
POV DIANA
Tiga bulan sudah pernikahanku, sering sekali teman-teman sesama dokter menanyakan tentang kehamilanku, sudah isi, sudah telat dan lain sebagainya.
"Bagaimana aku mau hamil, di sentuh saja belum, padahal aku sudah berusaha layaknya wanita penggoda, tapi mas Anjar sama sekali tidak meliriku. Ingin rasanya aku menyerah, tapi aku tidak tega dengan si kembar, Akan sampai kapan seperti ini?" selorohku
Dering ponsel mengagetkanku
"Papi Anjar is calling...
" Iya mas"
"Kenapa pesanku tidak di baca?", aku sudah di depan dari tadi"
"Iya mas, aku keluar sekarang"
Aku berjalan meninggalkan ruanganku, saat sudah di luar, benar saja mobil mas Anjar sudah terparkir. Ku dudukan bobotku di samping mas Anjar, yang sedang hanyut mendengarkan lagu kesayangannya, seringnya mendengarkan lagu itu, aku pun jadi menyukainya, sering ku putar juga saat di Rumah Sakit.
"Mas nanti mampir ke supermarket ya, susu anak-anak sudah habis" Ucapku seraya memasang seatbelt
Selalu tidak di jawab saat aku sedang bicara dengannya
"Kalau memang tidak mencintaiku, kenapa tidak melepasku"
"Tapi jika dia melepasku, apa aku sanggup berpisah dengan Azam dan Emyr?"
"Aku sudah terlanjur menyayanginya"
"Dinding pembatas yang dia ciptakan semakin tinggi, apa aku mampu meruntuhkannya"
"Mas Anjar, tidakah kau mengerti perasaanku?"
Mobil telah sampai di supermarket
"Mas tidak perlu turun, aku cuma beli susu saja"
"Alih-alih menjawab mas Anjar malah memberiku uang, mungkin untuk membayar susunya"
"Tidak usah mas, aku ada kok"
"What, Dia memasukan kembali uangnya ke dompet, tapi dia melepas seatbelt nya"
"Aku temani kamu, sekalian belanja bulanan"
"Tapi aku tidak tahu apa yang sudah habis di rumah"
"Tidak masalah, ambilah yang bisa di simpan lebih lama, di lihat juga tanggal kadaluarsanya" ucap mas Anjar
Mas Anjar meraih troly lalu berjalan mengikutiku
"Abang"
"Hay Anggun"
__ADS_1
"Seorang wanita memanggilnya abang, aku kira bukan suamiku yang di panggil, tapi ternyata mas Anjar menyahutnya" batinku
"Apa kabar bang, lama banget tidak bertemu"
"Baik nggun, kamu gimana?"
"Baik juga"
"Bagaimana kabar si kembar bang"
"Mereka baik"
"Nomor abang ganti ya, perasaan kalau aku pasang story, abang tidak pernah melihatnya"
"Tidak sempat nggun"
"Apa-apaan mas Anjar, bahkan dia tidak memberitahu kalau dia sedang menemaniku belanja"
Ku ambil trolynya dari tangan mas Anjar, ku bawa pergi meninggalkan dua orang yang sedang asik ngobrol
Samar ku dengar dia berpamitan lalu berjalan menyusulku
"Nggun maaf ya, aku tinggal"
Mas Anjar merebut kembali trolynya
"Bersikap sopan sedikit pada orang asing" ucapnya
Ku hentikan langkahku, ingin sekali mencakar wajahnya, Tidak sopan siapa di bandingkan dia yang asik bicara dengan wanita lain di depan istrinya.
Troly sudah terisi penuh dengan belanjaan, mas Anjar mendorongnya ke kasir, saat sedang mengantri ku lihat dia membuka pesan pada ponselnya
Entah lah dia sedang berbalas pesan dengan siapa, seakan ingin ku rebut ponselnya lalu ku banting saja hingga hancur
Sesampainya di rumah, ku biarkan mas Anjar membawa semua belanjaannya sendiri, saat melewati ruang keluarga, binar mata si kembar meluluhkan kekesalanku, aku memang sedang kesal pada papinya, tapi aku tidak pernah kesal pada mereka, bahkan aku semakin menyayanginya. Saat mereka menghampiriku, lagi lagi membuatku terenyuh, mereka tidak menyentuhku
"Mami mandi dulu, mami banyak kuman, tidak boleh peluk dulu" ucap Azam dengan cedalnya
"Anak mami makin pintar"
Ku lihat mas Anjar kesulitan membawa barang belanjaan, dengan tergopoh-gopoh bi Sum berlari menghampiri mas Anjar membantu membawa beberapa kantong kresek
"Mami ke atas dulu ya"
🌺
🌺
Malam ini aku tidur di kamar si kembar, saat mas Anjar masuk, aku pura-pura tertidur
Mas Anjar mencium kedua buah hatinya, lalu membisikan kata
"Mami Puspa menyayangimu, tidur yang nyenyak sayang" bisik mas Anjar kemudian menarik selimut menyelimuti kita bertiga,
__ADS_1
Mas Anjar tidak membangunkanku, dan menyuruhku kembali ke kamar, biarkan saja, lagi pula aku sedang marah padanya, seharusnya dia meminta maaf padaku.
Hingga pukul 11 malam aku baru bisa memejamkan mataku
Hari ini aku dapat jadwal malam, aku bisa bermain seharian dengan kedua jagoanku
Aku, bunda dan ayah, sedang menunggu mas Anjar yang tengah bersiap ke kantor
"Kamu tidak ke Rumah Sakit Di?" tanya bunda
"Jadwalku malam nanti bun, bareng mba Siska"
"Oh"
"Selamat pagi bun, ayah" sapa mas Anjar, dia sudah rapi dengan pakaian yang sudah ku siapkan tadi
Gegas ku ambil piringnya, melayaninya seperti hari-hari sebelumnya
"Non Diana,ponselnya bunyi di kamar dari tadi"
"Bun, yah, aku angkat telfon dulu, takutknya penting"
Di saat aku sedang ingin menghindar dari papinya anak-anak, ponsel ku bunyi di saat yang tepat
Ku tinggalkan mas Anjar setelah aku menyidukan nasi untuknya, aku sengaja berlama-lama di kamar, setidaknya sampai mas Anjar berangkat kerja. Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncul sosok mas Anjar, dia menuju meja kerja meraih sebuah map, lalu hendak menghampiriku, namun segera ku langkahkan kakiku memasuki kamar mandi. Walaupun tidak ada yang ku lakukan di dalam sini
"Kenapa aku jadi canggung seperti ini"
sekarang aku tahu, bahwa dia sama sekali tidak tertarik padaku, dinding pembatasnya semakin tinggi dan kokoh, dari pada aku berusaha meruntuhkannya, lebih baik aku mempersiapkan diriku, jika suatu saat mas Anjar menceraikanku. Aku harus siap berpisah dari dua bocah yang menggemaskan
"Sayang, mami pergi sebentar ya, kalian bobo siangnya sama mba Atin"
Siang ini aku akan mengunjungi panti, aku merindukan bu Milah, aku ingin menceritakan masalahku
Ku lajukan mobilku pemberian dari mas Anjar, setelah aku mahir menyupir, mas Anjar langsung membelikanku, meskipun aku sudah bisa mengendarai, tetap saja aku harus di antar jemput oleh mas Anjar. karena jam kerja kita sama, berangkat pukul 7, pulang pukul 4. Selain itu, kita juga searah.
Walaupun melewati kantor mas Anjar terlebih dulu, dia selalu mengantarku sampai Rumah sakit, kecuali jika mas Anjar ada pekerjaan di luar kota, aku baru mengendarai sendiri.
Saat sudah di depan panti, ku urungkan niatku. Rasanya tidak etis menceritakan masalah rumah tanggaku.
"Assalamu'alaikum bu?"
"Walaikumsalam, Diana kenapa tidak bilang kalau mau kesini
"Maaf bu, aku cuma mampir sebentar, kebetulan lagi shift malam"
"Sudah makan?"
"Sudah bu"
"Gimana kabar anak-anak?"
"Mereka sehat"
__ADS_1
Setelah bicara cukup lama dengan bu panti aku berpamitan untuk pulang.
BeRSAMBUNG