
Anjar menggenggam jemari Diana erat, sudah beberapa menit mereka duduk di dalam mobil, namun Anjar belum juga melajukan mobilnya, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tampak Emyr tertidur di jok belakang.
"Sayang aku minta maaf atas sikapku dulu, Emyr benar aku papi yang jahat"
Diana tidak menyahut, dia pun merasa bersalah pada Anjar dan Emyr. Matanya berkaca-kaca membuat Anjar menarik ke dalam pelukannya.
Diana meresapi betapa hangat dan menenangkan pelukan sang suami. Naluri kemanjaanya sebagai seorang wanita hamil membuatnya sedih bila teringat bisikan maut yang pernah ia bisikan pada Emyr.
"Kita hadapi sama-sama" ucap Anjar sambil mengusap rambut Diana. Anjar mengurai pelukannya lalu mengecup kening istrinya,
"Jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri, sudah jelas aku yang salah, sampai kamu merubah jam kerja mu sendiri, aku paham karena sikapku yang selalu mengacuhkanmu dulu, pasti kau ingin menghindar dariku setiap malam, ini salahku"
Hening, Diana masih mengunci mulutnya. Rasanya enggan untuk mengucapakan sesuatu
Tidak lama setelah itu, Anjar melajukan mobilnya, meninggalkan halaman rumah sakit, sesekali melirik ke kursi belakang, dimana Emyr berada, melalui pantulan kaca spion. Dengan satu tangan memegang kemudi, dan tangan lainnya masih menyatukan jemarinya dengan jemari Diana
Sesampainya di apartemen, Anjar membaringkan tubuh Emyr di tempat tidurnya. Sedangkan Diana, berjalan menuju kamar. Duduk di bibir ranjang, seraya mengusap pipinya yang basah. Tidak lama setelah itu Anjar memasuki kamarnya, dan duduk di samping Istrinya.
Melihat bola mata Diana yang terus-terusan mengalirkan buliran bening, Anjar segera memeluknya dari samping, membawa Diana bersender di dada bidangnya. Hingga beberapa saat setelah Diana puas menumpahkan kesedihannya, Anjar merangkum wajah Diana menatap dalam-dalam wajah ayu wanitanya
"Dengarkan aku Di, Aku mencintaimu, jangan pergi lagi dari kami, kita akan bicara pada Emyr nanti, kita sama-sama meminta maaf padanya, dan setelah itu, kita fokus lagi pada kesembuhan Emyr, okey Di"
Diana menganggukan kepalanya, lalu memeluk tubuh kekar suaminya
"Aku tidak tahu jika kamu tidak ada di sini" ujar Diana
"Aku juga tidak bisa membayangkan, jika kamu sendirian mendengarkan penjelasan dokter Janet, aku saja ingin pingsan tadi"
"Pi" panggil Diana masih dengan posisi memeluk suaminya.
"Hemm"
"Untuk lunch nanti kita pesan saja bagaimana?" aku sedang malas memasak"
"Tidak usah beli, papi yang akan masak nanti" jawab Anjar "Sekarang istirahatlah, papi akan ke dapur, kalau sudah siap, nanti papi bangunkan"
Anjar membantu Diana berbaring, menata bantal lebih tinggi agar Diana merasa lebih nyaman dengan perut yang sedikit sudah tampak baby bump. Mengecup bibirnya singkat sebelum meninggalkannya di kamar.
Sebelum menuju dapur, Anjar melangkahkah kakinya menuju kamar putranya, duduk di samping Emyr berbaring, mengusap kening anaknya. Anjar tidak bisa berkata apa-apa saat sedang berhadapan dengan Emyr, laki-laki itu hanya bisa mengusap wajahnya kasar, setitik air matanya lolos begitu saja, mengalir di wajah pria tampan berusia 36 tahun. Begitu terpukul saat mengingat ucapan Emyr saat di rumah sakit.
Anjar mendekatkan mulutnya di telinga Emyr
"Maafin papi nak, papi janji akan selalu sayang sama mami, tidak jahat lagi sama mami" bisik Anjar "Emyr anak pintar, pasti mau memaafkan papi kan?, Tidurlah papi akan memasak"
__ADS_1
Usai memasak Anjar berniat membangunkan Diana terlebih dulu.
Anjar memandangi wajah Diana saat sudah berada di kamarnya, satu tangannya mengusap perut istrinya, seketika senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Beberapa menit kemudian, Diana menggeliat merasakan belaian tangan sang suami. Seraya membuka matanya perlahan, tampak Anjar yang sedang tersenyum simpul padanya
"Bagaimana tidurmu?" Anjar masih dengan senyum manisnya, membelai rambut indah istrinya.
Diana buru-buru mendudukan tubuhnya, dengan cepat Anjar meraih bantal lalu ia letakan di kepala ranjang, untuk menyenderkan punggung Diana agar lebih nyaman
"Jangan buru-buru berdiri, nanti kepalanya sakit" ucap Anjar
"Sudah matang?" tanya Diana
"Sudah, mau makan sekarang?"
Diana mengangguk, lalu menurunkan kakinya dari atas kasur.
"Cuci mukamu, aku akan membangunkan Emyr, pelan-pelan saja ke kamar mandi" Anjar berdiri berjalan menuju kamar Emyr.
Diana melihat beberapa menu sudah tersaji di meja makan, nasi lemak, stik sapi, dan oseng kerang. Diana sudah tidak sabar untuk menyantap makanan yang di masak oleh sang suami. Mereka mulai menyantap makanan dengan sedikit melontarkan candaan, membuat Emyr tersenyum senang.
Selesai makan, Diana dan Anjar mengajak Emyr untuk bicara.
"Abang, abang Emyr masih marah sama papi?" tanya Anjar lembut "papi minta maaf, udah jahatin mami kesayangannya abang Emyr"
Bocah itu terdiam mencerna ucapan papinya.
Emyr memindai wajah Diana yang sedang tersenyum
"Maafin mami juga, sudah ninggalin abang Emyr, mami janji tidak akan pergi lagi"
Emyr masih diam membisu
"Mau maafin mami sama papi?" tanya Diana
Lalu Emyr memindai pandangannya pada papinya yang sedang menangkupkan kedua tangannya seolah memohon ampun
"Maafin papi, Papi sayang sama bang Emyr, papi juga sayang sama mami"
"Mau ya?" Diana juga menangkupkan kedua tangannya
Emyr menganggukan kepalanya, dengan segera Diana dan Anjar memeluk Emyr, lalu menghujani ciuman bertubi-tubi di kepala Sang anak.
"Mulai sekarang, papi tidak akan jahat lagi sama mami, mami juga tidak akan pergi lagi" iya kan mi?" tanya Anjar
__ADS_1
Diana menganggukan kepala seraya tersenyum, kembali mendaratkan ciuman di kening Emyr
"Abang Emyr mau latihan berjalan lagi?" tanya Diana
"I-ya" jawab Emyr
"Ok papi hubungi dokter Nelson, besok pagi kita ke rumah sakit kita terapi kakinya Abang"
"Siap mami" jawab Anjar seraya hormat mendaratkan tangannya di sisi keningnya, membuat Emyr tertawa
...____________________...
Malam harinya Diana, Anjar dan Emyr sedang berkumpul, mereka sedang bicara dengan keduan anaknya yang lain melalu sambungan telfon
"Mami, tiga hari lagi Sasa sama Abang Zam-Zam liburan, kata nenek papi mau jemput"
"Iya besok papi jemput Sasa sama abang, kita liburan di Singapura"
"Asik, teriak Sasa girang"
"Abang Zam-zam bagaimana sekolahnya?" tanya Anjar
"Abang dapat piala pi, abang dapat peringkat dua"
"Wah hebat" sambung Diana " Kalau Sasa dapat apa Ni?"
"Sasa belum dapat piala mi, kan masih play group"
"Coba kakek sama nenek mana mami sama papi pengin ngomong"
Tidak lama layar ponsel menunjukan wajah ayah dan bunda
"Ayah bunda, bagaimana kabarnya?" tanya Diana
"Kami sehat, kalian bagaimana?"
"Kami sangat sehat bun" jawab Anjar "Apalagi Abang Emyr, sudah bisa bicara lagi sedikit-sedikit, besok juga mau terapi jalan lagi"
Ayah dan bunda menatap wajah cucunya dalam, tampak cucunya sudah mulai memancarkan aura bahagia, bunda pun meneteskan air matanya
"Kalian tidak usah jemput Sasa dan Azam, nanti ayah dan bunda yang akan mengantarkannya, ayah bunda ingin bertemu dengan Emyr" ucap ayah dengan linangan air mata karena senang melihat cucunya perlahan sembuh
Setelah puas mengobrol via jaringan mereka saling menutup sambungannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Tinggal beberapa part lagi selesai. Maaf jika banyak kata yang typo, atau bahasa terlalu vulgar