
"Halo Alex, ini aku Alisya. Aku bisa minta tolong?"
Tanya Alisya, saat menghubungi seseorang yang ia kenal untuk meminta bantuan.
"Ya.. Lis, kamu butuh bantuan apa?" Tanya lelaki bernama Alex dari ujung sana.
Begini, aku mau visum. Tetapi, aku ingin hasilnya sesuai dengan keinginan ku. Lebih lanjutnya, kita bertemu di sana saja ya."
"Oke Lis," Ucap Alex.
Alisya pun mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu, ia bergegas ke Rumah sakit di antar oleh salah satu petugas.
Sesampainya Alisya di rumah sakit, dia langsung memasuki ruangan Alex dan menceritakan keinginannya kepada Alex.
Alex adalah sepupu jauh Alisya, Ia pun sempat menolak permintaan Alisya karena lisensi nya akan terancam di cabut apabila ia ketahuan telah memberikan keterangan palsu.
Tetapi, Alisya terus memohon dan terus memberi pengertian bahwa ia hanya menggertak lelaki yang sudah mencampakkan nya.
Setelah beberapakali di bujuk oleh Alisya, Alex pun menyanggupi permintaan Alisya.
Sebenarnya malam itu tidak terjadi apa-apa antara Aris dan Alisya.
Aris tidak sadarkan diri dan Alisya pun hanya mengambil foto dirinya dan Aris saja. Setelah itu, Alisya tertidur di samping Aris. Jadi, ini semua hanya akal-akalan Alisya saja.
Setelah selesai, Alisya keluar dari ruangan Alex. Lalu, Tak lama kemudian Alex menyerahkan hasil visum kepada petugas yang sedang menunggu Alisya.
..
Meli mengendarai mobilnya dengan cepat. Sekitar satu jam kemudian, ia sudah sampai di kantor polisi tempat Aris dimintai keterangan.
Meli mencoba bertanya kepada beberapa petugas tentang keberadaan Aris. Setelah seorang petugas menunjukkan di mana Aris berada, Meli pun langsung bergegas menuju ke ruangan di mana Aris sedang dimintai keterangan.
Aris terkejut saat melihat kehadiran Meli di sana. Meli menatap Aris dengan wajah yang dingin, lalu ia duduk tidak jauh dari Aris.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Aris.
Meli tidak menjawab pertanyaan Aris, Ia masih diam dan menatap Aris dengan dingin.
Waktu sudah beranjak sore, Alisya pun datang bersama pengacara nya. Alisya terkejut saat melihat keberadaan Meli di sana. Alisya menatap Meli dengan tajam, lalu ia tersenyum sinis. Sedangkan Meli menatap Alisya, penuh dengan rasa cemburu.
Salah satu petugas yang ikut mengantarkan Alisya ke rumah sakit, menyerahkan hasil visum yang masih di segel kepada petugas yang sedang memintai keterangan Aris.
__ADS_1
Setelah itu, petugas itu pun membacakan hasil visum Alisya. Dengan pasti, petugas itu pun mengatakannya bahwa Aris telah bersalah, karena melakukan pemerkosaan kepada Alisya.
Aris terkejut bukan main, begitupun Meli. Aris menggebrak meja, lalu menunjuk ke wajah Alisya.
"Ini fitnah Pak..!!! Saya tidak pernah menyentuh wanita itu..!!" Ucap Aris.
"Tetapi, dari hasil visum, ada tindak penganiayaan Pak, yang mengarah bahwa bapak sudah memaksa Ibu Alisya untuk melakukannya." Ucap petugas itu.
"penganiayaan apa..!!" Seru Aris.
"Bekas cengkraman bapak di bahu dan lengan Ibu Alisya." Ucap petugas itu lagi.
Alisya pun mulai menangis dan menunjukkan luka di pergelangan tangannya dan di bahunya.
Memang, luka-luka itu disebabkan oleh Aris saat Aris meminta kunci kepada Alisya.
Alisya sengaja melakukan itu agar Aris mengamuk dan melukai dirinya. Ia sungguh merencanakan rencananya dengan sangat matang sehingga tidak ada hal-hal yang kecil terlewatkan olehnya.
"Pak, itu karena saya meminta dibukakan pintu oleh nya, ini semua salah paham. Saya tidak seperti itu, apakah hasil visum juga mengatakan saya telah memperkosanya..?" Tanya Aris, panik.
"Ya, hasil visum mengatakan seperti itu," Ucap petugas.
Aris pun terduduk lemas, sedangkan Meli mulai menangis. Ia meremas ujung bajunya serta menggigit bibirnya dengan kuat. Sedangkan Alisya terus berpura-pura menangis.
Meli sudah tidak sanggup lagi berada di sana, ia berdiri dari duduknya dan bergegas meninggalkan ruangan itu dengan derai air mata. Aris mencoba memanggil dan mengejar Meli, tetapi dirinya ditahan oleh salah satu petugas.
Aris tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia stress, ia panik dan ia pun merasa dirinya telah hancur. Sore itu Aris tertahan di sana sambil menunggu pengacaranya datang untuk membelanya.
...
Meli memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Ia turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Meli menarik keluar kopernya menuju ke pintu depan.
Bik Parni, Kang Jaja dan Surti melihat Meli yang sedang tergesa-gesa akan meninggalkan rumah itu. Bik parni pun berusaha untuk mencegah Meli. Tetapi, Meli tetap bersikeras untuk pergi meninggalkan rumah.
Meli berpamitan kepada Bik Parni, Kang Jaja dan Surti dengan deraia air mata. Lalu, ia pergi dengan menumpangi taksi menuju ke stasiun kereta.
Kang Jaja, Surti dan Bik Parni menangisi kepergian Meli di dapur. Mereka tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa Aris dan Meli. Mereka hanya mampu berdoa agar Aris dan Meli dapat bersatu kembali. Karena Aris adalah lelaki yang baik, begitu juga Meli.
"Bik, apa Neng Meli dengan tuan Aris akan berpisah ya Bik?" Tanya Jaja, dengan wajahnya yang sedih.
"Hust...! do'akan yang terbaik saja Ja. Kamu tidak baik menerka-nerka seperti itu..!" Ucap Bik Parni sambil mengibaskan tangan nya di depan wajah Jaja.
__ADS_1
"Bukan begitu Bik, Jaja kan hanya bertanya." Ucap Jaja sambil menatap Bik Parni dengan kesal.
"Pertanyaan mu tidak berbobot Ja..!" Ucap Bik Parni tak kalah sebalnya.
"Ya sudah besok-besok Jaja kalau bertanya dengan Bik Parni, Jaja gandulin besi di mulut Jaja. Biar berbobot." Ucap Jaja sambil cemberut.
"Jangan cuma besi Ja, noh ember, kulkas, kompor, sofa, dispenser sekalian..!" Ucap Bik Parni, kesal. Lalu ia beranjak? pergi meninggalkan Jaja dan Surti.
"Eh, tapi semoga Tuan Aris kembali dengan Neng Meli deh. Kacau kalau tidak kembali bersama, bisa-bisa nanti Tuan Aris menikahi Surti lagi." Gumam Jaja di dalam hatinya, sambil menatap Surti yang hendak melanjutkan memasak lauk untuk makan malam.
"Apa Jaja langsung ajak Surti menikah saja ya?" Gumam nya lagi.
"Sur.." Panggil Jaja.
"Ya Kang?" Tanya Surti.
"Sur, i lop yu..! wil yu meri mi?" Tanya Jaja sambil bertekuk lutut di hadapan Surti.
"Artinya apa Kang? Surti ndak ngerti Kang," Ucap Surti sambil menatap Jaja dengan polos.
Usia Surti masih tujuh belas tahun. Ia tidak tamat sekolah dasar karena keterbatasan biaya.
"Aduh Surti..." Ucap Jaja, gemas.
"Lha.. bahasa Indonesia saja Kang..! Surti orang Indonesia Kang..!"
"Ya sudah, kang Jaja ulangi ya."
"ho oh." Jawab Surti sambil mengangkat ikan mentah yang siap untuk ia goreng.
"Neng Surti bidadari nya Kang Jaja Antoni William Henry bret pit, mau kah kau menikah dengan ku?"
Jaja bertekuk lutut dan mendongak menatap wajah Surti.
"Astaghfirullah...!!!!" Ucap Surti, ikan mentah di tangan nya pun terjatuh tepat mendarat di wajah Jaja.
"Aduhhhhh....!!" Seru Jaja.
"Maaf Kang.....!" Ucap Surti sambil mengelap wajah Jaja dengan lap kompor.
Bik Parni yang kebetulan melintasi dapur tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah Jaja di lap pakai lap kompor.
__ADS_1
Jaja pun hanya bisa menatap Bik Parni dengan kesal.