
Baca pelan-pelan ya, karena pov nya maju mundur
Baru saja Puspa meneguk manisnya madu, tapi harus di hadapkan dengan fakta yang menyakitkan.
Berbeda dengan hari minggu sebelumnya, Mas Anjar yang selalu mengurung diri di dalam kamar saat libur kerja, aku yang sibuk dengan pekerjaan rumah. Kali ini aku dan mas Anjar bekerja sama dalam mengurus rumah, kesempatan membersihkan rumah secara menyeluruh, hanya aku lakukan satu minggu sekali, seperti hari ini, mas Anjar membantuku, menyapu, mengepel lantai, mengelap jendela, bahkan menjemur pakaian.
Saatnya membersihkan kamar tidur, Mas Anjar menyuruhku memindahkan semua pakaianku ke lemarinya, mulai saat ini kamar mas Anjar akan menjadi kamarku, kami akan berbagi ranjang dan juga lemari.
Aku yang sedang membereskan, dan menata bajuku dan baju mas Anjar di lemari.
"Dhe Mas mau ke bawah dulu ya"
Kulihat Jam di nakas menunjukan pukul 11:01
"Apa mas lapar?"
"Mas mau minum dhe"
"Biar aku ambilkan mas"
"Tidak usah" seraya berjalan meninggalkan kamar. tidak lama setelah itu layar ponsel mas Anjar menyala
Ting bunyi pesan masuk di ponsel mas Anjar
Cantika
"Mas Kenapa tidak mengangkat telfonku, mas Anjar sekarang berubah, dulu mas Anjar dua hari sekali jengukin aku, bahkan sudah satu minggu lebih mas Anjar tidak datang"
Pesan itu berhasil memporak-porandakan hatiku, nafasku naik turun tak beraturan, dadaku bergetar hebat, bahkan tubuhku melemah serasa tak bertulang.
Baru saja aku akan memulai hidup dengan sejuta perhatian dari mas Anjar, tapi justru aku harus tahu fakta baru. Apa yang di lakukan mas Anjar saat mengunjungi gadis itu, sebenarnya apa hubungan mas Anjar dan cantika.
Ku letakan kembali ponselnya di atas nakas. Dengan pikiran yang bercabang kemana-mana, aku melanjutkan aktifitasku hingga mas Anjar kembali ke kamar.
"Dhe mas kupasin mangga buat kamu, seraya menyodorkan mangkuk berisi potongan mangga.
"Taruh saja di meja mas" Ucapku datar,
"Cuacanya sangat panas" Mandi bareng yuk?"
"Mas mandi saja dulu, aku masih belum selesai"
"Ya sudah mas mandi dulu ya, tolong siapin baju mas"
"Cuacanya panas seperti hatiku yang sedang memanas"
Ku ambil satu stel baju untuk di pakai mas Anjar..
__ADS_1
Aku hampir selesai menata pakaian kami, ku lirik mas Anjar yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia terlihat lebih segar.
"Mana bajunya dhe?"
"Ada di kasur" jawabku tanpa menoleh ke wajahnya.
Setelah mengenakan pakaianya, mas Anjar langsung merebahkan diri di atas kasur, kemudian meraih benda tipisnya.
"Sekarang mas Anjar pasti akan membalas pesan dari Cantika" batinku
"Dhe hari ini kita makan siang di luar saja ya, Kata Dirga, di restoran avice menunya sangat enak"
"Kalau mas mau makan di luar, pergi saja sendiri, aku mau makan di rumah saja, ucapku masih datar.
"Ayolah dhe kita cobain menu di Avice"
"Tidak mau" ku lirik dengan ekor mataku, mas Anjar sedang menatapku, mungkin dia mulai menyadari perubahan sikapku.
"Kamu tidak apa-apa kan dhe?" tanyanya.
kenapa dia tidak peka, apa mas Anjar belum membaca pesan dari Cantika, tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung masuk ke kamar mandi.
Mengguyur tubuhku dengan air dingin, berharap mampu meredam panasnya api cemburu, ya, saat ini aku sedang cemburu, khawatir, bahkan takut. Aku takut mas Anjar meninggalkanku.
Sejenak aku berfikir dia memang suamiku, dia perhatian padaku, tapi sampai detik ini dia belum pernah menyatakan cinta padaku, dia belum pernah mengucapkannya di depanku. Apakah yang di lakukan mas Anjar hanya di dasari ***** belaka, atau hanya ingin menuntaskan hasratnya saja.. Aku di pusingkan dengan pertanyaanku sendiri.
"Dhe kamu tidak apa-apa, kok mandinya lama banget, sudah Adzan dzuhur loh" ucap mas Anjar di balik pintu...
Ku buka pintunya, sejurus kemudian tatapan kami bertemu, dia hendak menyentuhku, aku mundur selangkah.
"Aku sudah wudhu mas, jangan sentuh"
Dia masing mematung memindai penampilanku dari ujung kaki ke ujung rambut, yang sudah memakai baju
"Ooo, tunggu ya, mas wudhu dulu, kita sholat jamaah"
Usai melaksanakan kewajiban, ku raih tangan mas Anjar, ku cium punggung tangannya, lalu melepaskan mukenaku, bergegas keluar dari kamar, baru saja aku memutar knop pintu, dan membukanya, mas Anjar meraih pergelangan tanganku.
"Kamu kenapa?, dari tadi mas perhatikan sikapmu dingin sekali?"
"Aku tidak apa - apa" aku berusaha melepas tangan mas Anjar, tapi cengkramanya sangat kuat
Mas Anjar membawaku masuk kembali kedalam kamar, mendorongku hingga terjerembab di atas kasur, kini mas Anjar berada di atasku, mencengkram kedua tanganku, seolah aku pasrah di buatnya, membuatku kesulitan untuk bergerak.
"Mas sudah pernah bilang kan?" kalau ada yang mengganggu pikiranmu, bicarakan, tanyakan, diskusikan, jangan di pendam, itu tidak baik untuk kesehatan jantungmu, bahkan saat ini mas mendengar debaran jantungmu" ucap mas Anjar panjang lebar.
"Kau ini seorang guru, kau mengajarkan muridmu untuk menanyakan hal apa saja yang tidak mereka pahami, kau mengajarkan mereka untuk jujur, untuk mengeluarkan pendapat, nyatanya kau sendiri tidak bisa melakukanya, apa kau hanya bisa mengajarkannya saja, tanpa bisa melakukannya?" ucapnya lagi sambil mengusap bibirku dengan ibu jarinya
__ADS_1
Ku telan salivaku, Aku membenarkan ucapannya, nyaliku benar-benar menciut jika berhadapan dengannya, itu sebabnya aku tidak bisa mengatakan apa yang mengganggu pikiranku aku tidak memiliki keberanian sebesar itu
"Kenapa diam?" tanya mas Anjar "apa mau mengatakanya sekarang?" Bangunlah, duduk, dan jangan beranjak dari sini" lanjutnya seraya menarik tanganku
Saat ini posisiku sedang duduk di bibir ranjang, mas Anjar berjalan menuju nakas.
Mas Anjar menarik kursi kecil yang biasa aku pake untuk merias diri ke hadapanku, kemudian duduk sambil memperlihatkan pesan itu di
ponselnya.
"Apa ini yang mengganggu pikiranmu?"
Aku mengangguk seraya menunduk. "Lihat mas, mas sedang bicara denganmu" Ucap mas Anjar.
Mengecup bibirku, mel*matnya, menggigitnya lembut, aku diam tanpa membalas ciumannya.
"Sekarang tanyakan apa yang ingin kamu tahu"
"Apa mas melakukan itu hanya karena *****?" tanyaku penuh selidik
"Apa mas melakukanya dengan cara yang brutal, apa mas meninggalkamu begitu saja setelah menj*mahmu?" tanya mas Anjar
"Kenapa mas tidak menjawabnya dan malah balik bertanya?"
"Seharusnya kamu tahu jawaban dari pertanyaanmu itu"
"Mas memang melakukanya karena *****, bukan cinta" sahutku, seraya mengalihkan pandanganku ke kiri
"Apa suamimu ini sebejat itu di matamu sayang?
"Lalu apa mas berani menjelaskan tentang Cantika, sedetail mungkin padaku?" ucapku dengan nada yang sedikit membentak. baru kali ini aku membentak suamiku, bicara dengan nada yang tinggi, hingga nafasku naik turun.
"Kenapa istri mas bisa sekasar ini hemm?" ucapnya lembut.
"Maaf"
"Ganti bajumu, pake hijab, mas tunggu, di bawah"
"Aku minta penjelasan, bukan minta shoping"
"Yang mau mengajakmu shoping siapa?" kata mas Anjar sambi menoel pucuk hidungku"
"Kali saja mas mau menyogoku, ngajak shoping, biar aku lupa sama gadis sialan itu"
"Ternyata istri mas sadis juga" mas bukan laki- laki seperti itu, dah cepetan ganti baju, mas mau jelaskan di sana nanti" mengecup bibirku sekilas, lalu beranjak keluar kamar.
"Sebenarnya mas mau mengajakku kemana, aku sekedar minta penjelasan, kenapa harus muter-muter" Batinku seraya memakai hijab.
__ADS_1
Bersambung