
Enam tahun berlalu, Meli sedang duduk di halaman belakang rumahnya. Ia menatap sepasang anak kembarnya yang sedang bermain air di bersama dengan Kang Jaja dan Surti. Sesekali Meli tersenyum menatap tingkah anak-anak nya.
"Anak-anak.. sudah main nya ya.. nanti masuk angin."
Meli memanggil anak-anak nya untuk segera mengeringkan badan mereka dan masuk kedalam rumah.
"Iya Bunda..."
Sahut sepasang bocah yang menggemaskan tersebut. Anak kembar Meli pun berlarian menghampiri Meli yang sudah menanti mereka dengan sebuah handuk di tangan nya.
Setelah tubuh mereka kering, Bik Parni pun memanggil mereka untuk membantu memakaikan baju. Meli hanya tersenyum menatap kasih sayang Bik Parni kepada kedua anaknya.
Meli melangkah menuju kamarnya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia membuka ponselnya dan mengetik sebuah pesan.
"Mas, aku kesana ya."
Lalu, ia pun mengirim pesan itu ke nomor ponsel Aris.
Meli beranjak dari duduknya, lalu ia menuju ke lemari pakaiannya. Meli memilih baju yang terbaik yang akan ia gunakan untuk menemui suaminya yang tercinta.
Tidak lupa Meli berdandan tipis untuk lebih mempercantik wajahnya yang terlihat sudah semakin matang.
Meli pun menyemprotkan tubuhnya dengan parfum favoritnya. Meli tahu betul, Aris sangat menyukai nya, bila Meli menggunakan parfum itu.
Tidak lupa Meli membawa dompet nya dan memasukan kedalam tas, lalu ia mengecek riasan nya sekali lagi dan ia pun terdiam menatap bayangan dirinya di dalam cermin meja riasnya.
"I love you Mas..." Ucap Meli, lalu ia tersenyum dan pergi meninggalkan kamarnya.
Saat Meli keluar kamar, anak-anak nya pun menghambur ke pelukannya.
"Bunda aku sudah siap, ayo berangkat..! Ayah pasti sudah menunggu kita..!" Ucap Ar, anak lelaki Meli.
"Iya Bunda, aku juga sudah tidak sabar, aku sudah pakai gaun yang bagus loh buat ketemu dengan Ayah." Ucap Re, anak perempuan Meli.
Ar dan Re kini berusia lima tahun lebih. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan hebat. Meli mendidik anak-anak dengan tangguh di sela-sela kesibukannya sebagai wanita karir dan menjalankan usaha rumah makan warisan dari almarhumah Retno yang kini sudah banyak cabangnya.
Meli menjalankan semua wasiat dari Retno dengan baik. Di tangannya usaha yang di wariskan Retno sangat berkembang. Hal itu terjadi karena Meli memanglah orang yang sangat cerdas.
"Permisi Bu, mobilnya sudah siap," Ucap supir Meli.
Meli tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu, ia mengajak anak-anak untuk segera berangkat menemui Aris.
Sejak kecelakaan Aris, Meli tidak pernah lagi menyetir mobil sendirian. Ia lebih memilih menggunakan supir kemana pun ia pergi.
Meli pun teringat kejadian enam tahun lalu. Betapa ia sudah membawa petaka untuk Aris yang sedang berjuang untuk menjemputnya pulang. Meli menghela napasnya dengan berat. Setiap mengingat kejadian itu, Meli selalu menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Andaikan aku tidak muncul secara tiba-tiba, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi." Sesalnya. Ia menyeka air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Bunda kenapa?" Tanya Ar, lalu ia memeluk erat tubuh Meli.
"Bunda tidak apa-apa nak,"
Meli membelai lembut rambut Ar.
"Bunda kok suka nangis sih?" Tanya Re dengan wajah polos nya.
"Ah, tidak kok. Bunda tidak nangis. bunda hanya kelilipan debu." Ucap Meli, lalu ia merangkul kedua putra dan putrinya dengan hangat.
"Bunda, tidak beli bunga untuk Ayah?" Tanya Ar, dengan manik mata nya yang begitu indah.
"Oh iya, kita mampir ke toko bunga ya. Masa Ayah ulang tahun kita tidak memberikan bunga." Ucap Meli sambil menepuk keningnya sendiri. Kedua anak nya pun tertawa melihat Meli yang berpura-pura lupa.
"Gimana sih Bunda" Ucap Ar dan Re.
"Pak, ke toko bunga langganan ya."
Pinta Meli kepada supir nya.
"Baik Nyonya."
Supir Meli mengangguk dan melajukan mobil menuju toko bunga langganan Meli.
"Bunda..! bunga ini bagus..!"
Ar menunjuk Bunga mawar putih yang terpajang di dalam pot bambu di dalam toko tersebut.
"Bunga ini saja..!"
Re tidak mau kalah, ia pun menunjuk bunga lily yang tak jauh dari bunga mawar putih.
"Bunga yang ini saja..!"
"Yang ini saja ya bunda..!"
Meli tersenyum melihat tingkah kedua anak-anak nya.
"Ya sudah, kita beli dua buket bunga, yang satu dari Ar, yang satu lagi dari Re," Ucap Meli dengan bijak.
Kedua anak nya pun tersenyum girang. Mereka langsung meminta pelayan toko untuk membuatkan dua buket bunga yang indah, khusus untuk Ayah mereka.
"Hayo, ada yang mau nulis ucapan buat Ayah?"
__ADS_1
Meli memperlihatkan aneka kartu ucapan yang berada di atas rak tepat di samping meja kasir.
"Aku..."
"Aku..!"
Dengan serentak Ar dan Re menunjuk tangan nya dan berlarian menghampiri Meli. Meli pun menggendong mereka berdua untuk dapat melihat aneka kartu ucapan yang terpajang di sana.
"Aku mau yang ini..!"
"Aku yang ini..!"
Ucap Ar dan Re. Meli membiarkan mereka mengambil kartu ucapan yang mereka pilih sendiri. Lalu, Meli memberikan dua buah pulpen untuk Ar dan Re.
"Hayo, silahkan di tulis. Yang bagus ya.. anak-anak bunda kan pintar-pintar." Ucap Meli.
Lalu, kedua anak kembar itu pun meraih pulpen dari tangan Meli dan mereka pun mulai menulis di atas kartu ucapan yang mereka pilih sendiri.
Setelah selesai, kartu ucapan itu mereka serahkan kepada pegawai toko untuk di selipkan di atas buket bunga tersebut.
Pelayan toko tersenyum melihat tingkah kedua anak kembar itu.
"Buat Ayah ya?" Ucap pelayanan toko tersebut setelah ia membaca sekilas tulisan anak kembar yang menggemaskan itu.
"Iya Aunty."
Sahut Ar dan Re dengan bersamaan.
"Duh pintar sekali, sudah bisa nulis. Sudah sekolah ya?"
"Sudah Aunty, kita berdua TK." Ucap Ar dengan raut wajah yang mengemaskan.
Pelayan toko tersebut tersenyum lalu kembali menyelesaikan pesanan dari kedua anak lucu itu.
Meli yang hendak membayar tagihan pun, terdiam sejenak saat ia melihat sebuah kartu ucapan berwarna putih dengan motif gambar hati. yang terpampang di samping meja kasir.
Meli meraih kartu ucapan itu dan mengambil pulpen yang berada di atas meja kasir. Meli mulai menulis di atas kertas putih itu. Kata-kata yang indah untuk ia berikan kepada Aris.
Setelah selesai, ia mengembalikan pulpen ke tempatnya lalu ia membayar semua tagihan yang tercetak di atas struk belanja.
"Sudah? Ayo kita berangkat," Ucap Meli dengan wajah yang tampak bersemangat.
Tak kalah semangat, Ar dan Re pun membawa bunga mereka masing-masing dan melangkah keluar dari toko bunga tersebut.
Dengan hati-hati Meli menuntun kedua anaknya, lalu membiarkan mereka masuk kedalam mobil terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kita langsung ketempat Bapak, Bu?" Tanya supir Meli.
Meli hanya mengangguk. Lalu mereka pun pergi untuk menemui Aris.