
"Bagaimana kabarnya Tante?" Tanya Frans kepada Alisya.
"Ba-baik." Jawab Alisya.
"Mama mu kemana?" Sambung Alisya lagi.
"Mama pergi arisan," Ucap Frans sambil meraih gelas kopi nya dari atas meja ruang tamu.
"Sepertinya sejak aku masuk penjara, Tante sangat sibuk ya? Sehingga Tante tidak pernah sekalipun menjengukku."
Alisya menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Frans.
"Ada urusan yang harus Tante kerjakan, lalu Tante menikah dengan seseorang dan tinggal di Yogyakarta." Ucap Alisya.
Frans hanya mengangguk-angguk dan tersenyum sinis.
"Secepat itu Tante menikah dengan orang lain dan menyerah dengan Aris?" Tanya Frans.
Alisya hanya menundukkan pandangannya.
"Katakan sejujurnya kepadaku Tante."
Frans menatap Alisya dengan seksama.
"Bila Tante tidak mengatakan yang sejujurnya, aku akan mengatakan kepada polisi bahwa Tante lah yang memberi ide kepada ku untuk menculik Meli waktu itu." Sambung Frans.
Alisya terlihat sangat gelisah, lalu ia membalas tatapan Frans yang terlihat tidak sedang bermain-main.
"Saat itu Tante sedang sibuk mengurus dan membawa Aris pergi dari Jakarta." Ucap Alisya dengan suara yang tercekat.
"Mengapa Aris bisa bersama Tante? apa yang terjadi?" Tanya Frans dengan antusias.
"Aris kecelakaan, ia masuk jurang saat hendak menuju ke Villa mu. Lalu, ia lupa ingatan dan wajahnya rusak."
"Sampai sekarang dia masih lupa ingatan?" Tanya Frans.
"Tante tidak yakin, saat ini ia sedang mencari Meli. Sepertinya ingatannya berangsur-angsur pulih. Makanya Tante ke Jakarta untuk mencarinya. Setelah enam tahun Tante mengurusnya dan merawatnya, seenaknya saja ia meninggalkan Tante." Ucap Alisya.
__ADS_1
Frans pun terkekeh mendengar ucapan Alisya.
"Apanya yang lucu?" Tanya Alisya.
"Tante.... Tante, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan baik kedepannya."
Alisya menatap Frans dengan seksama, ia tidak menyangka bila Frans akan mengatakan hal itu kepadanya.
"Maksudmu apa?" Tanya Alisya dengan sinis.
"Aku memaksakan kehendakku dan akhirnya aku berakhir di penjara. Apakah Tante tidak takut hal itu akan terjadi kepada diri Tante?" Ujar Frans.
"Tidak usah sok bijak kamu Frans, kamu hanya anak kecil. Tahu apa kamu..?" Ucap Alisya dengan sinis.
"Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah hampir tiga puluh tahun..!" Bentak Frans.
"Aku menyelamatkan Tante dengan menutup mulutku rapat-rapat. Aku menanggung semuanya sendirian, bahkan Mama sendiri pun tidak tahu bila kita bersekongkol. Apakah Tante lupa? Tetapi, apa balasannya? Tante bebas berkeliaran di luar sana, sedangkan aku terkurung di dalam penjara..! Apakah Tante tidak merasa bersalah sedikitpun? Setega itukah Tante kepadaku..!" Ucap Frans.
Alisya pun terdiam ia merasa terpojok kan.
"Frans Tante tidak bermaksud....
"Frans... Tante minta maaf." Ucap Alisya dengan bibir yang gemetar.
"Eh, Lis. Kapan datang?" Sapa Mamanya Frans yang baru saja tiba di rumah.
Alisya menoleh kebelakang dan melihat Kakaknya yang sedang berdiri di ambang pintu, lalu ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Kakaknya itu.
"Aku baru datang Kak, apa kabar?" Tanya Alisya berbasa-basi, sambil mengecup kedua pipi Kakaknya.
"Baik, kamu apa kabar? Suamimu kok nggak diajak?" Tanya Mamanya Frans kepada Alisya.
Frans tertawa sinis saat mendengar pertanyaan Mamanya kepada Alisya.
"Suamiku juga sedang berada di Jakarta. Tetapi, dalam perjalanan bisnis. Aku ingin menginap di sini beberapa hari, boleh kan Kak? Tanya Alisya kepada Kakaknya.
"Boleh dong, masa adik kandungku sendiri datang ke rumahku tidak boleh nginap." Ucap Mamanya Frans sambil tersenyum.
__ADS_1
Alisya pun tersenyum lega menatap Kakaknya.
"Kamu sudah makan Lis? Ayo makan dulu." Ajak Mamanya Frans, lalu mereka berdua berjalan menuju ruang makan.
Frans terdiam menatap punggung Alisya yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Maafkan aku Mel, kasihan kamu sampai harus membesarkan anak-anakmu sendirian," Gumam Frans sambil menatap foto Meli yang sedang tersenyum di dalam laptopnya.
Setelah Frans keluar dari penjara, ia mencari informasi tentang Meli dari teman-temannya.
Ia pun mendengar Aris yang meninggal karena kecelakaan. Awalnya, ia mengira menghilangnya Tante Alisya karena ingin menghindari kasus hukum. Tetapi, ia curiga mengapa Alisya begitu cepat move on dari Aris yang sudah meninggal dunia dan begitu cepat menikah dengan lelaki lain.
Awalnya, Ia hanya memancing Alisya dengan ucapan nya. tak disangka oleh nya, Alisya akhirnya berkata jujur kepada dirinya bahwa lelaki yang sedang bersamanya saat ini adalah Aris.
Aris belum meninggal dunia. Tetapi, Aris diselamatkan oleh Alisya dan wanita itu mengambil kesempatan atas hilangnya ingatan Aris untuk Aris tetap bersama dengan Alisya.
Frans tersenyum sendiri, ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat betapa liciknya Tante Alisya.
...
Meli menatap Arya dengan seksama, ia pun mengangguk, tanda ia bersedia untuk mendengar semua cerita tentang kecelakaan yang dialami Arya enam tahun yang lalu.
Meli menatap jauh ke dalam manik mata lelaki yang sedang duduk di depannya itu. Secara keseluruhan, bisa dibilang Arya sangat mirip dengan Aris.
Mulai dari bentuk tubuh, bentuk kepala dan mata lelaki itu sangat mirip dengan Aris. Yang membedakan hanya bentuk hidung dan rahang. Hidung Arya, sedikit lebih mancung daripada Aris. Tulang rahang Arya sedikit lebih tirus daripada Aris.
Bisa dibilang mereka nyaris seperti saudara kembar. Tetapi, yang membuat Meli tidak percaya adalah di dunia ini begitu banyak orang yang mirip dan Meli menyaksikan sendiri bahwa Aris sudah meninggal dunia. Meli sangat ingin percaya bahwa suaminya masih hidup. Tetapi, logikanya sangat menolak hal itu.
Tetapi, tidak ada salahnya bila ia mendengarkan cerita dari Arya. Terlebih saat Arya mengatakan ingatannya, bahwa Arya pernah membujuk Meli untuk pulang saat berada di gerbong kereta api. Tidak ada yang tahu akan hal itu selain Aris dan dirinya.
Tangan Meli terasa begitu dingin, saat bersiap untuk mendengarkan cerita Arya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia tidak tahu akan melakukan apa, apabila ternyata Arya dan Aris adalah orang yang sama.
Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya, termasuk salah satunya adalah siapa yang selama ini yang berada di kuburan Aris.
Arya menatap Meli Ia pun mempersiapkan diri untuk menceritakan apa yang ia alami selama ini.
"Sebelum aku memulai cerita ku, aku mohon jangan kamu menganggap aku berbohong. Aku sudah cukup menderita selama enam tahun ini. Tidak ada teman bicara, tidak ada ada kepastian akan siapa diriku sebenarnya. Bila kau tidak suka, aku mohon diam saja. Cobalah dengarkan aku terlebih dahulu. Setelah itu, kamu bebas meninggalkan aku. Tetapi, bila apa yang aku katakan masuk ke dalam logika mu, kamu mau kan bersama-sama untuk mengungkap ini semua?" Ucap Arya dengan tatapan yang memohon.
__ADS_1
Meli menggigit bibirnya sendiri, ia mempertimbangkan apa yang diucapkan oleh Arya. Lalu, dengan perlahan Ia pun mengangguk.
"Apapun itu, aku siap." Ucap Meli.