
Pagi-pagi sekali Arya sudah siap untuk pergi ke kantor, tidak lupa ia menyemprotkan parfum di beberapa titik di tubuhnya. Alisya menatap Arya dengan seksama.
"Tumben kamu semangat sekali pergi ke kantor?" Tanya Alisya.
"Aku malas kamu mengomel, aku semangat kamu protes, mau mu apa?" Tanya Arya dengan ketus.
"Kamu selingkuh?" Tanya Alisya lagi.
Arya menatap Alisya dengan tatapan yang muak. Lalu, ia menghela napasnya dengan berat dan menghampiri Alisya.
"Aku mau lihat buku nikah kita, sudah berapa lama kita menikah?"
Alisya terdiam saat Arya mempertanyakan tentang buku nikah mereka.
"Sepertinya banyak sekali yang kamu sembunyikan dari ku Al, bila kamu mencintai aku, kamu akan membantu aku mengingat tentang masa lalu ku. Tetapi, sepertinya kamu berusaha untuk membuat ku lupa dengan masa lalu ku," Ucap Arya masih dengan tatapan yang sinis.
"Dulu kamu berselingkuh dengan wanita lain, aku ingin kamu melupakan dirinya. Jadi, untuk apa aku mengingat kan mu tentang masa lalu?" Tanya Alisya sambil menatap manik mata Arya.
Arya pun menunduk kan pandangan nya. Ia mengambil tas nya lalu ia keluar dari kamar.
"Arya..! Bisakah kamu tidak seperti ini kepadaku?" Ucap Alisya saat Arya berjalan menuju pintu depan rumah mereka.
"Aku akan berhenti bersikap seperti ini bila kamu memperlakukan aku dengan layak." Jawab Arya.
Lalu ia naik kedalam mobil yang sudah siap untuk di kemudikan Jono dan mereka pun pergi meninggalkan rumah itu menuju kantor.
Di kantor, Arya terus menunggu telepon dari Ar dan Re. Ia terus melirik ponselnya. Tetapi, telepon dari anak-anak lucu itu tidak kunjung datang. Arya mulai gelisah. Lalu ia menyuruh Jono untuk mengantarkan nya ke pantai dan alun-alun.
Ia bertekad mencari keluarga kecil itu, walaupun kehadiran nya tidak di harapkan oleh Ibu dari anak-anak itu.
Jono berputar-putar di alun-alun, tetapi tidak juga menemukan Meli dan anak-anak nya. Lalu, mereka pun beranjak ke pantai mana saja untuk menemukan Meli dan anak-anaknya.
..
"Jangan ngambek dong anak Bunda," Ucap Meli sambil membelai lembut rambut kedua anak nya.
"Habis nya Bunda tidak mengizinkan kami menghubungi Om Arya..!" Ucap Re yang menahan tangis nya karena Meli melarang Re untuk menghubungi Arya.
"Sayang, Om Arya itu baru saja kita kenal loh, dia punya keluarga dan pekerjaan. Jadi, kita tidak boleh memaksa orang lain untuk menuruti kehendak kita." Ucap Meli mencoba memberikan pengertian.
"Tapi Om Arya mau kok, dan dia berjanji..! Kalau begini, kami tidak mau keluar. Lebih baik di hotel saja..!!" Ucap Ar dan Re.
Meli terdiam, ia hampir putus asa memberikan pengertian kepada kedua anak nya. Meli terduduk di tepi ranjang. Ia menghela napas dengan berat.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan dari Om Arya?" Tanya Meli sambil menatap kedua anak nya dengan putus asa.
__ADS_1
"Kami mau merasakan mempunyai Ayah, Bunda..!"
Meli terdiam saat mendengar alasan anak-anaknya. Sebenarnya Meli ingin sekali menghubungi Arya. Tetapi, Meli cukup tau diri, Arya itu suami orang lain, tidak mungkin ia menghubungi suami orang hanya demi anak-anak nya.
"Tetapi, Om Arya bukan Ayah kalian Nak," Ucap Meli, dengan air mata di pipinya.
Melihat Bunda nya menangis, Ar dan Re pun terdiam karena merasa bersalah.
Mereka pun turun dari ranjang dan menghampiri Meli yang duduk di pinggir ranjang ke dua dari kamar hotel itu.
"Bun, maafkan kami ya."
Tangan mungil Ar dan Re menghapus air mata di pipi Meli. Meli menatap mereka dengan seksama, lalu tangisannya semakin memuncak. Meli pun memeluk kedua anak nya dengan erat.
"Maafkan Bunda juga ya," Ucap Meli.
Meli benar-benar merasa bersalah atas terjadinya kecelakaan Aris enam tahun yang lalu. Bila tidak karena kecerobohan dirinya yang tiba-tiba saja muncul dari semak-semak ke jalan raya, mungkin tidak akan ada yang celaka pada malam itu.
"Ya sudah, kita ke pantai saja Bunda, nanti malam baru ke alun-alun nya." Ucap Re sambil tersenyum sumringah.
Meli menghapus air matanya, lalu ia menatap kedua anak nya dengan mata yang berbinar.
"Beneran mau ke pantai?" Tanya Meli dengan antusias.
"Iya..!" Seru kedua anaknya.
"Ok, kalau begitu. Ganti baju....!"
"Horeeeeeee...!!!"
Meli membantu kedua anak nya untuk mengganti baju mereka. Lalu, mereka pun berangkat ke pantai dengan menggunakan mobil yang sengaja Meli sewa untuk beberapa hari di Yogyakarta.
..
Arya sudah mendatangi dua pantai wisata yang berbeda. Ia pun menyuruh Jono untuk pergi ke pantai yang ke tiga. Tidak ada rasa lelah atau putus asa yang menghampiri Arya. Ia terus berusaha untuk dapat bertemu dengan Meli dan anak-anaknya.
Arya hanya merasa bodoh karena ia tidak bertanya nomor ponsel Meli. Sehingga ia harus mencari Meli dan anak-anaknya seperti ini.
Arya terdiam sesaat, ia mencoba bertanya kepada hati nya. Dimana Meli dan anak-anaknya saat ini.
"Jon, kita kembali ke Parangtritis," Ucap Arya kepada Jono.
"Tetapi tadi kita sudah kesana Pak, mereka tidak ada," Ucap Jono kepada Arya.
"Kali ini mereka ada disana," Ucap Arya dengan yakin.
__ADS_1
"Baik Pak " Jawab Jono.
Lalu lelaki muda itu melajukan mobil menuju pantai Parangtritis.
Meli memarkirkan mobil di halaman parkir pantai Parangtritis. Ia dan anak-anaknya turun dari mobil dan berjalan masuk ke area pantai tersebut.
Ar dan Re begitu bersemangat, Mereka berlarian di pantai tersebut. Meli bahagia sekali melihat kedua anak nya bahagia.
"Bunda, kita naik kereta kuda yuk." Pinta Ar dan Re, Meli hanya mengangguk dan mengajak anak-anak nya menuju ke kumpulan para pemilik andong di sana. Lalu mereka naik ke atas andong. Pemilik andong pun menjalankan kuda nya menyusuri pantai.
Ar dan Re sangat antusias melihat pemandangan disana. Mereka sesekali bercanda dan berfoto di atas andong.
Setelah puas, mereka pun berhenti di pangkalan andong. Meli bergegas turun dari andong, saat itu juga tangan seseorang menyambut nya turun dari andong.
"Butuh bantuan?" Tanya lelaki yang suaranya tak asing lagi bagi Meli. Meli pun menatap lelaki itu.
"Mas Arya?" Ucap Meli.
Arya tersenyum menatap Meli yang terkejut saat melihat dirinya.
"Pegang tangan ku, nanti kamu terjatuh," Ucap Arya kepada Meli.
"Terima kasih, aku bisa turun sendiri," Ucap Meli, dengan pipi yang memerah.
"Yakin?" Arya menggoda Meli.
Meli pun mengabaikan Arya. Tetapi, karena ia grogi dengan Arya, ia pun terpeleset dari atas andong. Dengan sigap Arya menyambut tubuh meli yang hampir saja terjatuh dari andong.
"Aku bilang juga apa," Ucap Arya sambil menatap wajah Meli yang bersandar di bahu nya.
Meli menatap Arya dengan salah tingkah. Lalu, Arya menggendong tubuh meli dan membantu meli berdiri.
"Te.. terima kasih," Ucap Meli dengan terbata.
"Cieeeeeeeeee...." Ucap dua bocah kecil yang melihat adegan romantis Bunda nya dan Arya.
Arya tersenyum sumringah lalu membantu kedua anak itu untuk turun dari andong.
"Om Arya datang untuk menepati janji kepada kalian berdua," Ucap Arya kepada Ar dan Re.
"Kami tahu Om tidak akan ingkar janji," Ucap Ar dan Re, lalu kedua anak itu mencium pipi Arya.
"Muachhh...!"
"Kami sayang sekali dengan Om Arya..!"
__ADS_1
Ucap Ar dan Re. Arya menatap Meli dengan tatapan penuh kemenangan. Sedangkan Meli menundukkan pandangannya, ia tidak tahu akan bersikap bagaimana dengan situasi ini.