Wasiat Cinta

Wasiat Cinta
ch 23. Ok gugel


__ADS_3

Aris membawa Meli ke Ancol. Meli senang sekali, selama hidupnya, Ia belum pernah ke Ancol. Meli berlarian kesana kemari. Sedangkan Aris hanya duduk di atas pasir pantai sambil menatap gadis itu.


Gadis lugu yang beberapa bulan lalu menjadi pembantu di rumahnya. Mengurus Retno dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar lainnya. Kini menjadi wanita tercantik di pandangannya.


Aris bukanlah orang yang gampang untuk jatuh cinta. Tetapi, gadis itu benar-benar seperti bisa memainkan perasaannya. Aris tidak tahu kapan pertama kali ia jatuh cinta kepada Meli. Yang jelas, tiba-tiba saja ia merasakan cemburu dan tak ingin kehilangan Meli.


"Mau beli apa??"


Aris langsung bertanya kepada Meli, saat melihat Meli yang sedang merogoh dompetnya.


"Beli ice cream." Jawab Meli dengan wajah polosnya.


Melihat ekspresi polos Meli, Aris pun menjadi semakin gemas kepada gadis itu.


"Pake uang ku saja, ayo beli dimana?"


Meli menunjuk sebuah stand ice cream di seberang jalan.


"Oh, ayo kesana." Ucap Aris.


Lalu mereka berdua pun menuju ke stand tersebut.


Aris tersenyum melihat Meli yang sedang memilih-milih ice cream.


"Mas mau?" Tanya Meli.


"Enggak."


Aris menggelengkan kepalanya.


"Enak loh."


Meli memberinya satu buah ice cream rasa vanila.


"Ayo cobain." Bujuk Meli.


Dengan ragu Aris meraih ice cream itu dari tangan Meli.


Setelah membeli ice cream, mereka berdua pun, kembali duduk di tempat semula. Mereka duduk di atas pasir dan memandang restoran terapung tak jauh dari bibir pantai.


"Itu apa?" Tanya Meli sambil menunjuk restoran terapung itu.


"Restoran." Jawab Aris yang sedang asik menjilat ice cream nya.


"Enak juga." Sambung Aris. Lalu, mereka berdua tertawa.


"Kamu mau makan disitu?"


"Enggak mas, aku kenyang."


"Hmmmm, Mas... kenapa datang ke kampus aku? dan kenapa dandanannya seperti ini?"


"Biar gak kayak Om-om. Biar teman-temanmu tidak membully kamu lagi dan kamu juga tidak malu mempunyai suami seperti aku." Jawab Aris sambil menatap Meli lekat lekat.


"A-aku gak malu kok sama Mas."


Meli membalas tatapan Aris.


"Bohonggg, kemaren kamu aku pegang tangannya di depan kampus, eh, kamu langsung melepaskan tanganku begitu saja. Pakai membentak aku pula lagi."


Aris memasang wajah cemberut.


"Ya, itu terjadi begitu saja. Gak enak diliat orang, bukan berarti aku malu." Terang Meli.


"Sama aja kali."


"Enggak kok."


"Iya."


"Enggak."


"Iya."


"Aku bilang enggak."


"Iyaaaaa aku bilang iya..."


Meli pun langsung cemberut.

__ADS_1


"Justru aku yang takut Mas malu" Ucap Meli. Lalu, ia menundukkan wajahnya dan melengkungkan bibirnya ke bawah, tanda ia bersedih.


"Malu kenapa?" Tanya Aris serius.


"Malu karena istri nya jelek, kampungan dan bekas pembantu."


Ucapan Meli membuat Aris terdiam cukup lama.


"Hey, lihat aku. Apa aku malu?" Tanya Aris.


Meli tetap menundukkan wajahnya dan tak bergeming.


"Mel, Aku gak malu. Justru aku bangga dengan kamu, kamu cantik, pintar dan pekerja keras. Aku cinta sama kamu Mel."


Lelaki tiga puluh tujuh tahun itu pun, mencoba meyakinkan istrinya yang kini berusia dua puluh tahun.


Meli tidak bereaksi iya masih saja menundukkan wajahnya.


Tiba-tiba Aris tertawa sendiri.


"Ck, hhhhhh." Ucapnya sambil tertawa.


"Kenapa Mas?"


Mata Meli membulat melihat suaminya tertawa sendiri.


"Mas berbohong mengatakan itu ya?" Tanya Meli penasaran.


"Enggak lah, masa berbohong. Aku tuh ketawa karena lucu saja." Ucap Aris sambil menahan tawanya.


"Lucu kenapa?" Tanya Meli penasaran.


"Aku mengatakan cinta sama gadis yang baru berusia 20 tahun. Hahahhahaa...! Padahal, waktu kamu lahir, aku tuh sudah lulus SMA." Ucap Aris.


Lalu ia kembali tertawa terbahak-bahak.


Aris menertawai dirinya sendiri, karena ia merasa dirinya konyol karena jatuh cinta dengan anak kecil, menurutnya.


Sedangkan Meli hanya bisa menatap Aris dengan wajah yang bingung.


.....


Waktu di perjalanan menuju pulang, sebagai lelaki yang pernah punya istri sebelumnya. Aris terus memikirkan bagaimana mengajak Meli untuk melakukan malam pertama mereka.


Berapa kali pun ia merangkai kata, tiba-tiba hilang begitu saja saat berhadapan dengan gadis itu.


"Kenapa Mas?" Tanya Meli yang merasa mulai risih dengan Aris yang sering kali meliriknya.


"Tidak apa-apa." Jawab Aris sambil mengelap keringat jagung di dahinya.


"Mas kepanasan?" Tanya Meli.


"Iya." Jawab Aris singkat.


Meli pun, mengambilkan selembar tisu dari dalam tasnya. dan menyerahkan nya kepada Aris. Aris tersenyum dan mengambil tisu itu dan langsung mengelap keringat di dahinya.


Setelah tiba dirumah, Meli dan Aris langsung masuk ke kamar mereka masing-masing. Setelah keduanya selesai mandi dan bersih-bersih, mereka sama-sama keluar dari kamar masing-masing. Mereka bertemu pandang saat sama-sama hendak menutup pintu kamarnya. Aris mendadak gugup, sedangkan Meli terlihat santai saja.


Meli menggunakan dress bodycon berwarna ungu. Lekukan tubuh Meli terlihat begitu sempurna, yang membuat Aris berkali-kali menelan saliva nya.


"Ayo Mas, makan dulu." Ucap Meli sambil berjalan mendahului Aris.


Melihat Meli berjalan, membuat Aris ingin sekali membopong gadis itu, lalu menyekapnya di dalam kamarnya sampai pagi. Tetapi, niatnya itu dia urungkan setelah melihat Bik Parni dan Kang Jaja muncul dari dapur.


"Eh, Neng, Cantik banget." Puji Bik Parni.


Meli tersenyum kepada Bik Parni.


Sedangkan Jaja, lelaki itu tidak mampu melepaskan pandangannya dari tubuh Meli yang terlihat semakin matang.


Melihat Jaja yang terus memandangi istrinya, Aris pun berdahem keras dan melotot kepada Jaja, saat lelaki itu menatap dirinya.


Jaja pun tersadar bila Aris memperhatikan dirinya yang sedang menatap Meli begitu lekat. Jaja pun, langsung merasa takut melihat tatapan Aris kepadanya.


"Saya permisi dulu Tuan," Ucap Jaja.


Lalu, Jaja langsung kabur ke dapur, disusul oleh Bik Parni.


Jaja pun menyenderkan punggungnya di ambang pintu belakang. Dengan perasaan sedih, Ia pun terduduk di atas lantai pembatas antara dapur dan pintu keluar arah taman belakang.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang sedih, Jaja pun, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


"Oke gugel, cara berhenti mencintai Neng geulis bernama Meli." Ucap Jaja sambil mengusap-usap dadanya agar ia tabah.


"Kamu ngapain Ja..?"


Bik Parni yang mendengar Jaja sedang bertanya kepada ponselnya pun, langsung bertanya kepada Jaja sambil tersenyum geli.


"Ini Bik, barangkali ada jawabannya. Soalnya selama ini Jaja cari jawaban di hati, Jaja tetap tidak menemukan jawabannya bagaimana cara melupakan Neng Meli. Barangkali mbah Gugel tahu bagaimana caranya berhenti mencintai Neng Meli." Jawab Jaja polos.


Bik Parni pun tertawa terbahak-bahak, sampai mengeluarkan air mata nya.


"Jaaa..., Ja..., ada-ada saja kelakuanmu itu."


Bik Parni menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nih makan."


Bik Parni memberikan Jaja sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


"Jaja gak selera makan. Jaja selalu terbayang-bayang saat Tuan Aris menggendong Neng Meli kemarin. Sakiiiiittt hati Jaja Bik." Ucap Jaja sambil menaruh kedua tangannya di dada.


"Lauknya daging ini loh Ja. Kalo kamu gak mau ya sudah, Bibik habisin aja." Ucap Bik Parni.


"Eeee, jangan Bik, sini in.. ini kan jatahnya Jaja. Enak saja mau dihabisin."


Jaja langsung merebut makanannya dari tangan Bik Parni.


Bik Parni tersenyum jahil. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan hendak kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


"Wait, Bik Parni kesayangan Jaja."


Jaja menahan tangan Bik Parni.


"Apaann..?"


Bik Parni mengerutkan keningnya saat Jaja menahan tangannya.


"Masih ada nasi gak? Segini mah kurang."


Jaja tersenyum malu-malu kepada Bik Parni.


"Yeeee....! Katanya gak selera makan, omdo kamu Ja...!"


Bik Parni langsung mengambil baskom di sampingnya, lalu menutup kepala Jaja dengan baskom tersebut.


"Noh, ada tuh di mejik kom..! Jangan di habisin, nanti Neng Meli atau Tuan Aris kepengen makan lagi kalo malam, gak ada nasi lagi ntar." Ujar Bik Parni sambil berjalan ke kamarnya.


"Yeeee senjatanya baskom muluk nih" Gerutu Jaja sambil melepaskan baskom dari kepalanya.


....


Setelah selesai makan malam, Meli bergegas kembali ke kamarnya, disusul oleh Aris yang mengikutinya dari belakang.


"Loh, Mas mau ngapain ke kamar Meli?" Tanya Meli dengan tatapan menyelidik.


"Hmmmmm.. itu.. hmmmm anu.. itu.. aku... itu.. aku... mau... itu.. "


"Mau apa Mas?" Tanya Meli sambil menatap Aris yang tampak sedang kebingungan.


"A-aku... aku mau.. kita.. hmmm.. apa ya.."


Aris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mau apa? mau liat Meli belajar ya Mas?"


Aris menatap mata Meli yang bulat dan polos itu dengan tak percaya.


"Hmmmm masa gak ngerti sih." Ucap Aris di dalam hatinya.


"Mas... kok bengong?"


"Aku mau malam pertama..!" Ucap Aris berterus terang.


Wajah Aris bersemu merah karena merasa malu. Sedangkan Meli langsung terdiam mendengar permintaan Aris.


"Boleh?" Tanya Aris dengan wajah yang penuh harap menunggu jawaban dan bersiap untuk berteriak "Horeeeeeee..!"


"Ma-ma-maaf Mas, aku masih haid." Ucap Meli malu-malu. Lalu, Meli buru-buru masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

__ADS_1


Sesaat, Aris termenung di depan kamar Meli. Lalu, dengan gontai, Aris beranjak menuju ke kamarnya sambil menghitung-hitung sudah berapa hari lamanya Meli menstruasi.


__ADS_2