Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 59. Ingatan masa lalu


__ADS_3

Arya baru saja diperbolehkan pulang oleh Dokter. Arya mendapatkan beberapa resep untuk membantu mengembalikan ingatannya dan meredakan rasa sakit kepalanya.


Jono menjemput Arya, ia dengan setia menemani Arya mulai dari merawat hingga menebus obat majikannya itu.


"Kita mau kemana Pak?" Tanya Jono saat mereka sudah berada di parkiran mobil.


"Pulang," Ucap Arya.


Lalu, ia menghentikan langkahnya saat melihat mobil miliknya.


"Jon, sepertinya saya ingin mengendarai mobil," Ucap Arya, Jono menatap Arya dengan bingung.


"Pak, Bapak sudah lama tidak mengendarai mobil. Lagi pula Bapak tidak mempunyai Surat Izin Mengemudi," Ucap Jono.


"Tetapi, saya ingin mengendarai mobil," Ucap Arya dengan yakin.


"Tapi Pak."


"Sudah, sini kuncinya,"


Arya memaksa Jono untuk menyerahkan kunci mobilnya. Akhirnya, Jono pun menyerah. Ia menyerahkan kunci mobil itu kepada Arya.


"Kamu duduk di sebelah saya ya," Ucap Arya sambil membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi.


Jono pun mengangguk, lalu ia beranjak duduk di sebelah Arya.


Jantung Arya berdegup kencang saat ia memasukan kunci mobil kedalam lubang kunci. Ia tahu luka besar di tangan nya adalah akibat kecelakaan mobil yang pernah ia alami.


Sejak Arya sembuh, Alisya selalu melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri. Maka dari itu, Jono di pekerjakan untuk mengantar Arya sehari-hari.


Arya mulai menyalakan mobil nya, Jono terlihat sedikit tegang, karena ia tahu majikannya itu sudah lama sekali tidak mengendarai mobil.


"Bapak yakin?" Tanya Jono sekali lagi kepada Arya.


Arya hanya tersenyum kepada Jono, lalu ia menjalankan mobilnya dengan perlahan. Walaupun sudah lama Arya tidak mengendarai mobil, tetapi caranya mengendarai mobil saat ini tidak begitu buruk. Jono pun mulai mempercayai Arya untuk mengendarai mobil itu.


"Wah, Bapak hebat, walaupun sudah lama tidak mengendarai mobil, tetapi masih terlihat baik mengendarainya," Ucap Jono sambil melirik Arya.


Arya hanya tersenyum dan memilih fokus mengendarai mobilnya.


"Ibu ada di rumah Jon?"


"Sepertinya di rumah Pak." Jawab Jono.


"Oh," Ucap Arya.


Lalu ia menambah kecepatan mobilnya.


"Pak pelan-pelan saja Pak.." Ucap Jono sambil menatap Arya dengan khawatir.


"Sudah, kamu tenang saja, jalanan di sini sepi kok," Ucap Arya, ia berusaha untuk menenangkan Jono.


Jono memakai seat belt nya dan ikut memperhatikan jalan raya yang lengang. Arya kembali menambah kecepatan laju mobilnya. Jono pun semakin khawatir, hingga ia menahan nafasnya berkali-kali saat kecepatan semakin bertambah.


"Saya pernah kecelakaan, mana tahu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi bisa mengingatkan saya dengan masa lalu," Ucap Arya sambil tersenyum kecut.


"Tapi Pak, nanti kecelakaan Pak," Ucap Jono sambil berpegangan dengan pegangan di atas jendela mobil.

__ADS_1


"Tidak, saya akan berhati-hati," Ucap Arya sambil melirik Jono.


Tiba-tiba saja seseorang menyeberangi jalan yang sepi itu tanpa melihat mobil Arya yang sedang melaju dengan kencang. Saat Arya kembali memperhatikan jalan Ia pun terkejut melihat seseorang yang melintas beberapa meter di depannya.


Dengan cepat Arya menginjak pedal rem nya. Lalu, ia membanting setirnya ke arah kiri. Karena laju mobilnya yang terlalu kencang, saat mobil itu di rem, tubuh Arya dan Jono terguncang dengan kencang. Saking kencangnya hingga membuat kepala Arya terbentur di setir nya.


Pragggghhhhh...!


Bunyi benturan dari kepala Arya.


Beruntung mereka tidak menabrak si penyeberang jalan. Tetapi, mobil mereka menabrak trotoar di pinggir jalan tersebut.


Arya mencoba menegakkan kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya terasa nanar. Lalu, ia menoleh kepada Jono. Lelaki itu terlihat shock dengan kejadian yang baru saja ia alami.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Jono sambil memperhatikan sekujur tubuh Arya.


"Saya tidak apa-apa, kamu tidak apa-apa?" Tanya Arya sambil menyentuh pundak Jono.


"Saya tidak apa-apa Pak." Jawab Jono.


"Syukurlah, maafkan saya ya, sudah mengabaikan peringatan kamu."


"Tidak apa-apa Pak, yang penting saat ini Bapak selamat," Ucap Jono dengan tulus.


"Lebih baik kita parkir dulu Pak, di sebelah sana. Soalnya ini menutupi jalan." Saran Jono kepada Arya.


Arya pun mengangguk, lalu ia mencoba menjalankan mobilnya kembali. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, bunyi bising terngiang di kupingnya. Kedua tangan arya memegangi kepalanya yang terasa semakin berat. Sebuah ingatan terlintas di pelupuk matanya.


Sepotong ingatan tentang terjadinya kecelakaan yang ia alami enam tahun yang lalu pun terbayang-bayang di pelupuk matanya. Arya melihat seorang wanita dengan rambut yang terlihat acak-acakan dan penampilan yang cukup berantakan sedang menyeberangi jalan saat ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Wanita itu terkejut, lalu melihat ke arah dirinya yang sedang mengemudi.


Ingatan Arya, akan wajah perempuan yang sedang menyeberangi jalan begitu jelas.


"Meli," Ucap nya sambil menahan sakit kepalanya.


"Pak..Bapak..! Bapak tidak apa-apa?"


Jono mengguncang tubuh Arya dengan pelan berkali-kali. Lambat laun Arya pun mendapati kesadarannya kembali.


"Meli," Ucap nya saat rasa pusing nya baru saja mereda.


"Ada apa dengan Bu Meli Pak?" Tanya Jono penasaran.


"Dia, ada di masa lalu saya..!"


"Bapak sudah mulai mengingat masa lalu Bapak?" Tanya Jono dengan semringah.


"Belum seberapa, tetapi saat kita hampir kecelakaan tadi, tiba-tiba saja terlintas ingatan waktu kejadian saya kecelakaan dulu."


"Apa hubungannya sama Ibu Meli Pak?" Tanya Jono sambil mengernyitkan dahinya.


"Sepertinya saya kecelakaan, karena menghindari Meli yang sedang menyeberangi jalan..!" Ucap Arya kepada Jono.


"Kita harus mencari Meli, mungkin ia mengetahui sesuatu tentang kejadian malam itu Jon..!"


"Mau mencari Ibu Meli di mana Pak?" Tanya Jono dengan wajah yang polos.


"Ayo kita ke Jakarta Jon..!" Ucap Arya dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


"Ke Jakarta..?" Jono menatap Arya dengan tak percaya, Arya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Mau cari di mana Pak? Jakarta itu luas," Ucap Jono, ia tak habis pikir melihat Arya yang begitu nekat.


"Jon, saya kan punya nomornya."


Arya menatap Jono sambil tersenyum, sedangkan Jono hanya terdiam menatap Arya dengan bingung.


"Tapi Pak, Bapak mau buat alasan apa untuk Ibu? lagi pula tidak mungkin saya ikut Pak, nanti akan mengundang tanda tanya besar bagi Ibu."


Arya terdiam mendengar ucapan Jono.


"Kamu benar Jon, sebaiknya saya sendirian saja yang pergi ke Jakarta. Nanti saya akan beralasan untuk menemui klien di luar kota. Tetapi, saya tidak akan menyebutkan Jakarta sebagai tujuan saya."


Jono mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Tin...tin..tin..tinn..!


Mobil di belakang mereka membunyikan klakson berkali-kali. Arya pun kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Alisya.


Sesampai di rumah, Arya disambut oleh Alisya yang menatapnya dengan tatapan penuh dengan amarah.


"Bahkan kamu pulang pun tidak mengabari aku," Ucap Alisya.


Arya tersenyum sinis dan menatap Alisya.


"Katanya kamu itu istriku, tetapi mengapa kamu tidak menunggui ku di rumah sakit?" Tanya Arya dengan sinis.


Alisya pun menjadi salah tingkah karena pertanyaan Arya.


"Aku sedang marah kepadamu..!" Ucap Alisya.


"Baguslah, sikapmu itu membuatku semakin ingin bercerai darimu Alisya," Ucap Arya sambil tersenyum.


Alisya pun merasa sakit hati mendengar ucapan Arya, lalu ia menarik lengan Arya dengan kasar.


"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti itu Aris..!"


"Aris..?"


Arya mengeryitkan dahinya saat mendengar Alisya memanggil nya dengan nama Aris. Alisya terperangah menatap Arya, ia tidak menyadari ucapan yang baru saja ia lontarkan kepada Arya.


"Aku tidak mengatakan Aris, aku memanggilmu Arya."


"Tidak, kamu memanggilku dengan sebutan Aris..! siapa Aris? apakah itu namaku?" Ucap Arya sambil menghampiri Alisya.


Alisya terlihat semakin salah tingkah, tubuh nya gemetar saat menatap kedua mata Arya yang terlihat dapat melakukan apa pun untuk memaksanya bicara.


"Ti, tidak. Nama mu Arya, Arya suami ku..!"


"Kamu berbohong..!!!" Bentak Arya.


Alisya merasa ketakutan melihat Arya yang sedang mencengkram kedua bahu nya. Kedua dengkul nya pun merasa lemas, lalu Alisya terkulai lemas menabrak tubuh Arya.


"Al..Al..Al..!"


Arya menepuk pelan pipi Alisya. Tetapi, wanita itu sudah tidak sadarkan diri di dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2