Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 30


__ADS_3

Puspa benar-benar terkejut, ternyata akbar sangat mirip dengan bapaknya


Puspa terus menatap layar handphone yang menampakan wajah sang adik, Mulutnya seolah terkunci, tidak tahu harus mengucapkan apa, begitu juga dengan Akbar. Dia merasa canggung dengan kakaknya yang baru ia ketahui.


"Akbar bicaralah dengan kakakmu" bisik Anjar


"Mba Puspa apa kabar?" ucap Akbar. Bapak dan Anjar tersenyum simpul mendengar sapaan Akbar melalui sambungan telfon, karena memang terdengar lucu


"Baik" jawaban Puspa tak kalah lucu. Membuat dua lelaki beda generasi makin cekikikan. Bagi Puspa, ada getaran yang aneh saat sang adik memanggilnya.


Mereka pun kembali saling diam, Puspa hanya menatap lekat adiknya, seraya membekap mulutnya dengan tangan kirinya.


Beberapa menit berlalu pesananpun sudah siap di atas meja


"Mba udah dulu ya, Akbar mau makan"


Puspa hanya menganggukan kepalanya. Kini ponsel sudah ada di tangan pemiliknya, dengan sambungan masih terhubung ke ponsel Puspa


"Dhe, mas makan dulu ya, semoga mas besok sudah bisa kembali ke Jakarta"


Setelah mendapat jawaban dari Puspa, Anjar memutuskan sambungan telfonya lalu segera menikmati makanan yang mereka pesan.


Makan malam mereka lalui dalam diam. tak ada obrolan apapun, selain pertemuan yang sangat mendadak membuat mereka masih sedikit canggung, ini juga sudah terlalu malam.


Selesai makan malam, tiga pria itu meninggalkan rumah makan, tujuan selanjutnya adalah kembali ke rumah pak Danang, untuk meminta ijin padanya, membawa Akbar ke Semarang.


Sesampainya di rumah pak Danang, mereka di sambut oleh pak Danang beserta istrinya.


"Mari silakan masuk" ucap pak Danang


Mereka memasuki rumah dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa. Pembicaraan pun di mulai.


"Begini pak Danang" ucap pak Ilham "Saya mohon ijin membawa Akbar untuk tinggal bersama kami"


"Pak Ilham adalah bapak kandungnya, saya tidak bisa melarang, tapi tetap keputusan ada di tangan Akbar" sahut pak Danang "Bagaimana Akbar, apa kamu mau tinggal bersama bapakmu?"


Akbar mengangguk "Tapi paman bagaimana dengan mba Tika, mba Tika juga harus tahu tentang ini?"


"Betul itu pak Ilham, Tika juga harus di beri tahu?" sahut pak Danang


"Itu benar pak, nanti saya yang akan mencarinya. pak Danang kemarin bilang bahwa Tika ada di jakarta?" kali ini Anjar menimpali


"Benar, dia ikut bibinya, tapi sudah sekitar 3 bulan kami kehilangan kontak, Akbar apa kamu tahu no pensel mbak mu? tanya pak Danang


"ngga ada paman, semenjak masuk pesantren Akbar ngga pegang hp, ponselnya juga rusak, tapi Akbar tahu alamat bibi di Jakarta, dulu Akbar kan pernah tinggal di sana"


"Itu bagus bar" sambar Anjar "Masih ingat kan alamatnya, setelah dari sini nanti kita datangi alamatnya"


"Iya mas, tapi aku harus ngurus kepindahanku dulu kan mas?"


"Kamu tenang saja, soal itu nanti mas yang urus, dan saya juga minta bantuan pak Danang untuk mengurus surat-surat kepindahan Akbar, nanti secara online"

__ADS_1


Pembicaraanpun selesai, Akbar akan ikut ke Jakarta, besok.


"Pak sebaiknya kita cari hotel untuk menginap malam ini" bisik Anjar


"Bapak setuju nak"


Anjar dan Pak Ilham meninggalkan rumah pak Danang, mencari tempat untuk menginap, yang tidak jauh dari rumah pak Danang.


"Akbar, bapak pergi dulu, besok bapak jemput kamu lagi"


"Iya pak" jawab Akbar seraya mencium punggung tangan pak Ilham, hal yang sama juga dilakukan Akbar pada Anjar


"Akbar tidur yang nyenyak besok kita ke Jakarta" ucap Anjar


"Iya mas"


...**********...


Keesokan harinya, Anjar dan pak Ilham sudah bersiap untuk kembali ke jakarta, Anjar yang semalam sudah memesan tiket pesawat menuju Jakarta untuk tiga tempat duduk, dengan penerbangan sekitar pukul 10 pagi ini.


"Pak kita sarapan setelah itu baru ke rumah pak Danang"


"Iya nak"


Sebelum ke bandara, Anjar harus menjemput Akbar di rumah pak Danang, ia juga harus menghubungi temannya, untuk berterimakasih atas mobil yang sudah ia pinjam.


Mobil berjalan menuju rumah Pak Danang


Sesampainya di rumah pak Danang, terlihat Akbar yang sudah siap dengan tas ranselnya, karena mereka buru-buru harus segera ke bandara, mereka pun langsung berpamitan pada pak Danang dan istrinya


"Baik, hati-hati, Akbar jika sudah sampai kabari paman, nanti di Semarang, kamu bisa bertemu dengan nenek dan pamanmu yang lain" ucap pak Danang seraya memeluk keponakannya


Dibandara, Anjar bertemu dengan temanya


"Terimakasih banyak Leo, sudah sangat membantuku selama di sini, dan ini kunci mobilnya" ucap Anjar


"Santai Njar, next time datanglah lagi, ajak istri dan anakmu liburan di sini"


"Siap bos" sahut Anjar mereka saling bersalama.


"Hati-hati bos sampai jumpa" ucap leo seraya melambaikan tangan.


Sambil menunggu pesawat siap, Anjar menyempatkan berkirim pesan pada sang istri


^^^Dhe sebentar lagi pesawat take of, nanti sampai Jakarta mas kabarin^^^


Puspa Anindita


Hati-hati mas


Jam berapa sampai Jakarta, nanti aku jemput

__ADS_1


^^^Ok jemput mas selepas dzuhur^^^


Puspa Anindita


Baik mas 😘


^^^😗😗😗😗^^^


Pesawat Lion Air lepas landas dari bandara Sepinggan Balik Papan, dan mendarat di bandara International Soekarno-Hatta dengan selamat.


Anjar, Akbar dan pak Ilham telah sampai di jakarta, saat ini mereka tengah menunggu Puspa.


Di situasi lain, Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan Ibukota, Akhirnya Puspa sampai di bandara.


Puspa memindai pandangannya mencari sosok suaminya, tak butuh waktu lama pandangan mereka saling bertemu, dan saling melambaikan tangan.


Anjar yang sudah menyadari kedatangan Puspa, segera menggiring adik dan bapak mertuanya berjalan menuju di mana Puspa berada.


Bergegas Puspa meraih tangan Bapak dan Suaminya, mencium punggung tangannya bergantian. Begitu juga dengan Akbar yang meraih tangan Puspa lalu mencium punggung tangan sang kakak, Puspa membalasnya dengan memeluk Akbar sedikit lebih lama.


Pertemuan yang sangat haru antara kakak dan adik laki-lakinya.


"Kunci mobilnya dhe, biar mas yang nyetir?"


"Ini mas" seraya menyerahkan kunci mobil ke tangan suaminya.


pak Ilham dan Akbar mengambil posisi duduk di jok belakang, Puspa di kursi depan, tepat di samping Anjar yang sudah siap di kursi kemudi.


"Sudah ok pake sabuk pengaman, bapak sama Akbar?" tanya Anjar


"Sudah mas" jawab Akbar


Mobil melaju meninggalkan Bandara.


"Mau mampir atau tidak sayang?" tanya Anjar saat sedang mengemudi


"Mampir kemana mas?"


"Siapa tahu ada sesuatu yang ingin di beli?"


"Tidak mas, kemarin sudah belanja banyak sama bunda"


"Bi sumi ada nginep di rumah kan?"


"Ada" sahut Puspa


Anjar kembali fokus dengan kemudinya, di lihatnya sang bapak mertua dan adik iparnya melalui kaca spion, tampak Akbar yang sedang mengalihkan pandangannya ke samping kiri melihat jalanan dan Pak Ilham yang tampak tertidur


"Katanya adiku dua kok yang di bawa cuma satu? apa dia tidak ingin ikut?" batin Puspa


Sebenarnya Puspa sedang memikirkan tentang

__ADS_1


adiknya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada suaminya, tapi ia memilih bertanya saat sudah di rumah nanti. Ia ingin mendengar cerita sang suami selama mencari adiknya di Balik Papan.


Bersambung


__ADS_2