Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 13. Kamu bukan pembantu


__ADS_3

"Huaaaaaaaaa.....! Neng Meli dambaan kang Jaja, tau-tau sudah nikah saja."


Jaja menangis sambil memeluk bantal guling nya di pintu belakang dapur.


"Ya bagus lah, nikahnya sama Tuan. Kalau nikah sama kamu mah gak ada masa depan Ja." Ucap Bik Parni dengan ketus.


"Huaaaaaaa..! Bibik jahat sekali." Jaja masih terus menangis.


"Mimpimu ketinggian Jaaaa, Ja...." Ucap Bik Parni. Lalu, ia meninggalkan Jaja sendirian di dapur.


Setelah makan, Meli membersihkan meja makan, lalu mencuci piring. Sedangkan Aris sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Setelah mencuci piring, Meli menuju kamarnya yang baru. Disitu sudah ada barang-barang dan baju-baju nyonya Retno di dalam lemarinya.


Di atas meja rias, terlihat secarik kertas tergeletak. Meli meraih kertas itu, lalu ia mulai membacanya


Seperti pesan dari Almarhumah, semua barang-barangnya kini jadi milikmu. Pakailah sesuka hatimu. Kapan-kapan aku akan membelikan yang baru untukmu. Jadi tolong buang semua bajumu usang mu. Itu sudah tidak layak lagi di pakai untuk era milenium ini.


Meli menghela napasnya sesaat setelah membaca pesan dari Aris.


Meli menaruh kembali kertas tersebut di atas meja. Lalu, ia merebahkan tubuhnya yang lelah. Perjalanan yang jauh membuat tubuhnya merasa pegal dan mengantuk. Ia pun tertidur dengan nyaman di ranjang empuk, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Pagi-pagi sekali, Meli sudah rapi. Sesuai dengan perintah Aris, Meli memakai gaun milik almarhumah Retno dan membuang semua baju-baju milik nya. Lalu, ia keluar dari kamarnya dan langsung bergegas menuju dapur.


Seperti rutinitas biasanya, Meli langsung mengambil pel dan ember. Bik Parni yang melihat Meli akan mengepel lantai, langsung melarang Meli.


"Aduh Nyah, jangan... nanti Tuan marah."


Meli mengeryitkan dahinya. Meli masih tidak percaya, bila Bik Parni memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


"Apa Bik?" Tanyanya, mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Jangan ngepel Nyah, nanti Tuan marah."


Bik Parni kembali mengulangi perkataannya.


"Nyah?" Tanya Meli lagi.


 


"Iya Nyonya."


Bik Parni menatap Meli dengan kikuk.


"Buahahahhahahaa....!"


Meli tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata di sudut mata indahnya.


"Loh, Nyonya kenapa tertawa?" Tanya Bik Parni yang bingung melihat Meli yang tertawa terbahak-bahak.


"Bik, jangan panggil Nyonya, lucu Bik, hahahahaha..!"


Meli kembali tertawa terbahak-bahak.


"Lah terus Bibik harus panggil apa?"


Bik Parni semakin bingung.


"Biasa saja Bik, saya tetap Meli yang biasanya. tidak ada yang berubah...."


Bik Parni semakin bingung akan bersikap seperti apa.


"Bik, Meli tetap Neng yang Bibik anggap sudah seperti anak sendiri dan Bibik tetap Bibik nya Neng yang Neng anggap sebagai Ibunya Neng sendiri."


Meli memeluk erat Bik Parni.

__ADS_1


"Jadi, Bibik tetap panggil Meli dengan sebutan Neng ya?"


Meli mengangguk sambil merebut kembali pel dan ember yang tadi di ambil Bik Parni dari tangannya. Lalu, ia pergi ke kamar mandi dan menuangkan pengharum lantai. Dan setelah itu, Meli bergegsa menuju ruang tamu untuk mengepel.


"Neng jangan Neng, nanti Tuan marah. Duh, Bibik mohon Neng."


Bik Parni tetap berusaha memcegah Meli. Tetapi, gadis itu tidak memperdulikan ucapan Bik Parni. Dirinya tetap menuju ke ruang tamu dan mulai mengepel disana.


Aris keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk sarapan. Sekilas dirinya melihat Meli yang sedang mengepel lantai dengan memakai gaun milik Retno. Aris memastikan sekali lagi apa yang sedang ia lihat.


Aris terkejut melihat Meli yang sedang asik mengepel. Aris pun marah, ia menghampiri Meli dan merebut pel dari tangan Meli dengan kasar.


"Apa yang kamu lakukan!" Bentaknya.


Meli terkejut mendengar Aris membentak dirinya. Lalu, ia memberanikan diri untuk menatap Aris.


"Sa-sa-saya cu-cu-cuma mengepel lantai Tuan." Ucap Meli terbata-bata.


"Mulai sekarang kamu jangan melakukan pekerjaan rumah tangga..!" Perintah Aris.


"Ta-ta-tapi Tuan..."


"Tak ada tapi tapi, nanti saya akan pesan pembantu satu lagi dari yayasan untuk membantu Bik Parni..!" Ucap Aris dengan nada suara yang meninggi.


"Ta-tapi saya bingung mau ngapain Tuan, saya tidak bisa diam saja."


"Kamu saya daftarkan kuliah hari ini. tugasmu dirumah ini cuma belajar. Jangan mengerjakan yang lainnya..! Dan satu lagi, jangan pernah panggil saya dengan sebutan Tuan..! Karena kamu bukan pembantu..! mengerti?"


Aris membanting pel itu kelantai dan meninggalkan Meli yang masih gemetar karena merasa takut kepadanya.


Aris berjalan keluar dan langsung masuk kedalam mobilnya. Karena emosi, ia mengurungkan niatnya untuk sarapan.


Dengan kesal, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Meli menangis, lalu memungut pel dari atas lantai dan membawanya kembali ke dapur.


Meli memeluk bik Parni. Jaja yang juga melihat Aris marah-marah menjadi kasihan kepada Meli.


"Neng, sabar ya... Tuan begitu karena sayang sama Neng." Ucap Jaja.


Meli tidak memperdulikan kata-kata Jaja. Meli terus menangis karena ia benar-benar merasa shock, karena Aris yang marah-marah kepadanya.


Sore harinya, Aris yang baru saja pulang dari kantornya, langsung menemui Meli di kamar gadis itu. Aris membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aris menatap Meli yang sedang berbaring di atas ranjang sambil membaca novel.


Melihat kehadiran Aris, Meli langsung turun dari ranjangnya dan berdiri di hadapan Aris dengan menundukkan kepalanya.


"Ini brosur Universitas terbaik, kamu tinggal pilih Fakultas dan jurusan apa yang akan kamu mau."


Aris menyerahkan selembar brosur kepada Meli.


"Dan ini laptop untuk kamu belajar dan kamu bisa mendaftar kuliah onlen. Nanti administrasi dan lain-lainnya aku yang urus."


Aris menyerahkan sebuah laptop baru kepada Meli.


"I-iya Mas."


"Oh iya, aku minta maaf. Tadi pagi aku marah-marah. Aku cuma menepati janjiku kepada Retno, untuk memperlakukan kamu dengan baik." Ujar Aris. Lalu, ia keluar dari kamar Meli.


Meli duduk di tepi ranjangnya, lalu ia memperhatikan laptop dan brosur yang diberikan oleh Aris. Ia sangat bersemangat, lalu ia langsung membuka laptop itu dan mempelajarinya.


Ia mengunjungi website yang tertera di brosur-brosur yang di berikan Aris. Dengan antusias, ia mencoba mencari tahu dan memilih kampus yang akan ia tuju.


Setelah ia menimbang-nimbang kampus mana yang akan ia pilih, akhirnya Meli memutuskan untuk memilih Universitas swasta dan mengambil jurusan Manajemen Bisnis.


Setelah mendaftar online, Meli menutup laptopnya. Ia tersenyum sendiri membayangkan dirinya akan segera menjadi mahasiswi seperti cita-citanya selama ini.

__ADS_1


Meli ingin sekali membanggakan kedua orangtuanya. Sebagai anak tertua, ia ingin sukses dan dapat membantu orangtua dan Adik-adiknya di Kampung.


Meli memejamkan matanya, ia membawa harapan dan impiannya malam itu sampai ke alam mimpi.


...


"Bangun.."


Meli menggeliat dan membuka matanya saat mendengar suara yang membangunkannya. Ia melihat Aris yang sudah berdiri di samping ranjang sambil menatapnya dengan tatapan yang dingin seperti biasanya.


"Ayo belajar menyetir, biar kamu nanti kuliah bisa menyetir sendiri." Ucap Aris sambil beranjak pergi dari kamar Meli.


Meli yang belum sepenuhnya sadar, hanya diam dan menatap punggung Aris yang berjalan keluar kamarnya. Beberapa saat kemudian, Meli pun tersadar bila Aris sedang menunggu dirinya. Lalu, ia beranjak dari ranjangnya dan menunaikan sholat subuh terlebih dahulu sebelum ia menemui Aris yang sudah menunggu dirinya di teras rumah.


"Kenapa lama sekali?" Ucap Aris tanpa menoleh kepada Meli.


"Saya sholat dulu Mas." Jawab Meli sambil menundukkan kepalanya.


"Mulai sekarang, kalau berbicara dengan saya jangan menunduk lagi. Saya adalah suamimu, sederajat denganmu. Jangan menganggap dirimu pekerja lagi dirumah ini."


Meli memberanikan diri menatap Aris. Lalu ia tersenyum manis memamerkan lesung pipinya.


Melihat Meli tersenyum kepadanya, kini Aris yang menundukkan pandangannya.


"Ayo, berangkat..!" Ucap Aris.


Lalu, ia mengeluarkan mobil milik almarhumah Retno dari garasi.


Aris membawa Meli ke jalan komplek perumahan nya yang sepi. Setelah itu, ia menyuruh Meli untuk mengemudikan mobil itu.


Meli menatap Aris dengan cemas saat dirinya berada di balik kemudi mobil.


"Bagaimana caranya Mas?" Tanya Meli, panik.


Dengan sabar Aris mengajarkan cara menyetir kepada gadis lugu itu.


Meli memang cerdas, ia langsung paham dengan apa yang diterangkan oleh Aris. Perlahan gadis itu mulai menjalankan mobil dengan hati-hati. Meli tertawa girang saat mobil itu berjalan dengan pelan. Ia juga langsung bisa menguasai kemudi dengan baik.


Aris pun, tersenyum puas saat Meli sudah mulai santai melajukan mobilnya.


"Betul sekali apa yang dikatakan Retno, gadis ini mampu belajar dengan cepat." Batin Aris sambil melirik Meli yang sedang fokus memperhatikan jalan.


Hari sudah beranjak siang, mereka berdua pun kembali pulang kerumah.


Jaja yang sedang memangkas bonsai di taman depan rumah melihat Meli mengendarai mobil bersama Aris. Jaja tererangah melihat gadis impiannya kini sudah bisa mengendarai mobil.


"Huh... pasti Neng Meli nanti sudah tidak butuh Jaja lagi, Neng meli sudah bisa menyetir mobil sendiri."


Jaja mengurut dada dengan raut wajah yang sedih. Lalu, ia kembali memangkas bonsai dengan hati yang risau.


"Ja, kenapa kamu bengong begitu?" Tanya Bik Parni.


"Neng Meli sudah tidak membutuhkan Jaja lagi Bik." Sahut Jaja sambil tertunduk sedih.


"Neng Meli lagi, Neng Meli lagi, Ja... Ja.., Apa diotakmu itu isinya Neng Meli semua?" Kata Bik Parni yang terlihat kesal.


"Ya iya lah Bik, kalau isi otak Jaja Bik Parni mah, pasti Jaja udah kabur dari sini." Jawab Jaja sambil memunguti sampah daun yang berserakan.


"Memangnya kenapa gitu harus kabur kalo Bik Parni ada dipikiran kamu Ja?" Tanya Bik Parni penasaran.


"Iya, karena Jaja pasti lebih tertekan lagi bila Jaja selalu terbayang-bayang Bik Parni ngelempar Jaja pakai baskom. Terus ngomel-ngomel gak jelas dan kejam sama Jaja."


Bik Parni melotot, sambil mengangkat sapunya dan mengancam Jaja."


"Kurang ajar kamu Ja...!"

__ADS_1


Jaja tertawa meledek, lalu lari terbirit-birit membawa plastik sampah di tangannya.


__ADS_2