Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
64


__ADS_3

Sesampainya di Bandung Diana di sambut oleh ibu kost.


"Bagaimana liburannya Di?" tanyanya seraya menaruh minum di atas meja "Di minum dulu Di"


"Makasih bu" liburannya sangat menyenangkan bu"


"Oh ya Di, sesaat setelah kamu dan Bella pergi, ada seseorang dari Jakarta datang ke sini, dia mengaku sebagai kakak iparmu, namanya Rafa"


"Bahkan bukan mas Anjar yang mencariku, dia itu memang tidak peduli denganmu Di, lupakan dan pergilah ke Singapura" Batin Diana


"Diana?"


"Iya bu"


"Benar nama kakak iparmu Rafa?"


"Benar bu, dia datang sendiri bu?"


"Iya Di, Dia sendirian, dia juga berpesan, supaya kamu mengaktifkan nomon ponselmu, kamu sedang tidak ada masalah dengan keluargamu kan Di?"


"Tidak bu, iya nanti aku aktifkan"


"Dia juga berpesan untuk segera kembali pulang, anak-anakmu mencarimu"


"Azam, Emyr"


" Bu, aku akan istirahat sebentar, ba'da Dzuhur akan kembali ke Jakarta"


"Iya Di, istirahatlah, nanti kamu akan berkendara"


"Aku permisi ke kamar bu"


Ibu kost menganggukan kepala "Aku berharap Diana dan Bella selalu baik-baik saja, Mereka anak-anak yang baik"


Diana dan Bella datang ke Bandung, tak lain karena ingin bersilahturrahmi dengan ibu kostnya, dan sedikit memberikan bantuan pada wanita paruh baya, yang sudah menjadi ibu kostnya selama 4 tahun, menjadi ibu Mereka saat menempuh pendidikan kedokteran di sini


"Azam, Emyr, bagaimana keadaan kalian, maafin mami sudah ninggalin kalian, kalian harus terbiasa tanpa mami nak"


Diana pun terlelap di sebuah kamar berukuran 3x3 m yang pernah ia huni beberapa waktu lalu.


🏵


🏵


"Bu, aku pamit dulu, ibu selalu jaga kesehatan, kalau ada waktu, aku dan Bella pasti berkunjung lagi"

__ADS_1


"Iya Di, terimakasih, kalian juga baik-baik ya, terimakasih juga untuk bantuan kalian"


"Tidak perlu berterimakasih bu"


Diana mencium punggung tangan ibu kost


"Bu, aku jalan ya, Assalamualaikum"


Diana membelokan mobil, siap menempuh perjalanan selama beberapa jam


"Hati-hati Di" pesan ibu kos sambil melambaikan tangan.


"Semoga sebelum maghrib sudah sampai Jakarta"


Agar tidak terlalu sunyi, Diana memutar musik untuk ia dengarkan serambi menyetir. You are not alone, lagu yang menjadi favorit suaminya, yang kini ia juga menyukainya.


Kurang lebih pukul empat sore Diana telah sampai di dekat area rumah mertuanya, tiba-tiba mobil berhenti karena kehabisan bensin


"Aku sampai lupa mengisi bensin, untung sudah di dekat rumah bunda, lebih baik aku berjalan kaki, paling cuma lima menit, nanti aku suruh pak Anan untuk mengisi bensin"


Diana pun turun dari mobil, tak lupa menguncinya, ia mulai berjalan kaki menuju rumah mertuanya, saat hendak memencet bell pada pintu gerbang, lagi-lagi melihat wanita yang sama saat di taman kota dan hotel Gemilang sedang berjalan berdampingan dengan bunda sambil mengobrol sangat akrab


"Ternyata bunda juga mengenal wanita itu" Batin Diana


Diana segera bersembunyi di balik pohon palem yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tak lama kemudian sebuah taxi berhenti tepat di depan gerbang


"Tidak usah bun, terimakasih"


"Apa, bunda panggil dia sayang, dan dia panggil bunda? apa dia sudah menikah dengan mas Anjar"


Karena jarak pohon dengan bunda sangat dekat, membuat Diana bisa mendengar percakapan mereka


"Ya sudah hati-hati, selamat atas pernikahanmu, Bunda pasti akan datang, dan membawa Azam serta Emyr"


Dada diana berdegup kencang, ia tidak menyangka dengan ucapan bunda,


"Ternyata mas Anjar akan segera menikahinya"


*Kuatkan aku ya Alla*h, ternyata bercerai adalah jalan terbaik untuku"


"Azam, Emyr kalian akan punya mami baru, mami percaya dia akan menjadi mami baik untuk kalian, bunda sudah melihat sendiri kedekatan kalian saat di taman"


Tak lama setelah taxi menjauh, Diana segera menghapus air mata yang tiba-tiba terjun bebas, Diana meminta pak Yono untuk membuka gerbangnya kembali, tak lama setelah ia menutupnya"


"Eh non Diana, ahirnya pulang juga"

__ADS_1


Diana tersenyum "Pak Anan di mana pak?"


"Dia sedang menyiram tanaman, itu di sana" ucap pak satpam seraya menunjuk dengan tangannya


Diana berjalan mendekati pak Anan, lalu memberikan kunci mobilnya dan menyuruhnya untuk mengurus mobilnya yang kehabisan bensin, setelah itu, dia kembali melangkahkan kakinya menuju pintu utama


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam Diana", ucap bunda "kamu kemana saja sayang, bunda mencemaskanmu, kamu tidak apa-apa kan?"


"Bu, maaf aku akan segera bercerai dari mas Anjar, aku datang untuk mengembalikan mobil, dan mengemasi pakaianku"


"Di, tolong jangan pisah sama Anjar nak, anak-anak selalu mencarimu, mereka sekarang ada di rumah mba Siska, ayo kita jemput, mereka pasti senang maminya sudah pulang"


"Bu aku akan ke atas"


Tanpa menunggu jawaban mertuanya, Diana melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengemasi pakaiannya


Beruntung anak-anak sedang tidak di rumah, jadi tidak perlu ada drama tangis-tangisan


Dengan waktu yang sangat singkat, Diana sudah memasukan pakaiannya ke dalam koper, lalu segera meninggalkan kamarnya. Saat menuruni anak tangga, terlihat bunda sedang menelpon seseorang


"Pasti bunda menelpon mas Anjar" gumam Diana


"Di, kamu benar akan pisah dengan Anjar?" tanya bunda saat sudah berhadapan dengannya


"Maaf bu, aku sudah tidak bisa mempertahankan rumah tanggaku, sampaikan maafku pada semuanya, termasuk Azam dan Emyr, ini kartu credit, Atm serta buku tabungan yang mas Anjar pernah di berikan untuku, aku jarang menggunakan uang itu bu, dan kunci mobil sudah ada pada pak Anan"


"Di, setidaknya tunggu suamimu pulang, dia sedang di perjalanan"


"Maaf bu, tidak bisa" Diana meraih tangan ibu mertuanya lalu mencium punggung tangannya takzim, sedikit lebih lama, setelah itu pergi mengayunkan langkahnya dengan tangan kanan menyeret koper meninggalkan ibu mertuanya yang masih diam mematung


"Assalamualaikum bun"


"Diana" panggil bunda seraya melumpuhkan kakinya dengan kedua tangan berpijak pada lantai


"Selamat tinggal" gumam Diana masih terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah berlantai dua


"Aku akan mencari kontrakan untuk sementara waktu" Diana


BERSAMBUNG


*Nb : Selain Anjar, author akan menghukum Diana juga, tidak adil kan kalau hanya Anjar yang di hukum.


mereka sama-sama bersalah.

__ADS_1


Anjar tidak menghargai sebuah ikatan pernikahan, mengabaikan istrinya, Diana yang selalu berprasangka buruk, dan tidak mendiskusikan apa yang mengganggu pikiranya. intinya mereka akan sama-sama menyesalinya, tapi nanti akan bersatu juga kok 😉😉😉*


__ADS_2