Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 63. Cerita ku


__ADS_3

Meli menatap Arya yang sedang duduk di dalam cafe, dimana Arya sedang menunggunya. Arya menatap Meli yang baru saja datang, lalu ia tersenyum semringah kepada Meli.


"Maaf menunggu lama, jalan begitu macet." Ucap Meli mengawali pembicaraan mereka.


"Tidak apa-apa." Ucap Arya sambil terus menatap Meli.


Meli membalas tatapan Arya, lalu ia menatap senyuman Arya. Tidak bisa dipungkiri lelaki itu memang mirip dengan Aris. Sesaat wajah dan senyuman Aris seperti ada di wajah Arya. Meli pun menundukkan pandangannya, agar dirinya tidak terbawa suasana rindu kepada Aris.


"Mel, terima kasih sudah memberikan aku kesempatan." Ucap Arya.


Meli hanya tersenyum kecil dan menatap Arya sesaat, lalu kembali menundukkan pandangannya.


"Mel, bisakah kamu menceritakan kecelakaan yang menimpa Aris hingga membuatnya meninggal dunia?" Ucap Arya.


Meli menghela nafasnya, lalu ia menatap karya dengan saksama.


"Oke, akan aku ceritakan," Ucap Meli.


Arya pun bersiap-siap untuk mendengarkan cerita Meli, tanpa ingin melewatkan satu cerita pun yang akan diceritakan oleh Meli.


"Tetapi, di dalam cerita ini akan ada nama Alisya dan Frans keponakan Alisya. Apakah tidak apa-apa bila aku menyalahkan mereka di dalam ceritaku ini?" Tanya Meli, sebelum ia menceritakan tentang kecelakaan yang dialami oleh Aris.


"Tidak apa-apa." Tegas Arya.


Meli pun mengangguk, lalu ia mulai menceritakan kejadian enam tahun yang lalu.


"Aku adalah gadis miskin yang mencoba keberuntungan ku di Jakarta, saat itu aku tidak tamat SMA. Aku keluar dari sekolah karena masalah biaya, saat detik-detik terakhir aku menghadapi ujian kelulusan SMA.


Demi membantu keuangan keluarga, akhirnya aku merantau ke Jakarta dibantu oleh agen penyalur pembantu. Sejak saat itu aku mengawali kisah ku di Jakarta menjadi seorang pembantu."


Arya menatap Meli, ia merasa cerita Meli tidak asing lagi baginya. Tetapi, ia tidak berani untuk memotong cerita Meli. Meli sudah bersedia saja untuk menemuinya, ia sudah cukup bersyukur. Maka dari itu, Arya berusaha terus mendengarkan cerita wanita itu.

__ADS_1


"Beruntung aku dipekerjakan oleh dua orang yang sangat baik hati. Mereka adalah Tuan Aris dan Nyonya Retno."


"Nyonya Retno menderita penyakit leukimia stadium akhir, saat itu kondisinya Nyonya Retno begitu parah. Maka aku dipekerjakan sebagai pelayan khusus untuk melayani Nyonya Retno."


"Setelah tiga bulan aku bekerja dengan keluarga itu, akhirnya Nyonya Retno menyerah, Nyonya Retno meninggal dunia di dekapan suaminya yang bernama Aris."


Arya memicingkan matanya, tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan wanita cantik yang sangat berwibawa dari masa lalunya.


"Retno?" Gumamnya.


"Kenapa Mas?" Tanya Meli dengan khawatir.


Meli takut sekali bila Arya tiba-tiba pingsan seperti waktu itu.


"Tidak apa-apa, silahkan di lanjutkan."


Meli pun mengangguk, setelah ia meyakinkan Arya tidak apa-apa, Meli pun melanjutkan ceritanya.


"Singkat cerita, aku dan Tuan Aris terpaksa menuruti surat wasiat itu. Saat itu usia ku baru sembilan belas tahun. Aku baru saja lulus ujian paket C karena aku di sekolahkan Tuan Aris sesuai dengan permintaan Nyonya Retno."


Arya mengangguk-angguk mencoba mencerna cerita Meli.


"Berbulan-bulan lamanya kami menjalani rumah tangga tanpa cinta. Akhirnya aku dikuliahkan oleh suamiku. Di kampus Aku mempunyai seorang senior yang begitu tergila-gila kepadaku. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku sudah menikah, maka seniorku terus mendekati aku. Aris pun cemburu, saat itu kami baru menyadari bahwa kami memang telah saling jatuh cinta. Aris pun memperingati seniorku yang bernama Frans, untuk tidak mendekatiku karena aku adalah istrinya."


"Frans adalah keponakan Alisya, yang juga mantan kekasih Aris waktu di SMA. Seperti kebetulan memang, Alisya yang tidak tahu Aris sudah menikah lagi, kembali mendekati Aris."


Meli meneguk juice alpukat pesanan nya. Lalu, ia kembali bercerita.


"Singkat cerita Frans dan Alisya mengetahui pernikahan kami. Mereka tidak terima dengan kenyataan itu. Masalah pun dimulai, Alisya yang masih mencintai suamiku mencoba menjebak suamiku dan membuat kami nyaris saja akan berpisah."


Tiba-tiba saja gambaran tentang masa lalu Arya pun terlintas. Ia melihat Meli di dalam gerbong kereta api. Ia melihat dirinya sedang membujuk Meli untuk pulang.

__ADS_1


"Lalu, kamu pergi dari rumah, naik kereta api dan Aris membujuk mu untuk pulang?" Tanya Arya.


Meli terkejut dengan ucapan Arya. ia menatap lelaki itu dengan tak percaya.


"Bagaimana Mas tahu?" Tanya Meli dengan mimik wajah yang serius.


"Nanti aku ceritakan, lanjutkan ceritamu." Ucap Arya.


Meli mengernyitkan dahinya, lalu ia melanjutkan ceritanya.


"Ya aku sempat pergi dari rumah karena salah paham kepada Aris. Tetapi, Aris berhasil meyakiniku bahwa dirinya tidak bersalah. Ia hanya dijebak oleh Alisya yang sedang tergila-gila kepadanya. Aku kembali pulang ke rumah setelah Aris membujuk ku di stasiun kereta api."


"Satu minggu kemudian aku ke kampus, aku mendapati ban mobil ku kempis. Saat Aku berusaha untuk meminta bantuan kepada bengkel terdekat, ada sebuah mobil hitam melintas di depanku. Dengan cepat seseorang yang berada di dalam mobil tersebut menarik ku dan membawaku masuk ke dalam mobil mereka."


Meli menghela nafasnya dengan berat. Kejadian enam tahun yang lalu, waktu ia diculik oleh Frans cukup membuat dirinya trauma.


"Aku dibawa pergi ke sebuah Villa di Bandung. Belakangan aku tahu orang yang telah menculik ku adalah Frans keponakan dari Alisya. Saat itu aku tidak menyadari bahwa aku sedang mengandung anak Aris. Dua minggu lamanya aku disekap di Villa Frans. Entah bagaimana caranya, Aris berhasil mengetahui keberadaan ku. Malam kejadian naas tersebut, Aris dalam perjalanan menuju ke villa Frans untuk menjemput ku. Saat itu juga, aku berhasil kabur dari villa Frans atas bantuan seseorang. Aku berlari menyusuri sungai di tengah malam yang dingin. Setelah beberapa waktu akhirnya aku mendapati jalan tembus ke jalan raya. Bodohnya aku saat itu, aku begitu panik. Sehingga aku menyeberangi jalan raya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberang. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir saja menabrak ku, pengemudinya menghindari ku hingga mobilnya masuk ke dalam jurang. Aku begitu terkejut hingga aku terjatuh di atas aspal. Awalnya, aku tidak mengetahui bila mobil yang baru saja jatuh ke dalam jurang adalah mobil suamiku, Aris."


Air mata mulai meleleh di pipi Meli. ia tertunduk lalu mulai menangis tersedu-sedu. Sedangkan arya seperti mulai mengingat semuanya karena cerita Meli.


Masih dengan tersedu-sedu, Meli kembali melanjutkan ceritanya.


"Aku shock, karena diriku seseorang celaka. Aku pun pingsan tepat di tepi jurang. Keesokan harinya aku baru menyadari bahwa yang terjatuh di jurang adalah Aris, saat itu polisi mengabarkan ku bahwa mobil Aris jatuh ke jurang dan terbakar. Aku sempat depresi karena penyebab kecelakaan itu adalah diriku, terlebih saat itu aku sedang mengandung anak Aris." Ucap Meli sambil menyeka air matanya.


"Aku sendiri yang memakamkan jasad Aris yang nyaris tidak bisa di kenali." Ucap Meli lagi dengan suara yang tercekat.


Arya menghela nafas panjang, lalu ia menatap wanita di depannya dengan tatapan yang iba.


"Maka dari itu Aku tidak percaya dan tidak mengerti mengapa Mas Arya mengaku sebagai Aris. Sedangkan Aris sudah meninggal dunia, bagaimana bisa mas Arya adalah Aris? lelucon seperti apa ini?" Ucap Meli sambil menatap Arya dengan tajam.


"Kita tidak usah membahas itu dahulu, yang aku ingin tanyakan kepadamu Apakah kamu ingin mendengarkan ceritaku?" Tanya Arya sambil membalas tatapan Meli dengan tatapan memohon.

__ADS_1


__ADS_2