Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 33. Tidak bersalah


__ADS_3

Aris melangkahkan kakinya menuju ruang BAP. Saat di depan ruangan itu, ia bertemu dengan Alisya. Pengacara wanita itu menghampiri Aris dan mengajak Aris untuk berunding.


"Selamat siang Bapak Aris Suryo,"


Dengan percaya diri, pengacara Alisya menyapa Aris.


"Ya," Jawab Aris.


Aris membuka kaca mata hitamnya, lalu melipat dan memberikan kaca mata itu kepada asisten pribadinya.


"Bisa bicara sebentar secara pribadi, di sana?"


Pengacara Alisya menunjuk tempat yang sepi.


Aris hanya tersenyum. Lalu, menolaknya.


"Kalau anda butuh saya, silahkan bicara disini saja." Ucap Aris dengan tegas.


"Tapi, saya ingin secara pribadi Pak, ada yang harus saya sampaikan."


"Apa itu?" Tanya Aris.


"Pesan dari Ibu Alisya."


Aris menatap Alisya yang sedang duduk di depan ruang BAP dengan tajam.


"Saya tidak mau," Ucap Aris, lalu lelaki itu melangkah meninggalkan pengacara Alisya.


Pengacara Alisya kembali menghadang Aris dan mencoba untuk membujuk Aris.


"Saya mohon Pak, dengarkan sekali ini saja. ini kesempatan untuk Bapak," Ucapnya.


Aris kembali tersenyum dan menatap pengacara itu.


"Kalau kamu ingin bicara dengan ku, baik nya kamu yang menuruti kemauan ku,"


Ucapan Aris membuat pengacara Alisya menjadi salah tingkah.


"Baik Pak, saya diamanahkan ibu Alisya...."


"Apa itu, cepat katakan..! jangan buang-buang waktu saya," Ucap Aris dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Begini Pak, Bapak percuma mengadakan Visum ulang. Hasilnya akan tetap sama, Jadi Ibu Alisya ingin memberikan penawaran damai untuk Bapak dengan satu syarat,.... "


Belum selesai pengacara itu berbicara, Aris sudah memotongnya.


"Bagaimana kalian yakin bila hasil Visum akan sama? Siapapun yang memfitnah saya akan saya beri pelajaran..!" Ucap Aris dengan nada mengancam.


"Bukan begitu Pak, sudah jelas Bapak melakukan itu kepada Ibu Alisya. Jadi, berhubung Bapak dan Ibu Alisya itu adalah mantan kekasih, maka Ibu Alisya akan mencabut laporannya. Asalkan Bapak, mau menikahi Ibu Alisya."


Aris mengangkat kedua Alisnya.


"Wow...! Korban minta di nikahi? bukankah korban akan sangat benci dengan pelaku?" Ucap Aris dengan suara yang lantang.


"Maaf Pak, bisa di kecilkan sedikit suaranya?" Ujar pengacara Alisya dengan menatap Aris dengan kesal.


"TIDAK," Ucap Aris, lalu ia pergi dari hadapan pengacara itu.


"Sombong sekali manusia itu," Ucap pengacara Alisya.


"Bagaimana? apakah ia terima tawaran saya?" Tanya Alisya penasaran.


"Tidak Bu,"


Alisya pun menjadi geram saat mengetahui jawaban Aris.


*


Pemeriksaan pun kembali di ulangi, Aris kembali di tanyakan tentang kesaksiannya. Alisya sudah dengan percaya diri menunggu hasil Visum di bacakan.


Tringgggg....!

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel Alisya berbunyi. Alisya mengeryitkan dahinya melihat nomor yang tak di kenalnya. Lalu, ia membuka pesan yang baru saja ia terima itu.


Nomor yang tak dikenal


Assalamualaikum Ibu Alisya,


Saya dokter yang Ibu suruh untuk merubah isi dari hasil visum Ibu.


Saya harap, Ibu bisa menghargai profesi saya sebagai dokter. Untuk kami mendapatkan lisensi, membuang biaya yang luar biasa dan kami membuang waktu kami di perguruan tinggi begitu lama. Maka dari itu, kami tidak mau mengorbankan kerja keras kami.


Sekali lagi, jangan pernah menganggap kami tidak profesional..!


Wassalamu'alaikum.


Alisya terdiam saat membaca isi pesan tersebut. Ia melihat petugas akan membacakan hasil visum yang kedua ini. Dengan cepat Alisya langsung mencegahnya.


"Pak, saya mau damai...! saya cabut laporan..!"


Beberapa petugas yang ada di ruangan itu pun saling berpandangan.


"Pak, cabut laporannya sekarang. Dan masalah ini selesai..!"


Aris tertawa melihat Alisya yang terlihat panik. Petugas pun tetap membuka amplop yang berisi surat hasil visum itu.


"Pak...! jangan...!" Pekik Alisya panik.


"Bagaimana Pak?" Tanya Aris dengan santai.


"Menurut olah TKP dan kami cocokan dengan Hasil Visumnya, Tuduhan Ibu Alisya tidak terbukti," Ucap petugas itu, Aris pun tersenyum sinis.


"Ok, sekarang saya ingin melaporkan dokter yang sudah membuat laporan palsu serta korban palsu nya." Ucap Aris dengan bersemangat.


"Kamu urus laporan ini, saya mau pulang. Saya ngantuk belum sempat tidur,"


Ucap Aris kepada pengacara nya.


Lalu, Aris menghampiri Alisya yang mulai terlihat ketakutan.


"Ris...! please.. kita damai ya.."


Alisya memohon kepada Aris dengan memasang wajah memelas.


"Itu lah gunanya otak Lis, berpikir lah dulu sebelum kamu melakukan hal yang akan menjadi boomerang untuk mu sendiri," Ucap Aris.


Aris memakai kaca mata hitamnya, lalu pergi menuju mobilnya yang sudah menunggu di depan kantor polisi.


Ia masuk kedalam mobilnya dengan tenang.


"Rissss...!!!! Aris...!!!!!"


Alisya mengetuk-ngetuk kaca mobil Aris. Aris membuka kaca mobilnya. Lalu, menatap pengacaranya yang ikut mengantar Aris ke depan.


"Tolong tambahkan laporan baru, perbuatan tidak menyenangkan karena sudah mengetuk-ngetuk kaca mobil orang..!!!!" Seru Aris kepada pengacara nya.


"Baik Pak," Sahut pengacara Aris.


Alisya pun terdiam dan tak lagi mengetuk kaca mobil Aris.


Aris menutup kaca mobil nya, lalu ia pun mulai tertawa.


"Dia kira petugas itu gampang di bohongi, TKP nya saja bersih kok. Dasar..! Hahhhhhh....! Buang-buang waktu saja, terutama waktu ku dengan Meli"


Sejenak Aris tersenyum membayangkan Meli.


"Kangen ih.., kok aku seperti ini ya?"


Aris tersenyum sendiri.


*


Meli baru saja selesai mandi, lalu ia ke dapur untuk memasak sesuatu.

__ADS_1


Bik Parni yang baru saja keluar dari kamarnya, menatap Meli dengan bingung.


"Neng, mau ngapain?" Tanya Bik Parni sambil menghampiri Meli.


"Eh, Bik Parni. Meli mau masak."


"Masak apa? kok gak nyuruh Bibik..?"


"Mau masak Air Bik," Ucap Meli dengan polos.


"AIR? Kan ada Neng di galon."


Bik Parni terheran-heran melihat Meli.


"Meli tuh lagi kepengen air yang di rebus Bik, kayak di Kampung," Ucap Meli sambil menuangkan air ke dalam panci.


"Bik Parni menatap Meli dengan seksama.


"Neng, kamu kapan terakhir haid?"


"Kenapa memangnya Bik?" Tanya Meli polos.


"Jangan-jangan kamu lagi hamil Neng," Ucap Bik Parni dengan serius.


"hahahahha... ya tidak mungkin lah Bik, Meli baru saja selesai kok." Jawab Meli.


Bik Parni kembali mengeryitkan dahinya.


"Oh kalau begitu memang kamu nya yang aneh Neng."


Bik Parni menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, Bik Parni ke halaman belakang untuk menjemur pakaian. Meli hanya tersenyum geli melihat Bik Parni yang kebingungan.


"Meli.. sayang nya Aris Suryo, gak kepengen gitu peluk suaminya yang baru pulang?"


Tanya Aris yang baru saja tiba dirumah, ia langsung mencari Meli yang sedang di dapur, untuk merayakan keadilan yang ia dapatkan.


Meli melirik Aris dengan malas, lalu ia menuangkan air panas ke dalam gelasnya.


"Lama-lama cara ngomongnya Mas mirip Kang Jaja ih..!" Ucap Meli, sebal.


"Oh iya ya, kok jadi ngikutin Jaja," Ucap Aris sambil menepuk dahinya pelan.


Aris menghampiri Meli dan memeluk istri nya itu dari belakang.


"Aku tidak terbukti bersalah, gak kepengen gitu berhenti marah?"


Bisik Aris lembut di telinga Meli.


"Mana buktinya?" Tanya Meli.


"Ini."


Aris memberikan foto copy hasil visum Alisya. Meli melirik Aris dengan tatapan yang tajam. Lalu, ia mengambil kertas itu dari tangan Aris. Ia membaca dengan teliti lalu perlahan ia tersenyum.


"Mas maafkan Meli ya, Meli sudah tidak percaya kepada Mas."


Meli mulai menangis dan memeluk Aris dengan erat.


"Tidak apa-apa, reaksi kamu normal kok. Tandanya kamu cinta sama aku."


Meli tersenyum malu menatap Aris.


"Mel, aku berusaha untuk menghargai dan menjaga kepercayaan istri. Kepercayaan itu mahal. Bila aku melakukan kesalahan, sudah pasti kamu tidak akan mempercayai aku. Atau bahkan bisa saja meninggalkan aku. Aku tidak mau itu terjadi. Maafkan ya, kejadian kemarin. Aku tidak akan keluar tanpa istri lagi deh, mulai dari sekarang," Ucap Aris.


Meli pun tersenyum semringah.


"Beneran?" Tanya Meli sambil melirik manja.


"Iya,"


Aris mengangguk dengan yakin. Mereka pun berpelukan dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2