
Enam bulan setelah operasi wajah, akhirnya Aris sudah bisa berjalan dengan normal. Walaupun awal-awal nya sangat sulit bagi Aris tetapi berkat kegigihan Alisya yang selalu mensuport untuk membuat Aris bisa kembali berjalan dengan baik.
Aris kini seorang pengangguran, Alisya pun memberikan modal untuk membuka usaha di bidang properti dan garmen. Alisya memang licik, tetapi rasa cinta nya untuk Aris begitu dalam. Apa pun akan ia lakukan untuk Aris.
Alisya dan Aris menjalani hidup sebagai suami istri pada umumnya. Mereka melewati hari bersama dan liburan bersama. Termasuk Alisya melayani Aris di ranjang. Tetapi apa pun yang di lakukan Alisya, Aris tetap merasa dirinya tidak pernah mencintai wanita itu.
Dua tahun berlalu, usaha yang di pegang oleh Aris maju dengan pesat. Hal itu membuat Aris bisa menghidupi Alisya dan dirinya sendiri.
Suatu malam, saat mereka hendak beranjak tidur. Aris bertanya tentang kehidupan masa lalu nya kepada Alisya. Termasuk kapan pertama kali mereka bertemu dan bagaimana mereka menikah. Aris berasal dari mana hingga pertanyaan seputar keturunan.
Bukan jawaban yang Aris dapati, tetapi amukan Alisya lah yang ia terima. Sejak saat itu Aris malas untuk bertanya tentang masa lalu nya dengan Alisya. Ia hanya berusaha mengingat-ingat sendiri dan meminum obat untuk daya ingat yang di resep kan dokter kepadanya.
Enam tahun tidak ada perubahan akan ingatan nya. Tetapi, pertemuannya dengan Meli dan anak-anaknya, membuat ingatan Aris mulai kembali. Walaupun tidak semuanya, tetapi berangsur-angsur ia dapat mengingat kilasan masa lalu yang pernah ia jalani dan anehnya semua hanya tentang Meli dan Retno. Tidak ada Alisya disana.
Sejak saat itulah ia berkeyakinan bahwa Alisya memang sengaja menutupi tentang masa lalunya dan Aris pun mulai curiga dan selalu mempertanyakan surat nikah mereka. Tetapi, seperti biasanya, Alisya tetap bersikukuh untuk tidak mengatakan apa pun tentang masa lalu Aris. Hal itu lah yang membuat Aris bertekad untuk meminta bantuan Meli dan meyakinkan wanita itu bila ia adalah bagian dari masa lalu nya.
Flashback off
"Ingatan keduaku tentang kamu waktu kita bertemu di restoran dan di pantai. Disitu aku merasa kamu adalah orang dari masa laluku. Entah mengapa keyakinan itu begitu besar Mel." Ucap Arya.
Dengan ragu Meli membuang pandangannya ke luar jendela cafe itu.
"Terlebih saat aku melihat si kembar, ada rasa yang aneh di dalam hatiku. Ada perasaan rindu, sedih dan rasa memiliki mereka."
Kali ini Meli menatap Arya lekat-lekat.
"Aku merasa mereka adalah anak ku Mel." Ucap Arya, mencoba meyakinkan Meli.
Meli mengernyitkan dahinya, ia sangat ingin protes. Tetapi, ia sudah berjanji untuk mendengarkan semua cerita Arya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dan tadi, saat di ruang kerja mu. Aku melihat diriku sebagai Aris yang sedang duduk di kursi mu. Aku tidak mengada-ada Mel." Ucap Arya sambil menatap Meli dengan mimik wajah yang serius.
"Aku tahu, kamu tidak akan percaya semudah itu. Makanya aku tidak marah waktu kamu mengusir ku tadi." Ucap Arya lagi.
Meli menjadi salah tingkah dengan ucapan Arya. Ia paham, dirinya sangat keterlaluan saat itu.
"Maafkan aku," Ucap Meli.
Arya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa." Ucap Arya.
"Tetapi, bagaimana akan ingatan ku waktu kita di gerbong kereta api, saat aku menyuruh mu pulang kerumah?"
Meli tersentak karena pertanyaan Arya.
Memang tidak masuk akal bila Arya mengetahui itu semua.
Meli menghela napasnya dengan berat. Lalu ia mencoba memahami lelaki yang duduk di depan nya itu.
"Mas, apa kamu tahu aku memakai baju apa saat aku berada di gerbong kereta api?" Tanya Meli sambil menatap Arya dengan tajam.
"Aku tahu Mel, kamu memakai kemeja putih dan celana jeans kan? serta, koper berwarna merah hati..!" Ucap Arya dengan yakin.
Meli terbelalak mendengar jawaban Arya.
"Ba-bagaimana bi-bisa?" Ucap Meli terbata-bata.
"Mas, apa kamu mempunyai tanda lahir?" Tanya Meli lagi, kali ini ia mulai antusias dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Ada, di paha sebelah kiri ku. Berwarna lebih putih dari warna kulit ku." Ucap Arya.
Meli menatap Arya tak percaya. Memang benar Aris juga memiliki tanda lahir yang sama. Mendadak napas Meli terasa sesak, ia semakin bingung akan bersikap apa terhadap Arya.
"Mel, kamu berhak untuk belum percaya, aku terima itu semua. Aku pun sulit untuk membuat hal yang tidak mungkin bagi nalar menjadi mungkin. Aku hanya berpikir bagaimana bila aku melakukan test DNA kepada si kembar? Bila mereka bukan anak ku, berarti aku bukan Aris. Aku mohon, berilah aku kesempatan. Aku sudah lelah mencari-cari siapa diriku sebenarnya." Ucap Arya.
Tangan Meli mulai berkeringat. Kepalanya mulai terasa berat. Memang semua diluar nalar nya, tetapi kebetulan-kebetulan yang di ceritakan Arya memang begitu nyambung dengan apa yang sudah ia dan Aris lewati. Ciri fisik Arya dan Aris pun hampir sama dan yang paling membuat Meli mulai mempercayai Arya adalah, tanda lahir yang di miliki Arya, sama persis letak nya dengan yang di miliki Aris.
"Mel, berikan aku kesempatan ya." Bujuk Arya.
Meli masih terdiam menatap lelaki itu dengan lekat-lekat. Arya membalas tatapan Meli dengan tatapan memohon. Akhirnya Meli pun menganggukkan kepalanya.
"Iya, besok pagi kita test DNA. Biar aku tenang, Mas Arya pun tidak akan bertanya-tanya lagi."
Arya tersenyum dengan lega. Ia pun mengucapkan terimakasih kepada Meli yang berbaik hati untuk menuruti permintaan nya yang sebenarnya memang tidak pantas untuk ia minta.
Ia hanya orang lain bagi Meli, tetapi permintaan tes DNA darinya tetap di kabulkan oleh Meli. Arya merasa sangat senang sekali.
"Mas Arya tinggal di mana di Jakarta?" Tanya Meli.
"Tinggal di hotel." Jawab Arya.
"Oh." Meli pun kembali diam.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Besok kita bertemu di Rumah sakit X. Nanti aku akan share alamat rumah sakit nya. Besok pagi, Jam delapan. Jangan telat..!" Ujar Meli.
Arya pun tersenyum dan mengangguk dengan mata yang berbinar.
Meli beranjak dari duduk nya, lalu ia berpamitan kepada Arya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Meli terus memikirkan Arya. Bila benar Arya adalah Aris, sudah pasti dirinya dan anak-anak akan bahagia sekali. Tetapi Meli tidak ingin banyak berharap. Karena ia masih memikirkan bila Aris adalah Arya, lalu jasad siapa yang ia kebumikan di samping kuburan Retno?"