
Anjar dan Cantika telah mengantar bu Retno ke stasiun, Puspa memang tidak ikut, karena ada jam mengajar di sekolah. Sebelum Anjar kembali ke kantor, dia terlebih dahulu mengantar Cantika pulang.
Tidak ada obrolan di dalam mobil. Sesampainya di rumah, Anjar menurunkan Cantika di depan gerbang, saat mobil Anjar sudah melaju meninggalkanya, Cantika bergegas pergi ke sebuah apotek untuk membeli sesuatu.
Malam hari, Puspa menyiapkan makanan sendiri, padahal ada Cantika yang mungkin bisa membantu, tapi tidak di lakukan oleh Cantika
Anjar yang sedang menemani Istrinya memasak, sesekali membantu mencuci sayuran.
"Cantika kemana dhe?"
"Ada di kamar, bisa tolong panggilkan mas"
"Tidak bisa" kamu saja yang panggil" jawab Anjar
"Ya sudah, tolong taruh lauk sama sayur di meja, aku panggil Cantika dulu" ucap Puspa seraya meninggalkan Anjar
Cah kangkung, ayam panggang, dan oseng udang, sudah siap di santap untuk makan malam, semua adalah masakan buatan Puspa
Puspa, Anjar dan Cantika kini sedang menikmati makan malam
Seperti biasa, Puspa melayani sang suami saat makan, membuat Cantika berdecak kesal menyaksikan betapa romantisnya pasangan suami istri itu.
"Mas mau nambah lagi?" ucap Puspa
"Tidak sayang, mas sudah selesai, mas akan ke ruang kerja dulu" Anjar meraih gelas dan meneguk isinya, lalu berdiri meninggalkan meja makan
"Mba Puspa istirahat saja, ini biar aku yang selesaikan"
Puspa mengerutkan dahinya, menatap Cantika heran
"Kamu mau cuci piring-piring ini?"
"Iya mba"
"Tidak usah Cantika, mba bisa kok?"
"Tidak mba, biar aku saja, mba Puspa sudah memasak tadi, jadi biarkan aku yang membereskan ini"
"Oo, ya sudah kalau begitu mba ke kamar dulu"
"Iya mba" jawab Cantika
Padahal saat ini Cantika hanya sedang berpura-pura baik padanya
...@@@@...
Puspa menuruni anak tangga hendak menemui Cantika di kamarnya
"Ada apa mba?" ucap Cantika saat membuka pintu kamar
__ADS_1
"Boleh mba Masuk?"
"Silakan"
"Cantika bagaimana pendidikanmu?" Tanya Puspa seraya mendudukan tubuhnya di sofa
"Baik mba"
"Ini ada ATM dari bapak, kamu pakai untuk keperluanmu, nanti setiap bulan aku dan bapak akan mengisinya"
"Makasih mba" Cantika menerima sebuah kartu ATM beserta buku tabungan atas namanya.
"Kapan kamu mulai masuk sekolah?"
"Hari Senin mba, minggu aku berangkat dari sini"
"Besok mba akan antar kamu. Sekarang istirahatlah, mba permisi, selamat malam
Puspa memasuki kamarnya yang hanya bercahayakan lampu duduk yang berada di meja samping tempat tidurnya, tampak suaminya sudah terlelap di atas ranjang, Puspa mencium kening Anjar, membuat Anjar terbangun
"Dari mana dhe"
"Dari kamar Cantika, Mas sudah sholat isya?"
"Sudah"
"Ya sudah mas tidur lagi, aku mau sholat dulu"
Hari ini Anjar dan Puspa begitu lelah, sehingga tidak ada obrolan menjelang tidur.
Keesokan harinya, Anjar dan Puspa di sibukan dengan pekerjaan mereka masing-masing
Anjar melihat jam di pergelangan tangannya, jam menunjukan waktu pulang kantor, hari ini dia tidak menjemput Puspa di sekolah, karena sebelumnya, Puspa memberitahukan, akan pulang di antar oleh Anggun.
Anjar melajukan mobilnya dengan kecepetan sedang.
Saat sampai di rumah, Anjar mengayunkan kakinya menuju kamar, tidak lama setelah itu, suara ketukan pintu menampilkan Cantika membawa segelas jus Jeruk yang sudah di campur dengan obat perangsang. Kali ini Cantika akan menjebak Anjar.
Beberapa menit setelah meminum jus buatan Cantika, Anjar merasa pusing
"Ada apa denganku, aku merasa aneh, setelah meminum jus itu" gumam Anjar
Entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik di beberapa bagian tubuh Anjar, hal yang tidak biasa, yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Kenapa rasanya aku menginginkan sesuatu yang tidak aku mengerti?" Anjar membatin
Keringat menetes deras di keningnya, dengan napas nyaris memburu.
"Kenapa tubuhku memanas, bahkan sesuatu dalam tubuhku memberontak menginginkan sebuah sentuhan" ada apa sebenarnya denganku"
__ADS_1
Bersamaan dengan itu Cantika datang hendak melancarkan aksinya, Anjar melirik dengan ekor matanya.
"Kenapa dia begitu menggoda, tidak, jangan" Batin Anjar
"Mas Anjar kenapa?" tanya Cantika seraya menyentuh bahu Anjar
Setengah sadar Anjar menatap Cantika yang baginya sangat mempesona, dan menggairahkan. Anjar menangkup wajah Cantika, ingin sekali rasanya mel*umat bibirnya, menyentuhnya, namun bayangan Puspa seolah berkeliaran di setiap sudut ruangan
Cantika tersenyum menang
"Aku pasti berhasil menjebaknya" Batin Cantika
"Mas Anjar" Suara Cantika begitu seksi dan menggoda bagi Anjar, Anjar sudah tidak tahan lagi, satu kancing baju milik Cantika berhasil di buka. Lagi-lagi Cantika tersenyum
Saat hendak membuka kancing ke dua, bayangan Puspa seolah sedang mengintip aksinya
"A'udzubillahiminasyaitonnirrajiim" gumam Anjar, Berkali-kali Anjar mengucapkan lafaz itu, namun, tetap saja tubuhnya tidak bisa melawannya
Cantika membawa Anjar ke kasur, lalu membaringkannya. Cantika hendak mencium bibir Anjar
"Cantika?" Suara Puspa menggema di seluruh ruangan. Puspa melangkah menghampiri Anjar yang sedang tidur terlentang, bersamaan dengan itu, Cantika segera berdiri di samping tempat tidur, meremas kedua tangannya yang saling menyatu
"Ada apa dengan mas Anjar tika?"
"A-nu, sa-saya, tadi, ta-tadi mas Anjar ham-pir pinsan, sa-ya cuma mau bantu mba" ucap Cantika dengan terbata dan panik
"Tika, tolong ambilkan air minum ke dapur" Puspa segera mengambil alih posisi duduk di samping Anjar yang sedang berbaring, lalu mengusap keringat di kening Anjar menggunakan tangan kanannya
"Iya mba" Cantika bergegas ke luar kamar, namun sejenak Cantika menghentikan langkahnya, dan menoleh ke belakang
"Kenapa kamu harus pulang sekarang mba" gerutu Cantika, lalu melanjutkan langkahnya berlari menuju dapur.
Saat sudah berada di depan kamar, dengan membawa segelas air putih di tangan kanan Cantika, dia berhenti melihat adegan panas pasangan suami istri itu, Anjar tengah me*umat bibir Puspa. Mata Cantika memanas melihat mereka saling b*rpag*tan
Cantika memberanikan diri mengetuk pintu
"Mba ini airnya" Ucap Cantika masih berada di ambang pintu
Puspa menoleh panggilannya, bergegas Puspa menghampiri Cantika
"Terimakasih Cantika" ucap Puspa seraya meraih gelas berisi air putih, menutup pintu lalu menguncinya
Cantika masih berada di depan kamar Anjar dan Puspa, seolah pandangannya mampu menembus pintu yang terkunci, dan menyaksikan mereka tengah bercinta
Cantika bersimpuh, tubuhnya berasa lemas tak bertulang, ingin sekali dia menjerit, dia berusaha bangun, dengan terseok-seok melangkahkan kaki menuju kamarnya, dan membiarkan Puspa yang menuntaskan hasrat sang suami
"Rencanaku gagal" gerutu Cantika saat sudah berada di kamarnya " bagaimana aku menghadapi mas Anjar dan mba Puspa nanti, Mas Anjar pasti akan menceritakan semua pada mba Puspa"
Sesaat Cantika menyadari kesalahannya, namun, rasa Cinta terhadap Anjar lebih besar, bahkan rasanya dia ingin membuat Puspa tiada.
__ADS_1
"Semoga saja dia tidak selamat melahirkan bayi kembarnya" Kalimat itu melucur dari bibir Cantika
Bersambung