Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 29. Sementara sebagai saksi


__ADS_3

"Mel, Mel, dengarkan aku dulu Mel..!"


Aris menyusul Meli yang sedang berjalan menuju gerbang rumah Aris.


"Tolong buka Pak..!" Ucap Meli kepada satpam penjaga rumah.


"Jangan Pak..!" Cegah Aris.


Satpam itu pun menjadi kebingungan.


"Meli dengarkan aku dulu..!!" Bentak Aris.


Dengan emosi, Meli menatap Aris yang sedang mencoba mengatur napas dan emosinya.


"Apa lagi? semua sudah jelas kan..!" Ucap Meli dengan emosinya.


"Ikut aku kedalam dulu ya, kita bahas ini semua Ok..!"


Aris menggandeng tangan Meli untuk masuk kedalam rumah nya.


Lalu, dengan cepat Meli menghempaskan tangan Aris dari pergelangan tangannya.


"Buka gerbangnya Pak..!"


Perintah Meli kepada satpam itu lagi.


"Saya bilang jangan di buka..!!!! atau saya pecat kamu...!!!!" Ucap Aris dengan emosi kepada satpam itu.


"Mau mu apa sih Mas?"


Meli menatap Aris dengan putus asa.


"Aku suami mu..! aku tidak izinkan kamu pergi meninggalkan rumah ini, mengerti..!!!!"


Aris kembali menggandeng tangan Meli untuk mengikutinya masuk kembali kedalam rumah.


Dengan pasrah, Meli mengikuti Aris dari belakang.


"Bik, Bik, Lihat itu Bik..! Nyonya Meli sedang bertengkar hebat dengan tuan Aris..!"


Surti yang baru saja melihat majikannya bertengkar, mengadu kepada Bik Parni.


Bik Parni yang baru saja selesai mencuci piring pun, terkejut saat mendengar laporan Surti.


"Masa iya sih Sur..? kamu lihat dimana?" Tanya Bik Parni.


"Suer Bik, di depan dekat gerbang tadi..!"


Bik Parni pun langsung keluar dan melihat Aris yang sedang menggandeng tangan Meli untuk masuk kembali kedalam rumahnya. Di tangan Meli juga terlihat sebuah koper yang sedang Meli tarik untuk masuk bersamanya.


"Duh... ada apa lagi sih Neng Meli." Ucap Bik Parni, merasa prihatin.


"Duduk..!" Perintah Aris.

__ADS_1


Meli pun duduk di atas sofa kamar mereka.


"Dengarkan aku sekali saja..!"


Aris pun berlutut di atas lantai menghadap Meli.


"Demi Allah, Aku tidak melakukan hubungan seks dengan wanita itu..! Aku sedang di jebak olehnya. Dia membuat kan kopi sebelum aku pulang dengan alasan ia ingin aku mencicipi kopi yang baru saja ia beli. Terus, tiba-tiba kepala ku pusing dan aku tak sadarkan diri."


"Pagi-pagi aku terbangun sudah di kamarnya dan dalam keadaan tidak berbusana. Tetapi, bukan berarti aku melakukan itu kepadanya..! Aku berani bersumpah demi apa pun Meli..!"


Aris mencoba terus meyakinkan istrinya yang sedang cemburu.


"Bagaimana aku percaya kepadamu Mas..?"


"Aku sudah bersumpah Mel..! Demi Allah..!!!!!" Ucap Aris dengan bersungguh-sungguh.


"Mas, aku memang orang desa yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, cukup Mas. Jangan bawa-bawa nama Tuhan, bila kamu sedang berbohong. Disitu terlihat jelas kamu memeluk dirinya dan.......


Meli tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia pun menangis tersedu-sedu.


Tok...tok..tok..!


Pintu kamar mereka pun di ketuk oleh seseorang.


Dengan kesal, Aris pun membuka pintu kamarnya dan melihat Bik Parni di depan pintunya.


"Ada apa Bik..!"


"Anu Tuan, Ada polisi mencari Tuan," Ucap Bik Parni dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


"Iya Tuan, mereka mencari Tuan Aris," Ucap Bik Parni lagi.


Aris pun langsung bergegas untuk menemui polisi yang mencarinya.


"Selamat pagi Bapak Aris Suryo..?"


"Ya, saya sendiri," Ucap Aris sambil menatap kedua petugas itu.


"Ada apa ya?" Tanya Aris penasaran.


"Begini Bapak Aris, kami sedang menindak lanjuti sebuah laporan yang dibuat oleh saudari Alisya."


"Maksudnya apa ya? Saya tidak mengerti, Alisya? Kenapa dia?" Tanya Aris kebingungan.


"Saudari Alisya melaporkan suatu tindak pemerkosaan yang telah Bapak Aris lakukan kepada saudari Alisya. Sekarang, saudari Alisya sedang berada di rumah sakit untuk mengambil visum dan kami mohon Bapak Aris datang ke kantor kami untuk memberi keterangan sebagai saksi."


Terang salah satu petugas, kepada Aris.


"Pemerkosaan..! Apa-apa ini..!"


Emosi Aris pun terpancing.


"Lebih baik Bapak ikut dengan kami ke kantor dulu. Setelah itu baru Bapak bisa membela diri."

__ADS_1


Petugas itu pun mencoba memberi pengertian.


"Pemerkosaan?" Tanya Meli yang baru saja menyusul Aris ke ruang tamu.


"Mel, sumpah Mel, aku tidak melakukan itu Mel..!" Ucap Aris dengan wajah yang memelas.


"Aku tidak menyangka kamu seperti itu Mas..!" Ucap Meli sambil menangis dan memegang dadanya yang terasa sakit.


"Maaf Bapak Aris, kami tidak ada waktu lagi. Kami mohon kerja samanya."


Petugas itu pun langsung memegang lengan Aris dan menggiringnya untuk keluar dari rumah.


"Lepaskan..! saya tidak bersalah jangan lakukan itu kepada saya. Saya bisa jalan sendiri..!" Ucap Aris dengan kesal.


"Kamu jangan kemana-mana..! Nanti aku pulang, kita bicarakan lagi," Ucap Aris kepada Meli.


Lalu, ia melangkah menuju mobil polisi dan pergi bersama dua petugas itu.


Meli terduduk di lantai dan menangis dengan tersedu-sedu. Bik Parni, Kang Jaja dan Surti pun langsung menghampiri Meli.


Meli pun menangis di pelukan Bik Parni.


"Buatkan Nyonya minuman hangat Sur..!"


Perintah Bik Parni kepada Surti. Gadis itu pun mengangguk, lalu pergi ke dapur.


Sedangkan Kang Jaja hanya mampu menatap Meli dengan wajah yang sedih.


Beberapa saat kemudian, Meli mulai merasa tenang. Ia pun menyeruput teh yang di buatkan Surti untuk nya.


Mereka duduk di sofa ruang tamu, Meli menyenderkan kepalanya ke bahu Bik Parni saat ia selesai menaruh gelas teh nya di atas meja.


"Ada apa Neng?" Tanya Bik Parni dengan lembut, sambil terus mengusap-usap punggung Meli.


"Tidak apa-apa Bik, hanya masalah kecil," Ucap Meli.


Bagaimana pun, Meli tetap seorang istri yang tidak mau mengumbar aib suaminya. Walau apapun yang terjadi, Meli tidak akan pernah mau mengumbar masalah rumah tangganya dengan siapa pun. Termasuk kepada kedua orangtuanya.


"Masalah kecil kok sampai ada polisi Neng?" Tanya Bik Parni lagi.


"Tidak apa-apa Bik, mohon do'anya untuk Mas Aris ya," Ucap Meli.


"Meli mau ke kamar dulu ya Bik, Kang, Sur.. Terima kasih perhatiannya."


Meli berusaha tersenyum dan meninggalkan mereka semua di ruang tamu.


Meli berjalan menuju ke kamarnya dan Aris. Ia pun menutup pintu kamarnya dengan perlahan dan menguncinya.


Meli duduk di atas ranjang dan kembali menangisi apa yang terjadi. Ingin sekali ia mempercayai Aris, suaminya.


Tetapi, ia benar-benar tidak terima dengan alasan Aris yang tak masuk akal.


Hati Meli mulai gundah. Ia tidak dapat hanya duduk menunggu Aris tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Meli pun, ingin menyusul Aris ke kantor polisi. Meli ingin mendengar sendiri apa yang terjadi dari Bibir Aris dan apa hasil dari visum Alisya.

__ADS_1


Tanpa membuang-buang waktu, Meli segera menyusul Aris ke kantor polisi yang terdekat dari rumah Alisya yang menjadi TKP dari kasus ini.


__ADS_2