Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 42. Teh.. Tolong saya..!


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Aris dan Frans bertemu, setelah terakhir kali mereka bertemu di kampus Meli. Aris menatap Frans dengan tajam. begitupun Frans, ia menatap Aris dengan tatapan yang penuh dengan emosi.


"Saudara Frans, kapan terakhir kali Anda bertemu dengan saudari Meli?" Tanya seorang penyidik kepada Frans.


"Di kampus." Jawab Frans dengan tenang.


"Apakah ini foto anda dengan saudari Meli?" Tanya penyidik itu lagi dengan memperlihatkan foto Frans yang sedang mencium kening Meli.


"Ya." Jawab Frans dengan singkat.


"Bisa di jelaskan, apa hubungan anda dengan saudari Meli?"


Cukup lama Frans terdiam saat mendengar pertanyaan dari pihak penyidik. Lalu, lelaki itu tersenyum licik.


"Saya kekasih Meli, dan dia sedang mengandung anak saya."


Jawaban Frans sontak saja membuat semua orang yang sedang berada di sana terperangah tak percaya.


"Hamil?" Tanya Aris dengan bibir yang bergetar.


Frans pun, tersenyum puas.


"Maksudnya apa?"


Aris menarik kerah kemeja flanel Frans dengan kasar. Beberapa penyidik berusaha melerai ketegangan di antara mereka berdua. Frans hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya agar membuat Aris semakin emosi.


"Bisa di jelaskan kepada kami, sejauh mana hubungan anda dengan saudari Meli?"


lanjut penyidik setelah Aris di tenangkan oleh pengacara dan salah seorang petugas.


"Kami berpacaran sudah lama, sejak Meli baru saja masuk kuliah. Foto itu sudah cukup menjadi bukti bila saya dan Meli mempunyai hubungan khusus dan sekarang di rahim Meli sudah tertanam darah daging saya," Terang Frans dengan meyakinkan.


"Kamu jangan Fitnah..!!" Ucap Aris sambil menggebrak meja di depannya.


"Saya tidak fitnah, Meli meninggalkan anda karena anda berselingkuh dengan Tante saya, Alisya dan juga karena Meli sedang mengandung anak kandung saya," Ucap Frans lagi.


Aris mengepalkan tangannya sambil menahan emosinya yang bergejolak di dada.


"Saat ini apakah anda tahu keberadaan saudari Meli?" Tanya petugas lagi.


"Tidak, tetapi Meli akan memberitahukan kepada saya dan kami akan segera menikah," Ucap Frans dengan bangga.


"Sakit jiwa kamu..!!" Hardik Aris.


"Sudahlah lepaskanlah Meli, biarkanlah dia hidup bahagia bersama ku. Biarkan kami membentuk keluarga kecil dengan anak kami." Ucap Frans kepada Aris.


"Frans, are you ok my boy? "


Tiba-tiba saja, Mamanya Frans muncul dari ambang pintu ruang penyidik beserta pengacara keluarga mereka.


"Aku baik-baik saja Ma, jangan khawatir," Ucap Frans dengan wajah yang datar saat menyambut kedatangan Mamanya di kantor polisi.

__ADS_1


"Anda orang tua Frans? Anak anda telah melarikan istri saya..!" Ucap Aris kepada Mamanya Frans.


Mamanya Frans menatap Aris dengan seksama, lalu menatap anak nya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Apakah benar yang dia katakan Frans?"


"No, jangan percaya dia," Ucap Frans dengan tenang.


"Apakah wanita yang kamu hamili itu adalah istri lelaki ini Frans? Jawab Mama nak..!!"


Mamanya Frans mengguncang-guncang tubuh Frans dengan panik. Frans hanya terdiam dan menundukkan Wajahnya.


"Frans mau tanggung jawab Ma, Meli sudah tidak mau dengan dia..!!! Meli hamil anak Frans Ma..!!" Ucap Frans mencoba meyakinkan Mamanya.


"Astaga Frans..!"


Mamanya Frans terduduk lemas di samping Frans.


"Meli tidak mungkin seperti itu," Ucap Aris sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Frans.


"Anda tidak tahu siapa Meli sebenarnya Bapak Aris..!!! Dia sudah bermain dengan saya di belakang anda," Ucap Frans dengan puas.


"Maaf, penyelidikan mau di lanjutkan atau tidak? sudahi drama ini," Ucap salah satu penyidik yang sudah jengkel melihat drama antara Aris, Frans dan Mamanya.


Mereka semua pun terdiam, lalu penyelidikan kembali di mulai.


Tiga jam berlalu. Akhirnya Frans di izinkan pulang karena petugas tidak ada bukti yang kuat untuk menahan Frans. Tentunya dengan jaminan dari pengacara Mamanya Frans.


Frans tersenyum saat ia meninggalkan ruang penyidik. Ia pun pulang kerumahnya dengan wajah yang penuh kemenangan.


...


Pintu kamar Meli terbuka, pelayan wanita membawakan dirinya semangkuk sup dan sepiring nasi. Wanita itu tidak berani menatap wajah Meli yang tampak semakin pucat.


"Teh, aku sedang hamil, bisakah Teteh membebaskan aku dari sini?" Ucap Meli dengan wajah yang memohon.


Wanita itu melirik Meli dengan ragu.


"Teh, ini..."


Meli menyodorkan testpack milik nya kepada wanita itu.


"Aku hamil Teh, aku di sekap disini. Frans orang jahat Teh, ku mohon bantu aku untuk pergi ya Teh. Kita sama-sama wanita Teh."


Meli menatap Wanita itu dengan memelas.


Dengan ragu, wanita itu meraih testpack itu dari tangan Meli. Lalu, ia melihat dua garis di atas testpack itu. Perlahan Wanita itu menatap Meli dengan seksama.


"Rumah mu dimana?" Tanya wanita itu dengan tatapan yang mulai khawatir.


"Ini di mana teh? saya tinggal di Jakarta." Ucap Meli.

__ADS_1


Meli pun berusaha duduk di atas ranjang.


"Kenapa kamu di bawa kesini sama Tuan Frans?" Tanya wanita itu lagi.


"Teh, aku sudah punya suami. Frans terobsesi dengan ku. Dia ingin aku berpisah dengan suami ku. Itu tidak mungkin Teh, apa lagi aku sedang mengandung anak dari suami ku Teh." Ucap Meli.


Wanita itu terpaku, sambil menatap kedua mata Meli yang mulai memerah menahan air mata.


"Teh, kasihanilah aku Teh. Frans mau menggugurkan anak ku Teh, lagian Teteh juga tidak takut bila polisi menyangka Teteh terlibat dalam penculikan ini?"


Wanita itu tersentak dan membuang pandangannya dengan panik.


"Teteh wanita kan? Teteh punya anak?" Tanya Meli sambil menggenggam kedua tangan wanita itu.


"Teh, bantu aku ya Teh. Aku tidak akan melibatkan Teteh, aku akan berterima kasih dengan Teteh sepenuh hati ku, bila Teteh mau membantu ku."


Meli terus menerus memohon dan memelas.


"Ceu Romlah, kenapa lama sekali?"


Seorang bodyguard datang ke kamar Meli untuk mengecek keadaan.


"Iya, sudah ini Kang," Ucap wanita itu, lalu ia melepaskan tangan Meli dari tangan nya dan beranjak keluar dan kembali mengunci kamar itu.


Meli hanya bisa menangis tersedu-sedu saat permohonannya di abaikan begitu saja oleh wanita itu.


"Tuan Frans kemana?" Tanya wanita itu kepada bodyguard saat mereka sama-sama melangkah meninggalkan kamar Meli.


"Pulang ke Jakarta, Ceu Romlah masak apa?"


"Sop kang, hayo makan."


Bodyguard itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah wanita itu ke dapur.


"Kapan Tuan Frans kesini lagi?" Tanya wanita itu sambil menyediakan makanan untuk bodyguard itu.


"Kurang tahu Ceu, mungkin besok atau tidak nanti malam."


Wanita itu hanya mengangguk-angguk.


"Kenapa Ceu?" Tanya bodyguard itu sambil mengunyah makanannya yang baru saja ia suap kan ke mulutnya.


"Anu, bahan masakan habis, Eceu mau belanja, tapi Tuan belum kasih Eceu uang nya." Ucap wanita itu.


"Oh.., tunggu saja sampai besok Ceu. Kalau tidak, biar saya pinjamkan duit nya dulu."


Wanita itu hanya mengangguk dengan ragu. Lalu, pergi meninggalkan bodyguard itu.


Wanita itu masuk kedalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ia membuka dompetnya dan menatap selembar foto seorang bayi yang terselip di dompet miliknya.


"Ujang, ambu teh rindu sama ujang, Ujang apa kabar di surga sana?"

__ADS_1


Wanita itu mulai menangis sambil memeluk foto bayi tampan yang berada di dalam dompetnya itu.


__ADS_2