Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 48. Arya Pratama


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah bangun?"


Alisya membelai lembut rambut suaminya, Arya Pratama. Arya tersenyum, lalu mengecup lembut kening Alisya.


"Ya sudah, aku akan menyiapkan sarapan untuk mu ya sayang," Ucap Alisya.


Arya hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah Alisya keluar dari kamar, Arya pun termenung menatap keluar jendela kamarnya.


Hatinya terasa kosong dan ada perasaan sedih yang mendalam. Ia tidak tahu perasaan apa itu. Tetapi, setiap ia bangun dari tidur nya, ia selalu merasakan kesedihan dan kehampaan.


Arya bersiap-siap untuk mandi, ia pun beranjak dari ranjangnya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia pun keluar dari kamarnya dan menemui Alisya di ruang makan.


"Aku tidak usah sarapan, aku mau langsung ke kantor." Ucap Arya kepada Alisya.


"Loh kenapa sayang?"


Alisya menatap mata Arya dengan seksama. Arya hanya tersenyum lalu memeluk Alisya.


"Ada yang harus aku lakukan di kantor, kita baru saja merintis usaha ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk maju." Ucap Arya kepada Alisya.


"Dia tidak pernah berubah, selalu bekerja dengan keras." Gumam Alisya.


"Ya sudah, tapi ingat ya sayang, kamu harus sarapan di kantor ya," Ucap Alisya, lalu ia mengecup bibir Arya dengan mesra. Arya hanya mengangguk ragu dan melepaskan pelukannya dari tubuh Alisya.


"Aku pergi dulu," Ucap Arya, lalu ia bergegas meninggalkan rumah menuju kantornya.


Alisya kini sudah bahagia hidup dengan orang yang ia cintai. Segala keinginannya untuk bahagia kini sudah di dalam genggaman tangan nya.


Di sepanjang jalan menuju kantornya, Arya lebih sering termenung. Arya merasa dirinya bukan lah dirinya sendiri. Ada sesuatu yang membuat dia merasa hidupnya seperti sebuah boneka bagi istri nya, Alisya.


Arya menghela napasnya dengan berat, lalu ia meminta supirnya untuk menepikan mobilnya di tepi jalan.


"Ada apa Pak?" Tanya supir nya sambil menoleh ke belakang melihat Arya yang menahan rasa sakit kepalanya.


"Bapak sakit kepala?" Tanya supir itu lagi dengan mimik wajah yang khawatir.


"Saya butuh air mineral," Ucap Arya, lalu dengan sigap Supir pribadinya pun mengambil sebotol air mineral miliknya yang belum sempat ia minum.


"Ini Pak, saya belum sempat meminumnya. Jadi, ini masih baru."


Supir itu menyodorkan air mineral itu kepada Arya. Dengan tangan gemetar, Arya meraih botol air mineral tersebut lalu meminumnya bersama obat sakit kepala yang selama beberapa tahun ini ia minum. Lalu, dengan nafas tersengal ia menyenderkan tubuhnya di sandaran jok belakang.


"Bapak baik-baik saja?"Tanya supirnya lagi.

__ADS_1


"Jon, hari ini saya tidak ingin ke kantor. Tetapi, saya mohon kamu jangan bilang kepada istri saya."


Jono, supir pribadi itu pun terdiam dan menatap aris dengan tatapan serba salah.


"Apa kamu mau berjanji?" Tanya Aris kepada Jono. Dengan ragu, Jono mengangguk kan kepalanya.


"Ok, kita pergi kemana saja yang bisa membuat saya tenang, saya sangat butuh ketenangan. Lagi pula, saya ingin kamu menemani saya bercerita. Selama ini saya tidak ada teman untuk bercerita. Jon, kamu mau kan menjadi sahabat saya?"


Jono menatap Arya dengan tatapan iba. Ia mampu merasakan apa yang Arya rasakan. Selama ini Jono melihat Arya seperti orang yang kebingungan dan takut terhadap istrinya.


"Saya bersedia Pak." Jawab Jono, lalu lelaki tiga puluh tahun itu pun tersenyum dan kembali mengendarai mobilnya sambil berpikir tempat yang tenang untuk di singgahi dirinya dan Arya, majikannya.


Empat puluh menit kemudian, Jono menghentikan mobil nya di sebuah restoran alam yang tenang. Ia pun mengajak Arya untuk turun bersamanya.


"Ini dimana Jon?" Tanya Arya.


"Ini tempatnya bagus Pak, Bapak bisa sekalian minum kopi dan makan siang." Ucap Jono dengan bersemangat.


Arya pun tersenyum dan mengangguk sambil menepuk pundak Jono.


"Kamu pintar Jon, saya suka dengan kamu," Ucap Arya.


Lalu mereka berdua duduk di restoran itu. Restoran alam itu berada di tepi sawah, pemandangan yang indah terhampar hingga ke kaki bukit sebuah gunung yang berdiri dengan gagahnya di depan mereka.


Kicauan burung yang bernyanyi membuat suasana semakin terasa alaminya. Arya tersenyum puas, lalu ia memilih duduk di lantai atas restoran itu dan menikmati pemandangan alam yang sangat indah.


Arya pernah mengalami kecelakaan yang ia sendiri tidak mengingatnya. Tangannya patah dan harus di berikan penyangga yang terbuat dari besi yang di tanam di tulang lengannya.


"Jon, kamu sudah berapa lama berkerja dengan Ibu?" Tanya Arya kepada Jono yang duduk di depan nya.


"Hmmm, sudah enam tahun Pak. Kalau tidak salah seingat saya waktu itu Bapak dan Ibu baru saja pindah ke Yogyakarta dan saya melamar pekerjaan menjadi supir di rumah Bapak dan Ibu." Terang Jono.


Aris tertegun mendengar penjelasan dari Jono.


"Kalau boleh saya tahu, kenapa saya dan istri saya pindah ke Yogyakarta? Awalnya saya dari mana?" Tanya Arya kepada Jono.


Jono hanya bisa menatap wajah Arya dengan seksama.


"Apakah kamu tahu tentang sesuatu Jon?" Tanya Arya lagi.


"Saya tidak akan mengatakan apa-apa kepada istri saya." Sambung Arya dengan bersungguh-sungguh.


Jono menatap Arya dengan tatapan iba. Lalu, ia menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Tapi, Bapak janji jangan mengatakan apa pun kepada Ibu Alisya. Saya takut di pecat Pak,"


"Saya berjanji," Ucap Arya dengan bersungguh-sungguh.


"Baik lah Pak, Saya mulai bekerja saat Bapak dan Ibu baru pindah ke Yogyakarta. Saat itu Bapak baru saja mengalami kecelakaan. Kabar nya yang saya dengar dari pembicara Ibu dengan seseorang yang melalui sambungan telepon, Bapak lupa ingatan. Saya pikir kecelakaan yang bapak alami cukup parah, apa lagi melihat kondisi Bapak yang......


"Yang apa?" Potong Arya.


"Yang mengenaskan Pak," Ucap Jono, lelaki itu pun kembali menundukkan wajahnya.


"Seperti apa saya saat itu?" Tanya Arya lagi.


"Wajah Bapak penuh dengan perban, katanya wajah Bapak harus di operasi pelastik. Karena memang...


Jono terdiam sesaat, lalu menatap wajah Arya dengan tatapan yang iba.


"Mengenaskan Pak." Lanjutnya lagi.


Arya terdiam membisu, ia mencoba mengingat-ingat kejadian enam tahun yang lalu. Tetapi, semakin keras ia mengingat kejadian enam tahun yang lalu, kepalanya akan terasa semakin sakit.


"Lengan Bapak di perban, tulang rahang Bapak patah sebelah kiri. dan sebagian kulit wajah hancur. Kaki Bapak juga ada yang patah. Pokoknya saya melihat Bapak saat itu begitu memperihatinkan Pak. Saya mohon maaf atas kejujuran saya."


"Tidak masalah," Ucap Arya.


Arya kembali menatap Jono dengan seksama.


"Apa lagi yang kamu ketahui tentang saya?" Tanya Arya.


Jono terdiam sesaat, ia mencoba mengingat-ingat kejadian enam tahun yang lalu.


"Kamu tahu sebelum di Yogyakarta, kami tinggal di mana?" Tanya Arya dengan serius.


"Seingat saya......., sepertinya dari Jakarta Pak," Ucap Jono dengan ragu.


"Kamu yakin?" Tanya Arya.


"Saya tidak begitu yakin Pak. Maaf Pak, mengapa Bapak tidak bertanya saja dengan Ibu?" Tanya Jono dengan ragu-ragu.


Arya menghela nafas panjang, lalu ia membuang tatapannya jauh ke arah gunung di seberang sana.


"Istri saya selalu marah bila saya membahas atau mencoba mencari tahu tentang masa lalu saya," Ucap Arya dengan suara yang bergetar.


Jono menggigit bibirnya, lalu ia menatap Arya dengan seksama.

__ADS_1


"Maaf Pak, saya pun merasa janggal dengan Ibu Alisya," Ucap Jono.


Arya pun mengeryitkan dahinya. Pembicara mereka pun terpotong karena pesanan mereka datang dan mereka pun memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan pembahasan tentang masa lalu Arya.


__ADS_2