Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
Ch 78. Permintaan maaf


__ADS_3

"Maaf Nyah, ada surat buat Nyonya."


Tejo menyerahkan sepucuk surat dari Frans kepada Meli yang sedang bersantai di halaman belakang dengan Aris.


"Dari siapa Mas Tejo?" Tanya Meli, sambil mengernyitkan dahi nya.


"Tadi ada seorang lelaki naik mobil warna hitam menyerahkan nya kepada saya Nyah. Awal nya orang itu celingukan dan mengintip dari celah gerbang. Waktu saya tegur, dia menyerahkan surat ini. Katanya untuk Nyonya." Terang Tejo.


Meli pun meraih surat itu dan menatap Aris dengan seksama.


"Siapa ya Mas?" Ucap Meli.


"Di buka saja." Ucap Aris.


Aris pun ikut memperhatikan surat itu.


Meli memperhatikan surat tersebut. Tidak ada nama yang tertera di sana.


"Dia bilang ini dari siapa?" Tanya meli lagi kepada Tejo.


"Dia tidak mengatakan apa-apa nyonya, hanya nitip untuk Nyonya. Begitu saja."


Meli mengangguk lalu memperbolehkan Tejo kembali ke pos jaga.


Meli merobek amplop surat tersebut lalu ia menarik keluar kertas surat itu dan ia pun mulai membacanya.


Assalamualaikum Meli, Ini aku Frans.


Sebelumnya aku mau minta maaf kepadamu, karena aku telah lancang mengirimkan kamu surat. Tetapi, tidak ada cara yang lain untuk menyampaikan rasa penyesalan aku selama ini.


Hampir dua bulan yang lalu aku keluar dari penjara. Tetapi, aku mohon jangan salah paham dengan kebebasanku. aku sudah bertaubat, aku tidak akan mengganggu kamu lagi.


Ada banyak pelajaran yang aku petik selama di dalam penjara. Terutama tentang keikhlasan dan kesabaran. Aku tahu aku telah menghancurkan hidupmu enam tahun yang lalu dan aku sangat menyesal.


Bila boleh diputar kembali, aku pasti tidak akan melakukan hal itu kepadamu. Aku khilaf, dengan hati yang tulus dan ikhlas, aku mau minta maaf darimu. Aku tahu aku tidak akan pernah termaafkan. Tetapi sebagai seorang manusia, aku wajib untuk tetap meminta maaf kepada orang yang telah aku sakiti.


Saat kamu membaca surat ini, aku aku sedang dalam perjalanan pindah ke kota lain. aku meninggalkan kota Jakarta untuk menuntut ilmu agama di Jawa Timur. Do'akan aku ya Mel, semoga aku benar-benar bisa menjadi manusia yang baik.


Aku juga sudah melaporkan Tante Alisya ke polisi. Sebenarnya dia adalah otak dari penculikan kamu. Selama ini aku menutupi nya dari mu dan dari siapa saja, demi Tante Alisya.

__ADS_1


Tetapi, aku melihat dia tidak pernah berubah, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Aku tidak ingin dia kembali mencelakakan kamu dan keluarga mu. Atau merebut kebahagiaan kalian semua.


Mel, aku senang melihatmu bahagia saat ini, walau tidak bersamaku. Aku tahu cinta tidak bisa dipaksakan. Maafkan atas segala keegoisanku, ampuni aku maafkan aku, do'akan aku ya Mel.


wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Frans.


Meli menghela nafasnya dengan berat. Lalu, ia menatap Aris dan menyerahkan surat itu kepada Aris. Aris menyambut surat itu dari tangan Meli. Lalu, ia membaca isi surat tersebut. Aris mengangguk lalu tersenyum, ia senang apabila Frans benar-benar sudah berubah.


"Kita do'akan dia, semoga hidayah memang benar-benar menghampirinya." Ucap Aris sambil menggenggam erat tangan Meli.


Meli hanya terdiam, ia menggigit sudut bibirnya sendiri. Meli benar-benar trauma dengan Frans, jangankan bertemu dengan orangnya, membaca surat nya saja perasaan takut kembali menghinggapi hati Meli.


Apa yang dialami Meli saat disekap oleh Frans, cukup membekas di hatinya. Mulai dari percobaan pemerkosaan, hingga kekerasan fisik dan mental, ia terima selama menjadi tahanan Frans.


"Sayang, maafkanlah dia. Dia memang bersalah, tetapi dia sudah menebusnya di dalam penjara. Dan kini dengan hati yang tulus, ia sudah meminta maaf kepadamu. Dengan mencoba memaafkan, mungkin hati dan perasaan kita akan lebih baik lagi. Lagi pula aku sekarang sudah berada disini denganmu aku akan melindungimu sampai ajal menjemputku." Ucap Aris.


Meli meneteskan air matanya ia menatap Aris dengan seksama, lalu ia menganggukkan kepalanya.


"Insyaallah Mas, aku akan berusaha untuk memaafkannya dan mendo'akan dia agar jauh menjadi lebih baik." Ucap Meli.


"Aku akan selalu berusaha untuk mengajak mu dalam kebaikan karena aku adalah imam mu." Ucap Aris.


Meli tersenyum dengan manis, lalu ia menggenggam erat tangan Aris.


"Terima kasih." Ucap Meli.


Aris mengecup kening Meli dengan lembut.


"Jadi kapan kita ke Bandung? aku ingin bertemu dengan keluarga lelaki yang kecelakaan bersama Mas. Kasihan keluarganya, aku yakin istrinya pasti sangat terpukul karena suami yang ia nanti-nanti saat kelahiran anak mereka tidak pernah muncul di hadapannya. Paling tidak, ia mengetahui bila suami nya sudah tiada. Sehingga tidak ada pikiran macam-macam yang muncul di benak nya." Ucap Meli.


"Hari Senin aku sudah mulai ke kantor, lebih baik minggu ini kita berangkat ke sana. Lebih cepat lebih baik." Ucap Aris. Meli pun tersenyum lalu mengangguk tanda ia menyetujui ide Aris.


Kini Meli memutuskan untuk menjadi Ibu rumah tangga. Ia ingin fokus kepada anak-anaknya, suami dan restoran nya saja. Sedangkan perusahaan kembali dipegang oleh Aris.


Meli sangat bahagia, karena ia bisa memiliki banyak waktu untuk Ar dan Re. terlebih Ar dan Re akan masuk sekolah dasar tahun ini. Meli sangat bersemangat, karena ia bisa mengurus anak-anaknya dan melihat tumbuh kembang mereka tanpa melewatkan satu momment pun.


....

__ADS_1


Alisya termenung didalam selnya. Mata Alisya tampak sembab karena terlalu banyak menangis. Begitu banyak laporan dan tuduhan atas dirinya. Dan tak satupun yang mampu ia buktikan bahwa dirinya tidak bersalah.


Alisya terancam hukuman maksimal lima belas tahun lamanya. Tidak terbayangkan baginya hidup di penjara selama lima belas tahun. Alisya kembali menangis membayangkan nasibnya.


Melalui pengacaranya, Aris mengembalikan semua biaya yang pernah Alisya keluarkan untuknya. Aris tidak ingin mempunyai hutang budi kepada Alisya.


Sebenarnya Aris tidak tega melihat Alisya di penjara. Bagaimanapun, tanpa Alisya mungkin saja dirinya sudah meninggal dunia. Tetapi, ia juga tidak ingin membiarkan Alisya termaafkan begitu saja.


Karena memaafkan Alisya tanpa memberikannya pelajaran sebelumnya, tidak akan membuat wanita itu jera. Aris berharap, semoga kelak Alisya keluar dari penjara. Alisya bisa lebih baik, seperti Frans.


Tidak ada yang tahu nasib seseorang. Mungkin saja hari ini, ia adalah seorang penjahat. Bisa saja besok ia menjadi orang yang sangat baik.


Meli yang sedang memilih pakaian yang akan di bawa ke Bandung, menatap Aris yang sedang termenung di pinggir ranjang.


"Mikirin apa Mas?" Tanya Meli.


Pertanyaan Meli membuat lamunan Aris tentang Alisya pun buyar. Aris menatap Meli yang memandanginya dengan penuh pertanyaan.


"Ah, tidak memikirkan apa-apa." Jawab Aris. Lalu, ia mencoba tersenyum untuk menunjukkan kepada Meli, dirinya sedang tidak memikirkan apa-apa.


"Oh, aku kira sedang memikirkan apa." Ucap Meli.


Aris beranjak dari ranjang, lalu ia menghampiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Aris mengecup tengkuk Meli dengan lembut.


"Aku rindu." Bisik Aris di telinga Meli.


"Kita bikin adik yuk, buat Ar dan Re." Bisik Aris lagi.


Mendengar ucapan Aris, Meli membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya itu.


"Bukan nya sudah cukup dua saja? seperti anjuran pemerintah." Ucap Meli.


"Mel, aku itu anak satu-satunya. Aku ingin anak yang banyak, agar rumahku ramai." Ucap Aris sambil membelai pipi Meli.


Meli tersenyum ragu, lalu ia menatap mata Aris yang terlihat sangat bersungguh-sungguh ingin memiliki anak lagi darinya.


"Satu lagi saja ya dan bila aku hamil lagi, itu menjadi kehamilan terakhir." Ucap Meli.


"Ia, menjadi kehamilan terakhir kamu. Asal, kembar lagi ya." Ucap Aris sambil membopong tubuh Meli dan menaruhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Ihhhhhh..!" Teriak Meli, lalu mereka tertawa bersama dan tenggelam dalam cinta yang halal.


__ADS_2