Wa Story Istriku

Wa Story Istriku
Episide 1


__ADS_3

Anjar Dhaniswara pria berusia 28 tahun adalah seorang direktur di sebuah Perusahaan Bom & Food yang tak lain adalah perusahaan milik Neneknya, yang di kelola secara turun temurun.


Sosok yang tegas dan berwibawa. Banyak wanita yang jatuh hati dengan pria yang memiliki tubuh sangat ideal dan tampan itu.


"hhhh dasar istri bedebah, dimana dia menyimpan sapu tanganku"


Setelah hampir 15 menit memporak porandakan isi lemari, ahirnya Anjar menemukan sapu tangan itu, namun dia  baru menyadari bahwa isi lemari itu telah di keluarkan dan berserakan di lantai.


Dia berniat keluar dari kamarnya, ketika akan menutup pintu, sekali lagi dia menatap ke dalam kamar


"Biarkan saja" sambil menutup pintu kemudian berjalan hendak menuju lantai bawah.


"Aku seorang pria, membereskan adalah tugas wanita, salah sendiri menyembunyikan sapu tanganku" gerutunya seraya berjalan menuruni anak tangga satu persatu


Padahal Puspa hanya menyimpannya, itupun sangat mudah di temukan apabila di cari dengan baik dan benar


Tidak di pungkiri, Anjar memang tidak mencintai Puspa, tepatnya belum. Itu karena dia adalah wanita pilihan Ibu tercinta. demi membahagiakan sang Ibu, Anjar rela mengorbankan cintanya dengan seorang gadis bernama Stella, yang telah menjadi kekasihnya selama 2 tahun.


Ibunya yang bernama Rita telah jatuh hati pada pandangan pertama dengan anak dari teman lamanya yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan, dan berniat menjodohkan dengan anak laki-lakinya. Gadis bernama Puspa Anindita. Bu Rita menilai dia adalah sosok gadis yang sholehah, ramah, sederhana, dan bertanggung jawab.


"Selamat pagi mas?"


Anjar pun tidak menjawab sapaan dari istrinya. Itu sudah menjadi kebiasaanya selama tiga bulan menikah. Dia akan berbicara seperlunya dengan istrinya.


Begitupun dengan Puspa, dia tidak begitu pusing dengan sikap suaminya, itu sudah hal biasa baginya


"ya udah sarapan dulu" seraya menyodorkan sepiring nasi ke hadapan suaminya.


"hmm" Anjar hanya berdehem sebagai jawaban.


Tidak ada obrolan sepatah kata pun di meja makan, mereka sama-sama fokus dengan sarapan mereka masing-masing.


Selesai sarapan, Anjar berdiri dan berpamitan untuk berangkat ke kantor, di ikuti oleh Puspa seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman mencium punggung tangan suami.


"Aku nanti pulang telat, seperti biasa karena ini hari senin, selain itu, ini ahir bulan banyak perekapan bulanan yang harus aku selesaikan"


tanpa menunggu jawaban dari Puspa, Anjar melangkah meninggalkan meja makan. baru dua langkah Anjar melangkahkan kakinya, Puspa  memanggilnya, spontan Anjar berhenti dan menoleh ke belakang menatap wajah sang istri dengan tatapan yang sangat datar, yang sangat menakutkan bagi Puspa


"Ada apa?"


"Emmm, nanti aku akan terlambat pulang"


"Kenapa" Anjar menatap heran


"Aku harus menemani anak didiku mengikuti olimpiade, itu tugas dari Pak Kepala Sekolah, aku tidak bisa menolaknya"


"Jam berapa sampai rumah" Anjar bertanya dengan nada sinis

__ADS_1


"Aku usahakan jam delapan sudah sampai di rumah"


"Baiklah aku ijinkan" seraya melangkahkan kakinya keluar


Puspa adalah seorang guru di Sekolah Menengah Atas, sebagai guru Matematika. tahun ini usianya 24 tahun. Bagi para siswa dia termasuk guru yang sangat cerdas dengan penampilan yang simple, dan bersahabat, mudah sekali akrab dengan anak didiknya.


Selepas kepergian suaminya, Puspa pun segera naik ke lantai atas, menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke sekolah tempat dia mengajar. Tapi sebelum dia masuk kamar pribadinya, dia menatap pintu kamar yang ada di depan kamarnya, dan berniat melihat kamar suaminya


Ketika pintu terbuka, dia di kejutkan dengan pakaian sang suami yang terlihat begitu berantakan dan tergeletak di lantai.


"hhhhh seperti biasa, dia yang mengacak-acak aku yang harus merapikannya kembali" gumamnya.


Dia melihat ke arah nakas dimana ada sebuah jam yang bertengger di sana


"07:01, aku masih punya waktu sepuluh menit untuk membereskannya.


@@@@@


Sore harinya, selesai melakukan aktifitas di kamar mandi, Anjar duduk di sofa yang ada di kamarnya, sambil menunggu adzan maghrib dengan memangku laptopnya, pertanda ada sesuatu yang harus di kerjakan.


Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Sudah jam delapan lebih tapi kenapa dia belum pulang"


Ada perasaan khawatir, tentu saja karena dia adalah menantu kebanggaan ibunya, jika terjadi sesuatu pada istrinya, maka Anjarlah yang akan di salahkan. Dia menuju ke balkon berniat menelphon sang istri, namun tiba-tiba ada sebuah mobil di depan pintu gerbangnya, membuat Anjar mengurungkan niatnya. Terlihat sosok istrinya keluar dari mobil itu


Ketika Puspa sampai di lantai atas dia melihat sosok suaminya sedang berdiri di depan kamar dengan tatapan sinis yang mengintimidasi lalu melontarkan pertanyaan.


"Kenapa terlambat?"


"emm maaf mas tadi motorku mogok, tidak bisa di nyalakan, jadi Pak Gilang mengantarku, tadi juga ada anggun di dalam mobil"


Puspa menjelaskan secara detail.


"Sekarang motornya ada di mana?"


"Di bengkel"


"Sa-saya permisi dulu mas mau bersih-bersih" ucap Puspa kemudian langsung masuk kedalam kamarnya.


Walaupun mereka telah resmi menikah, tapi mereka tidur di kamar terpisah, ini adalah keinginan suaminya. mereka akan berada dalam satu kamar hanya saat ibu dan mertuanya menginap, itupun salah satu dari mereka akan tidur di sofa yang ada di kamar


Puspa berdiri di depan cermin, merasa sudah lebih segar, dia pun berniat menuju dapur untuk membereskan meja makan. Dia beranggap suaminya sudah makan, dan pasti mejanya sangat berantakan. Ketika sampai di dapur pandanganya tertuju pada meja makan yang masih sama, ketika ia meninggalkan rumah selepas memasak tadi siang. Kemudian lekas membuka penutup makananya. Karena saat jam makan siang, Puspa sempat pulang kerumah untuk memasak.


"Loh kenapa makanannya masih utuh, apakah dia belum makan, atau dia makan di luar?"


"Lebih baik aku tanyakan saja" gumamnya

__ADS_1


Tiba di depan pintu kamar sang suami


Tok.. tok.. tok..


hening tak ada suara,


"apa dia sudah tidur" batinya


Sekali lagi pintu di ketuk tetap tak ada jawaban, lalu perlahan dia membuka pintunya, terlihat sosok suaminya yang sedang berdiri tegak sedang melaksanakan Sholat, diapun menutup kembali pintunya, dan menunggu di depan kamarnya.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Puspa terlonjat kaget


"Ada apa?" Pertanyaan dari sang suami


"Anu mas, mmm apa mas sudah makan malam? aku lihat makananya masih utuh"


"Belum" jawabnya singkat


"Apa mas mau makan?"


"Tentu saja, kamu pikir aku akan tidur dengan perut kosong?"


"Ba-baiklah a-aku akan memanaskanya, permisi"


"Cih dia begitu kaku pantas saja tidak ada lelaki yang menyukainya" gerutu Deni


Belum selesai memanaskan makanan, Puspa melihat dengan ekor matanya, suaminya menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya di kursi meja makan, seakan tidak sabar menunggu makanan siap.


"Mas makan dulu, aku mau ke atas sholat isya, setelah sholat nanti aku turun untuk membereskan meja makan"


Puspa hendak meninggalkan dapur namun langkahnya terhenti  seketika


"Kamu tidak makan?" pertanyaan itu bahkan terdengar sangat dingin di telinga Puspa


"Sudah mas"


"Apa dengan pak guru itu?"


Puspa memberhentikan langkahnya sesaat, kemudian melanjutkan kembali, berjalan menuju kamar.


Di dalam kamarnya, Anjar telah selesai mengerjakan pekerjaan kantor yang ia bawa pulang. Dia merebahkan tubunya di atas kasurnya sambil berselancar di dunia maya, menggunakan ponsel pintarnya.


Matanya membulat ketika ia membaca wa story sang istri


"Tinggal di Indonesia, tapi berasa tinggal di Kanada" Begitu dingin"


"Apa maksud dari storynya, apa dia sedang menyindirku, haahh bukan urusanku" dia meletakan ponselnya di atas nakas kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya, hingga kesadaranya tak bisa di kuasai lagi

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2