit keras


"Sabar bund" ucap ayah


"Yah bilangin ke anak ayah itu, kalau bunda hanya menginginkan yang terbaik" bunda menghentikan ucapannya sejenak, "kamu ingin bunda meninggal karena memikirkanmu setiap hari?"


"Papi papi, Emyr jatuh" teriak Azam dan Aurell seraya berlari


Dengan gerak cepat, Anjar berlari menghampiri Emyr yang sudah berada dalam gendongan Atin. Bersamaan itu Siska dan Diana datang


Emyr yang sudah beralih ke gendongan Anjar membenamkan wajahnya di leher Anjar, masih dalam kondisi menangis dengan dagu dan lutut terluka


Siska segera mengambil kotak obat yang ada di mobilnya


Diana yang panik, ikut menenangkan Emyr,


lalu menyambar kotak obat di tangan Siska


Diana tidak sadar dengan posisi Anjar yang duduk memangku Emyr, sedangkan dia berlutut di hadapan Anjar membersihkan luka Emyr.


Dengan telaten Diana mengobatinya, menempelkan plester pada dagu dan lutut Emyr, tidak terasa buliran bening menetes, Diana sangat tidak tega, seolah Dia ikut merasakan perih pada luka bocah itu


"Emyr mau di gendong aunty?" ucap Diana


Bocah kecil itu mengangguk menerima uluran tangan Diana, Sungguh sikap Diana bukan untuk mencari perhatian keluarga Dhaniswara, itu mengalir dengan sendirinya


Diana membawa Emyr berjalan ke arah kolam ikan, tampak Emyr sudah berhenti menangis dan tangisan itu berubah menjadi tawa riang

__ADS_1


Ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka.


Kebahagiaan terpancar dari wajah ayah dan bunda, Rafa dan Siska. Tapi tidak dengan Anjar, dia justru meneteskan air mata. Dia berfikir, jika Puspa masih hidup, pasti akan melakukan hal yang sama seperti Diana. Puspa pasti akan sangat menyayangi kedua anaknya.


"Aku masih sering merindukannya" batin Anjar


"Sayang aku sangat merindukanmu"


Bunda yang menyadari Anjar menangis, dia memegang pundak sang anak lalu memeluknya dari samping,


"Menangislah sayang, bunda tahu situasi hatimu saat ini, bunda juga memohon untuk jangan terlalu larut dalam bayang-bayang Puspa"


Rafa pun ikut menangis, dia membayangkan apakah bisa sekuat adiknya jika itu terjadi padanya, Siska mengusap lengan suaminya


Ayah melepas kacamata, menghapus air matanya lalu berdiri mengusap punggung Anjar


"Rafa, Anjar, ayah akan mengajak ibumu makan siang di luar, kalian juga pergilah cari makan di luar"


"Kita bisa pergi bersama yah" Ucap Anjar


"Tidak, hari ini ayah ingin pergi berdua dengan bunda, ayo bun kita siap-siap"


"Bulan madu lagi bun, bikinin adek buat Rafa sama Anjar" canda Siska pada ibu mertuanya


"Husstt, ada juga kalian bikinin adek buat Aurell" sahut bunda


"Sudah bund tiap malam malah" Rafa ikut menimpali


Anjar hanya geleng-geleng mendengar candaan mereka


Mereka sudah siap untuk pergi makan siang di luar.


Anjar yang menggendong Azam, dan Diana menggendong Emyr sedang menunggu di depan gerbang.


Menunggu jemputan dari Rafa yang tadi sempat keluar sebentar bersama Siska dan Aurell.


"Bun lihat tuh, ayah berasa liat satu keluarga"


"So sweet yah" sahut Siska dari dalam mobil sambil membekap mulutnya dengan ke dua tanganya.


Mobil berhenti tepat di hadapan mereka


"Lama banget bang" ucap Anjar saat sudah duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Diana, yang masing-masing memangku satu anak


"Sorry"Jawab Rafa "udah ok semua? "ayo kita jalan-jalan, Lets goo"

__ADS_1


__ADS_2