
"Halo abang Emyr" panggil Anjar " apa kabarmu nak?" papi lihat abang sudah semakin membaik, lihatlah mami merawatmu dengan baik, berikan penghargaan buat mamimu itu, dengan kesembuhan abang, pasti mami akan bahagia"
"Abang dapat salam dari babang Zamzam dan Sasa, mereka selalu menunggumu, abang terus semangat ya"
Sementara Anjar membisikan kata-kata di telinga Emyr, Diana mengelap badannya dengan handuk basah, membuat emyr terlihat lebih segar. Lalu membantunya menggerakan tangan dan kaki milik anaknya.
Seharian penuh Anjar dan Diana menemani anaknya di rumah sakit, Diana selalu pulang pada malam hari, menunggu anaknya tertidur pulas, dan akan datang pagi-pagi sebelum Emyr bangun.
Jika Emyr terbangun di tengah malam, suster akan menghubungi Diana, dan dia akan segera ke rumah sakit. Tapi selama dua bulan berada di rumah sakit, hanya 3 kali Emyr terbangun dipertengahan malam
...@@@@@...
"Sekarang jelaskan tentang dokter Denis" ucap Anjar seraya memicingkan matanya saat mereka sudah kembali dari rumah sakit
Diana tampak santai dengan tatapan intimidasi dari suaminya, toh Diana tidak pernah merespon tatapan dokter itu.
"Biasa saja, jangan menatapku seperti itu, matamu hampir keluar dari tempatnya"
Anjar tetap memandangi Diana yang sedang menikmati salad buah buatannya, dengan tangan di lipat di depan dadanya, masih tetap fokus menatapnya, Hingga Anjar kehabisan kesabaran, lalu tangan Anjar merebut sendok yang sedang di gunakan Diana
"Apaan si mas, merusak suasana makanku saja"
"Ada apa dengan tatapan dokter sialan itu?"
"Entahlah" jawab Diana dengan mengangkat bahunya
Anjar merasa gemas dengan tingkah istrinya, dengan cepat ia mengangkat tubuh Diana, dan membawanya ke dalam kamar
"Tubuh ini miliku, tidak ada yang boleh meliriknya, apa lagi menikmatinya, ucap Anjar setelah membaringkan tubuh Diana di atas kasur
"Memangnya siapa yang ingin menikmati apa yang menjadi milikmu" balas Diana lalu mengecup mesra bibir suaminya
"iihhh Kamu membuatku on"
Diana membekap mulut Anjar menggunakan tangan kirinya, sehingga Anjar kesulitan bicara, tangan Anjar melepaskan bekapan tangan Diana. "Ini malam terahirku di sini, besok aku harus ke Jakarta menjadi baby sitter untuk anak-anak kita, mari kita lakukan sampai pagi"
"Diana tertawa mendengarnya, ia merasa geli dengan ucapan suaminya"
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Siang ini Diana akan membawa Emyr pulang ke apartemenya, karena berat badan Emyr yang terus bertambah setiap minggunya, membuat dokter mengizinkan untuk berobat jalan, dan akan di lakukan fisio terapi setiap dua hari sekali. Sedangkan Anjar, sudah kembali ke Indonesia beberapa waktu lalu
Saat Emyr menunjukan perubahan secara signifikan, rasa pesimis dan takut yang selama ini menghantui, perlahan menghilang dari pikiran Diana.
Sesampainya di rumah, Diana memandikan Emyr lalu memotong kuku anaknya yang sudah mulai memanjang.
"Abang Emyr, mami senang abang sudah lebih gemuk dari sebelumnya, mami bangga sama abang" ucap Diana sambil memotong kuku Emyr satu persatu
"Abang harus tetap semangat ya, supaya cepat sembuh, dan kita bisa berkumpul kembali. Kita bermain lari-lari sama abang Azam, sama Dede Sasa juga, main bola sama papi"
__ADS_1
"Mami janji nak, akan selalu bersama abang" Nah selesai deh, sekarang kuku abang sudah tidak panjang lagi"
"Abang tunggu di sini, mami mau masak buat makan, setelah makan, abang harus tidur siang
tok-tok-tok
Diana segera menghentikan aktifitas masaknya, mencuci tangan lalu segera membuka pintu apatermennya. Dia tahu bahwa yang datang adalah Juna, terdengar dari suara ketukan pintu. Juna tidak akan memencet bel saat mengunjungi rumahnya
"Halo mami Diana"
"Juna, ayo masuk sayang, Juna sendirian?"
"Iya mom"
"Juna tidak masuk sekolah?"
"Juna badanya demam, jadi mami tidak mengizinkanku pergi ke sekolah"
Diana menyentuh dahi anak sahabatnya, benar memang sedikit panas
"Juna ada siapa di rumah?"
"Ada papi, tapi papi lagi bobo, jadi Juna kesini deh"
"Ada bilang sama papi mau ke sini"
Juna menggeleng
🌺
🌺
🌺
🌺
Tujuh bulan sudah Emyr menjalani fisio terapi,
Diana begitu telaten merawatnya, dengan pengalamannya sebagai dokter, dan di dampingi oleh Bella yang sangat ahli dalam pemberian gizi untuk Emyr, membuat Emyr sedikit demi sedikit mampu membawa perubahan pada dirinya, perlahan mampu menggerakan tangannya, selain itu karena efek dari fisio terapi, Emyr sudah bisa mengucapkan kata mami, walaupun harus mengeluarkan tenaga ekstra. Ia juga sudah bisa merespon dengan menganggukan kepala atau menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ahir-ahir ini aku mudah sekali lelah?" Gumam Diana
"Tunggu" gumamnya lagi seraya memegangi perutnya, "Aku merasakan hal yang sama seperti saat hamil Sasa"
Ia segera berlari melihat tanggalan yang bertengger di atas meja, lalu segera mencari sebuah alat tes kehamilan di lemari mini khusus obat
"Garis dua" batin Diana saat di kamar mandi
Diana merasa senang dengan kehamilannya, namun dia juga merasa bahwa kehamilannya akan memperhambat penyembuhan Emyr
__ADS_1
"Aku harus tetap semangat, demi Emyr dan juga bayiku"
Di kamar, Diana sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahukan kabar ini pada suaminya
Seraya berfikir, Dia memutar-mutar alat kehamilan di tangannya. Bergegas ia meraih ponselnya di atas nakas, ia foto hasil alat yang menunjukan dua garis tersebut
Tidak lama setelah itu, ia mengunggahnya di story Whatsappnya, berharap Anjar akan melihatnya
Story whatsapp dengan membubuhkan caption pun terunggah, Diana meletakan kembali ponselnya di tempat semula.
Banyak sekali notif balasan dari statusnya, namun tidak ada satupun balasan dari Suaminya
Di rumah Ayah dan bunda, Rafa dan siska sedang berkumpul di ruang keluarga, mereka menemani Azam dan Sasa bermain. Sebelumnya Siska sudah melihat story milik Diana.
Saat Siska melihat adik iparnnya menuruni anak tangga, dia berniat meledeknya.
Anjar menempatkan diri duduk di samping kedua anaknya, Zamzam Dan Sasa
"Tidak sia-sia ya Anjar, pulang pergi ke Singapura, tanamannya tumbuh subur"
Anjar bingung dengan ucapan Siska, bahkan dia tidak meladeni ledekan dari kakak iparnya
"Maksud kamu Diana,, " bunda menggantungkan kalimatnya
"Iya bun ni lihat" Sahut Siska seraya menyodorkan ponselnya
"Alhamdulillah, jadi tambah rame nanti"
Anjar masih belum menyadarinya, "Tambah rame apanya bun?" tanya Anjar
"Memangnya kamu tidak tahu?"
"Tidaklah, memangnya tahu apa?"
"Lihat storynya Diana?" sela Siska
Mendengar nama Diana di sebut, dada Anjar berdesir, seolah takut terjadi apa-apa pada istri kesayangannya.
"Lihat sendiri storynya di whatsapp" sambung Siska
"Coba sini mba, pinjam ponselmu"
"Maaf Anjar, aku sedang memakai ponselku"
Karena penasaran, Anjar segera berlari menaiki tangga, menuju kamar. Ia ingin sekali melihat apa yang di bagikan oleh istrinya
"Apa maksudnya" gumam Anjar saat sudah melihat Wa story Istrinya
Memang selama ini Anjar tidak paham maksud dari alat itu, dia hanya tahu bahwa itu sebuah tespeck, alat untuk mengecek kehamilan.
__ADS_1
Anjar segera mencari tahu lewat googlingnya. Memiliki tiga anak tidak berpengalaman akan hal itu. Saat Puspa hamil, dia hanya di beritahu oleh kakak iparnya, dan saat Diana hamil, dia pun tidak ada bersamanya. Anjar juga belum pernah merasakan bagaimana paniknya seorang suami saat menemani istrinya melahirkan.
Mata Anjar berbinar saat mengetahui maksud dua garis merah pada alat itu, yang berarti positif hamil.