
Aris melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Lama sekali dia." Gumamnya.
Lalu, ia berdiri dari kursinya dan berniat untuk menyusul Meli ke kamar. Tetapi, baru saja Aris hendak beranjak, ia melihat Meli sedang berjalan menghampiri dirinya.
Meli terlihat cantik dengan gaun yang ia kenakan. Gaun itu berkerah seperti kemeja, berbahan silk, berwarna putih. Lengkap dengan tali pinggang hitam yang bertengger di pinggang ramping Meli.
Meli berjalan pelan dengan sepatu hitam setinggi tiga senti meter. Rambutnya dibiarkannya tergerai indah. Membuat penampilan Meli bak malaikat di pandangan mata Aris.
Aris masih terpana, saat Meli berdiri di depannya.
"Saya sudah siap Tuan." Ucap Meli dengan wajah yang terlihat sedikit risih, karena ia tidak biasa memakai baju yang mahal. Terlebih, baju itu adalah milik almarhumah Retno.
"Oh, i-iya.."
Aris menundukkan pandangannya dan berjalan mendahului Meli. Mereka berdua pun, berjalan menuju mobil yang akan di kendarai oleh Aris ke Kampung halaman Meli.
Kang Jaja memasukan semua tas yang akan di bawa ke bagasi. Aris masuk kedalam mobilnya, sedangkan Meli membuka pintu penumpang dan duduk dengan manis di belakang.
"Eh, memangnya aku supirmu?"
Aris menatap Meli melalui kaca spion tengah mobilnya.
"Te-terus saya duduk dimana tuan?" Tanya Meli dengan ekspresi wajahnya yang lugu.
Aris menarik nafas dalam-dalam saat mendengar pertanyaan dari Meli.
"Di depanlah." Ucapnya.
Meli dan Aris saling bertatapan dari pantulan kaca spion mobil itu. Lalu, dengan ragu, Meli turun dari mobil dan membuka pintu depan sebelah kiri mobil Aris.
Meli menatap Bik Parni dan Kang Jaja, sebelum ia kembali masuk kedalam mobil itu. Mereka berdua tersenyum kepada Meli dan mengisyaratkan Meli untuk duduk di kursi depan. Meli mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Aris.
"Kang, Bik.. jaga rumah." Pesan Aris sebelum menyalakan mobilnya.
"Baik Tuan." Sahut Bik Parni dan Kang Jaja.
Perlahan, mobil yang di kendarai Aris pun, beranjak meninggalkan rumah mewah itu.
Selama satu jam perjalanan, mereka berdua tidak saling berbicara sama sekali. Sedangkan dari Jakarta menuju Kuningan, membutuhkan waktu empat jam perjalanan. Yang berarti, masih ada tiga jam lagi waktu yang harus mereka lewati bersama didalam mobil itu.
Aris mulai merasa bosan, lalu ia memutar musik untuk mengusir rasa kantuknya.
Ia melirik Meli yang duduk di sampingnya. Terlihat gadis itu tertidur dengan mulut yang terbuka.
"Ck..!"
Ia tersenyum sendiri dan menggelengkan kepalanya, saat melihat wajah Meli yang sedang tertidur pulas.
..
Mobil Aris memasuki rest area di jalan tol. Lalu, Aris memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia untuk para pengemudi yang ingin beristirahat.
Aris meraih botol air mineral yang ia bawa dari rumah. Lalu, ia membuka tutup botol itu dan meminum hampir setengah dari isi botol tersebut.
Setelah dahaganya hilang, sekali lagi ia melirik wajah Meli yang masih tertidur pulas.
"Imut juga kalau lagi tidur." Gumamnya sambil menutup botol air miliknya. Setelah itu, Aris memberanikan diri menyentuh pundak Meli.
__ADS_1
"Bangun." Ucapnya.
Meli pun membuka mata indahnya, lalu Ia terlihat bingung dan menyapukan pandangan kesekelilingnya.
"Kita dimana Tuan?" Tanya Meli sambil mengusap kedua matanya.
"Makanya jangan tidur, biar kamu tau ada dimana." Ucap Aris, kesal. Lalu, ia membuka pintu mobilnya.
"Aku mau ke toilet dulu." Sambungnya. Lalu, ia menutup pintu mobilnya.
Meli pun buru-buru membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Tuan ikut..!" Seru Meli.
Aris menoleh kebelakang, lalu mengunci mobilnya dengan remote.
Meli mengikut Aris dari belakang. Aris masuk ke toilet Pria dan Meli ke toilet Wanita yang bersebelahan dengan toilet Pria.
Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Aris menunggu Meli di depan toilet wanita. Tetapi, setelah beberapa menit menunggu, gadis itu tak kunjung keluar dari dalam toilet wanita.
"Mas, lihat gadis yang tadi bareng saya gak?" Tanya Aris kepada penjaga toilet.
"Yang baju putih?" Tanya penjaga itu.
"Iya." Jawab Aris dengan cepat.
"Udah keluar Mas, itu di depan sana."
Penjaga toilet menunjuk seorang gadis yang sedang berdiri di depan rumah makan.
"Oh, iya terimakasih ya." Ucap Aris sambil menyerahkan uang kecil untuk kebersihan toilet.
"Sudah Mas, sudah dibayar istrinya."
"Oh,"
Hanya itu yang mampu Aris ucapkan.
Aris pun, bergegas menghampiri Meli yang sedang berdiri di depan rumah makan.
"Lapar?" Tanya Aris yang menghentikan langkahnya tepat di samping Meli. Meli menoleh kepada Aris dan tersenyum malu-malu.
"Ayo."
Aris mengisyaratkan Meli untuk mengikutinya masuk kedalam rumah makan tersebut. Meli mengikuti langkah kaki lelaki itu dengan bersemangat. Lalu, ia duduk di depan Aris yang duduk di sudut ruangan rumah makan itu.
Pelayan rumah makan menghampiri mereka dan menyerahkan menu yang akan mereka pesan. Aris dan Meli membaca buku menu itu untuk memilih menu yang akan mereka pesan.
Setelah memesan makanan yang mereka inginkan, tak lama kemudian makanan mereka pun datang. Dengan tak sabar, Meli langsung menyantap makanan yang ia pesan dengan Lahap. Sedangkan Aris terus menatap gadis itu dengan tatapan nya yang datar.
"Enak?" Tanya Aris. Meli mengangguk sambil tersenyum malu.
"Mau nambah?" Tanya Aris lagi. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
Aris melihat sisa nasi yang bertengger manis di sudut bibir mungil Meli. Lalu, ia meraih selembar tisu diatas meja makan tersebut, lalu memberikannya kepada Meli.
"Makan jangan berantakan, buang sisa nasi di sudut bibirmu." Ucap Aris.
Dngan ragu, Meli mengambil tisu itu dari tangan Aris itu. Lalu, ia mengusap bibirnya dengan tisu itu.
Setelah selesai makan dan membayar tagihan, mereka pun bergegas meninggalkan rumah makan itu dan berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
"Tuan tidak merokok ya?" Tanya Meli dengan polos.
Aris menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Meli.
"Kenapa?" Tanya Aris.
"Biasanya laki-laki kebanyakan merokok, seperti Kang Jaja. Kalau dia habis makan, kan merokok." Jawab Meli dengan wajah polosnya.
"Itu kan si Jaja, dia kepengen cepat mati." Ucap Aris, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.
Dengan berlari kecil, Meli mengikuti langkah Aris menuju mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan lagi, agar tidak mengantuk Aris menyetel dengan keras lagu favoritnya dari grup band Air Supply yang berjudul goodbye.
Meli mengikuti lagu tersebut dengan suara yang seperti sedang berbisik. Aris pun melirik Meli yang sedang asik bernyanyi.
"Kamu tau lagu ini?" Tanyanya penasaran.
"Tau Tuan,"
Meli menjawab dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
"Dari mana? ini kan lagu lawas." Tanya Aris lagi.
"Saya sering mendengarnya dulu di radio waktu saya SD. Kebetulan terlalu sering lagu ini di putar di siaran tembang kenangan, jadi saya hafal Tuan." Terang Meli.
Aris hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. Melihat Tuannya tersenyum, Meli pun, memutuskan untuk berhenti bernyanyi.
"Maaf Tuan bila suara saya mengganggu. Habisnya, kalau mendengar lagu ini, saya jadi teringat masa kecil." Ucap Meli sambil menundukkan wajahnya.
"Suara kamu bagus kok, bahasa Inggris kamu juga bagus, nyanyi saja. Aku juga akan bernyanyi."
Aris menatap Meli, lalu ia tersenyum. Meli pun, tersenyum malu. Perlahan, mereka berdua pun bernyanyi dengan lantang di dalam mobil.
Tiga jam pun sudah berlalu, Kini mereka sudah sampai di Kuningan.
"Mana Desamu?" Tanya Aris, waktu mereka menyusuri jalan utama di daerah itu.
"Itu tuan, setelah pohon besar itu, belok ke kanan. Nanti lurus terus sampai ketemu area persawahan. Nah, setelah mentok, belok kanan. Lalu, belok ke kiri. Nanti ketemu persimpangan ambil jalan lurus. Nah, lurus terus masuk kedalam. Nanti ada gapura. Masuk ke gapura itu, terus......."
"Sudah, sudah..! Jadi bingung malahan tunjukin aja sih." Ucap Aris yang terlihat semakin bingung dengan petunjuk yang Meli sampaikan.
"I-iya Tuan." Ucap Meli sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh iya, kamu nanti di depan orangtuamu jangan panggil aku Tuan. Panggil Mas saja."
"Kenapa Tuan?" Tanya Meli dengan ekspresi wajah yang bingung.
"Pokoknya, kamu nurut saja."
"Ba-baik Tuan."
"Mas, jangan Tuannnn."
Aris melotot kepada Meli.
"Tapi kan ini belum dihadapan orangtua saya Tuan, saya sungkan."
Aris menatap gadis itu dengan kikuk.
"Ya, latihan dari sekarang." Ucapnya sambil membuang tatapannya jauh kedepan.
__ADS_1
"Oh gitu." Ucap Meli dengan polos sambil mengangguk-angguk.