Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 20. Hati Jaja tuh sakit...!


__ADS_3

Di kantor, Aris sering kali tersenyum-senyum sendiri saat mengingat Meli. Ia sangat bersyukur sudah dipertemukan dengan Meli dan lebih bersyukur lagi, bahwa Meli adalah pilihan Retno, almarhumah istrinya.


Aris pun teringat kejadian kemarin saat dirinya menjamah tubuh Meli. Jantungnya pun berdegup kencang. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hubungan suami istri. Bahkan waktu Retno masih ada.


Karena kondisi Retno yang lemah, Aris memilih untuk selalu menahan hasratnya. Dengan harapan Retno segera dapat pendonor sumsum tulang belakang dan segera sembuh. Tetapi apa daya, Retno pun, harus pergi untuk selamanya.


Hasrat lelaki Aris semakin bergelora saat mengingat tubuh indah Meli. Dirinya menjadi tidak nyaman berada di kantor. Dan ingin segera menjemput Meli dan mengajak gadis itu untuk bermalam bersamanya.


Aris memutuskan untuk pulang lebih cepat, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kampus Meli, Istrinya.


Saat dirinya sampai di kampus Meli, ia melihat gadis itu sudah menunggu dirinya di depan kampus. Aris pun melihat kesekeliling, apakah makhluk bernama Frans masih berusaha mendekati Meli atau tidak. Ternyata, Frans tidak lagi mendekati Meli. Aris pun, dapat bernafas lega.


Meli melihat mobil Aris berhenti di depannya. Meli tersenyum, lalu dengan segera ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil suaminya itu.


Melihat Meli duduk disebelahnya, Aris menjadi salah tingkah. Sedangkan Meli, gadis itu terlihat biasa saja.


"Kenapa Mas?" Tanya Meli penasaran saat melihat tingkah Aris sedikit aneh di matanya.


"Tidak apa-apa," Jawab Aris sambil melirik Meli yang sedang menatap dirinya.


"Kok aneh gitu?" Tanya Meli lagi.


"Tidak ada apa-apa sayang..."


Kata "sayang" yang di ucapkan Aris barusan, membuat pipi Meli merona merah.


"Sayang, kita makan malam diluar yuk."


"Hmmm, ayuk." Jawab Meli dengan mata yang berbinar.


"Ok, kalau begitu dandan yang cantik nanti ya."


"Iya Tuan," Jawab Meli.


Meli pun tersenyum jahil, saat melihat Aris melotot kepadanya saat ia di panggil "Tuan" oleh Meli.


Detak jantung Aris semakin kencang saat melihat senyum manis istrinya itu.


"Ahhh.... dia benar-benar manis ternyata." Gumam Aris.


.....


Meli keluar dari kamarnya dengan menggunakan gaun berwarna hitam yang di berikan Aris saat dirinya ulang tahun kemarin. Polesan make-up membuat wajahnya semakin cantik. Sedangkan rambutnya di biarkan tergerai dengan bebas. Meli memakai parfume secukupnya, lalu ia keluar dari kamarnya untuk menemui Aris.


"Mas, aku sudah siap," Ucapnya kepada Aris yang sedang duduk di sofa. Aris menoleh kebelakang, ia langsung berdiri dari duduknya, saat melihat penampilan Meli yang sangat cantik.


"Ayo." Ucap Aris, sambil mengulurkan tangannya.


Dengan ragu Meli menyambut tangan Aris. Mereka pun bergandengan tangan dan melangkah menuju mobil.

__ADS_1


Diam-diam Jaja memperhatikan Meli dan Aris yang bergandengan mesra, dari ambang pintu dapur.


"Ternyata Meli sudah jatuh cinta sama Tuan Aris. hik..hik...hik..." Ucap Jaja.


Merasa kecewa, Jaja pun masuk ke kamarnya dan menangis pilu di atas ranjangnya.


Tangisan Jaja yang kencang, membangunkan Bik Parni yang kamarnya persis di sebelah Jaja.


"Eta suara siapa ya? atau jangan-jangan jurig...Hiiiiiiii."


Bik Parni bergidik ngeri. Lalu, ia keluar untuk mengecek suara apakah yang sedang ia dengar. Saat ia melintasi kamar Jaja, ia pun mendengar suara yang ia cari itu berasal dari kamar Jaja. Lalu, dengan penasaran, Bik Parni membuka pintu kamar Jaja.


"Astaga Jaja, ternyata suara kamu..! suaramu mirip jurig gitu.., lagian kamu kenapa nangis sih?" Tanya Bik Parni.


"Sudah deh Bik, Jaja lagi males bertengkar dengan Bibik." Ucap Jaja sambil menangis tersedu-sedu.


"Eh.. Jaja, siapa yang mau ngajak kamu bertengkar..! Bibik cuma bertanya kamu itu lagi kenapa kok nangis?" Tegas Bik Parni.


"Percuma Jaja ceritain, ini urusan anak muda Bibik nggak bakalan ngerti." Ucap Jaja sambil mengelap air matanya dengan pinggiran bajunya.


"Ah susah ngomong sama kamu Ja, Sudah jangan berisik..! Bibik mau tidur..!" Ujar Bik Parni. Lalu, ia menutup pintu kamar Jaja.


Setelah Bik Parni menutup pintu kamar Jaja, Jaja pun mulai kembali menangis tersedu-sedu.


"Berisik...!" Teriak Bik Parni dari kamarnya, sambil memukul-mukul tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Jaja.


"Huh cerewet," Ucap Jaja sambil melemparkan guling ke arah tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bik Parni.


Jaja meratap sambil berteriak-teriak di dalam kamarnya. Saat itu juga Bik Parni membuka pintu kamar Jaja dan melemparkan Jaja dengan sebuah baskom plastik.


Pletakkkkk....!


Baskom plastik pun mendarat cantik di kepala Jaja.


"Duh... Bik... sakit atuh..." Ucap Jaja sambil mengusap-usap kepalanya.


"Biar waras.....!" Bentak Bik Parni. Lalu, ia membanting pintu kamar Jaja.


"Huaaaaaa...! Patah hati ku Meli..! Sudah patah hati, eh dilempar baskom pula sama Bik Parni..! Meliiiiiiiiiii...!!!!" Teriak Jaja.


Bik Parni yang semakin kesal pun kembali membuka pintu kamar Jaja.


"Bisa diam gak..!" Ucap Parni sambil membawa ember plastik besar.


"Iya....iya..!" Ucap Jaja sambil mengangkat kedua tangannya, ketakutan saat melihat Bik Parni membawa ember plastik besar.


Dengan kesal Bik Parni kembali membanting pintu kamar Jaja.


.....

__ADS_1


Aris dan Meli tiba disebuah restoran yang mewah. Meli sempat ragu untuk masuk, karena ia takut sekali membuat Aris malu karena dirinya begitu merasa kampungan.


"Sudah ayo, kalau kamu tidak mau membiasakan, ya kamu akan terus tidak percaya diri."


Aris mencoba meyakinkan Meli.


"Tetapi, nanti jangan ketawa ya, kalau sikap kampungan ku keluar." Ucap Meli, mencoba memastikan Aris tidak akan menertawainya.


"Ya gak lah sayang, aku terima kamu apa adanya." Ucap Aris sambil mengecup kening Meli.


Meli tersipu malu. Lalu, memberanikan diri untuk masuk kedalam restoran itu bersama Aris.


Makan malam berjalan dengan lancar, Aris sudah tidak sabar untuk pulang kerumah. Aris yang sedang menyetir, berkali-kali melirik Meli yang duduk di sebelahnya.


"Kamu cantik sekali malam ini." Ucap Aris sambil membelai lembut pipi Meli. Meli pun tersipu malu lalu menundukkan wajahnya.


"Hmmmmm.. Mel, kita kan sudah suami istri ya.." Ucap Aris.


"Iya Mas, terus kenapa?" Tanya Meli.


"Hmmmmm... aku... aku.."


Aris bingung untuk mengatakan maksud hatinya.


"Aku apa Mas?" Tanya Meli dengan polos.


"Hmmmm.. apa ya.... gimana ya ngomongnya." Ucap Aris sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa sih? Kok aneh?" Tanya Meli penasaran.


"Nggak jadi deh, nanti saja di rumah," Ucap aris.


"Ih... Mas kok jadi aneh begitu sih.. kenapa?" Desak Meli.


"Iya... cuma mau bilang, kita ini kan sudah suami istri. Jadi aku mau...."


"Mau apa?" Potong Meli.


"Aku mau itu..." Jawab Aris, berharap istrinya mengerti.


"Itu apa ya?" Tanya Meli lagi.


Aris pun menatap istrinya saat berhenti di lampu merah.


"Kamu gak ngerti?" Tanya aris saat ia menyadari istrinya yang polos itu benar-benar tidak mengerti dengan maksudnya.


"Enggak.." Jawab Meli dengan polos sambil menggelengkan kepalanya.


"Astaga Meliiiiii...." Ucap Aris sambil menepuk pelan dahinya.

__ADS_1


"Ya sudah nanti di rumah saja..!" Ucap Aris sambil memacu mobilnya dengan cepat, menuju rumah mereka.


__ADS_2