
Mobil Aris dan Meli menyusuri jalan kampung di pinggiran kota Bandung. Suasana desa yang tenang dan damai sangat terasa di sana. Mobil mereka berhenti di depan salah satu rumah yang sangat sederhana.
Di depan rumah tersebut, duduklah seorang anak perempuan yang sedang termenung sendirian. Terlihat matanya berbinar saat melihat mobil Aris dan Meli berhenti di depan rumah nya.
Dari dalam mobil, Meli menatap anak perempuan tersebut. Anak perempuan itu seusia dengan Ar dan Re. Meli sudah menebak bahwa anak perempuan itu adalah anak dari lelaki yang kecelakaan bersama Aris.
"Nini, ada mobil yang berhenti di depan rumah kita..!" Ucap anak perempuan itu memanggil Nenek nya.
Terlihat wanita paruh baya, keluar dari rumah tersebut. Wanita itu terlihat mengerutkan dahinya mencoba untuk melihat siapa yang datang.
"Apakah itu Ayah, Ni?"
Tanya gadis kecil itu kepada Nenek nya. Nenek nya tersenyum, lalu membelai lembut rambut gadis kecil itu.
Aris menggigit sudut bibirnya, lalu ia memberanikan diri untuk turun dari mobilnya disusul oleh Meli dan anak-anak mereka.
"Assalamualaikum." Sapa Aris kepada wanita paruh baya itu dari luar pagar kayu yang menghiasi halaman rumah mereka.
"Waalaikumsalam." Jawab wanita paruh baya itu sambil menghampiri Aris, sampai di depan pagar.
"Apa betul ini rumahnya Kang Agus?" Tanya Aris kepada wanita paruh baya itu.
Awalnya Aris tidak mengetahui nama lelaki itu. Tetapi, setelah ditelusuri ternyata nama lelaki itu adalah Agus.
Wanita paruh baya itu tampak terkejut saat nama Agus disebut oleh Aris.
"I-i-iya Pak, Ada apa ya Pak? apa anak saya masih hidup? Apakah Bapak datang membawa kabar dari anak saya?" Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat khawatir.
Aris tidak tahu akan memulai dari mana, yang jelas ia merasa sangat terpukul karena dirinya lah penyebab nyawa Agus melayang.
"Boleh saya masuk Bu? saya membawa kabar tentang Kang Agus." Ucap Aris, dengan suara yang gemetar.
"Astagfirullah, silakan Pak." Ucap wanita paruh baya itu sambil membukakan pagar untuk Aris dan keluarganya.
Aris dan keluarganya pun masuk ke halaman rumah Agus. Halaman rumah itu tidak begitu lebar tetapi tertata dengan baik. Terdapat tanaman bumbu-bumbu dapur dan sayur-sayuran di sisi sebelah kanan rumah tersebut.
Rumah tersebut terasa sangat asri walaupun sangat sederhana.
Wanita paruh baya itu mempersilakan Aris dan keluarganya masuk ke dalam rumah nya.
__ADS_1
"Mohon maaf tidak ada kursi tamu duduknya di tikar saja ya." Ucap wanita paruh baya itu, merasa tidak percaya diri karena tamunya terlihat orang berada.
"Tidak masalah Bu, justru lebih enak duduk di bawah." Ucap Meli sambil tersenyum tulus.
"Alhamdulillah kalau begitu, silakan, silakan duduk. Saya akan mengambilkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot Bu." Ucap Meli menahan langkah kaki wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, sepertinya Ibu dan Bapak datang dari jauh. Saya buatkan teh hangat ya, biar ngobrolnya lebih santai." Ucap wanita paruh baya itu dengan ramah.
Meli dan Aris tidak dapat menolaknya, mereka hanya mengangguk dan berterima kasih kepada pemilik rumah tersebut.
Wanita paruh baya itu pun melangkah menuju dapurnya yang sangat sederhana. Bangunan rumah tersebut tidak terlalu besar, mungkin sedikit lebih besar dari kamar Aris.
Di ruang tamu mereka, tidak terlihat banyak perabot. Disana hanya terlihat satu bufet kecil. Sedangkan di dinding ruang tamu mereka, terhias foto-foto dengan pigura yang sangat sederhana.
Aris memperhatikan foto-foto yang tergantung di dinding rumah tersebut. Disana terlihat foto agus dan istrinya. Sedangkan di samping foto tersebut terlihat foto gadis kecil itu, dengan menggunakan seragam Sekolah Dasar.
"Kamu sudah sekolah? kelas berapa?" Tanya Aris, kepada gadis kecil yang duduk di hadapannya.
"Sudah Om kelas satu mau naik kelas dua Sekolah Dasar." Jawab gadis kecil itu sambil tersenyum memamerkan gigi-gigi kecilnya.
Aris pun tersenyum menatap gadis kecil itu.
"Namamu siapa gadis kecil?" Tanya Meli.
"Nama saya Elis, Tante." Jawab gadis kecil itu.
Nenek dari gadis kecil itu pun muncul dari dapur membawa beberapa gelas dan teko berisikan teh hangat.
"Silakan Pak, Bu, Dek, diminum." Ucapnya sambil menaruh minuman tersebut di depan Aris dan keluarganya.
"Terima kasih Bu, saya jadi merepotkan." Ucap Aris berbasa-basi.
"Tidak, tidak, silakan diminum." Wanita paruh baya tersebut kembali mempersilahkan Aris dan keluarganya.
Meli meraih teko berisi teh hangat tersebut dan menuangkannya ke beberapa gelas lalu memberikannya kepada Aris, Jono, serta anak-anaknya. wanita paruh baya itu tersenyum melihat mereka meminum teh buatannya.
"Begini Ibu, maksud kedatangan saya ke sini adalah ingin memberikan kabar tentang Kang Agus." Ucap Aris mengawali pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Iya Pak, bagaimana kabar anak saya. sudah enam tahun lebih ia menghilang tanpa kabar. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia masih di Jakarta?" Tanya wanita paruh baya tersebut dengan antusias.
Aris menatap wanita paruh baya tersebut dengan lekat, lalu ia menghela nafasnya dengan berat.
"Enam tahun yang lalu, Kang Agus menumpang mobil saya. Awalnya saya tidak mengenal Kang Agus, kami tidak sengaja bertemu saat saya menepikan kendaraan saya di tepi jalan beberapa puluh kilometer dari sini."
"Saat itu motor Kang Agus mogok, ia kebingungan bagaimana caranya ia pulang, sedangkan istrinya akan melahirkan pada malam itu. Lalu, ia meminta pertolongan saya untuk mengantarkannya pulang."
"Kebetulan tujuan kami searah, saya memperbolehkan Kang Agus untuk ikut ke dalam mobil saya. Tetapi, kejadian naas tidak dapat dihindari. Saat itu mobil saya terperosok ke dalam jurang."
Aris menghentikan ceritanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menatap kedua mata wanita paruh baya itu dengan seksama. Terlihat kekhawatiran begitu jelas dari mata wanita paruh baya itu.
"Lalu?" Tanya wanita paruh baya itu dengan tak sabar.
"Saya mohon maaf Bu, bila kedatangan saya menyampaikan berita duka. Kang Agus saat itu meninggal di tempat."
Wanita paruh baya itu pun langsung menangis, selama ini ia mengira anaknya masih hidup di Jakarta dan pergi meninggalkan mereka. Wanita paruh baya tersebut memeluk Elis, anak dari Kang Agus. Mereka pun menangis bersama menangisi Kang Agus yang telah tiada.
"Lalu, dimana jasad Agus dikebumikan?"
Aris mulai menceritakan kejadian yang ia alami, hingga mengapa semua orang mengira Agus adalah dirinya. Sampai Agus dikebumikan di pemakaman tepat di samping kuburan Retno.
Sepanjang cerita wanita paruh baya itu selalu berurai air mata. Ia tidak menyangka Agus telah tiada. Selama ini semua orang berasumsi bahwa Agus pergi meninggalkan anak istrinya karena menikah lagi di Jakarta. Sehingga Agus lupa kepada keluarganya.
Ternyata dugaan tersebut salah. Agus meninggal dalam perjuangannya menuju rumah untuk bertemu dengan anak yang baru dilahirkan oleh istrinya.
"Maaf Bu, kalau boleh tahu, istrinya Kang Agus kemana ya?" Tanya Meli setelah wanita paruh baya itu tenang.
"Eneng, sudah menikah lagi, saat usia Elis masih sembilan bulan. Eneng merasa sakit hati dengan gosip yang dihembuskan oleh para tetangga. Para tetangga yang tidak tahu apa-apa berasumsi bahwa Agus meninggalkan keluarganya karena menikah lagi di Jakarta. Maka dari itu, Eneng membalas perbuatan Agus dengan berselingkuh dengan laki-laki lain dan menikahi lelaki tersebut." Ucap wanita paruh baya itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Meli dan Aris menatap iba kepada Elis. Mereka tidak menyangka, gara-gara kejadian tersebut banyak orang yang menderita karenanya.
"Apakah Ibunya Elis, masih sering mengunjungi Elis?" Tanya Aris.
"Tidak pernah Pak, Bu. Saat ini Eneng sudah sibuk dengan keluarga barunya dan anak-anaknya. Kini ia telah mempunyai dua orang anak dari suami barunya. Tidak sekalipun Eneng mengunjungi Elis, Ia memberikan Elis kepada saya sebagai tanggung jawab saya sepenuhnya."
Meli menitikkan air matanya dan memandang mata bulat Elis. Anak yang tak berdosa tersebut harus kehilangan kasih sayang sejak dirinya masih bayi. Meli memeluk Elis dengan erat, layaknya pelukan seorang Ibu kepada anaknya.
"Kasihan kamu Nak." Gumam Meli.
__ADS_1