Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Part 28


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta, Puspa menyuruh bapaknya untuk langsung beristirahat, karena memang ini sudah hampir tengah malam


Berbeda dengan Anjar yang harus ke ruang kerja untuk memeriksa laporan perusahaan terlebih dulu.


"Dhe kamu tidur duluan"


Tanpa menjawab, puspa melangkahkan kakinya menuju kamar.


Saat di kamar, Puspa terus memikirkan masalah orang tuanya, duduk menyandarkan punggung di kepala ranjang, dengan satu tangan dilipat, dan tangan lainnya menopang dagunya, bahkan ia berfikir, apakah suaminya akan melakukan hal itu tanpa sepengetahuannya, suatu saat nanti.


"Tidak, mas Anjar tidak seperti itu" gumam Puspa


Bapak pun orang baik, tidak di sangka beliau melakukan itu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di esok hari, begitu juga dengan suaminya, walaupun Anjar baik dan setia, tapi orang bisa saja berubah


aahh hal itu benar-benar mengganggu pikiran Puspa, bahkan dia tidak menyadari bahwa pintu terbuka menampilkan sosok suaminya.


Anjar menatap istrinya heran, tetapi dia bisa menebak kalau istrinya pasti sedang memikirkan orang tuanya, tanpa tahu kekhawatiran Puspa yang sebenarnya.


Dia menghampiri Puspa duduk di sisi ranjang.


"Ibu hamil tidak boleh banyak pikiran" ucap Anjar, seraya mendaratkan tangannya di paha milik istrinya.


Puspa yang sedikit terkejut, meraupkan tangan ke wajahnya


"Mas sudah selesai?"


Anjar meraih jam weker di atas nakas, lalu memperlihatkan ke arah Puspa


"Lihat sekarang jam berapa?"


"Hampir jam satu mas"


"Lalu kenapa belum tidur?", tidurlah masalah bapak tidak perlu di pikirkan, mas ke kamar mandi dulu"


"Apa mas juga akan melakukan itu tanpa sepengetahuanku?"


Saat Anjar baru saja berdiri, ucapan Puspa membuat Anjar mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, lalu kembali mendudukan bobot tubuhnya.


"Maksud kamu?"


"Apa mas akan menikah diam-diam?"


Anjar tersenyum kecut, tidak di sangka istrinya memiliki pemikiran seperti itu.


"Kamu jangan berfikir terlalu jauh, aku ngga akan melakukan itu"


"Bapak saja bisa melakukanya mas?"


"Bapak melakukan tanpa sadar, jika bapak tidak dalam keadaan mabuk, mas yakin, bapak tidak akan berbuat seperti itu, dan pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Bapak menikahinya juga sebagai bentuk tanggung jawab bapak, bisa jadi ada unsur keterpaksaan karena sudah terlanjur kan, dan bapak menyembunyikannya, karena tidak ingin menyakiti ibu?" ujar Anjar panjang lebar


"Tapi bisa saja mas melakukannya tanpa sadar juga?"


"Semua orang mempunyai takdir dan nasib yang berbeda sayang, makanya mas sering bilang ke kamu, jika ada yang mengganggu pikiranmu, segera diskusikan sama mas, kita bicarakan, dan kita cari solusinya sama-sama"


Puspa memegang tangan suaminya


"Apa mas juga akan mendiskusikan apa yang mengganggu pikiran mas?"


"Tentu saja, dan ingat, jika ada masalah, terutama masalah rumah tangga, jangan pergi dari rumah, karena di luar rumah banyak sekali godaan" ucap Anjar


"Kamu benar mas"

__ADS_1


"Sekarang tidurlah, jangan berfikir yang membuatmu stres, di perutmu ada bayi, jika kamu stres, bayimu juga ikut stres"


"Ya sudah mas ke kamar mandi, aku tunggu"


Anjar berfikir bahwa istrinya benar-benar wanita yang unik, di samping sifatnya yang mandiri, penuh kasih sayang, dan tidak mudah marah, tapi dia memiliki sisi kekhawatiran yang bisa di bilang berlebihan. Untung saja Anjar bisa mengimbanginya.


"Kamu beneran nungguin mas, seraya berjalan ke arah kasur, ayo kita tidur" ucap Anjar yang baru keluar dari kamar mandi


Mereka sama-sama merebahkan tubuh di kasur empuknya, Puspa memeluk suami yang tidur terlentang menghadap langit-langit kamar, dengan menggunakan lengan sang suami sebagai bantal.


"Kamu bilang mas penakut, tapi kamu sendiri yang ketakutan" ucap Anjar


Puspa memberingsut dan menenggelamkan kepalanya di ketiak suaminya.


...*********...


Pagi ini Anjar dan ayah mertua akan terbang ke Balik Papan untuk mencari anak dari pernikahan keduanya.


"Mas mau berapa hari di sana?" tanya Puspa sambil menikmati sarapan mereka


"Kalau ngga ada halangan, mas usahain begitu ketemu, langsung membawa mereka ke sini"


"Dhe mas berangkat dulu ya, nanti ada ARTnya bunda yang datang kesini buat nemenin kamu di rumah, terus nanti kamu ke sekolah pelan-pelan saja bawa motornya


"Iya mas hati-hati"


"Bapak berangkat ya nduk, doain bapak" ucap pak Ilham seraya mengulurkan tangannya


"Hati-hati ya pak" sambil mencium punggung tangan pak Ilham takzim


Anjar dan Pak Ilham menuju bandara dengan menggunakan taksi. Tujuannya adalah rumah paman dari anak Arum dan pak Ilham, dengan bermodalkan alamat rumah, Anjar berharap urusannya cepat selesai, dan bisa membawa pulang kedua adik iparnya hari ini juga.


Sesampainya di balik papan, Anjar menghubungi teman semasa kuliah, Anjar berniat meminta bantuan pada temannya.


"Baik bro" Oo ya kenalkan ini Bapak mertuaku"


"Apa kabar pak, bapak bisa panggil saya Leo"


"Baik, senang berkenalan dengan nak Leo, bapak Ilham, mertua Nak Anjar" jawab pak Ilham


Mereka duduk dan berbincang-bincang di sebuah restauran serambi makan siang. Anjar menceritakan tujuannya datang kesini, yaitu mencari alamat tempat adik iparnya tinggal, tanpa menceritakan masa lalu ayah mertuanya. Leo pun memberitahu dimana alamat itu berada, dengan bermodalkan alamat yang di catat oleh pak Ilham, dan petunjuk dari Leo, Anjar berharap tujuannya tidak sia-sia.


"Bro Nih bawa mobilku, sampai urusanmu selesai, ini kunci mobilnya" aku sudah di jemput sama sopirku, sekarang ayo aku tunjukan dimana mobilku. ucap Leo


Mereka berjalan menuju parkiran tempat mobil temannya berada.


"Ok bro semoga segera di temukan, kalau butuh bantuanku, hubungi saja no ponselku"


"Sip bro, terimakasih atas bantuannya"


"Tidak perlu sungkan" sampai jumpa"


Anjar dan temannya berpisah di parkiran


"Ayo pak" ajak Anjar seraya membukakan pintu mobil untuk pak Ilham


Lalu Anjar setengah berlari mengitari depan mobil, dan duduk di posisi pengemudi


"Apa bapak ingin istirahat dulu, nanti kita cari hotel"


"Kalau bapak si maunya langsung cari alamat, tapi kalau nak Anjar ingin istirahat dulu, ya bapak manut"

__ADS_1


"Ya sudah kita langsung saja ya pak"


Anjar menjalankan mobilnya sesuai petunjuk navigasi.


Beberapa gedung tinggi menjulang di lalui, hingga pasar dan juga jembatan. Setelah melalui sedikit kemacetan, ahirnya sampai di sebuah jalan kecil nan sempit, Sesekali Anjar melirik spion.


"Bapak di sini dulu, Anjar coba tanya-tanya ke penduduk sini"


Anjar kemudian turun dari mobil dan menanyakan alamat yang dia tuju, pada sekumpulan orang yang sedang duduk


"Terimakasih pak bu, saya permisi"


Anjar berlari menuju mobil


"Kita jalan lagi pak" ucap Anjar sambil memasang sabuk pengaman


Memasuki sebuah gang kecil, yang tidak bisa di lalui mobil, Anjar dan pak Ilham lalu turun dan berniat jalan kaki.


"Kita jalan kaki ngga apa ya pak, kayanya ngga jauh dari sini"


"Iya nda apa-apa nak"


Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ponsel Anjar berdering


"Iya sayang"


"Bagaimana" tanya seseorang di sebrang telfon


"Nanti mas hubungi lagi ya, mas sedang mencari alamatnya, kebetulan ini sudah sampai dekat rumahnya" ucap Anjar


Anjar dan pak Ilham berjalan bersisian, saat ada kerumunan orang, Anjar memberanikan diri untuk bertanya dimana alamat yang tertulis di kertas yang ia pegang


"Selamat Sore ibu ibu?"


"Selamat sore"


"Maaf bu menganggu waktunya, saya mau tanya alamat ini di sebelah mana ya bu?" ucap Anjar seraya menyodorkan kertas berisi alamat rumah


"Oh ini rumah pak Danang, Bapak jalan saja kearah sana" Ucap salah satu orang dengan mengarahkan tangannya, "nanti ada pos ronda, Nah rumahnya depan pos ronda tapi agak ke ke kanan, rumahnya bercat biru"


"Berati cuma lurus saja sampai mentok pos ronda ya bu"


"Betul" jawabnya lagi


"Kalau begitu, terimakasih bu ibu, saya permisi"


Mereka menjawab dengan anggukan kepala


"Ayo pak kita langsung kesana"


"Ayo" jawab pak Ilham


Setelah berjalan beberapa menit, ahirnya mereka sampai di depan rumah bercat biru, sesuai dengan petunjuk para ibu, dan alamat yang tertera pada kertas


Anjar mengetuk pintu, beberapa saat kemudian pintu terbuka, muncul sosok wanita paruh baya berdiri di ambang pintu.


"Assalamualaikum" ucap bapak dan Anjar bersamaan


"Walaikumsalam" jawabnya


Bersambung

__ADS_1


Maaf ya ada part yang aku hapus... belum apa2 sudah inscure 😌 dilema antar stop atau lanjut


__ADS_2