
Ting..Tong..Ting..Tong..!
Bik Parni tergopoh-gopohmenuju pintu depan untuk membukakan pintu untuk seseorang yang datang.
"Cari siapa Pak?" Tanya Bik Parni yang baru pertama melihat lelaki yang berada di depannya.
"Saya pengacara Ibu Alisya, saya ingin bertemu dengan Bapak Aris Suryo. Apakah Bapak ada di rumah?" Tanya lelaki paruh baya itu.
"Oh, sebentar ya Pak, saya panggilkan dulu silakan masuk," Ucap Bik Parni.
Lelaki itupun masuk sambil melihat-lihat suasana rumah Aris yang megah. Ia manggut-manggut mengagumi rumah Aris.
Bik Parni melangkah menuju kamar Aris dan Meli. Lalu, ia mengetuk pintu kamar majikan itu.
Aris membuka pintu kamarnya, ia melihat Bik Parni yang berdiri di depan kamarnya.
"Ada apa Bik?" Tanya Aris.
"Itu Tuan, pengacaranya Ibu Alisya mencari Tuan," Ucap Bik Parni.
"Ngapain dia ke sini?" Tanya Aris lagi.
"Saya tidak tahu Tuan, dia hanya mengatakan ingin bertemu Tuan saja." Ucap Bik Parni lagi.
"Oh, bilang tunggu saya. Saya akan ke depan." Jawab Aris, lalu menutup pintu kamarnya.
"Menganggu saja sih..!" Ucap Aris.
Lalu ia menghampiri Meli yang sedang duduk di atas ranjang.
"Sayang, aku tinggal dulu ya,"
Aris mengecup mesra kening Meli. Meli hanya mengangguk dan tersenyum.
Meli yang sedang mengerjakan tugas-tugas dari kampus nya pun, kembali tenggelam dengan aktivitas nya.
Aris keluar dan menemui pengacara Alisya. Ia memasang wajah yang dingin saat menemui lelaki yang kemarin mencoba memaksakan kehendak terhadapnya.
"Bapak Aris, saya kemari bertujuan untuk menawarkan perdamaian. Sekiranya bila Bapak berbaik hati, saya mohon kita selesaikan secara kekeluargaan," Ucap pengacara Alisya.
Aris hanya tersenyum masam.
__ADS_1
"Pak, apakah saat Alisya melakukan hal itu kepada saya, Ia memikirkan nama baik saya dan keluarga saya? Apakah memfitnah seperti itu jalan satu-satunya untuk memiliki saya? Apakah dia tidak berpikir saya sudah mempunyai istri dan bagaimana perasaan istri saya?" Tanya Aris.
"Maaf Pak, Ibu Alisya hanya khilaf. Beliau sangat mencintai Bapak, sangat ingin menjadi istrinya Bapak. Maka dari itu, beliau tidak berpikir panjang saat melakukan hal itu. Jadi, saat ini saya ingin menawarkan perdamaian. Apapun syaratnya akan kami penuhi," Ucap pengacara Alisya.
Aris pun tersenyum sinis. Ia tidak habis pikir, Alisya bisa senekat itu. Padahal, dahulu Alisya bukan wanita yang seperti itu. Di saat ia mempunyai harta dan jabatan, memang banyak wanita dan macam-macam cara wanita untuk menaklukkan nya. Tanpa memikirkan harga diri seorang wanita itu sendiri.
Aris memang laki-laki yang normal Ia memiliki nafsu kepada seorang wanita. Tetapi, seorang manusia itu berbeda dengan binatang, di saat ia benar-benar bisa mengendalikan nafsu. maka ia akan selamat, hal itu lah yang sangat di jaga oleh Aris.
Mungkin saja, ia tergoda saat melihat tubuh Alisya yang polos tanpa busana saat itu. Tetapi, ia mencoba untuk tidak melihatnya. Benar saja, apa bila ia tergoda, tuduhan yang di lemparkan kepada dirinya akan terbukti. Karena bagaimanapun jejak tidak akan bisa di hilangkan.
"Bagaimana Pak Aris? Saya mohon Bapak bisa membebaskan ibu Alisya dan Ibu Alisya berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi Pak."
Aris hanya terdiam membisu.
Bagaimanapun Alisya pernah singgah di hatinya. Wanita itu sebenarnya orang yang baik. Tetapi, entah mengapa wanita itu sangat berubah saat ini. Aris pun mulai merasa iba.
Akhirnya ia pun mengajukan syarat agar Alisa harus menjaga jarak dari dirinya dan tidak akan pernah mengganggu rumah tangganya lagi.
Pengacara Alisya pun menyanggupinya.
Aris pun berjanji akan mencabut laporannya. Aris berharap pelajaran yang diterima oleh Alisya saat ini, menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi wanita itu. Bahwa mencoba atau berusaha untuk memiliki milik orang lain dengan cara yang buruk seperti itu tidaklah baik.
Lalu, Aris menyuruh pengacara Alisya untuk menghubungi pengacaranya dan mengurus kebebasan Alisya.
Aris lelaki yang terlalu baik dan sedikit polos. Walaupun ia sudah di perlakukan seperti itu, ia tetap memberikan maaf dan membebaskan orang yang sudah memfitnahnya.
Tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan Meli.
*
Hari ini setelah ujian semester, Meli duduk di halaman kampusnya. Ia merasa begitu lelah hingga ia duduk di atas lantai tepat di depan kelasnya dan menyenderkan punggungnya di dinding kelas.
"Elu kenapa Mel?" Tanya Lastri.
"Gak tahu nih, aku merasa lelah saja," Ucap Meli.
"Capek mungkin Mel, semalam lu tidur jam berapa?"
"Jam dua," Jawab Meli.
"Pantas saja," Ucap Lastri.
__ADS_1
"Ya sudah, gue pulang dulu ya."
Meli beranjak dari duduknya, Lastri pun hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Meli.
Hari ini Meli tidak membawa mobilnya, ia pergi ke kampus dengan menggunakan taksi. Begitu juga saat ia akan pulang ke rumah.
Meli berdiri di salah satu halte tidak jauh dari kampus nya. Tiba-tiba saja mobil Frans menghampiri Meli. Frans membuka pintu mobilnya dan menyapa Meli dengan ramah.
"Hai Mel, mau aku anterin pulang?" Ucapnya.
Meli pun mencoba mengacuhkan Frans. Lalu Frans teringat akan hutang Meli kepadanya.
"Oh ya, kamu kan masih mempunyai hutang sama aku," Ucap Frans.
Meli pun menatap Frans dengan tatapan sebal. Lalu, ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikan nya kepada Frans.
"Apa ini?" Tanya Frans sambil tertawa kecil.
"Hutang aku lunas," Ucap Meli, lalu gadis itu menaruh uang itu di dashboard mobil Frans.
"Aku tidak mau di bayar dengan uang, aku mau di bayar dengan kamu jalan-jalan bersama ku."
Frans belum menyerah terhadap Meli. Ia tahu usaha Tante nya telah gagal untuk menjebak Aris.
Frans pun memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia belum rela Meli bersama Aris. Lelaki itu begitu terobsesi dengan Meli.
Hanya Meli lah satu-satunya gadis yang menolak dirinya. Hal itu lah yang membuat ia merasa sangat ingin menaklukkan Meli.
"Maaf, aku bukan wanita yang seperti itu,"
Ucap Meli. Lalu ia melengos dan tidak ingin melihat wajah Frans lagi.
"Mel, memang nya apa sih yang kamu lihat dari Om Aris? Kamu tidak ingin merasakan lelaki muda seperti ku? aku masih sangat bertenaga loh," Ucap Frans.
Lelaki muda itu pun mengedipkan matanya. Meli benar-benar muak dengan lelaki itu. Lalu, ia memberhentikan taksi yang terlihat menuju ke arahnya.
Dengan cepat Meli memasuki taksi dan meminta supir taksi itu agar cepat jalan.
Frans hanya tersenyum jahil. Ia benar-benar kesal dengan Tante nya yang tidak becus menjalankan misi.
Sehingga usahanya untuk mendapatkan Meli pun harus terhambat.
__ADS_1
"Bagaimana pun kamu harus menjadi milik ku Mel. Bila Tante Alisya gagal, aku tidak akan pernah gagal." Gumam Frans.