Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 10. Mendadak melamar


__ADS_3

Jantung Aris mulai berdetak kencang saat mobilnya sudah sampai di depan rumah orangtua Meli. Dirinya agak grogi karena akan bertemu kedua orangtua gadis yang akan ia nikahi itu.


Semua orang desa yang melihat mobil mewah milik Aris yang terparkir di depan rumah Meli pun, langsung mengerubunginya.


Kampung Meli sangatlah pelosok. Jadi, jarang sekali ada mobil mewah melintasi kampung mereka.


Terlihat bapak dan ibu Meli ikut mencari tau siapa gerangan yang memarkirkan mobil di pekarangan rumah mereka.


Dengan ragu, Meli pun turun dari mobil dan di susul oleh Aris yang juga ikut turun dari mobilnya.


"Meli....!"


Seru Ibu dan Bapak Meli.


Meli langsung berlari kepelukkan kedua orangtuanya.


"Bu, Pak," Ucap Meli sambil mencium tangan kedua orangtuanya.


"Ya Allah Neng, Ibu kangennnn. Sudah setengah tahun kamu pergi, baru sekarang kamu pulang Neng."


Ibunya menangis di pelukan Meli.


Bak sebuah drama, semua orang Kampung keluar dan menonton adegan Ibu dan anak yang sedang melepas rasa rindu tersebut.


"I-ini siapa Neng?" Tanya Bapaknya Meli sambil menunjuk ke arah Aris.


Bapaknya Meli menyapukan pandangannya kepada Aris, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


Dengan sopan Aris langsung menyalami Bapak dan Ibunya Meli.


"Saya Aris Pak.. Bu.. Saya kekasihnya Meli."


Mendengar ucapan Aris, tentu saja Meli, Orangtuanya dan semua orang yang menonton langsung terperangah.


"Hahhhhh...!"


Bagaikan kelompok penyanyi koor yang di berikan Aba-aba. mereka semua mengucapkan kata "Hah" secara bersamaan.


Aris merasa heran, lalu ia melihat semua orang disekelilingnya.


Merasa jadi tontonan banyak orang, Ibunya Meli langsung mengajak Meli dan Aris untuk masuk kedalam gubuk mereka dan mempersilahkan Aris untuk duduk di tikar yang terbentang diruang tamu.


"Kalian ini tidak bercanda kan?" Tanya Bapaknya Meli dengan serius.


"Tidak pak," Jawab Aris.


"Saya kesini ingin melamar anak Bapak untuk menjadi istri saya. Kebetulan saya sudah yatim piatu, jadi saya datang kesini sendirian tanpa keluarga" Ucap Aris tanpa keraguan.


Meli pun menatap Aris dengan tak percaya.


"Benar itu Neng?" Tanya Ibunya Meli dengan penasaran.


"I-iya Bu," Jawab Meli sambil melirik Aris yang terlihat santai, tanpa beban sedikitpun.


"Kerjaan mu bener kan Neng di Ibukota? Kamu pulang-pulang menbawa laki-laki Neng." Bisik Ibunya Meli.


"Neng kerja bener kok Bu, Neng berani sumpah." Ucap Meli bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terus ketemu lelaki ini dimana? Kelihatannya dia orang kaya raya Neng." Bisik Ibunya lagi.


"Panjang ceritanya Bu," Ucap Meli. Lalu ia menundukkan wajahnya.


"Neng gak sedang hamil kan Neng?" Tanya Ibunya dengan wajah yang menyelidik sambil melirik Aris yang duduk di depannya.


"Saya pastikan tidak Bu, anak Ibu dan Bapak bukanlah wanita sembarangan. Meli adalah wanita terhormat. Maka dari itu, saya sangat menginginkan Meli menjadi istri sah saya." Ujar Aris dengan tegas.


Ibu dan Bapak Meli langsung membuang napas lega.


"Saya niat baik datang kesini, saya juga berjanji tidak akan menyakiti anak Bapak dan Ibu. Walaupun Bapak dan Ibu baru mengenal saya, tetapi saya rasa Meli cukup mengenal saya. Bahwa saya tidak akan pernah mempermainkan dirinya."


Meli menatap Aris dengan tatapan haru. Baru kali ini ada pria dengan jantan menemui orang tuanya dan meminangnya dengan bahasa yang membuat Meli melayang ke langit ketujuh.


"Benar itu Neng?" Tanya Bapaknya Meli dengan wajah yang serius.


"I-iya pak.." Jawab Meli dengan gugup.


"Hmmmm kalau begitu, statusmu apa nak?"


"Saya duda Pak." Jawab Aris dengan tenang.


"Duda? Cerai karena apa?" Umurmu berapa?" Tanya Bapaknya Meli dengan penasaran.


"Tiga puluh tujuh tahun Pak, istri saya meninggal dunia karena sakit."


Bapak dan Ibunya Meli saling bertatapan.


"Oh begitu, tetapi bukankah kamu terlalu tua untuk Meli?" Tanya Bapaknya Meli sambil menatap Aris.


Tentu saja pertanyaan dari Bapaknya Meli, membuat Aris menjadi tidak percaya diri.


Meli berinisiatif untuk menjawab, karena melihat Aris yang mulai tampak grogi.


"Tapi, umurnya tidak beda jauh Neng dari Bapak."


"Tapi kan gayanya masih muda Pak, Bapak saja tadi memanggil dia dengan sebutan Nak, pasti Bapak tidak menyangka kalau umurnya sudah tiga puluh tujuh tahun. Kalau orang Kota usia segitu masih muda Pak."


Meli menatap Aris yang mencoba menahan senyumannya.


"Kamu yakin Neng? untuk menikah dengannya?"


Mendengar pertanyaan Bapaknya, Meli mendadak terdiam.


"Dan kamu yakin untuk menikahi putri saya?" Tanya Bapaknya Meli kepada Aris.


Aris menatap Meli dengan bersungguh-sungguh, lalu mengangguk kepada Meli.


"Loh.. kenapa malah saling berpandangan?" kalian yakin apa tidak?" Tanya Bapaknya Meli lagi.


"YAKINNN..!" Jawab Meli dan Aris serentak.


*


Malam itu Aris meringkuk di atas tikar. Sebuah selimut lusuh dan bantal yang sudah tidak berbentuk menemaninya tidur diruang tamu. Sedangkan di sebelahnya, Bapak dan Adik laki-laki bungsu Meli sudah tertidur dengan nyenyak. Sedangkan Meli tidur di dalam kamar satu-satunya dirumah itu, bersama Ibu dan dua adik perempuannya.


Aris menatap langit-langit rumah yang bocor. Bahkan, Aris pun dapat memandang bintang dari sela-sela atap rumah yang bocor itu.

__ADS_1


"Bagaimana mereka bisa hidup seperti ini. Pantas saja Meli tidak dapat melanjutkan sekolahnya dan lebih memilih bekerja di Ibukota" Gumamnya.


Lalu, ia mencoba memejamkan matanya di iringi suara binatang malam yang bernyanyi bersama kesunyian khas Kampung halaman.


..


Pagi-pagi sekali, setelah sholat Subuh Aris dan Bapaknya Meli duduk di beranda rumah. Segelas kopi panas dan ubi rebus jadi hidangan istimewa untuk tamu mereka.


Aris memandang wajah Meli yang membawa hidangan tersebut untuk Aris dan Bapaknya. Sedangkan Meli tidak berani melirik Aris sedikitpun.


"Jadi, kapan kalian mau menikah?"


Pertanyaan Bapaknya Meli, membuat Aris salah tingkah.


"Loh kok tidak dijawab?" Tanya Bapaknya Meli lagi.


"Kalau bisa secepatnya Pak, soalnya saya ada pekerjaan yang harus saya urus di Kota." Ucap Aris.


"Ya sudah, lusa saja. Hari ini, biar Bapak urus."


Jantung Aris mulai berdebar kencang.


"Terserah Bapak saja."


"Loh, kok kamu gak yakin gitu. Kamu masih ingin menikah dengan anak saya kan?"


Aris menatap Bapaknya Meli yang melotot kepadanya.


"Aaa...aaanu..., saya yakin Pak..! Iya lusa saja" Ucapnya terbata-bata.


"Nah gitu dong."


Wajah Bapaknya Meli terlihat kembali bersahabat.


"Diminum kopinya, nanti dingin."


"I-iya Pak."


Aris meraih gelas kopinya dan menyeruput kopi panas itu dengan perlahan.


"Maaf Pak sebelumnya, Bapak jangan tersinggung."


"Kenapa?"


"Saya berniat ingin memperbaiki rumah Bapak, bagaimana menurut Bapak?"


Bapaknya Meli menatap calon menantunya itu.


"Bapak tidak mau berhutang kepadamu." Ucap Bapaknya Meli dengan tegas.


"Pak, saya akan menjadi suami Meli. Berarti Bapak adalah orangtua saya juga dan itu berarti rumah ini adalah rumah orangtua saya juga. Jadi, apa salahnya saya memperbaiki rumah orangtua saya sendiri?"


Bapaknya Meli kembali menatap Aris, kali air mukanya berubah menjadi haru.


"Kau tidak hanya mencintai anakku rupanya."


Aris pun tersenyum dengan tulus.

__ADS_1


............


__ADS_2