
Pak Ilham dan Akbar sudah bersiap akan pulang ke Semarang hari ini. Rencananya, mereka akan berangkat setelah sarapan.
Mereka akan naik kereta dari Jakarta menuju Semarang. Padahal Anjar sudah menawarkan Pak Anan untuk mengantarkannya, tapi Pak Ilham menolak, Selain tidak ingin merepotkan terus menerus, tetapi juga karena pak Iham di temani anak laki-lakinya.
Suara dari operator sudah terdengar, mengingatkan penumpang untuk segera bersiap-siap.
"Hati-hati ya pak, salam buat ibu" ucap Puspa mesih dengan memegang lalu mengusap lengan pak Ilham
"Iya, kamu juga hati-hati nduk, jaga kandunganmu, nanti bapak sampaikan salamu pada ibu, sekalian beri tahu ibu kalau bayimu kembar, pasti ibu sangat senang"
Puspa tersenyum mendengar ucapan pak Ilham lekas meraih tangannya lalu menciumnya, hal yang sama juga di lakukan oleh Anjar.
"Akbar hati-hati ya, jaga bapak"
"Iya mas"
Mereka berpisah saling melambaikan tangan.
...""""""""""""""""""""""&&&&"""""""""""""""""""""""...
"Sayang nanti pulang jam berapa?" tanya Anjar saat sudah di depan gerbang sekolah
"Nanti pulang jam 3 an mas"
"Nanti mas minta pak Anan jemput kamu"
"Ngga usah, aku bisa naik taksi"
"Ngga sayang, nanti pak Anan yang akan jemput"
"Mas, kenapa harus merepotkan orang lain?"
"Ngga apa sayang, ini sabtu malam minggu nanti pak Anan jemput kamu, terus langsung ke rumah bunda, kita nginep di sana, bang Rafa sama keluarganya juga nginep di rumah bunda"
"Ya sudah mas hati-hati"
Anjar melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, dia sedikit terlambat ke kantor karena harus mengantar mertua dan adik ipar ke stasiun, lalu mengantar istrinya ke sekolah.
Sesampainya di ruang kerjanya, Anjar mendapati sebuah file di atas meja, segera ia meraih file itu dan membukanya
"Surat lamaran kerja" gumam Anjar
Anjar meraih gagang telpon berniat menghubungi Dirga dan menanyakan file tersebut
"Ga, ini di meja ada file lamaran kerja, apa akan merekrut seseorang?" ucap Anjar
"Iya bos, tuan Dhaniswara mencarikan sekretaris untukmu"
"Kan sudah ada loe yang bantuin gue?"
"Tugasku juga banyak, dan istri loe hamil, pasti loe akan sering ninggalin kerjaan. loe butuh bantuan seseorang lagi, jadi akan di carikan sekretaris baru, buat bantu loe"
"Oo gitu ya"
"Jam 9 mulai interview, ada 4 kandidat" ucap Dirga
"Ok" sahut Anjar
Sekretaris baru sudah di pilih oleh Anjar, sesuai dengan kriteria yang di butuhkan oleh perusahaan. Melisa sosok yang sangat cantik dan juga pintar, juga masih sangat muda, sengaja Anjar memilih kandidat yang masih fresh graduation, yang akan membantu pekerjaannya di kantor.
__ADS_1
Di saat Puspa terbelenggu dengan kekhawatirannya tentang Tika, bu Ranti dan Cantika, Anjar justru merekrut sekretaris baru yang cantik. Jika Puspa mengetahuinya, bisa di pastikan akan menambah beban pikirannya.
Sebelum Puspa tahu dari orang lain, Anjar berniat akan memberitahu istrinya tentang sekretaris barunya.
Di dalam kamar, rumah orang tua Anjar, Puspa dan Anjar terlibat pembicaraan santai.
Puspa yang tengah membuat soal untuk ulangan harian anak didiknya, dan Anjar yang sedang asik dengan ponsel pintarnya.
"Dhe, mas ada sekretaris baru di kantor, anaknya cantik"
Seketika Puspa memindai pandangannya,
menatap lekat suaminya
"Terus?" tanya Puspa
"Cuma ngasih tahu saja sayang, supaya kamu ngga kaget saat berkunjung ke kantor"
"Oh" sahut Puspa lalu kembali fokus dengan pekerjaanya
"Bapak sudah sampai kan dhe?"
"Sudah"
"Terus gimana tanggapan ibu tentang Akbar?" tanya Anjar yang masih fokus berselancar di dunia maya
"Ibu senang, malah ibu sampai nangis"
"Kok nangis?"
"Entahlah mungkin ibu bahagia"
"Iya bi Sumi?"
"Makan malam sudah siap non, tuan dan nyonya sudah menunggu di meja makan"
"Iya bi, kami turun sekarang" jawab Puspa
Satu keluarga sudah berkumpul di ruang makan, mereka akan menikmati makan malam.
Puspa yang selalu bahagia menatap suaminya saat sedang makan, membuat bundanya mengernyitkan dahinya
"Puspa, dari tadi bunda perhatikan, kamu makan sambil terus melirik Anjar, ada apa memangnya?"
Pertanyaan bunda seketika memindai pandangan seisi meja makan menatap Puspa, Puspa yang sedang di tatap oleh mertua dan juga kakak iparnya merasa seperti tawanan
Sebelum Puspa menjawab, Anjar lebih dulu menjawabnya
"Dia memang begitu bund, sejak hamil suka sekali memandang suaminya yang sedang makan, katanya merasa puas, aneh kan bund, orang lain ngidam mah muntah-muntah, tapi di sini aku yang ngalamin morning sickness"
"Jadi uncle, kamu yang tiap pagi muntah?" tanya Siska
"Iya mba?" seraya menganggukan kepala
"Mungkin kamu juga hamil njar?" sahut Rafa
"Wah seru kayanya, tiap pagi ada drama suami ngidam" sambar Ayah
"Tidak jauh berbeda sama ayah" ucap bunda, "dulu ayah juga gitu kan, pas bunda hamil bang Rafa"
__ADS_1
Mereka saling tertawa dengan obrolan-obrolan kecil saat makan malam, membicarakan tentang kehamilan Puspa yang kembar, dan juga bercerita tentang permasalahan yang sedang di alami oleh keluarga Puspa di Semarang.
Malam semakin larut, tapi pasangan suami istri masih belum mengistirahatkan matanya. Puas sudah Puspa berusaha memejamkan mata, membolak balikan badannya ke kanan dan kiri, namun kantuk tak kunjung menghampiri. Anjar yang melihat keadaan itu merasa tidak tega, hingga ahirnya ia duduk di ujung kasur, lalu memejat kaki Puspa yang tampak sedikit bengkak
"Pejamkan matamu, mas akan memijat kakimu" ucap Anjar penuh kelembutan
"Mas"
Terdengar Puspa memanggilnya, dengan cekatan Anjar menatap dalam ke wajah Puspa
"Apa?"
"Memangnya, cantikan mana aku sama sekretaris baru mas?"
"Cantikan dia lah?"
Puspa melebarkan matanya menatap Anjar dengan tatapan yang seolah mengintimidasi sambil melipat tangannya
"Asik dong tiap pagi dapat yang seger-seger?" ucap Puspa menyindir
"Udah ah mau tidur" sahut Anjar
Anjar merebahkan dirinya membelakangi Puspa
"Selamat tidur sayang, awas lho kalau mimpiin si melisa" bisik Puspa"
Seketika Anjar membalikan badannya lalu memeluk tubuh Puspa
"Pejamkan matamu sudah malam, besok pagi mas akan menggarapmu" Bisik Anjar tak mau kalah
Pagi harinya, karena ada sesuatu yang di kerjakan pasangan suami istri ini, mereka turun saat yang lain hampir selesai sarapan
"Kok telat sarapanya sayang?" tanya bunda
"Palingan sudah sarapan yang lain bun" sahut Siska tersenyum
"Kamu tidak usah sok-sokan ngledek sis, bunda lihat juga pagi-pagi kalian udah hujan-hujanan
Siska menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang merah merona, Ucapan bunda bagai skak mat untuknya
"Wah seru hujan-hujanan, ada gempa juga ngga bund" Puspa menimpali
"Kamu lagi ikutan ngledek" sambar bunda lagi seraya memandang rambut Puspa dan Anjar bergantian " liat tuh kamu juga, kompak basah-basahan, apa kamarmu juga kebanjiran ?"
Puspa pun tertunduk menyembunyikan wajahnya yang mungkin seperti udang rebus
"Kalian ini ngomong apa si, sarapan yang lain, gempa, sampai banjir segala?" ujar Anjar dengan tampang bingungnya,
Berbeda dengan Ayah dan Rafa yang sangat mengerti arah pembicaraan bunda, istri dan adik iparnya. Di sana Siska masih menunduk sambil cekikikan
"Si direktur yang b*doh ngga paham?" ledek bunda
"Apaan coba, bisa abang jelaskan?" tanya Anjar pada abangnya
Bukanya menjawab, Rafa justru meninggalkan meja makan berjalan ke arah Aurell yang sedang di suapin oleh teh Ema
"Kalian para menantu jangan coba-coba melawan bunda" kali ini ayah ikut menimpali seraya berdiri karena sudah selesai makan
"Dasar para wanita aneh" gerutu Anjar , lalu di senyumin oleh bunda
__ADS_1
Bersambung