
Arya berdiam diri di salah satu coffe shop. Di depannya ada gelas kopi yang sudah kosong. Arya memesan segelas kopi lagi untuk duduk lebih lama di coffe shop tersebut.
Arya tidak tahu akan kemana. di Jakarta ia tidak mempunyai siapa-siapa. Sambil menunggu segelas kopi yang baru saja ia order datang, Arya mengecek aplikasi penginapan untuk ia booking beberapa malam di Jakarta.
Setelah selesai membooking penginapan, Arya pun teringat akan sikap Meli kepadanya. Bisa dikatakan wanita itu sangat kejam kepada dirinya. Tetapi, ia paham mengapa Meli bersikap seperti itu kepadanya. Arya tidak marah, karena ia tahu betul Meli tidak akan percaya begitu saja kepada orang asing yang mengaku sebagai Aris, almarhum suaminya.
Arya merasa bersalah, karena ia mengaku sebagai Aris. Hanya karena ia merasa pernah duduk dan bekerja di ruangan Meli. Tetapi, ia merasa yakin bahwa dirinya adalah Aris. Karena Alisya memanggil dirinya dengan nama Aris saat kemarin mereka bertengkar.
"Bagaimana caranya aku membuktikan kalau aku adalah Aris? Sedangkan aku tidak ada bukti apa-apa." Gumam Arya.
"Bila aku adalah Aris, jadi aku adalah suami Meli. Berarti si kembar adalah anak-anak ku?" Gumam Arya.
"Apa aku melakukan tes DNA saja ya? Tetapi, bagaimana cara nya bertemu dengan si kembar?" Gumam Arya lagi.
Arya berpikir keras bagaimana caranya Meli mau melunak kepadanya.
..
Meli duduk berdiam diri di dalam ruangannya. Ia masih belum mengerti apa motif dari Arya dan Alisya untuk mendekatinya. Tiba-tiba saja satu pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk. Meli meraih ponselnya lalu membuka pesan tersebut.
Nomor yang tak dikenal
Assalamualaikum Ibu Meli, ini Jono. Maaf bila Jono terlalu lancang mengirim pesan kepada Ibu Meli. Bapak Arya pergi dari rumah, ke Jakarta. Apakah Ibu Meli sudah bertemu dengan Bapak Arya?
Bagaimana keadaan Bapak Arya saat ini Bu? Semoga Bapak Arya sehat-sehat saja dan sudah bertemu dengan Ibu Meli.
Bu, Jono harap Ibu mau membantu Bapak Arya untuk mengingat masa lalunya. Percayalah Bu apapun yang di katakan Bapak Arya. Beliau sudah cukup menderita selama ini karena hilang ingatan.
Jono yang sudah mendampingi Bapak selama enam tahun ini menyaksikan sendiri betapa menderitanya Bapak karena menderita amnesia. Bapak mempunyai keyakinan bahwa dirinya bukanlah Arya. Bapak juga meyakini bahwa ia mempunyai keluarga di Jakarta.
Bantu beliau Bu, beliau hanya mempercayai Ibu saat ini. Selama ini Bapak tidak mempunyai jati diri, seseorang yang hidup tanpa kenangan itu sangat membingungkan Bu. Jono dapat merasakannya. Selama ini Bapak hanya seperti boneka saja, yang bingung akan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Mohon maaf Bu, Jono mengatakan ini semua kepada Ibu. Ini semua Jono lakukan, karena Jono sangat menyayangi Bapak. Bapak adalah orang yang baik, Bapak berhak untuk bahagia dan menemukan masa lalunya kembali. Do'a terbaik dari Jono untuk Ibu dan juga Bapak di sana. Semoga Ibu sudi membantu Bapak.
Meli menghela nafasnya saat selesai membaca pesan dari Jono. Walaupun ia tidak percaya dengan Arya yang mengaku-ngaku sebagai Aris. Tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa Meli pun merasa kasihan kepada Arya.
Akhirnya Meli melunak, ia pun berniat membantu dan memberikan Arya kesempatan untuk mencari keluarganya. Walaupun hatinya masih merasa kesal kepada Arya, karena Arya mengaku sebagai Aris. Tetapi, dengan membantu lelaki itu menemukan keluarganya dan kembali mengingat kenangan masa lalu, mungkin saja Arya tidak akan lagi mengganggu dirinya lagi.
Meli terdiam beberapa saat Ia berpikir untuk menghubungi Arya dan bertemu dengan lelaki itu di luar. Setelah banyak pertimbangan akhirnya Meli menghubungi Arya.
Arya yang baru saja menghabiskan kopi keduanya, terkejut saat melihat panggilan telepon dari Meli. Ia pun segera menerima telpon itu dan menyapa Meli dengan antusias.
"Halo Mel..!"
Meli terdiam beberapa saat, saat ia mendengar suara Arya. Meli mencoba memejamkan matanya, dan mencoba merasakan suara Arya yang mirip sekali dengan suara Aris.
"Assalamualaikum, Kamu di mana Mas?" Tanya Meli.
"Waalaikumsalam, aku sedang di cafe. Apakah kamu berubah pikiran Mel?" Tanya Arya, to the point.
"Oke, aku akan memberikan kamu kesempatan untuk mendengarkan dan membantu kamu mengingat masa lalu Mas. Aku menghubungimu bukan karena aku percaya kepadamu, tetapi aku ingin membantumu untuk mengingat masa lalu mu Mas. Ini semua murni karena aku memang ingin membantu, jadi tolong jangan disalah artikan. Aku mohon maaf atas sikapku tadi, aku ingin bertemu dan berbicara dari hati ke hati, agar tidak ada ganjalan masing-masing dari kita." Ujar Meli.
"Aku yang ke sana atau kamu yang ke sini Mel?" Tanya Arya.
"Kirim lokasi mu Mas, aku akan ke sana." Ucap Meli.
Setelah itu mereka mengakhiri sambungan telponnya.
Dengan segera Arya mengirimkan lokasinya saat ini kepada Meli. Seperti mendapatkan semangat baru bagi Arya, ia tidak sabar menunggu kedatangan Meli.
Meli mengambil kunci mobilnya lalu ia menuju ke parkiran kantor.
"Bismillah," Ucap Meli.
__ADS_1
Lalu, ia berangkat menuju lokasi yang sudah dikirimkan oleh Arya.
..
Alisya baru saja mendarat di Jakarta, kedatangannya ke Jakarta dalam rangka mencari Arya dan membawa lelaki itu kembali pulang ke Yogyakarta.
Alisya begitu histeris saat mengetahui Arya pergi ke Jakarta saat ia mengancam Jono untuk berbicara yang sebenarnya. Saat ia siuman dari pingsannya, Alisya mencari-cari Arya, tetapi lelaki itu tidak ada di rumah.
Saat Alisya melihat koper Arya tidak ada di lemari, Ia pun menyadari bahwa Arya pergi jauh. Alisya pun mencurigai bahwa Arya pergi ke Jakarta, untuk bertemu dengan Meli.
Alisa pun bertanya kepada Jono tentang kecurigaannya Arya pergi ke Jakarta. Awalnya Jono tidak mau membuka suara. Tetapi, setelah ia mengancam Jono, akhirnya lelaki itu pun membenarkan bahwa Arya pergi ke Jakarta.
Malam itu juga Alisa menyusul Arya ke Jakarta. Awalnya ia akan mengambil penerbangan sore, tetapi karena tiket sudah ludes terjual akhirnya ia memilih keberangkatan malam hari.
Alisya terlihat sangat gelisah saat ia baru saja mendarat di Jakarta. Ia tidak tahu akan ke mana setelah ia di Jakarta. Akhirnya, ia memilih untuk sementara waktu menginap di rumah kakaknya, yaitu Ibu dari Frans.
Alisya menaiki taksi yang baru saja ia pesan, lalu ia meminta diantarkan ke rumah kakaknya dengan segera. Taksi Alisa pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah kakaknya.
Setelah saru jam kemudian, akhirnya Alisa tiba di rumah kakaknya.
Frans yang sedang asik di depan laptopnya mendengar seseorang membunyikan bel di depan pintu rumahnya. Dengan malas ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan.
Dengan perlahan Frans membuka pintu depan rumahnya. Ia pun terkejut saat melihat Alisya dan kopernya sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Tante Alisya..!" Ucap Frans tak percaya.
Alisya tidak kalah terkejut, saat melihat Frans yang berdiri di depannya. Alisya pun merasa serba salah saat melihat Frans yang sudah keluar dari penjara. Karena selama Frans masuk penjara, tidak sekalipun Alisya menjenguk keponakannya itu.
"Frans?"
Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Alisya.
__ADS_1