
"Mba, apa benar tidak ada tamu atas nama Diana Aisyah Rahmania, bisa di cek sekali lagi?"
Petugas resepsionis pun memeriksanya,
Tidak ada nama Diana yang menginap di hotel tempatnya bekerja.
"Tidak ada pak" seraya menggelengkan kepala
"Tapi mobilnya ada di sini mba"
"Mungkin dia datang bersama temannya, bisa di sebutkan siapa namanya?"
"Teman?", apa Diana menginap bersama temannya?" teman laki-laki atau perempuan?"
Anjar tidak bisa membayangkan jika Diana menginap dengan teman lelakinya
"Tidak mungkin" Batinnya
"Saya tidak tahu siapa namanya, bisa kah saya melihat CCTV"
Petugas resepsionis saling melirik satu sama lain
"Tolong mba, ini sangat penting"
"Baiklah, mohon tunggu sebentar"
Saat petugas memperlihatkan tampilan rekaman CCTV, Anjar melihat istrinya berjalan beriringan dengan seorang wanita, sayangnya wanita itu hanya terlihat dari samping saat melewati kamera, sehingga tampak tidak begitu jelas, berbeda dengan Diana yang terlihat sangat jelas. Beberapa kamera pun sudah di perlihatkan, ada satu kamera yang menampilkan sosok Diana dan sang teman memasuki sebuah kamar, namun saat Anjar meminta untuk mendatangi kamar itu, petugas resepsionis melarangnya, dengan dalih, sudah malam, dan tidak mau mengganggu ketenangan dan kenyamanan para tamunya.
Meskipun Anjar memaksa tetap saja mereka tidak mengijinkan menemui tamu di kamar itu.
"Maaf pak, lebih baik anda kembali besok pagi"
Tidak sampai di situ, Anjar berniat menginap di sebelah kamar yang di tempati Diana, tapi lagi-lagi usahanya gagal. Letak hotel yang strategis dan dekat dengan bandara, membuat kamar di lantai tersebut sudah terisi penuh
Dengan gontai Anjar melangkahkan kakinya keluar dari hotel menuju tempat parkir.
Sekarang Anjar tahu bahwa nama teman Diana adalah Bella, nama itu tercantum di daftar tamu yang menempati kamar tersebut.
Bunda
"Anjar, anak-anakmu menunggumu"
Pesan dari bunda membuat Anjar melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Hampir tengah malam Anjar sampai di rumah, sudah ada Rafa dan Ayah yang menunggu di ruang TV
"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan Diana?" tanya Rafa
__ADS_1
"Dia di hotel Gemilang bang, dia menginap bersama temanya, di sana"
"Temanya?" teman yang mana?"
"Tidak tahu bang, namanya Bella?"
"Bella" Rafa mengernyitkan dahinya, Ia seperti tidak asing dengan nama itu, Ia berusaha mengingatnya "Bella, Bella"
"Abang ingat sekarang"
"Abang ingat apa?, abang tahu tentang Bella?"
Rafa mengangguk
"Dia teman Diana sejak kuliah, dulu abang pernah bertemu dengannya, saat abang mengisi seminar sebagai narasumber di fakultasnya, tapi,,
"Tapi apa bang" potong Anjar
"Setahu abang, Bella tidak tinggal di Indonesia, setelah lulus dia pergi ke singapura dan menetap di sana, itu Diana yang cerita saat abang menanyakan tentang dia"
"Iya bang, sekarang mereka menginap di sana, mungkin dia datang dari singapura untuk menemui Diana"
"Tapi kenapa Diana meminta cerai darimu, dan tiba-tiba kamu dapat surat dari pengadilan?" kamu pasti sudah menyakitinya terlalu dalam, pokoknya abang tidak akan memaafkanmu kalau tidak bisa membawa Diana kembali"
"Anjar, kalau kau tidak mencintainya, kembalikan dia ke panti dengan cara yang baik" Pungkas Ayah
"Aku akan kembali ke hotel itu besok pagi untuk menjemputnya yah"
Ayah menganggukan kepala
"Sekarang istirahatlah, Rafa, kamu juga pulang" ucap Ayah seraya berlenggang menuju kamar.
Sebelum memasuki kamar pribadinya, Anjar melangkah menuju kamar anaknya.
Mata sembab dan sedikit berair milik Emyr, membuat Anjar semakin merasa bersalah. Emyr yang lebih dekat dengan Diana membuat bocah itu menangis tersedu
"Maafin papi nak" Gumamnya "Papi janji akan bawa mami pulang, dan tinggal bersama kita lagi"
Udara malam semakin dingin, membuat Anjar kesulitan memejamkan mata, bukan hawa dingin yang membuatnya tidak bisa tidur, tapi bayangan Diana memakai lingerie lah yang terus menari di pikirannya, layaknya wanita malam yang akan melayani lelaki hidung belang. Anjar tersenyum kecut mengingatnya
"Mungkin kesabarannya mulai habis, karena aku belum juga menyentuhnya"
Anjar tertidur dengan memeluk lingerie milik istrinya, menghirup dalam-dalam aroma Diana yang masih menempel di sana
Keesokan harinya, Anjar sudah bersiap untuk kembali ke hotel, kali ini dia yakin rencana menjemput maminya Anak-anak akan berhasil.
Saat melewati meja makan, dia ingat pesan istrinya, untuk tidak melewatkan sarapan, Ia menyambar dua lembar roti tawar di atas meja, dan air mineral.
__ADS_1
"Bi titip anak-anak ya, bilang sama bunda aku mau jemput menantunya"
"Iya den, semoga non Diana hari ini pulang"
Sebelum pukul tujuh, Anjar mengendarai mobilnya, dia berharap tidak terjebak macet saat perjalanan menuju tempat persembunyian istrinya.
Ya, Anjar berfikir bahwa istrinya saat ini sedang bersembunyi.
"Aku menemukanmu Diana, kamu tidak akan bisa lari nanti, bahkan aku akan memaksamu jika kamu menolak untuk pulang" gamamnya seraya menyunggingkan senyum,
Hatinya berbunga-bunga seperti akan bertemu dengan sang kekasih.
Karena perjalanan sedikit mengalami kemacetan, dan ini adalah jam kerja, Tujuan yang seharusnya bisa di tempuh hanya dengan waktu kurang dari satu jam, kali ini mencapai satu setengah jam.
Dengan langkah penuh percaya diri, Anjar menghampiri resepsionis.
"Selamat pagi mba, saya ingin bertemu dengan Bella"
"Bella siapa pak?"
"Bella Sekar Tanjung"
Beberapa menit kemudian
"Maaf pak, Atas nama Bella Sekar Tanjung sudah check out beberapa jam yang lalu"
"Apa mba"
"Sudah check out tepatnya pukul 04:50"
"Apa dia keluar dengan temannya"
"Kalau soal itu, saya tidak tahu pak, bukan saya yang jaga saat itu"
Benar juga, petugasnya memang bukan petugas yang melayaninya tadi malam, sudah berganti shift
Seketika Anjar berlari menuju parkiran tempat mobil Diana berada, tapi zonk
"Tidak ada"
"Yaa Rabb, apakah ini hukumanku karena sudah mengabaikannya?"
"Apa yang akan aku katakan pada anak-anaku" Selorohnya seraya terus menghubungi nomor Diana yang masih belum aktif
"Kemana lagi aku mencarimu Di, Apa kamu tidak merindukan anak-anakmu, apa kamu lupa dengan janjimu waktu itu?"
Ia berharap membawa kabar baik untuk anaknya, tapi justru kekecewaan yang ia bawa pulang
__ADS_1
BERSAMBUNG