Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
80


__ADS_3

Hari ini Anjar dan Diana membawa Emyr untuk melakukan terapi berjalan. Anjar akan menggendong anaknya yang tiga bulan lagi akan berumur tujuh tahun.


"Pa-pi, abang A-zam" ucap Emyr dengan susah payah


"Abang Azam baik-baik saja sayang sama nenek di rumah, Emyr kangen ya sama abang"


Emyr mengangguk


"Besok-besok deh papi jemput abang sama Dede Sasa, tapi nunggu abang liburan semester, ok"


Lagi-lagi Emyr mengangguk


"Mami sudah siap belum?" teriak Anjar "cepat sedikit mom kita sudah telat"


"Sudah Ayo kita jalan" jawab Diana


Mereka akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan Emyr serta akan melatih kakinya supaya bisa berdiri, yang akan di dampingi oleh Dokter Nelson serta beberapa suster.


..._______________...


Dengan berpegangan pada tangan Diana Emyr berusaha berdiri, Anjar yang sibuk menyemangati putranya, sesekali mengambil gambar


"Ayo sayang jangan takut, ada mami disini, mami tidak akan lepasin tangan bang Emyr"


"Letsgo Emyr, put your feet up, and go slowly" ucap dokter Nelson, and stop, take a rest ok, enough??? And begin let go, come to your mami"


Emyr benar-benar menjalani terapi dengan baik, apalagi semenjak papi Anjar tinggal bersamanya, rasa ingin bisa berjalan kembali, sangat tinggi, ingin sekali berlari lagi seperti dulu bermain bola bersama papi dan abangnya


"Verry good Emyr, you are great boy" sambung dokter Nelson


Emyr terus berlatih, mengangkat pelan-pelan kakinya, dengan tangan tetap berpegangan dalam genggaman Diana. Emyr terus berjalan maju, di depan Emyr ada Diana yang berjalan mundur. Di temani papi di sampingnya yang terus memberikan semangat.


"Oke Emyr enough for today, we meet again at friday"


Tampak keringat membanjiri Emyr "Apa abang haus?" tanya Diana, Tunggu papi sebentar ya"


Anjar sedang menemui dokter Nelson, karena ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh sang dokter, mengenai kondisi Emyr

__ADS_1


Sembari menunggu Anjar, Diana bercerita tentang Sasa dan Juna pada Emyr, juga baby born mami Bella yang baru lahir satu bulan lalu


"Ayo sayang?" ucap Anjar tiba-tiba, lalu menggendong Emyr. "Mami pengin kemana lagi?" ayo kita jalan-jalan sebelum pulang"


"Memangnya mau kemana?" tanya Diana


"Bagaimana kalau kita ke universal studio?"


"Tidak mau, terlalu jauh, lagian Emyr tidak bawa kursi roda, nanti papinya cape, next time saja ke universal, tunggu abang Azam dan Sasa


"Terus kemana dong?" tanya Anjar seraya mengerucutkan bibirnya


"Kita di rumah saja"


"Ya sudah kalau gitu nanti papi pergi sendiri" papi ada urusan sebentar"


Diana menghentikan langkahnya, membuat Anjar ikut berhenti "Memangnya papi mau kemana?" tanya Diana dengan memicingkan matanya


"Papi mau bangun usaha di sini, banyak teman papi yang mau membantu, Ayo jalan lagi, satu bulan lebih tinggal di sini, jadi pengin menetap di sini, suasananya tidak semrawut"


"Mami tidak setuju?" jawab Diana sewot


"Mami tidak mengerti soal saham pi" ucap Diana seraya membukakan pintu mobil, lalu Anjar segera mendudukan Emyr di kursi belakang "mami cuma khawatir sama ayah bunda"


"Ada abang sama mba Siska sayang, kalau mami setuju, nanti mba siska akan pindah ke rumah ayah, akan tinggal bersama mereka, nanti kita akan sering-sering nengok ayah bunda kok"


Obrolan berlanjut di dalam mobil, Dan Anjar tetap fokus dengan kemudinya


"Papi juga sudah bangun restoran di sini" ucap Anjar


Diana tampak kaget, seketika memindai pandangannya ke arah sang suami


"Maaf baru papi beri tahu, restoran yang akan menyediakan makanan siap saji khas masakan Indonesia, akan buka dua minggu lagi, disini kan banyak WNI mi, insya Allah prospek untuk kedepannya bagus, sesuai juga dengan perusahaan milik ayah "BOM & FOOD" mengelola berbagai makanan siap saji yang di jamin sehat"


"Gimana mi, kita akan menetap disini, ok or not ok?"


"Belum tahu pi, kita pikir matang-matang dulu. o ya tadi dokter Nelson bilang apa?"

__ADS_1


"Dokter Nelson bilang perubahan Emyr cukup bagus, mungkin karena di dampingi oleh papi maminya, jadi semangatnya membara. Dokter Nelson juga bilang, kita harus bawa Emyr ke psikiater anak, untuk menangani kondisi gangguan perilaku dan emosional, serta kemampuan kognitif Emyr, katanya.... Anjar menggantung kalimatnya


Membuat Diana menoleh ke arahnya "Katanya apa pi?" tanya Diana penasaran


"Dengan kepergian maminya yang mendadak waktu dulu, takutnya menyisakan trauma pada Emyr, jadi sangat penting kita minta bantuan psikiater"


Seketika mata Diana memanas, ia teringat kembali dengan keegoisannya


"Maaf pi?"


"Mami kok minta maaf terus, padahal papi tidak tahu salah mami apa"


"Jangan khawatir, kalau kita selalu mendampingi Emyr, dia akan cepat pulih, dan ingat, kita jangan berantem di depannya" lanjut Anjar


"Memangnya kita pernah berantem di depannya?" tanya Diana


"Tidak sayang, papi cuma ngingetin saja, jangan sampai kita berantem, apalagi main kabur"


Ucapan Anjar membuat istrinya melemparkan sorotan tajam, Anjar yang menyadarinya langsung meminta maaf


Tidak terasa mobil sudah memasuki area apartemen.


...😉😉😉😉...


Diana segera menyiapkan makanan untuk makan siang suami dan anaknya, Anjar tampak sedang mengajari Emyr memegang crayon, Dengan tangan sedikit gemetar, anak itu mewarnai sebuah gambar, Sesekali Emyr memindai pandangannya pada Diana, seolah sangat takut jika Diana hilang dari pandangannya.


Walaupun dengan hasil yang masih berantakan, Anjar tetap bangga terhadap putranya.


"Setelah sholat dzuhur, papi mau pergi mi"


"Sampai jam berapa pi?" tanya Diana masih dengan mengunyah makanan


"Paling tiga jam, Sekalian mau ngecek restaurannya nanti"


"Ya sudah hati-hati, nanti pulangnya, bisa beliin popiah sama laksa Singapura?" kayanya enak makan itu"


"Bisa dong"

__ADS_1


BERSAMBUNG


Maafkan kalau ada bahasa yang terlalu vulgar 🙏🙏🙏


__ADS_2