
AKU GANTI POV NYA YA, BACA PELAN-PELAN SAJA 😀
Author Pov
Rafa meneruskan pesan yang di kirim oleh Diana ke Anjar, karena tidak kunjung ada balasan, Rafa pun tidak sabar dan ahirnya mendatangi Anjar ke Perusahaan ayahnya.
Sesampainya di kantor Anjar, Rafa tidak menemukan sang adik, kata Melisa si sekretaris, bosnya sedang ada meeting di luar
Rafa pun menunggu Anjar di ruang kerjanya.
Sudah hampir satu jam Rafa menunggu, namun adiknya belum juga kembali, tiba-tiba pintu di ketuk oleh Melisa
"Pak ini ada surat untuk pak Anjar"
Rafa pun menerimanya, lalu meletakan surat itu di atas meja.
Tidak lama setelah itu, Anjar memasuki ruangannya.
"Abang di sini?" ucap Anjar
"Jelaskan pada abang maksud sms Diana" ujar Rafa, seraya menyodorkan ponsel miliknya
"Ini dari Diana bang?"
"Iya, kamu apakan dia?" kamu ingat kan kalau dia yatim piatu, dia baik Anjar, dia menyayangi anakmu tulus, tapi apa yang kamu lakukan, abang yakin kamu sudah berbuat sesuatu padanya, kalau tidak, tidak mungkin Diana seperti itu.
Anjar diam mendengarkan omelan dari kakaknya
"Tidak bisa jawab kamu?" katakan sesuatu apa yang sudah kamu lakukan?"
"Aku tidak melakukan apapun bang?"
Rafa mendaratkan pukulan untuk sang adik, hingga keluar darah dari mulutnya
"Dia tidak mungkin seperti ini tanpa sebab, Seharusnya kamu berterimakasih padanya, sudah bersedia menjadi ibu sambung untuk anakmu"
Anjar mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, ponselnya tidak bisa di hubungi, anakmu menangis mencarinya, malam ini juga kamu harus bawa Diana ke hadapan abang, abang tunggu di rumah bunda"
Rafa bergegas meninggalkan Anjar yang masih duduk mematung.
Berkali-kali Anjar menghubungi nomor Diana, namun hanya suara operator yang terdengar
Anjar merasa frustasi, dia melirik sebuah amplop yang tergeletak di atas mejanya, segera ia raih
"Pengadilan agama"
Matanya semakin memanas, saat membaca isi dari surat itu.
"Surat panggilan sidang cerai, Kenapa wanita semua seperti ini, tidak mau mendiskusikan masalahnya terlebih dahulu"
Anjar segera menghubungi temannya untuk melacak ponsel Diana, lalu bergegas meninggalkan kantor, hendak pergi ke makam Puspa
Berharap Diana pergi ke sana, seperti yang di katakan oleh penjaga makam, bahwa setiap satu minggu sekali ada wanita yang berkunjung ke makam istrinya, Anjar yakin bahwa itu adalah Diana, semakin yakin kalau wanita itu terkadang memakai snelli, penjaga makam juga bercerita, pernah mendapati wanita itu menangis di depan makam Puspa saat cuaca hujan deras.
Anjar semakin merasa bersalah, saat mengingat ucapannya.
"Pasti dia merasa lelah karena sikapku terlalu dingin sampai dia menangis di samping makam Puspa" Gumam Anjar
"Diana, kamu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu, tapi saat ku tatap bola matamu, hanya rasa iba dan kasihan yang tersirat. Kamu menerimaku hanya karena mengasihaniku dan anaku, dari sorot matamu, menunjukan bahwa kamu mengejek nasibku yang di tinggal pergi oleh istrinya, itulah yang membuatku bersikap dingin padamu, Tapi semenjak anaku tidak berhenti menanyakanmu saat itu, dan bilang agar kamu jangan pergi lagi, aku semakin yakin kamu bisa menggantikan Puspa di hatiku.
Sudah hampir maghrib anjar masih berada di depan TPU, tapi tidak ada sosok yang mirip Diana mengunjungi makam.
__ADS_1
Anjar membuka ponsel saat terdengar notif pesan
Bunda
"Anjar, pulanglah dulu, anak-anakmu mencari maminya, bunda sudah tidak punya alasan lagi untuk membohonginya"
"Papi maminya mana?" tanya Azam "Mami belum pulang pi"
"Anjar coba kamu suapi mereka bujuk mereka supaya mau makan" ucap bunda
"Sini anak papi maem dulu"
"Mau maem sama maminya pi?"
"Emyr ingat kata mami waktu itu?" harus maem walau mami tidak ada di rumah, harus di habisin juga maemnya
"Tapi maminya di mana?"
"Maminya kerja sayang"
"Nanti kalau Azam dan Emyr gak mau maem, maminya sedih, maminya gak mau pulang"
"Sekarang ayo A dulu"
Dua bocah itu menganggukan kepala setelah di bujuk oleh papinya
" ayo aem lagi, tinggal satu suapan"
"Sekarang ikut papi ke kamar"
Anjar membawa Azam dan Emyr masuk ke kamar
Saat di kamar, Ia kembali menekan tombol dial pada nomor kontak yang ia beri nama "**Mami**" namun masih suara operator yang mengatakan untuk mencoba beberapa saat lagi
Sesaat kemudian orang suruhannya menelphon
"Iya bagaimana?"
"Lokasi terahir ada di hotel Gemilang bos, sekitar pukul 10 pagi. Sampai sekarang kemungkinan masih di sana"
Anjar segera menyambar kunci mobil, bahkan dia tidak peduli masih mengenakan pakaian kantor, kemeja peach bergaris dan celana panjang. Dia akan pergi ke hotel Gemilang
"Atin anak-anak di atas, kamu kesana sekarang tolong jaga mereka, dan bilang sama bunda, aku pergi
__ADS_1
Atin segera naik ke atas setelah bosnya menyuruhnya.
Dengan kecepatan tinggi Anjar mengendarai mobilnya, seolah tidak sabar ingin bertemu sang istri, lalu membawanya pulang ke hadapan anak-anaknya
"*Papi janji akan bawa mami pulang*"
Sesampainya di hotel, Anjar berlari menuju resepsionis
"Selamat malam mba, saya mau tanya, apa atas nama Diana menginap disini?"
"Mohon tunggu sebentar pak, kami akan mengeceknya"
"Maaf pak atas nama siapa?" tanyanya lagi
"Diana Aisyah Rahmania"
"Maaf pak tidak ada"
Tentu saja tidak ada, Diana menginap di kamar Bella, jadi nama Bella yang tercantum di buku tamu
"*Kemana kamu Di?" Anak-anak menunggumu*, *aku janji akan bersikap lembut padamu*, *pulanglah, kita selesaikan baik-baik*"
Anjar masih duduk termenung di dalam mobil, masih berada di area parkir hotel, Dia punya ide untuk mengecek mobil yang terparkir satu persatu.
"Iya, jika Diana memang disini, pasti mobilnya ada di sini"
Usaha Anjar tidak sia-sia, Benar saja satu unit mobil yang tidak asing bagi Anjar bertengger di sana, mobil yang ia beli untuk istrinya.
"Pasti Diana di sini, aku akan menayakannya sekali lagi" Gumamnya
***BERSAMBUNG***
__ADS_1