
Dua minggu kemudian.
Hari ini hasil dari tes DNA keluar. Meli dan Aris menuju ke rumah sakit, untuk mengambil hasil dari tes DNA. Mereka sengaja tidak mengajak Ar dan Re, karena Meli begitu takut apabila hasil yang keluar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Aris yang sedang mengendarai mobil melirik Meli yang tampak sangat gelisah. Aris menggenggam tangan Meli yang duduk di sebelahnya.
"Semoga hasilnya sesuai ya, karena aku adalah Aris."
Meli mengangguk, lalu tersenyum dengan ragu.
"Bila boleh bertanya, mengapa selama ini kamu tidak menikah lagi?" Tanya Aris.
Meli menghela nafasnya, lalu menatap Aris dengan seksama.
"Sejak kepergian Mas, aku berjanji untuk tidak menikah lagi."
"Kenapa?" Tanya Aris, penasaran.
"Aku hanya ingin hidup untuk orang-orang yang kucintai. Bagiku menikah hanya akan mempersulit aku untuk membahagiakan orang-orang di sekitarku. Sudah bisa dipastikan perhatianku kepada anak-anak akan terbagi. Sedangkan selama ini perhatianku kepada anak-anak sudah banyak berkurang karena aku harus mengurus segala nya sendirian." Ucap Meli, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Kamu mulia sekali." Ucap Aris, lalu ia tersenyum. Aris tidak menyangka Meli benar-benar mengabdikan dirinya untuk anak-anak dan dan semua yang telah Ia tinggalkan.
Kebanyakan wanita seperti Meli yang masih sangat muda, pasti akan mencari pengganti suami. Apalagi, setelah enam tahun sendirian. Tetapi, tidak dengan Meli. Aris benar-benar merasa salut dengan wanita yang duduk di sampingnya itu. Sekaligus Aris merasa bangga memiliki wanita seperti Meli.
Aris memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit. Mereka berdua melangkah menuju ruang laboratorium. Meli menyerahkan surat pengambilan hasil tes DNA. Tak lama kemudian seorang tenaga medis membawakan amplop putih hasil tes DNA tersebut.
Tangan Meli dan Aris terasa gemetar saat memegang amplop putih yang berisikan hasil tes DNA. Di depan Meli dan Aris, tenaga medis itu kembali mengecek nama Aris yang tertera di sana.
"Di sini tertulis atas nama Bapak Arya ya, Pak, Bu." Ucap tenaga medis itu.
Sambil memperlihatkan nama Arya yang tertulis di amplop tersebut. Meli dan Aris hanya mengangguk.
"Silakan." Ucap tenaga medis tersebut, sambil menyerahkan amplop itu kepada Aris dan Meli. Meli dan Aris hanya bisa saling berpandangan, masing-masing dari mereka mengisyaratkan untuk mengambil amplop tersebut. Tetapi tidak satupun dari mereka berani untuk meraih hasil dari tes DNA itu.
"Bisa minta tolong dibacakan.?" Ucap Aris.
Tenaga medis itu tersenyum lalu mengangguk. Dia pun mulai membuka amplop tersebut dan mengambil selembar kertas yang berada di sana.
"Hasilnya....
__ADS_1
Ucap tenaga medis tersebut. Lalu ia terdiam sejenak membaca dengan teliti isi dari selembar kertas itu. Jantung Meli dan Aris berdegup dengan kencang. Mereka takut sekali bila isi dari hasil tes tersebut mengecewakan mereka.
"Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen cocok..!" Ucap tenaga medis itu.
Sontak saja Aris melompat kegirangan, lalu ia memeluk tubuh Meli dengan erat dan ia pun mulai menangis bahagia.
"Alhamdulillah..! sekarang kamu percaya kan kalau aku adalah Aris. Aku kembali sayang..! Aku kembali..! Aku kembali ke pelukan mu dan anak-anak kita..!" Ucap Aris.
Meli membalas pelukan Aris tak kalah erat nya. Meli, tidak tahu akan mengatakan apa. Yang jelas, saat ini dirinya sangat bahagia dan hati nya merasa hidup kembali.
Meli hanya bisa menangis haru, Allah begitu baik kepadanya. Penderitaan yang ia alami selama ini hanyalah proses untuk dirinya lebih baik. Ia selalu berprasangka baik kepada Allah, ia yakin penderitaan tidak akan selamanya ia alami. Dan hal itu terjawab pada hari ini. Aris menatap wajah Meli, lalu ia mencium kening Meli.
"Ayo kita pulang temui anak-anak. Mulai saat ini dan seterusnya tidak akan aku biarkan kamu dan anak-anak tanpa diriku lagi." Ucap Aris.
Meli hanya mengangguk dan mengusap air mata bahagianya. Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada tenaga medis itu. Lalu, mereka beranjak meninggalkan Rumah sakit tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang, Aris terus menggenggam tangan Meli. Seakan ia enggan untuk melepaskan tangan wanita yang sudah selama enam tahun ini hidup tanpa diri nya.
Sesampainya mereka di rumah, mereka disambut oleh si kembar, Ar dan Re.
Aris langsung memeluk erat kedua putra-putrinya. Aris menangis haru dan memandangi kedua wajah putra-putrinya.
"Ayah rindu." Ucap Aris, dengan suara yang tercekat.
"Kan Ayah baru keluar sebentar sama Bunda, kok sudah rindu?" Tanya Ar dengan polos.
"Itu tandanya Ayah sangat mencintai kalian berdua dan tidak ingin jauh-jauh dari kalian lagi." Ucap Aris dengan tatapan haru.
"Kami berdua juga sangat mencintai Ayah." Ucap si kembar, lalu mereka memeluk Aris sekali lagi.
Meli menangis bahagia melihat pemandangan di depannya itu.
Tiba-tiba Meli teringat akan Alisya, wanita yang telah menyembunyikan Aris darinya. Yang telah membuat hidupnya selama enam tahun ini begitu kosong. Tes DNA adalah salah satu bukti yang memperkuat Arya adalah Aris.
Memang, Meli terkesan lamban dalam mengambil keputusan untuk melaporkan Alisya ke polisi. Tetapi jangan lupa, Meli adalah wanita yang cerdas. Meli selalu mengambil langkah yang aman di setiap keputusannya.
Bila ia melaporkan Alisya dengan terburu-buru, dan ternyata Arya bukanlah Aris. Meli pasti akan menghadapi masalah baru. Ia bisa di laporkan kembali oleh Alisya.
Saat ini, Meli hanya ingin menjalani hidup tanpa masalah yang mempersulit dirinya. Ia harus benar-benar cerdas menjalani hidup, agar Ia tetap ada untuk anak-anak.
__ADS_1
Meli segera menghubungi pengacaranya dan meminta segera mengurus masalahnya dengan Alisya. Meli ingin membuktikan kepada wanita itu, bahwa ia tidak pernah bermain-main di dalam hidupnya.
Sebelum tes DNA keluar dan saat Alisya menyerangnya di kantor, juga di rumah. Saat itu juga Meli sudah membahas Alisya dengan pengacaranya. Jadi, saat semuanya terbukti. Meli tinggal memerintahkan pengacaranya untuk menjalankan tugas dari nya.
Meli mengakhiri panggilan telponnya. Lalu, kembali menghampiri Aris dan kedua anaknya.
"Habis dari mana?" Tanya Aris kepada Meli.
"Habis menyelesaikan masalah." Ucap Meli dengan tenang.
"Kamu punya masalah masalah apa?" Tanya Aris.
"Pokoknya Mas, siapkan diri untuk menjadi saksi ya." Ucap Meli.
"Jadi, kamu benar-benar melaporkan Alisya?" Tanya Aris penasaran.
"Sebagai istri yang kehilangan suami, aku tidak akan rela membiarkan wanita itu berkeliaran dengan bebas." Ucap Meli.
"Bila perlu Mas juga melaporkan dia dengan pasal penipuan, dia udah menipu Mas bertahun-tahun malah hidup sebagai suami dia lagi." Ucap Meli, kesal.
"Eh, tapi nggak usah deh. Mas kan orangnya gak tegaan masih membiarkan dia bebas. Lihat akibatnya membiarkan ular bebas akhirnya dia datang untuk mematuk kita." Ucap Meli lagi.
Ternyata ia masih sakit hati karena Aris pernah memaafkan Alisya. Aris tersenyum lalu menghampiri Meli. Aris memeluk Meli dengan erat.
"Mulai sekarang, aku akan mengikuti apapun kata-kata kamu. Aku yakin apapun yang dikatakan istri itu pasti yang terbaik." Ucap Aris.
Meli mencebikkan bibirnya dan menatap Aris dengan sebal.
"Benar ya." Ucap Meli.
"Iya sayang." Ucap Aris sambil menahan senyumnya karena melihat ekspresi wajah Meli.
"Kalau Mas memaafkan dia lagi, kita nggak jadi nikah nih." Ancam Meli.
"Yahhhh, jangan begitu dong sayang. Ia aku janji. Ya sudah aku akan bikin laporan sekarang juga." Ucap Aris.
Meli pun tersenyum geli, kali ini ancamannya sukses.
"Yessssss..!" Gumam nya.
__ADS_1