
Baca pelan-pelan gaes
Puspa Begitu marah dengan keadaan ini, entah dia marah kepada suaminya, Cantika, atau dirinya sendiri.
Kini dia sedang duduk di ruang makan, menunggu kepulangan suaminya. tak lama setelah itu, suara mobil semakin menderu
"Itu pasti mas Anjar"
Benar saja Anjar pulang dalam keadaan yang terlihat sangat letih dan lapar tentunya, buktinya dia bergegas menuju meja makan.
Anjar mendapati Istrinya sedang tidak baik-baik saja, karena saat di perjalanan, Cantika memberi tahu bahwa Ia di tampar oleh istrinya.
"Makan dulu mas" ucap Puspa, suaranya terdengar parau.
Suasana makan malam begitu canggung, mereka makan dalam diam, hanya suara dentingan sendok yang menemani mereka.
Selesai makan malam, Puspa hendak mencuci piring, namun urung di lakukan karena sang suami lebih dulu menyuruhnya tetap duduk..
"Apa yang terjadi?"
Puspa menunduk, entah harus mulai dari mana ia mengatakannya
"Apa pendapat mas, jika seseorang meminta suaminya"
"Maksudmu Cantika?"
"Aku tidak membicarakan siapa-siapa saat ini, aku sedang bertanya tentang pendapat mas saja. jangan bawa-bawa orang lain dalam pembicaraan ini"
"Apa Cantika melakukan itu padamu?"
"Apa mas tidak dengar apa yang ku katakan tadi?"
"Tidak akan ku berikan" sahut Anjar.
"Alasanya?"
"Cinta"
"Tapi jika orang itu tidak mencintainya, lalu bagaimana?" ucap Puspa
"Kamu ini ngomong apa si dhe"seraya memegang tangan istrinya.
"Apa mas mencintaiku?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?
"Mas tinggal jawab saja"
Anjar merasa frustasi dengan sikap istrinya. tanpa menjawab pertanyaan sang istri, Anjar beranjak meninggalkan meja makan.
"Apa selama ini sikapku menunjukan bahwa aku tidak mencintainya, hhhh itu salah, justru aku sangat mencintainya" kenapa dia tidak mengerti" batin Anjar lalu menuju balkon untuk menikmati sebatang rokok, dua batang, hingga tiga batang,
Di ruang Tv, Puspa sedang berkutat di depan laptop, tapi pikiranya tidak fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan.
Sebuah pesan masuk dari suaminya
Mas Anjar
"Naiklah ke kamar kita bicara"
Puspa sudah berada di kamar, di lihatnya Anjar sedang berada di balkon, lalu Puspa menghampirinya
"Mas, Maaf"
Gegas Anjar menarik tangan Puspa lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Mas yang minta maaf"
"Tapi aku yang salah"
"Apa salahmu? tanya Anjar masih dalam posisi memeluknya
"Seharusnya aku menyambut kepulanganmu dengan senyuman, bukan kemarahan"
"Jadi saat ini kamu sedang marah?"
Katakan apa yang membuatmu marah?"
"Banyak" sahut Puspa
kemudian Anjar mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Apa saja?"
"Mas bau rokok, sudah mengabaikan mas, dan Puspa berhenti sejenak mengatupkan bibirnya, dan aku sudah menampar seseorang"
"Apa kau tidak suka mas merokok" tanya Anjar
Puspa mengangguk
"Siapa yang sudah kamu tampar?"
"Cantika"
"Kenapa kamu menamparnya?"
"Karena dia memintamu"
"Memintaku?"seraya mengerutkan dahinya
"Dia minta agar mas menikahinya" lalu aku reflek menamparnya.
"Terus apa masalahnya?" kamu tinggal bilang kalau mas sudah jadi milikmu, kamu tinggal bilang untuk jangan menganggunya, Jika kamu setuju katakan setuju, jika kamu tidak menyukainya kamu juga harus katakan itu"
"Kenapa jadi aku mas?"
"Kamu tidak suka mas merokok kan?"lalu kenapa kamu tidak mengatakanya?
"Ini bukan tentang rokok"
"Umpamanya sayang" sahut Anjar
"Mas"
"Apa mas mencintaiku"
"Apa sikap maupun bahasa tubuh mas selama ini tidak menujukan bahwa mas mencintaimu
"Tapi kata Cantika, mas juga perhatian padanya"
"Cantika bilang seperti itu?"
"huummm"
"Perhatian yang seperti apa?" mas malah ngga ngerti" perasaan, mas biasa saja ke dia"
"Beda dong" sahut Anjar "Mas perhatian ke kamu karena kamu istri mas, kamu tanggung jawab mas, Mas ngga mau melanggar ucapan mas di depan penghulu,
"Tapi kenapa mas ngga pernah bilang kalau mas mencintaiku" bukankah cinta itu harus di ungkapkan, seperti kata maaf dan terimakasih misalnya.
"Sikap mas yang tersirat sudah menunjukan kalau mas Cinta sama kamu" seharusnya kamu tahu itu.
"Tapi aku pengin dengar juga mas bilang cinta ke aku
"Mas mencintaimu, mas mencintaimu, aku mencintaimu Puspa Anindita"
"Ngga gitu juga kali mas?" seraya berusaha membekap mulut Suaminya, namun Suaminya terus menghindar
"Aku mencintaimu istriku sayang" Apa kamu juga ingin mas menulisnya di kertas folio, seperti kamu menghukum muridmu waktu itu?"
"Kok mas bisa tahu soal itu si?"
"Waktu itu mas ngga sengaja nemuin tumpukan kertas folio berisi tulisan, mmmm Apa ya waktu itu" seraya berfikir "ah apalah pokoknya itu" lalu dengan sigap memeluk tubuh Puspa
"Sudah merasa baikan?" tanya Anjar
Puspa hanya mengaggukan kepala dalam dekapan suaminya.
"Sekarang kamu harus mandi lagi dhe, kamu sudah mas peluk-peluk gini, kamu jadi bau rokok"
"Aku juga belum mandi mas"
"Kok tumben belum mandi?"
"Males dari tadi kepikiran mas terus"
"Ya sudah ayo mandi sama-sama"
Selesai mandi, Anjar yang hanya bertelanjang dada, sedangkan Puspa memakai jubah mandi dengan kepala di lilit handuk
tiba-tiba dering ponsel milik anjar berbunyi
"Siapa dhe?"
__ADS_1
"Cantika mas, panggilan vidio call"
"Pas banget, angkat saja sayang"
"Assalamualaikum mba Cantika"
Terlihat sosok Cantika berada di layar ponsel
"Mba Cantika maaf ya, tadi siang aku sudah menamparmu"
Cantika masih diam dalam kecemburuanya, melihat Puspa dan Anjar seperti habis mandi bersama.
"Halo mba Cantika, Apa mau ngomong sama suamiku?"
Seketika panggilan terputus
"Di matiin mas"
...----------...
...---------------...
Keesokan paginya, Anjar tidak berniat berangkat kerja hari ini, dia ingin bekerja dari rumah.
Anjar menatap Puspa yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah
"Dhe mas antar ke sekolah ya"
"Boleh mas" Puspa tahu hari ini Suaminya tidak bekerja, karena Anjar sudah memberitahu sebelumnya bahwa hari ini akan bekerja dari rumah"
"Pake motor saja ngantarnya ya mas"
"Iya" jawab Anjar "Sudah siap sayang?"Pegangan ya"
"Udah mas"
"Pegangan ke mas, nah begini" seraya menarik tangan kanan Puspa untuk melingkar ke perutnya.
Sesampainya di sekolah Anjar belum melepaskan tangan Puspa yang sempat bersalaman
"Mas lepas, banyak siswa siswi tuh?"
"Tidak Apa-apa sama istri sendiri kok" Nanti mau di jemput jam berapa?"
"Hari Sabtu biasanya si pulang jam dua, tapi nanti di kabarin lagi"
"Ya sudah sana masuk" ucap Anjar
"Mas, rokoknya di kurangin ya!!
"Nah gitu dong, kalau mas salah, tegur mas, kalau ada yang kamu tidak suka dari mas, sampaikan, nanti mas berusaha perbaiki"
"Ya sudah aku masuk dulu, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" jawab Anjar...
Anjar masih belum meninggalkan sekolah tempat Puspa mengajar, ia duduk di atas motor matic istrinya, karena ada panggilan yang masuk
"*hhh*h dari Cantika" Gumam Anjar
"Ya Cantika ada apa?"
"Mas Anjar, bibiku memukulku lagi"
"Kenapa bibimu memukulmu?"
Hening tak ada jawaban.
"Mas aku mau kok jadi istri ke dua" aku ingin terlepas dari bibiku, aku cuma ingin mas Anjar yang melindungiku"
"Maaf Cantika, aku sangat mencintai istriku, aku tidak mau menyakitinya"
"Tapi laki-laki kan boleh punya istri lebih dari satu, tidak apa-apa kalau mas Anjar menomor satukan mba Puspa, aku akan selalu mengalah"
"Sekali lagi maaf Cantika, laki-laki memang boleh poligami, tapi itu bukan aku" Anjar langsung memutuskan panggilan. tidak lama setelah itu notif pesan masuk dari Cantika
Cantika
"Kalau mas Anjar ngga mau menikahiku, aku akan bun*h diri"
"hhhhh dia mengancam"
__ADS_1
Bersambung